“Kau sangat mirip sekali dengannya.”
Kata-kata yang mucul dari mulut Eliot masih terngiang-ngiang di benak Ryea. Sampai sekarang ia masih tidak mengerti apa maksud ucapan Eliot padanya. Memangnya ada dua orang yang sama persis di dunia ini kecuali kalau mereka kembar dan aku tidak merasa punya kembaran, karena aku ini anak tunggal.
“Ah sudahlah!” Ryea berteriak, ia menarik selimutnya dan mulai terlelap dalam tidur.
***
Tak terasa pagi pun sudah datang, akhirnya hari ini datang juga. Dering jam weaker memekakan telinga dan Ryea pun mulai beranjak dari tempat tidurnya yang nyaman menuju westafel. Lima belas menit kemudian Ryea sudah rapi dan menenteng kopernya turun menuju ruang tamu, tidak terasa tiga hari berlalu dengan cepat. Ryea bergegas ke ruang makan dan melahap sarapannya.
“Biar Ayah antar ke sekolah,” kata ayah sambil meminum kopinya.
“Ya Ayah. Jika naik kereta susah,” balas Ryea sambil mengunyah roti.
Setelah selesai sarapan Ryea berpamitan pada ibunya dan melaju dengan mobil ayahnya menuju sekolah. Tidak disangka ternyata sekolah sudah ramai, beberapa bus besar sudah menanti untuk membawa mereka menuju sekolah yang akan mereka gunakan selama setahun penuh.
“Ryea….” Yura melambai-lambaikan tangannya ke arah Ryea.
Rya yang baru saja keluar dari mobil langsung memutar kepalanya dan melihat Yura yang berjalan menghampirinya.
“Hei, cepat sekali kau," ucap Ryea sambil menggiring kopernya yang telah dikeluarkan dari bagasi.
“Hehehe… aku takut ketinggalan,” kata Yura sambil menyengir.
“Hahaha… ada-ada saja,” ucap Ryea. Ryea pun berpamitan kepada ayahnya dan ayahnya langsung melajukan mobilnya menuju kantor.
Ryea memperhatikan sekelilingnya dan tempat ini sudah ramai sekali dengan wajah-wajah ceria. Ryea melihat Eliot keluar dari bus bersama beberapa temannya dan seperti biasa para gadis meneriakinya. Eliot terlihat acuh tak acuh dan menganggap teriakan para fansnya seperti angin lalu.
“Ya ampun, pagi-pagi begini sudah histeris saja. Memangnya dia semenarik itu kah?” tanya Ryea sambil menaikan sebelah alisnya sambil melipat tangan didada.
“Eliot itu tampan, ya... wajar kalau dia jadi populer seperti itu," ucap Yura cuek.
“Yang benar saja... tampan?” Ryea menggelengkan kepalanya." Ah, sudahlah... aku tidak peduli," katanya sambil mengibas tangan. Lalu berjalan menuju bus untuk meletakkan koper di bagasi.
Dari kejauhan Eliot melihat Ryea bersama Yura berjalan menuju kantin dan tebakkannnya dia ingin membeli beberapa cemilan, mungkin. Eliot memperhatikannya sampai Ryea hilang dari pandangannya.
“Woy, kau sedang memperhatikan siapa?” tanya Jun sambil menepuk bahu Eliot.
“Ah, bukan siapa-siapa,” jawab Eliot, matanya mengerjap kaget. Jun mengangkat bahunya tak peduli.
Merekapun akhirnya mengobrol santai bersama dua orang teman mereka yang lain.
Setengah jam kemudian semua siswa-siswi Rowand High School berkumpul di lapangan dan mendengarkan intruksi dari kepala sekolah, setelah itu satu persatu dari mereka menuju bus masing-masing dan berangkat ke pantai timur, Margarette Beach. Selama perjalanan Ryea sibuk main kartu dengan beberapa temannya sambil tertawa. Ia tidak sadar jika Eliot memperhatikan dari bangku belakang. Eliot tersenyum tipis melihat tingkah Ryea. Sebenarnya Ryea bukanlah gadis dingin, ia bertingkah cuek dan terkesan jutek, jika sudah berhubungan dengan laki-laki. Ryea itu aslinya anak yang ramah dan pandai bergaul, tapi ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Tak terasa mereka telah sampai, bus memasuki wilayah sekolah dan berhenti, satu persatu koper dikeluarkan dari bagasi bus secara bergantian. Karena sudah sangat lelah, akhirnya para siswa dan siswi menuju asrama masing-masing yang ternyata cukup megah atas instruksi guru. Asrama perempuan dan laki-laki hanya dipisahkan oleh lapangan yang diberi sekat pagar tinggi.
