Seperti dugaan Eliot, Ryea menampilkan wajah kesal dan seperti akan menumpahkan kemarahannya. Sebelum hal itu terjadi, Eliot menceritakan soal keterlambatannya kepada Ryea. Ryea mendengarkannya dengan seksama dan tidak ada ekspresi apapun yang ditampilkannya, untuk apa terkejut, ini bukan pertama kalinya terjadi. Saat ini ia malah berusaha menebak siapa penyebab kekacauan ini. Perbincangannya dengan Eliot tadi sore di pantai terlintas di kepalanya, ia pun mengutarakan pemikirannya itu pada Eliot dan Eliot pun sepemikiran dengannya. Tapi mereka tidak memiliki bukti apapun, apalagi gadis itu terlihat seperti gadis pada umumnya walau Eliot merasakan ada yang aneh dengannya.
Demi kebaikan bersama, mereka berdua tidak akan mengatakan apapun pada teman-temannya, lagi pula mereka bisa dicurigai nantinya dan mereka berdua terlalu malas untuk mencari alasan mengapa mereka bisa mengetahui informasi itu. Eliot berkata mungkin akan ada korban lainnya, bisa saja salah satu dari temannya. Beberapa hari kemudian lagi-lagi ada siswa yang diserang dan tubuhnya ditemukan hampir kehabisan darah di gudang belakang sekolah. Dari ketiga kasus yang terjadi, ini adalah kasus yang terparah. Sehari setelah p*********n yang ketiga sekolah diliburkan dulu dengan alasan guru melakukan rapat penting. Korban yang ketiga ini ditemukan oleh bibi Porch, bibi kantin yang waktu itu ingin membuang sampah, lalu tidak sengaja melihat ada siswa yang pingsan, wajahnya pucat dan ketika bibi Porch menyentuh kulitnya, kulitnya terasa dingin seperti mayat. Iapun langsung berlari ke ruang guru untuk melaporkan kejadian ini.
Saat siswa itu ditemukan keadaan sekolah sudah sepi dan hanya tersisa siswa siswi yang sedang melakukan aktifitas club. Saat bibi Porch menceritakan penemuannya, pak Gerry langsung lari sekencang-kencangnya di susul bu Rena dan bibi Porch di belakangnya. Siswa itu di bawa ke ruang kesehatan bu Crista. Kasus ini kembali ditutupi, bahkan orang tua siswa itu tidak diberi tahu, untunglah ia masih bisa diselamatkan.
***
Siang ini Ryea berencana untuk menemui pak Arnold ada hal yang ingin ia tanyakan pada wali kelasnya itu tentang materi pelajaran. Ia tahu kalau pak Arnold saat ini berada di ruang guru, jadi ia bergegas ke sana setelah jam makan siang dan berharap rapat guru telah selesai. Saat Ryea sampai di depan pintu ruang guru dan siap-siap untuk mengetuk pintu, ia mendengar perdebatan dua orang guru yang sepertinya membahas sesuatu, Ryeapun mengurungkan niatnya. Salah satu dari guru yang sedang berdebat itu adalah pak Gerry, betapa kagetnya Ryea ketika mendengar jika kemarin sore ada siswa yang kembali diserang dan kali ini kondisinya hampir kehilangan seluruh darahnya. Seketika tangan Ryea gemetar dan wajahnya memucat.
Ryea berjalan mundur dan membalikkan badannya, niatnya untuk bertemu pak Arnold ia batalkan saat itu juga. Setelah berada cukup jauh dari ruang guru, Ryea mengambil ponselnya dan menghubungi Eliot. Tanganya masih gemetaran saat mencari kontak Eliot di ponselnya. Dua detik setelah ia menekan tombol, panggilannya langsung terhubung. Ryea meminta agar Eliot menemuinya di perpustakaan sekarang juga, setelah itu ia mematikan ponselnya dan melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Di koridor menuju perpustakaan Ryea tak sengaja menabrak Mia dan roti yang ia bawa dengan nampan berhamburan di lantai.
“Maafkan aku, aku tidak sengaja.” Ryea buru-buru mengambil roti yang berserakan di lantai, untunglah roti tersebut terbungkus plastik.
“Tidak apa-apa, bukan masalah besar.” Mia tersenyum pada Ryea dan ia juga ikut mengambil roti-roti tersebut.
“Sekali lagi aku minta maaf ya.” Ryea menundukkan kepalanya sedikit, setelah semua roti diletakkan kembali ke atas nampan.
“Sudahlah. Lagi pula kau sudah membantuku untuk membereskannya," jawab Mia, senyum tidak luntur dari bibirnya.
“Roti-roti itu buat siapa?” Ryea menunjuk nampan yang berada di genggaman Mia.
“Ini untuk guru yang sedang rapat.”
“Begitu rupanya. Apa perlu kutemani ke sana?”
“Hahaha… tidak usah, aku bisa sendiri. Bukannya kau ada keperluan?” Kata Mia, “Tadi aku melihatmu seperti sedang buru-buru.”
“Ah, iya aku memang sedang buru-buru.”
“Ya sudah, pergilah. Aku tidak apa-apa,” kata Mia lembut.
“Terima kasih dan sekali lagi maaf, ya.” Mia membalas dengan anggukan dan Ryea pun melanjutkan langkahnya, sekilas ia melihat gelang yang dipakai Mia, gelang berwarna hitam dengan ukiran aneh di tangan kirinya.
