Tok tok tok
"Prof!" sapa Valerie dengan menongolkan kepalanya dari pintu.
"Masuk aja. Val, saya tidak akan memakan kamu kok," ujar Prof. Wilden.
"Iya, Prof," ujar Valerie lalu masuk dan menutup pintu.
"Tugas saya ngapain aja, Prof?" tanya Valerie.
"Kamu sudah mendengar tentang turnamen yang akan diadakan akhir tahun ini?" tanya Prof. Wilden.
"Sudah, Prof," jawab Valerie.
"Saya adalah yang bertanggung jawab untuk membuat rencana pelatihan persiapan peserta turnamen cabang perburuan dari academy kami," ujar Prof. Wilden, "Dan kalian para murid inti akan menjadi salah satu tim yang mengikuti kompetisi sehingga saya ingin kamu mempersiapkan diri dengan baik, saya percaya kamu akan memimpin tim dengan baik sehingga sudah memutuskan untuk menjadikan pemimpin tim."
"Tapi Prof. Menurutku lebih baik jika memilih yang lain menjadi pemimpin tim," ujar Valerie.
"Kenapa? Saya merasa cara berpikirmu adalah yang terbaik diantara murid-murid inti lainnya." ucap Prof. Wilden.
"Justru karena itu, maka saya tidak bisa menjadi ketua tim. Karena biasanya ketua tim adalah orang yang paling kuat dan sering menjadi incaran musuh. Dengan aku tidak menjadi ketua tim, saat ada apa-apa di tim aku masih bisa menghandle, kalau aku yang dijadikan sasaran dan aku merupakan pusat tim, tim akan berantakan jika sesuatu terjadi kepadaku," ujar Valerie.
"Jadi menurutmu siapa yang cocok dijadikan ketua tim?" tanya Prof. Wilden.
"Senior Steven, karena menurutku diantara kami yang memiliki pengalaman paling banyak adalah Senior Steven dan Senior Yura, tapi Senior Steven punya keuntungan bahwa dia seorang alkimia, jadi dia pasti membawa banyak pil untuk pengobatan sehingga relatif lebih aman jika dia yang menjadi ketua lagipula laki-laki harus selalu melindungi perempuan," jawab Valerie.
"Baik, nanti saya akan memanggil Steven," ujar Prof. Wilden, " Tapi saya butuh bantuanmu untuk menguji murid-murid yang juga akan mengikuti turnamen perburuan ini."
"Apakah murid-murid biasa bisa mengikuti, Prof?" tanya Valerie.
"Tentu saja mereka bisa," ujar Prof. Wilden, "Academy akan mengirim tim dan setiap tim terdiri dari 5 orang, saya harap kamu bisa membantu saya untuk membuat 4 tim lainnya, saya ingin kamu mencari dulu perwakilan dari kelas khusus, saya ingin setiap tim memiliki satu murid kelas khusus di setiap bidang."
"Jadi maksudnya ada 1 murid kelas alkimia, 1 murid kelas array, 1 murid kelas persenjataan di setiap tim, Prof?" tanya Valerie memastikan.
"Iya, tapi saya tidak ingin mereka tau kalau mereka sedang diuji untuk diikutsertakan dalam turnamen," jawab Prof. Wilden.
"Baik, Prof," balas Valerie, "Berarti itu baru 3 orang dalam 1 tim, Prof, yang 2 sisanya bagaimana, Prof?"
"Saya ingin yang 2 untuk diisi oleh murid-murid kelas biasa, agar mereka juga memiliki pengalaman," jawab Prof. Wilden.
"Saya paham, Prof," ujar Valerie, "Apakah untuk murid kelas biasa akan kita uji secara diam-diam juga, Prof?" tanya Valerie.
"Tidak perlu, kamu boleh menguji mereka secara terbuka, saya ingin murid-murid khusus yang benar-benar memiliki kemampuan, karena saya kuatir akan terjadi sesuatu dengan murid-murid kelas biasa sehingga saya tidak akan membiarkan mereka memainkan trik apapun. Dan untuk murid-murid kelas biasa jika mereka mampu lulus pengujian bahkan jika mereka menggunakan beberapa trik di lengan baju mereka kenapa tidak, itu menunjukan bahwa mereka cerdas." jelas Prof. Wilden.
"Penyerahan nama tim paling lambat kapan, Prof?" tanya Valerie.
