“Nggak! Gue nggak mau ngelakin itu! Lo gila ya?” Xera berteriak dengan amarahnya kepada Xian yang sekarang menatapnya mengintimdasi.
“Kenapa? Lo takut? Lagian ini tugas lo sebagai sekretaris kelas.” Ucapan Xian sangat mutlak untuk dibantah, Xera hanya menghela napas kasar dan menatap tidak suka dengan orang dominan di depannya. “Gue tetap nggak mau!” Xera masih kukuh tidak ingin melibatkan dirinya.
“Apa alasan lo?” tanya Xian to the point, Xera sangat bebal pikirnya, tidak seperti bayangannya di awal yang akan sangat patuh dengan perintahnya.
“Gue malas untuk akrab dengan mereka semua, lo harus hargai gue kalau gue punya batas,” jawab Xera. “Batas? Itu udah resiko lo dan tanggung jawab,” balas Xian.
Xera membuang wajahnya, ia sungguh muak menghadapi ketua kelas arogan di depannya. “Lo punya hak merintah gue, tapi lo nggak punya kekuasaan untuk buat gue mau melakukan perintah lo!" Xera manatap intens ketua kelasnya tersebut.
“Lo kira dengan gelar anak kepala sekolah, lo bisa berbuat seenak hati?” Xian menaikkan alisnya, wajah tampan keturunan China itu sangat membuat siapa saja terpuka ketika melihatnya. “A-ah ... a-apa maksud lo?” gagap Xera, ia tidak habis pikir ketika Xian dengan beraninya menekan titik sensitifnya.
“Lo tau maksud gue.” Xian menekankan kata-katanya dan berjalan ke depan membuat Xera terpojok pada dinding kelas.
Xian mendekatkan wajahnya ke arah Xera, matanya yang coklat terang tersebut menatap Xera dengan buas, tangannya dengan ringan meraih rambut Xera dan ia mencium rambut Xera yang beraroma buah, “Lo mau gue berbuat hal yang di luar batas?”
Xera menutup matanya kuat, bagaimana bisa ia merasakan aura dominan dari Xian yang sangat kuat? Ia tidak pernah selemah ini sebelumnya saat menghadapi lawan bicaranya. “A-apa mau lo?” tanya Xera dengan perasaan yang kacau.
“Bukannya lo sudah tau jelas? Gue mau lo meneliti perkembanan Starzy secara diam-diam, lalu lo berikan datanya ke gue. Kalau lo nggak mau ... Jangan menyesal jika harga diri lo jadi label murahan.” Xian tersenyum saat Xera membuka matanya dan menatap Xian dengan pandangan takut.
“Lo kira lo bisa berbuat seenaknya? Meskipun kuasa dan wewenang lo lebih tinggi disini entah karena bokap lo kepsek atau lo petinggi rahasia disini, tetap aja lo nggak bisa langkahi gue, camkan itu!” ucap Xian dan menekankan perkataannya di akhir kalimat, Xera hanya mengangguk mendengar perkataan Xian.
“Oke, gue pergi dulu.” Xian meninggalkan kelas dan Xera masih setia membeku setelah kepergian Xian.
Ketika Xian sudah tiap terlihat di hadapannya, tubuh Xera terasa sangat lemas, ia terjatuh dengan cepat ke lantai. Tubuhnya bergetar hebat dan perasaannya sekarang sangat kacau, ia tidak menyangka akan dihadapkan dengan sosok yang begitu dominan, ia tidak pernah dibuat sangat ketakutan seperti ini sebelumnya.
“Xian s****n! Gue tunggu kabar kematian lo, awas aja.”
***
“Jadi ... Tadi lo bilang lo mau buat apa?”
“Racun Rei, lo nanya mulu, bisa diam dulu nggak? Gue bingung nih bahan yang cocok apa aja.” Sera mengedarkan pandangannya ke seluruh hutan yang luas ini, mereka lagi berada di area budidaya tanaman Starlight School, lebih tepatnya tempat terlarang, karena mereka berada di area tanaman beracun dan mematikan.
“Lo mau bunuh ya?” tanya Rei dengan nada polos dan tanpa beban. Tidak lama, sebuah jitakan meluncur di bagian atas kepala Rei, “Lo suka banget mikir aneh ya, mending lo bantuin gue cariin tanaman herbalnya,” ujar Sera.
Rei mengelus kepalanya, jitakan Sera seperti biasa dan sangat menyakitkan, aura pembunuhnya emang sangat melekat dengan diri Sera pikir Rei. “Tanaman herbal? Tanaman kematian kali, mana ada tanaman herbal bersifat mematikan,” ucap Rei.
“Brisik lo!” Xera menatap sinis Rei, “Lagian itu tanaman untuk apa sama lo?” tanya Rei untuk kesekian kalinya.
“Untuk bunuh yang halangi jalan kitalah, untuk apa lagi coba selain itu?”