Eliot sudah menunggu Ryea di perpustakaan, ia duduk di meja biasanya mereka gunakan. Ryea langsung duduk dan ia mengatur nafasnya terlebih dahulu, tadi dirinya berlari menuju perpustakaan. Setelah nafasnya teratur kembali, dirinya menceritakan apa yang ia dengar saat ke ruang guru tadi. Tidak ada tanggapan dari Eliot walau ekspresi wajahnya berubah, ia tetap diam mencerna semua ucapan Ryea.
“Ini sepertinya tidak bisa dibiarkan lagi.” Eliot menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
“Aku takut tidak lama lagi aka nada korban yang kehilangan nyawanya.” Ryea cemas akan kemungkinan ini.
“Kau benar. Sepertinya harus kita selidiki kejadian ini.” Ryea mengangguk.
Hari berikutnya aktifitas sekolah sudah berjalan seperti sebelumnya. Tidak ada satupun rumor yang beredar tentang anak yang ditemukan hampir tewas itu, sepertinya para guru dan saksi mata benar-benar pandai menyembunyikannya. Dan seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada siswa yang menjadi korban berikutnya, sepertinya pelaku sengaja memberikan jeda waktu tertentu. Sejak hari itu Eliot dan Ryea memutuskan untuk memantau area sekolah saat malam hari, dan hasilnya tidak ditemukan apapun.
“Nanti kalian duluan saja,” kata Nic. Saat ini mereka semua berada di kantin untuk makan malam.
“Memangnya kau mau kemana?” tanya Jun.
“Aku ingin menemui temanku sebentar.” Katanya.
“Jangan aneh-aneh. Kau tahu kan akhir-akhir ini patrol malam semakin ketat," ucap Yura.
“Aku cuma sebentar dan aku tidak bertemu temanku di luar sekolah.”
“Baiklah. Jangan terlalu lama. Aku masih was-was,” ucap Ron cemas.
“Was-was? Soal kejadian waktu itu?” tanyanya dan dibalas anggukan oleh Ron.
“Itu sudah lama dan tidak ada korban lagi.” Katanya.
“Waspada itu penting tahu,” jawab Jean diiringi anggukkan Maria.
Nic menghembuskan nafas “Baiklah.” Ryea dan Eliot diam saja, mereka berdua tidak mengucapkan apapun. Mereka saling melirik dan mengerti maksud lirikan tersebut.
Eliot dan Ryea membuntuti Nic dari belakang, mereka jalan mengendap-ngendap. Nic pergi menuju belakang area kantin yang memang sepi dan dipenuhi pepohonan tinggi, hanya ada satu penerangan dan bangku di sana, Nic pun duduk dibangku itu menunggu temannya. Ryea dan Eliot bersembunyi tepat di belakang pohon dan semak-semak tidak jauh dari tempat Nic duduk, mata mereka mengawasi Nic dengan tajam.
Dari arah belakang Nic ada bayangan yang berdiri di antara pepohonan, Nic tidak menyadari keberadaan bayangan itu. Bayang hitam itu tidak terlihat jelas, karena ia memakai jubah hitam dan menutupi kepalanya dengan tudung. Lama bayangan itu berdiri sebelum akhirnya berjalan pelan, tidak ada suara yang ditimbulkan dari pergerakan bayangan tersebut. Ryea memicingkan matanya saat bayangan itu mendekati Nic perlahan dan melihat benda yang pernah ia lihat belum lama ini saat salah satu lengan jubahnya tersingkap.
“Aku mengenal dia,” kata Ryea berbisik pada Eliot yang berjongkok di sampingnya.
“Siapa?” tanya Eliot tanpa mengalihkan pandangannya.
“Dia orang yang kuduga.”
“Bagaimana bisa kau seyakin itu?” Eliot mengerutkan dahinya dan menatap Ryea.
“Gelang itu, aku melihat gelang itu saat menabraknya di lorong.” Sambil menunjuk gelang yang terlihat dari lengan jubah yang tersingkap sedikit.
Eliot mencoba melihat gelang yang Ryea maksud dan pahamlah ia sekarang mengapa dirinya tidak bisa merasakan hawanya, serta perasaan aneh yang ia rasakan.
Eliot mendengkus “Gelang itu aku mengenalnya. Sebelumnya aku tak bisa merasakan hawanya ternyata akibat pengaruh gelang itu.”
“Kau tahu soal gelang itu?” Eliot mengangguk.
“Gelang penghilang hawa keberadaan. Rupanya dia mau main kucing-kucingan denganku. Berani sekali.” Eliot menyeringai, tatapan matanya berubah menjadi tatapan mata ingin mengoyak makhluk berjubah itu.
“Ah sekarang aku ingat siapa dia. Saking lamanya tidak bertemu aku melupakannya.” Eliot mengatakan hal itu saat ia melihat wajah dibalik tudung itu. Sekarang makhluk itu berada dua meter di belakang Nic, ia bersiap-siap untuk menyerang Nic.
“Apa yang harus kita lakukan," kata Ryea tenang. Kalau saja ia tidak mendapatkan ingatannya kembali, sudah dipastikan saat ini ia akan berteriak memanggil Nic.
“Dalam hitungan tiga kau ambil Nic dan jauhkan dari makhluk itu,” kata Eliot. “Aku akan menangkap makhluk itu.”
Ryea mengangguk dan Eliot mulai menghitung.
“Satu… Dua… Tiga…”
Whussshh!!!