Hampir tiga jam mereka berdua mengitari toko demi toko di dalam Mall tersebut dan tidak ada sedikitpun raut lelah di wajah Ryea. Hanya Eliot yang merasa agak lelah, karena ia yang membawa semua barang belanjaannya.
Jika di lihat-lihat barang belanjaan mereka tidaklah terlalu banyak, mereka hanya membeli beberapa kaos dan celana panjang untuk digunakan sehari-hari serta beberapa perlengkapan. Tidak mungkinkan di asrama nanti menggunakan celana pendek, bisa-bisa mereka kena hukuman jika ketahuan.
Sebenarnya yang membuat lama itu adalah Ryea yang cuci mata, masuk ke satu toko dan beralih ke toko lainnya. Ya, namanya juga perempuan, ingin beli apa dan akhirnya malah membeli barang lain. Eliot hanya bisa menarik nafas panjang sambil geleng-geleng kepala. Menurutnya, sifat perempuan yang satu ini sangat merepotkan, belum lagi harus membawa belanjaan. Sebenarnya tidak masalah jika harus membawa barang belanjaan, yang jadi masalah itu belum sempat istirahat, sudah beranjak ke tempat lain.
“Kita makan dulu, kebetulan aku sudah lapar. Di sana ada cafe yang menarik, kue dan minumannya enak sekali,” ucap Ryea mengawali perbincangan di tengah-tengah perjalanan menuju lantai satu Mall.
“Ah baiklah... jujur saja aku sedikit lelah membawa barang belanjaan ini,” balas Eliot sambil memasang muka letih.
“Hahaha… kau kalah adu suit, jadi terima saja hukumanmu itu,” kata Ryea dengan penuh kemenangan. Eliot hanya bisa pasrah dan mengekori Ryea.
Setibanya di cafe yang dikatakan Ryea tadi, mereka langsung memesan kue dan minuman yang tertera di dalam daftar menu dan tidak lupa dengan ice perffait kesukaan Ryea. Mereka asyik mengobrol dan sesekali tertawa. Eliot memakan esnya dan seketika ada aliran listrik di kepalanya dan itu menyakitkan. Eliot hanya bisa mengerutkan keningnya dan Ryea tertawa melihat kejadian tersebut.
Setelah selesai berbelanja dan makan, akhirnya mereka berdua pulang. Hari sudah semakin sore. Langit sore di musim panas sudah melihatkan wajah anggunnya di balut cahaya mentari sore.
“Aku lupa menanyakan hal ini. Setelah sekian lama kita berteman kenapa baru sekarang kau mengirimiku pesan?” tanya Ryea pada Eliot ketika berjalan keluar stasiun. Ryea pun sebenarnya merasa aneh, kenapa ia sampai menanyakan hal ini. Padahal ia tidak ingin terlalu akrab dengan laki-laki. Entahlah.
“Bukan seperti itu, aku tidak terlalu suka berkirim pesan. Apa itu salah?” tanya Eliot kembali sambil tetap menatap lurus kedepan.
“Tidak. Aku hanya sedikit kaget saja, tiba-tiba kau mengirimiku pesan,” jawab Ryea cuek.
“Mau singgah ke taman di dekat sini?” Eliot tidak menanggapi ucapan Ryea dan malah bertanya hal lain.
“Boleh saja.” Ryea setuju dengan ajakan Eliot, lagipula ia tidak ada kegiatan apa-apa setelah ini.
Tidak jauh dari stasiun ada sebuah taman bermain yang cukup besar, setiap sore selalu ramai dikunjungi oleh anak-anak, ibu-ibu, bahkan remaja yang sekedar duduk santai sambil mengobrol.
“Ramai sekali di sini,” kata Ryea sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
“Ya, di sini memang selalu ramai setiap harinya. Kau tidak tau? Padahal rumahmu tidak terlalu jauh dari sini sepertinya,” jawab Eliot sambil menaikan sebelah alisnya dan menatap Ryea.
“Bukannya aku tidak tahu, hanya saja aku jarang ke sini.”
“Kita duduk di sana saja,” ajak Eliot sambil menuju sebuah bangku kosong di depan sebuah pohon rindang tidak jauh dari tempat bermain anak-anak.
“Ya baiklah.” Ryea mengikuti Eliot dari belakang.
“Nyaman bukan, di tempat ini.” Eliot mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi untuk merenggangkan tulang punggungnya, lalu menghirup nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
“Tidak buruk... di sini menyenangkan,” jawab Ryea yang juga menghirup dalam udara taman yang segar lalu melihat ke arah Eliot dan ternyata Eliot juga memperhatikannya.
