“Lo ngapain kesini Stel?” Zadith menatap curiga sosok yang ada di hadapannya, tidak biasa Stella mencoba untuk mendekati mereka.
“Mau bahas tugas kimia sama kalian, apa lagi?” Stella menjawab pertanyaan Zadith yang membuat George semangat, “Ayo cepat sini bantuin kami!” seru George dan melemparkan buku yang ada ditangannya. “Aku sudah lelah membaca buku dan tidak mendapatkan jawabannya sedikitpun,” sambungnya.
“Yaelah, gimana mau nemu orang lo aja baca novel b**o!” Zadith kembali menjitak kepala George dengan sangat ringan. “Ahh.. Gila lo! Tangan cewek apa cowok tuh, kuat amat.” George menatap Zadith ngeri.
Stella mendatangi mereka berdua yang duduk di meja taman tepat di bawah sebuah pohon, “Pemandangan disini cantik juga ya,” gumam Stella yang terdengar di teelinga Zadith. “Ya, gue jadi sedikit rindu sama rumah,” ucap Zadith.
“Baru aja tiga minggu lo disini,” timpal Stella.
“Ya... emang kenapa kalau gue rindu rumah? Salah ya?”
“Nggak sih, gue nggak heran kenapa lo rindu rumah, secara nggak langsung lo hidup di negara termewah di dunia. Dan ditambah lo putri kerajaan, pasti nikmat banget hidup lo.”
“Yaa... nggak juga sih, lo kira jadi putri kerajaan enak?”
“Enak banget menurut gue. Gak enaknya pasti tentang masalah politik doang dan lo disuruh untuk belajar memahaminya, tapi lo terlahir cerdas. Jadi itu bukan suatu masalah besar bukan?”
Stella duduk di samping Zadith, sedangkan George berada di seberang mereka. Stella mengambil buku enskiklopedia yang ada di hadapan George dan membacanya sebentar pada bagian atom.
“Kalian benar-benar tidak bisa dapat menyimpulkan tentang ini?” tanya Stella membuka suara kembali.
“Tidak, sejujurnya gue nggak paham sama yang kalian bahas pagi kemarin bersama Dater,” ungkap Zadith. “Ya, gue juga,” timpal George.
Stella menghelakan napasnya, ia tidak menduga hal seperti ini. Tetapi ada benarnya juga saat Starlight School memutuskan untuk membagi fokus peminatan mereka, karena tidak ada yang benar-benar sempurna memahami sebuah mata bidang pelajaran. Stella akhirnya memutuskan kembali memaparkan materi tentang atom kepada George dan Zadith.
***
Xander sekarang sedang berada di kamar Xian, ia sedang melakukan sesi konseling seperti yang diminta Xian. Tetapi apa nyatanya? Xander sudah hampir setengah jam menunggu Xian mandi yang tak kunjung selesai-selesai.
“Anak itu ngapain sih?” Xander mendecak kesal dan ia berdiri dari kasur Xian. Berjala mengelilingi kamar Xian yang sangat besar, setelah dipikirkan kembali desain ruangan setiap kamar Starzy sangat berbeda-beda, desain interior kamarnya lebih seperti menyesuaikan kepribadian sang pemilik kamar.
“Udah lama lo nungguin gue?” tanya sosok suara dengan bariton khasnya. Ya, suara Xian berbeda dari cowok kebanyakan, suaranya sangat khas dan serak, tidak heran jika dia pandai menyanyi karena memanfaatkan suara khasnya tersebut.
“Pakai nanya lo,” ketus Xander. Xander meraih sebuah foto yang terletak di dekat televisi yang ada di ruangan tersebut. “Bentar.. ini lo waktu masih kecil?” tanya Xander menunjuk sebuah foto yang terdapat sebuah keluarga lengkap, ia tertarik pada seorang anak kecil yang sedang diperhatikannya sekarang, seperti Xander pernah menemuinya.
“Iya, kenapa? Kenapa lo yang jadinya interogasi gue?” Xian baru menyadari Xander yang seperti maling melihat-lihat barangnya.
Xian!!” teriak Stella dari luar kamarnya, suara langkah kakinya terasa cepat bergerak ke arah kamar Xian tersebut.
“Lo udah siap belum?” Setelah suara Stella tersebut terdengar, pintu kamar Xian terbuka dan menampilakn Stella yang tersenyum riang dan perlahan wajahnya berubah menjadi kaget.