“Wah, sudah lama sekali sejak terakhir kali kemari tahun lalu." Yura langsung membuka jendela kamar, lalu berdiri di balkon melihat pantai yang tampak jelas.
“Iya benar. Sudah lama sekali.” Ryea langsung merapikan isi kopernya dan memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari.
“Permisi. Kami juga di kamar ini.” Terdengar suara Maria dan Jeany di depan pintu.
“Wah, kita sekamar. Senangnya.” Yura langsung masuk ke kamar ketika mendengar suara yang ia kenal.
“Hahaha... mohon bantuannya, ya, " ucap Jeany.
Setelah mereka selesai merapikan kamar. Mereka bergegas keluar untuk jalan-jalan hilang sudah lelah mereka, dari tadi asrama sudah gaduh. Terdengar langkah kaki penghuni asrama yang berkeliaran di koridor.
“Hey, kita mau kemana?” tanya Maria. Si gadis imut berambut coklat pekat. Wajah imut ditambah matanya yang besar tentu saja menjadikannya boneka hidup. Banyak siswa yang menginginkan Maria menjadi pacarnya, tapi Maria tak pernah mau menjalin hubungan dengan siswa manapun.
“Ke pantai saja, sudah lama aku tidak ke pantai,” jawab Jean yang memiliki rambut ikal dan cukup tinggi sebagai seorang perempuan, wajahnya cantik tentu saja tapi sayang gadis ini sedikit ketus dan dia selalu saja mengeluh tentang tinggi badannya yang tidak wajar.
“Boleh, ayo kesana.” Yura menanggapinya dengan antusias. Mereka berempat keluar asrama dan menuju pantai.
Mereka tidak sengaja bertemu Eliot dengan teman-teman satu kamarnya yang ternyata juga jalan menuju pantai. Eliot berjalan di depan Ryea dan teman-temannya.
“Eliot itu tampan sekali selain itu dia juga pintar,” kata Jean sambil melihat Eliot.
“Kau menyukainya juga?” tanya Ryea curiga.
“Suka? entahlah mungkin iya mungkin juga tidak," jawab Jean cuek.
“Maksudmu? Masa kau tidak tau dengan perasaanmu sendiri,” ucap Yura, keningnya berkerut mendengar ucapan Jean.
“Soalnya aku tidak merasa jantungku berdebar jika melihatnya. Aku cuma suka penampilannya yang menarik. Lagi pula mana mungkin Eliot mau denganku, lihat saja tinggiku yang seperti tiang listrik ini,” kata Jean mengeluh dan merekapun tertawa mendengar pengakuan Jean yang cukup gamblang seperti itu.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai juga di pantai.
“PANTAIII AKU MERINDUKANMU!” Yura berlari menuju pantai dan berteriak keras sekali sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Gadis berambut sebahu kemerahan itu tersenyum bahagia.
“Pantainya bersih sekali,” kata Maria sambil melihat kiri kanan.
“Sangat nyaman sekali di sini,” ucap
Jean.
“Ini akan menjadi musim panas terhebatku," kata Ryea dengan sorot mata bahagia.
“Jun coba lihat di sana ada Maria,” kata Ron, ia menepuk-nepuk bahu temannya.
“Masa?” tanya Jun sambil mengikuti arah pandang Ron.
“Ah, benar juga ada dia di sana," sambung Nic yang ternyata juga melihat ke arah Ryea dan teman-temannya.
“Kau sampai sekarang belum menyatakan perasaanmu pada Maria. Kau ini payah sekali," ucap Ron sambil menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.
“A-aku tidak bisa. Itu sulit sekali dilakukan,” jawab Jun terbata-bata.
“Dan kau Eliot. Kau pikir aku buta apa. Aku selalu melihatmu memperhatikan Ryea, kau menyukainya?” Selidik Ron pada Eliot sambil menunjuk dirinya dengan es yang ia makan.
“Kau, memperhatikanku? Astaga aku ketahuan,” kata Eliot tak percaya dengan ekspresi yang di buat-buat sambil memakan esnya. Tadi mereka mampir untuk membeli es sebelum memutuskan untuk ke pantai.