Deg!
‘Mengapa Eliot menatapnya dengan tatapan seperti itu. Seperti tatapan mata seseorang yang menahan kerinduan sangat lama.’
“Mengapa kau menatapku seperti itu, Eliot?” tanya Ryea yang merasa risih dengan tatapan Eliot.
“Bolehkah aku jujur padamu," ucapnya yang masih menatap Ryea dengan tatapan yang sama.
“Ya tentu saja.” Ryea menunggu dengan jantung yang mulai berdebar.
“Sejak pertama kali aku tidak sengaja bertemu denganmu. Kau mengingatkanku dengan seseorang dari masa lalu.” Eliot mulai bercerita dan membuang tatapan kosong ke depan.
“Se-seseorang dari masa lalu? Apa maksud mu?” Ryea tidak mengerti akan ucapan Eliot barusan.
“Ya seseorang dari masa laluku,” balas Eliot tanpa ekspresi.
“Si-siapa?” tanya Ryea gugup dan sedikit heran.
“Seseorang yang sangat berharga untukku. Kau sangat mirip sekali dengannya bahkan aku terkejut, ketika melihatmu pertama kali,” kata Eliot datar tanpa melihat ke arah Ryea yang sudah memasang wajah heran.
“Apa? Yang benar saja.” Ryea kaget dengan ucapan Eliot barusan, ia tidak percaya dengan hal itu.
“Terserah kau jika kau tidak percaya. Tapi itu kenyataannya,” ucap Eliot sambil menatap Ryea dan itu membuat Ryea semakin gugup.
“Pembicaraan macam apa ini. Mengapa kau mendadak mengatakan hal itu? Maaf saja tapi aku bukan orang yang penting buatmu itu,” jawab Ryea ketus, perasaannya tidak nyaman mendengar ucapan Eliot.
“Bukan apa-apa,” kata Eliot santai.
“Aku tidak mengerti.” Ryea menjawab perkataannya dengan ekspresi datar, sebenarnya ia bingung, tapi tak mungkin ia perlihatkan.
“Apa kau marah aku mengatakan hal itu?" Eliot bertanya sambil menatap Ryea lekat-lekat.
“Tidak. Aku tidak menyangka jika kau berbicara seperti itu dan maaf jika aku mengingatkanmu padanya,” jawab Ryea ketus, entah kenapa ucapan Eliot barusan membuatnya menjadi agak panas, padahal ia mengatakan kalau ia tidak marah, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
“Ya, kau mengingatkanku padanya.”
“Lalu di mana ia sekarang?” tanya Ryea, sejurus kemudian matanya menatap lurus ke arah anak-anak yang sedang bermain untuk menghilangkan rasa yang tidak dapat ia pahami.
“Ia telah tiada. Sudah lama tiada,” jawab Eliot dengan tatapan kosong menatap langit.
Ryea tersentak, ia langsung menatap Eliot dan matanya membulat. “Ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud menanyakan hal itu.” Ryea jadi salah tingkah, ia menyesal telah bertanya seperti itu.
“Tidak apa-apa. Aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi tenang saja. Lagipula itu sudah lama sekali dan aku sudah lupa,” ucap Eliot, ia tersenyum tipis dan yang pasti Ryea tidak melihat senyuman itu saking tipisnya.
“Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, aku pulang dulu, ini sudah semakin sore.” Ryea beranjak berdiri dari bangku taman.
“Ya, apa perlu kuantar?”
“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri dan sebaiknya kau juga pulang. Terima kasih sudah mau menceritakan hal itu padaku, tapi kau harus tau aku bukan dia yang dari masa lalumu,” ucap Ryea dan berlalu dari hadapan Eliot sambil membawa belanjaannya.
Eliot diam membisu dan tiba-tiba Ryea menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.
“Satu lagi, terima kasih telah menemaniku berbelanja dan membawa belanjaanku,” kata Ryea, ia tersenyum dan mulai berjalan kembali meninggalkan Eliot di sana.
‘Kau hanya tidak menyadarinya Ryea, apa yang terjadi padamu sebenarnya? Bisa-bisanya kau melupakanku begitu saja,’ kata Eliot di dalam hati sambil menatap kepergian Ryea yang semakin menghilang dari pandangannya.
“Apakah kau benar-benar tak mengingatnya? Kalaupun kau berbeda dengan yang dulu, tapi entah kenapa aku merasa kau tetap sama seperti yang dulu. Sepertinya aku harus mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.”
Kenapa hal ini terjadi lagi, sepertinya tidak akan mungkin pernah ada kata damai dalam hidupnya. Mustahil.