“K-ka.. lian berdua ngapain?” tanya Stella menatap tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Bagaimana mungkin Stella melihat sosok Xian yang tidak mengenakan pakaian bersama Xander yang terbaring di ranjang Xian? Tidak, lebih tepatnya Xian sekarang sedang menghimpit Xander.
“Maaf kalau gue menganggu waktu kalian,” ucap Stella lalu menundukkan kepalanya dan pamit keluar.
“Stella! Tunggu!” kejar Xian keluar menarik tangan Stella.
“Lepas! Iya iya gue bakal bungkam, jadi biarkan gue pergi ya? Jangan apa-apain gue.” Stella terlihat memohon kepada Xian yang sekarang menatapnya aneh.
“Masuk!” perintah Xian mutlak seperti tidak dapat diganggu gugat. Stella menghelakan napasnya dan menuruti perkataan Xian untuk masuk ke kamarnya, ia pasrah dengan nasibnya nanti.
***
“Oh.. jadi lo berdua nggak ada hubungan terlarang ya ternyata?” Stella mengelus dadanya, ia sedikit lega setelah mendengar penjelasan dari Xian dan Xander. Ternyata Xian ingin mengambil sebuah foto masa kecilnya yang diambil Xander secara diam-diam di dalam tas Xian. Xander tidak kunjung memberikan fotonya sampai Xian mendorong Xander dan terjatuh di ranjang, Xian masih tetap berusaha dengan menimpa Xander. Dan selanjtnya... Stella datang menangkap basah mereka berdua.
“Maafkan gue, gue salah paham.”
“Jadi, kapan gue bisa mulai sesi konseling bersama ‘bapak ketua’?” tanya Xander menekankan perkataannya di bapak ketua yang ditujukannya kepada Xian.
“Lo sabaran dikit bisa nggak sih?”
“Bisa aja, tapi ini masalahnya gue udah nunggu 1 jam, gila aja padahal gue orang pertama.”
“Hmm Xan, lo orang terakhir by the way,” ungkap stella yang membuat Xander menatap Stella cepat. “Terakhir? Ini baru jam 10 pagi? Kalau gue orang terakhir, sejak kapan yang lain konseling?” tanya Xander.
“Mereka udah mulai sejak jam 5 pagi, itupun gue dulu yang konseling terlebih dahulu ke Xian, baru Sera dan lainnya.”
“Mereka rajin, gue malas, itu hal yang berbeda,” ujar Xander seperti membela dirinya.
“Nah ini dia!” teriak Xian tiba-tiba di dalam kamarnya, Xander dan Stella sekarang sedang berada di balkon kamar Xian.
Tidak lama Xian datang membawa beberapa berkas dan menaruhnya tepat di depan meja yang sedang Xander duduki. Xian duduk di depan Xander sembari membaca sebentar sebuah kertas yang ada di genggamannya.
“Langsung aja ya,” ucap Xian yang hanya diangguki oleh Xander.
“Yang gue lihat dari berkas dan riwayat pendidikan lo, lo tipe pengamat ya.. Hal apa yang membuat lo nggak nyaman dengan sistem Starligth School?”
“Semuanya,” jawab Xander cepat yang membuat Xian dan Stella menoleh ke arah Xander.
“Kenapa? Gue salah jawab?”
“Tidak, soalnya hanya lo yang menjawab seperti itu. Lanjut, kemampuan utama lo apa?” tanya Xian kembali. “Hmm,, Gue dapat memahami hal dasar dengan cepat, dan itulah yang membuat gue pandai dalam merancang sebuah teknologi dengan inovasi apapun,” jawab Xander. Xian dan Stella terlihat mencatat sesuatu setiap jawaban yang diberikan Xander.
“Sejujurnya data lo udah lengkap banget disini, karena lo anak ketua komite sekolah, jadi semua data lo mudah didapatkan, nggak seperti yang lain.”
“Lanjut, potensi pasif apa yang lo miliki? Ini pertanyaan terakhir, karena data lo udah lebih dari cukup disini,” ujar Xian dan menunggu jawaban dari Xander.
“Gue bisa membuat simulasi dan dimensi baru seperti bumi yang ada saat ini, bisa disebut, skill pasif gue adalah World Hacking.”