“Jadi, sekarang lo mau kita bertiga ngapain?” tanya Sera pada temannya Stella, mereka sekarang berada di halaman luas Kingdom, lebih tepatnya di tengah-tengah lapangan untuk latihan memanah.
“Menurut lo apa?” tanya balik Stella yang membuat ketiga temannya langsung menatap interogasi Stella. “Ah.. eh? Kalian kenapa natap gue gitu amat? Ya main panahan lah, apalagi coba?”
“Ini buang-buang waktu kita nggak sih?” Sera pasrah dan mengambil alat pemanah untuk mengikuti latihan seperti apa yang dikatakan Stella.
“Sebenarnya tidak sepenuhnya ini membuang waktu kita, tujuan Stella kita latihan memanah untuk melatih tingkat kecermatan, ketelitian, dan kepekaan kita,” jawab Rei atas pertanyaan Sera.
“Benar juga.” Sera mengangguk paham dan dengan semangat ia mengambil anak panahan dan sebuah pemanah, lalu berjalan kembali menuju tengah lapangan menghampiri Stella dan Xander yang sudah sedari tadi berada di sana.
“Kenapa lama sekali?” tanya Stella lebay, penyakitnya mulai kumat.
“Baru semenit bego.” Sera menjitak kesal kepala Stella.
“Santai dong mbak, gue panah mata lo, ntar modar juga lo.”
“Lo mau bicarain apa Stel?” tanya Xander tiba-tiba saat Sera dan Stella masih menikmati pertengkaran mereka berdua.
“Kok lo tau sih gue mau ngomongin sesuatu?” Stella menatap ngeri Xander yang berada di sampingnya, Stella makin mencurigai kalau Xander sebenarnya mind reader.
“Ya, gue emang dapat baca pikiran orang.” Pernyataan dari Xander membuat yang lain terdiam dan mendadak menatap Xander dengan pandangan bertanya.
Sera yang sudah ingin melesatkan panahannya langsung melepaskannya dan melihat Xander dari dekat. Sera sudah menduga kalau Xander dapat membaca pikiran orang dari beberapa gerak gerik mencurigakan Xander, dengan perasaan senang Sera menatap Xander bagaikan mangsa buruannya.
“Lo kenapa Ser?” Aneh..” lirih Rei di akhir kalimatnya.
“Sejak kapan coba di sekolah ini ada manusia normal Rei?” timpal Stella.
“Gue,” jawab Rei tanpa nada ragu sedikitpun dan hanya mendapat delikan tajam dari Stella.
“Lo seriusan bisa baca pikiran Xan?” Sera mengambil jurnal kecil dari sakunya yang selalu dibawanya kemana-mana dan tidak lupa ia juga mempunyai pena kecil yang setia menemani buku jurnalnya itu.
“Lo mau apa?” Xander bergidik ngeri melihat Sera yang ingin menjadikannya bahan percobaannya, lebih tepatnya penelitian yang mungkin akan dilakukannya layaknya sebuah kelinci percobaan.
“Nggak apa, gue mau neliti kemampuan pasif dari murid di sekolah ini, terutama para Starzy.”
“Bentar bentar, jangan bilang lo sebenarnya udah tau semua kemampuan pasif Starzy?” tanya Stella mengharapkan Stella untuk menjawab tidak.
“Ya, gue tau. Sifat dan sikap kalian sangat ketara, hanya dengan melihat perkembangan kalian selama tiga hari, gue tau sebenarnya kemampuan pasif kalian apa. Kalian tidak lupa kan kalau keluarga gue juga meneliti dan mengembangkan manusia?”
“Oke, balik ke topik awal dulu deh... Stel, lo mau bicarakan apa?” Xander mengambil pemanahnya yang terjatuh dan anak panah, lalu ia mencoba untuk melesatkan satu anak panahan dan tidak tepat mengenai sasaran, “Ah, s**l!” umpatnya.
“Gue ajak Angkasa dan temannya untuk membantu kita,” ungkap Stella.
“APA?!!” Stella dan Rei kaget bukan main, kecuali Xander yang emang sudah dapat membaca maksud dari pikiran Stella sedari awal saat mereka berada di halaman belakang Kingdom ini.
“Lo seriusan sembarangan ngajak orang untuk ikut gabung ke kita?” Sera berjalan mondar-mandir sekarang, ia terlalu takut untuk melihat ke masa depan, bagaimana bisa Stella berbuat seenaknya?