“Bukannya orang bakal tau kalau misal lo keluarin racun? Lagian gimana lo cara bunuh orangnya? Lo lupa orang-orang disini cerdas-cerdas?”
“Cerdas lo bilang? Lo aja b**o tuh, lagian ini gue buat dengan ramuan pekat, tapi bisa memudar kalau kena larutan mineral atau udara terbuka, tapi efeknya tetap sangat mematikan.” Ucapan Sera membuat Rei berkerut bingung, “Emang hal kaya gitu bisa dibuat?” tanya Rei. “Bisa, tapi itu prosesnya sangat susah dan bahannya pun sangat langka dan sulit ditemukan, misalnya kalau dapat tanamannya, kita harus memilih tunasnya yang masih berumur beberapa minggu, jika tidak resiko gagal bisa sampai 90%” terang Sera panjang lebar.
“Lo banyak tau ya, di rumah lo sering riset tentang tumbuhan beracun ya?”
“Nggak hanya tumbuhan beracun, tapi gue riset seluruh tumbuhan yang ada di dunia, dan untungnya karena orang tua gue ilmuwan dan suka meneliti berbagai jenis tumbuhan juga, jadi gue lebih mudah untuk eskplain secara langsung.” Sera bolak balik melihat buku jurnalnya dan kemudian ia mengamati satu-satu tanaman yang ada di sekelilingnya, sesekali ia juga menyentuh daun atau batang tanaman yang berada di sana dengan menggunakan sarung tangan.
Rei hanya bisa diam menatap Sera berusaha dengan dirinya sendiri, karena sejujujurnya Rei sangat tidak bisa membantu banyak, selain ia sangat awam tentan dunia tumbuhan, Rei juga sangat bingung karena di Starlight School ini banyak tumbuhan yang aneh dan langka.
“Yes! Dapat!” seru Sera girang, ia lalu berlari cepat ke tumbuhan yang keberadaannya ditangkap oleh retina matanya. Rei yang melihat Sera berlari kecil tersebut juga ikut berlari mengerjar Sera.
“Gimana? Cocok sama keinginan lo?” tanya Rei saat mereka sudah sampai di depan sebuah tumbuhan berbentuk aneh, batangnya bercabang tiga dan bewarna hitam pekat, daunnya bewarna merah darah, tidak lupa bunganya mekar dengan indah bewarna putih salju.
“Sudah, tapi...” Sera menghentikan perkataannya, tidak lama ia dibuat kaget dan matanya membelalak saat menyadar suatu hal, “Tidak mungkin..” ucap Sera dan jatuh terduduk.
“Lo kenapa?” tanya Rei dibuat bingung dengan sikap Sera yang tiba-tiba berubah. “Lo tau? Ini merupakan Flower of Black and White Evil, bunga ini sangat langka dan jarang diketahui oleh orang, bahkan yang mengetahui keberadaannya bisa dihitung dengan cari, kandungan bunga ini dapat membahayakan 50% penduduk bumi jika disalahgunakan..” Sera menghentikan perkataannya, ia menghelakan napasnya kasar, lalu berdiri dan menatap Rei.
“Terus?” tanya Rei yang sudah penasaran dengan kelanjutan perkataan Sera.
“Bunga ini bertunas hanya sekali seumur hidupnya, persebarannya hanya di beberapa wilayah tertentu, seperti di daerah tempat tinggal gue di Swedia, dan beberapa wilayah lainnya. Masalahnya tumbuhan ini terletak di pedalaman hutan yang sangat dalam, makanya untuk menemukannya saja sangat beresiko dan susah.” Sera sangat berat untuk menjelaskan ini, tetapi ia harus mengatakannya kepada Rei.
“Populasinya diperikaran hanya sekitar 30 saja di dunia, di rumah gue ada 8, tetapi sudah mati karena ia tidak cocok dibudidayakan. Dan lo lihat sekarang, ini merupakan salah satunya dari tumbuhan yang sangat mematikan itu, tetapi lo lihat ini..” Sera menunduk dan menunjukkan sebuah tunas bewarna hitam dan sudah terpotong setengah, hanya menyisahkan penampakan batang tunas dan bagian dalam tunas yang bewarna merah pekat.
“Lo liat kan? Ini tunas udah dipotong dahulu, dan dari perkiraan pemotongan dan bekas sayatannya, ini diambil oleh ahli peracik ramuan yang sudah terbiasa membuat berbagai obat-obatan karena ia melakukanny dengan cara yang steril, dan ini sudah dipotong sekitar sehari yang lalu...” Sera kembali terdiam dan menatap Rei dengan wajah ketakutannya.
“Dan lo tau apa yang gue takutkan? Gue takut yang mengambil tumbuhan ini menyalahgunakannya untuk mencelakai orang-orang yang ada di sekolah ini. Karena tumbuhan ini bukan sembarangan dan bisa berakibat fatal.”