"Kalau bisa minggu depan sudah siap, Val," jawab Prof. Wilden, "Karena kalian masih membutuhkan pelatihan," jawab Prof. Wilden.
"Baik, Prof," ujar Valerie.
"Untuk pengujian murid-murid kelas biasa saya sendiri juga akan terlibat," ucap Prof. Wilden, "Nanti saya akan mengabari jadwal pengujiannya ke kamu."
"Oke, Prof," ujar Valerie, "Tapi Prof, setau saya untuk murid-murid kelas khusus tahun pertama belum dipilih."
"Mereka sudah mulai bergabung hari ini, karena situasi khusus tahun ini sehingga langsung dipilih," ujar Prof. Wilden.
"Kompetisi ini sangat penting ya, Prof?" tanya Valerie.
"Tentu saja, ini adalah turnamen yang diadakan setiap 5 tahun sekali dimana akan ada pembaruan peringkat untuk para pelajar di alam bawah. Selain peraih juara akan berkesempatan untuk mendapatkan penawaran dari academy-academy di alam tengah, nanti kalian akan bisa memilih academy yang ingin kalian masuki, saran saya targetkan Staries Great Academy," ujar Prof. Wil
"Wah... hebat, saya harus menang," ujar Valerie.
"Kalau melihat kelompokmu ada kemungkinan 99% untuk kemenanganmu, Val," ujar Prof. Wilden, "Tapi kalau kamu tidak menang pun, selama kamu tampil dengan baik dan bisa menarik perhatian perwakilan dari Staries Great Academy kamu masih bisa mendapatkan undangan untuk memasuki Staries Great Academy."
"Sepertinya itu lebih sulit daripada memenangkan tournament," ujar Valerie.
"Iya, tapi bukan tidak mungkin," ujar Prof. Wilden.
"Saya tetap lebih memilih mengambil yang pasti aja, Prof," ujar Valerie, "Aku pasti akan memenangkan tournament."
"Semangat yang baik! Oke, kamu boleh kembali ke asrama," ucap Prof. Wilden.
"Terima kasih, Prof," ujar Valerie.
***
"Kenapa kamu dipanggil Prof. Wilden, Val?" tanya Yura.
"Prof. Wilden memberitahuku tentang turnamen akhir tahun," jawab Valerie yang membuat yang lainnya memandang Valerie dengan bersemangat.
"Sebentar, aku mau bertanya dulu, ini yang lainnya tidak akan bisa nanti ke lantai kita, 'kan?" tanya Valerie memastikan bahwa murid-murid asrama Vermilion lainnya tidak akan bisa naik ke lantai mereka.
"Tentu saja!" sahut Steven dengan bangga, "Ini adalah lantai eksklusif kita."
"Maka aku akan mengatakan ke kalian," ujar Valerie lalu mulai menjelaskan ke mereka apa yang telah diberitahukan oleh Prof. Wilden.
"Jadi maksudmu, kamu meminta kita untuk menguji kemampuan anak-anak kelas khusus?" tanya Hazel.
"Iya, biar tidak mencurigakan," ujar Valerie, "Akan aneh apabila tiba-tiba aku yang menguji kemampuan mereka, terutama aku bukan murid kelas persenjataan."
"Masuk akal," ucap Yura.
"Tapi menurutku kita tidak bisa hanya melihat bidang mereka, kita harus memastikan bahwa setidaknya mereka bisa melakukan pertempuran dan pertahanan, seperti array untuk mengaktifkan array akan dibutuhkan waktu dan jika mereka tidak bisa melakukan pertarungan dan pertahanan mereka akan tewas sebelum array jadi bahkan," ujar Elquino.
"Benar juga kata Kak El," ujar Valerie, "Tapi gimana cara kita menguji mereka tanpa ketahuan?"
"Aku punya ide, kita buat aja peringkat asrama," ucap Yura.
"Apa gunanya peringkat asrama?" cibir Hazel.
"Tentu saja itu hanya alibi, nanti kita ambil 4 teratas dari mereka di setiap bidangnya," ujar Yura.
"Tapi menurutku itu kurang efektif, bagaimana jika ada yang masuk 12 besar, tapi dia adalah yang kelima di bidang mereka?" tanya Steven.
"Salahkan itu kepada kemampuan mereka yang tidak kuat," jawab Yura.