“Kemarin waktu gue main ke Villatte, gue nggak sengaja mendengar pembicaraan Angkasa dan Nayla kalau mereka ingin menemukan rahasia besar di balik Starlight School, jadi gue ajak aja mereka berdua untuk sekalian kerja sama dengan kita.”
“Bagus, sepertinya mereka berdua memiliki kualifikasi yang kuat,” ucap Xander. “Kenapa tidak untuk merekrut orang seperti mereka berdua?” sambungnya.
“Xander ... Lo tau sendirikan? Bisa saja mereka bersandiwara,” Sera memutar bola matanya, ia dibuat bingung dengan perubahan rencana yang mendadak ini.
“Lo waktu itu jumpa mereka dimana?” Kali ini Rei bertanya turut ikut masuk ke dalam percakapan mereka.
“Lapangan golf, dan anehnya hanya ada mereka berdua saat itu disana,” jawab Stella.
“Oke, gue paham. Mereka dapat dipercaya, lo tenang aja Ser,” ujar Rei.
“Bagaimana lo bisa tau? Lo dukun? Tetap aja kita harus hati-hati, tidak ada yang benar-benar bisa prediksi masa depan Rei kalau mereka nantinya berkhianat,”
“Dan tidak akan ada yang dapat pastikan juga kalau salah satu dari kita nantinya juga berkhianat.” Perkataan Rei membuat Sera terdiam, ia tidak tau ingin membalas perkataan Rei dengan apa, karena apa yang dikatakan Rei kebenaran yang mutlak.
“Baiklah, tapi bisa nggak kalian jelaskan alasan mereka harus bergabung ke kelompok kita?” tanya Sera dengan sangat serius, ia menuntut jawaban yang memuaskan dari ketiga temannya itu.
“Kualifikasi mereka bagus, lo tau sendiri kalau Angkasa ketua organisas sekolah kita, pasti ia sangat mahir dalam memanipulatif, begitu pula dengan Nayla yang dari gue teliti selama ini, ia sangat ampuh dalam pengolahan dan analisis data,” jawab Xander.
“Mereka juga memiliki perencanaan yang sempurna, itu terlihat dari mereka saat membicarakan tentang rahasia Starlight School, mereka mencoba mencari tempat terbuka, luas, dan sepi yang lebih minim bocor informasi,” timpal Rei.
“Dan juga mereka berdua dapat dimanfaatkan untuk pengalihan isu, lo tau sendirikan bagaimana popularitas Angkasan dan Nayla dalam masalah kecantikan dan ketampanan mereka? Menurut lo apa yang terjadi kalau kita dapat memanfaatkan hal itu saat keadaan yang sangat genting?” Stella menambahkan perkataan Xander dan Rei.
Sera menghela napasnya. Benar, semua yang dikatakan oleh ketiga temannya benar, ia harus mencoba untuk lebih terbuka sedikit. Ia masih sedikit trauma karena kejadian tumbuhan flower of black and white evil kemarin, ia sudah seperti merasakan batas kematian saat mengetahui tumbuhan seperti itu sudah diambil oleh oknum yang mungkin merugikan.
Sera tidak ingin berburuk sangka, hanya saja ia harus waspada dan was-was, sama seperti sekarang, bisa saja Angkasa dan Nayla hanya menarik perhatian mereka.
Xander meraih pundak Sera dan mengelusnya, “Lo tenang aja Ser, lo nggak berjalan sendiri, ada kita kok yang berada di samping lo, jadi jangan takut. Masalah tumbuhan yang tunasnya sudah diambil, itu akan gue urus dan gue temukan. Jadi, sekarang lo tenang aja dan ikuti arusnya.” Xander tersenyum saat mengakhiri kalimatnya.
“Benar, lo nggak sendiri, gue tau gimana beban di pundak lo, terlebih lagi lo bawa nama keluarga lo, gue paham akan itu.” Stella juga menghampiri Sera dan mengelus punggung tangan Sera yang dingin.
“Semakin banyak yang membantu, semua akan semakin ringan Ser, lo nggak usah mikir dulu tentang pengkhianat. Yang penting sekarang, kita harus dapat menyempurnakan rencana kita semaksimal mungkin,” ucap Rei seraya menatap Sera hangat.
“Baiklah..”
“Wah, drama yang sangat bagus,” ucap seseorang dari atas pohon yang sedang mereka tempati.
Saat itu juga semuanya terdiam, bukan terdiam karena takut pembicaraan mereka terbongkar, tetapi terdiam karena mereka merasakan aura seseorang yang berada di atas mereka bukan merupakan aura sosok manusia berjiwa, tetapi aura perkat yang terasa kosong, hampa, dan suram. Ya, aura kematian.