“HEEE! Jadi benar kau menyukainya." ucap Jun, Ron dan Nic bersamaan.
“Entahlah aku tidak tau yang jelas dia menarik di mataku,” jawab Eliot sambil melihat Ryea yang sibuk membuat istana pasir.
“Itu artinya kau menyukainya bodoh.” Ron gemas dan ingin memukul kepala Eliot.
“Nikmatilah masa sekolahmu kawan sebelum kau menyesal kemudian," sambar Nic sok bijak.
“Dan kau sendiri menyukai Jean kan Nicolas, sedangkan kau Ronald… Ah sudahlah aku sudah tau sejak kita di bangku menengah pertama, jika kau diam-diam memperhatikan Yura," kata Jun penuh semangat mengebu-gebu.
“Astaga, kenapa bisa seperti ini,” jawab Ron sambil geleng-geleng dan merekapun tertawa bersama. Ia tertangkap basah rupanya, tak menyangka jika ia ketahuan.
***
“Dari tadi aku perhatikan kau melirik kearah mereka. Jangan-jangan ada yang kau suka di antara mereka,” kata Yura terus terang, sedari tadi Yura memperhatikan gerak-gerik Maria yang mecurigakan di matanya.
“A-ah ti-tidak kok," jawab Maria salah tingkah.
“Aduh Maria percuma saja kau menyembunyikannya aku sudah tau," balas Yura cuek.
“Tau apa?” tanya Maria polos, matanya mengerjap-ngerjap lucu.
“Jun. Jun, kan yang kau perhatikan," jawab Yura dan itu membuat muka Maria merah padam saking malunya.
“Hahaha… kau ketauan Maria.” Jean tertawa melihat Maria yang salah tingkah. Maria yang salah tingkah itu lucu di mata Jean.
“Hooo, jadi selama ini kau menyukai Jun, kupikir kau menyukai Eliot,” kata Ryea sambil manggut-manggut mengerti. Ia membantu Jean membangun menaranya.
“Eliot? ah tidak aku cuma mengagguminya saja tidak lebih.” Gadis itu buru-buru memberikan klarifikasi.
“Tapi aku sering melihat kau melirik Eliot sembunyi-sembunyi,” sanggah Ryea sambil menata istananya.
“Bu-bukan begitu. Sebenarnya aku ingin bertanya banyak hal kepadanya tentang Jun. Eliotkan temannya Jun," jawab Maria malu-malu.
“Ah begitu rupanya. Maaf ya aku salah paham.”
“Tidak apa-apa kok,” kata Maria sambil tersenyum.
“Tapi,dibandingkan Eliot, bukannya ada Ron atau Nic? Mereka pasti lebih pahamkan, karena sudah berteman lama dengan Jun.” tanya Ryea, ia tak habis pikir kenapa Maria lebih memilih untuk bertanya pada Eliot yang anak baru daripada teman-teman Jun sedari lama.
“Aku tidak berani, jika aku tanya mereka, mereka pasti akan langsung tahu.” Wajah Maria makin merah.
“Ah begitu rupanya. Aku paham.” Yura menganggung mengerti begitupun Ryea.
“Ok, mari kita cari pacar selama musim panas ini sebelum terlambat,” kata Jean berapi-api.
“Astaga Jean, jadi itu tujuan utamamu ke sini,” kata Yura tak percaya.
“Tentu saja. Pasti banyak di antara siswa sekolah kita yang akan pacaran nantinya.”
“ Kau benar. Itu pasti,” ucap Yura menyetujui perkataan Jean.
“Dan mari tambah akrab mulai sekarang,” kata Maria.
“Hahaha… kau ini aneh sekali Maria, bukannya kita sudah berteman akrab dari dulu.” Ryea tertawa mendengar ucapan Maria. Ya tidak salah juga, dari dulu hanya Yura yang benar-benar akrab dengannya.
“Tapi, mulai sekarang mari kita lebih akrab lagi.”
“Baiklah, baiklah. Hahaha...,” jawabYura dan keempat gadis itu tertawa bersama.
Sore semakin tinggi, akhirnya Ryea, Yura, Maria dan Jean memutuskan untuk kembali ke asrama karena besok kegiatan belajar dimulai. Hari ini sungguh melelahkan sekaligus menyenangkan.