"Masuk akal, hanya mereka yang punya kemampuan yang boleh berbicara," ujar Valerie, "Jadi kita putuskan begitu saja, besok dan besok lusa adalah waktu kalian untuk menguji mereka dan tolong urutkan kemampuan mereka. Lalu besok lusa saat malam hari kita akan mengumumkan masalah pertarungan untuk peringkat asrama, kita jadwalkan pertarungan di hari Minggu," ujar Valerie.
"Menurutku berdasarkan ceritamu tentang keinginan Prof. Wilden, Val, kita tidak perlu mengumumkan pertarungan peringkat asrama, jadi mereka tidak akan bisa memainkan trik-trik lucu mereka," saran Elquino, "Juga kita tidak akan semerta memasukan mereka hanya dengan peringkat pertempuran asrama, kita akan merata-rata poin mereka dengan kekuatan mereka untuk bidang mereka masing-masing."
"Untuk merata-rata nilai bisa diterima. Tapi untuk masalah tidak perlu memberitahu yang lain, bagaimana kalau ada dari mereka yang belum bangun?" tanya Valerie.
"Maka salahkan kemalasan mereka," jawab Elquino, "Lagian pertempuran ini kita adakan cukup lama, kita bisa mulai dari jam 8 sampai jam 3."
"Aku setuju dengan saran Elquino, lagian kita tidak bisa membuang wajah academy kita dengan mengirimkan mereka yang tidak memiliki kemampuan nyata," ucap Steven.
"Aku juga setuju, selain itu, kita tidak bisa membiarkan banyak korban karena mereka yang diharapkan dapat melindungi ternyata tidak punya kekuatan nyata," ujar Yura.
"Aku juga setuju sih, Val, karena kalau mereka tidak bisa melindungi murid-murid kelas biasa, mau dikemanakan wajah Asrama Vermilion kebanggaan kita," ucap Hazel.
"Oke, kita sepakati seperti itu," ujar Valerie.
"Ya sudah, kalian bisa berdiskusi untuk pengujian yang ingin kalian lakukan," ujar Valerie mengakhiri diskusi mereka.
"Oke," ujar Hazel dan Yura lalu bangki pindah ke meja lain di ruang santai itu.
"Kalian berdua ngapain masih di sini?" tanya Valerie ke Steven dan Elquino yang masih duduk di meja yang sama dengan Valerie.
"Menurutmu?" tanya Steven dan Elquino bersamaan.
"Hmm... maaf, aku lupa," ujar Valerie, "Mari kita langsung mulai saja."
"Baik, kamu bahas alkimia dulu aja, Val. Karena alkimia pasti butuh untuk menyiapkan bahan-bahannya," ujar Elquino.
"Memang array tidak butuh? Bukankah kamu malah harus menyiapkan array untuk mereka pecahkan?" tanya Steven.
"Tenang, array akan diujikan besok lusa. Selain itu, ada Valerie yang akan membantuku menyusun array," jawab Elquino.
"Oke," ujar Steven, "Menurutku, Val, kita harus menguji cara mereka untuk mengatasi masalah racun, walaupun mereka belum tentu bisa menyembuhkan sepenuhnya selama mereka dapat menghambat racun itu dapat dikatakan baik."
"Bukan kah untuk itu kalian hanya perlu memberikan pil kepada mereka untuk berjaga-jaga," ujar Elquino.
"Tapi aku kuatir akan ada racun yang tidak bisa ditahan dengan pil yang kita berikan," ujar Steven, "Selain itu, racun bisa berada dimana saja, termasuk udara, sehingga kita juga membutuhkan mereka yang bisa mengenali racun untuk meningkatkan kemungkinan menghindari racun."
"Masuk akal," ujar Valerie, "Lalu kita akan membagi ujian menjadi 2, 1 untuk mengenali racun dan yang lain untuk mempertahankan keadaan dari racun."
"Masuk akal, aku akan mulai menyiapkannya kalau begitu," ujar Steven, "Dan aku akan membuat pengumuman agar mereka menghadiri kelas alkimia besok dan juga aku meminta izin ke Prof. Fey."
"Oke," ujar Valerie, "Maaf tidak membantu Senior menyiapkan."
"Gak papa, aku tau kamu punya tanggung jawab lainnya juga," ucap Steven, "Lagian aku tidak perlu membuat ramuan satu-persatu, aku hanya perlu membeli racunnya. Bantulah Elquino yang harus membuat arraynya."
"Iya, Senior," ujar Valerie.
"Dahh...," ujar Steven lalu meninggalkan mereka berdua.