“Apa? Jadi kemampuan pasif lo perombakan dan regenerasi sel?” Xian kaget bukan main mendengar apa yang barusan saja disebut oleh wakilnya tersebut. “Iya, lo udah janji kan untuk bersikap biasa saja setelah gue bilang kemampuan pasfi gue,” ujar Stella.
“Iya, maaf, habisnya gue kaget.” Xian kembali mengisi formulir sesi konselingnya yang bertuliskan nama Stella pada ujung kiri formulir tersebut.
“Kalau gue boleh tau, kemampuan pasif lo apa?” tanya Stella merasa penasaran dengan kemampuan pasif yang dimiliki oleh sosok ketua kelas di depannya.
“Gue kira kalian semua udah tau kemampuan pasif gue,” jawab Xian. Ia masih fokus menuliskan dan mendeskripsikan bagaimana kemampuan pasif yang dimiliki oleh Stella.
“Sebelum itu, lo berarti tidak bisa diracun atau dibunuh ya?” tanya Xian kepada Stella, ia sedikit bingung bagaimana mendeskripsikan kemampuan pasif milik Stella.
“Bisa dibilang seperti itu. Saat ada racun masuk ke tubuh gue, otomatis jaringan di tubuh gue terombak secara otomatis, dan menghasilkan zat yang dibutuhkan untuk menetralisir racun. Sedangkan kalau ada luka, biasanya itu menutup paling lama selama hitungan detik,” jelas Stella kepada Xian, disana terlihat wajah kagum dan angguka kecil dari Xian.
“Jadi, bisa dibilang lo nggak bisa ngerasain sakit ya?”
“Tepat sekali, bahkan gue seperti tidak memiliki perasaan. Mulai dari marah, takut, sampai sedih. Semua yang gue keluarkan selama ini hanya berasal dari kebiasaan karena gue berbaur dengan kebanyakan orang, alasan gue untuk berteman dengan banyak orang, salah satunya belajar bagaimana mendreskripsikan emosional yang benar.” Ucapan Stella membuat Xian jelas dapat memahami kemampuan Stella, “Baiklah, gue udah paham.”
“Lanjut, yang lain?”
“Tunggu bentar! Gue masih penasaran dengan kemampuan pasif lo!” seru Stella tidak terima rasa penasarannya ditahan lebih lama.
“Itu lo kok bisa punya perasaan penasaran gimana?” tanya Xian bingung.
“Yah lo kira? Meski gue kurang peka sama perasaan, tetap aja gue manusia. Bukan robot yang nggak punya hawa nafsu,” ketus Stella. “Iya juga ya,”
“Cepat lo beritahu!” Stella memaksa Xian untuk memberitahukannya. “Gue sendiri aja nggak tau bagaimana menyebutnya,”
“Emang gimana? Coba jelaskan secara perlahan.”
“Gue dapat memerintahkan seseorang karena gue mau.” Ucapan Xian membuat Stella menaikkan sebelah alisnya? Ia berpikir tentang pengendali gelombang pikiran? Tetapi sepertinya bukan itu, terus apa?
“Maksud gue, mereka mau karena terintimidasi,”
“OH... Gue paham!” Stella sudah mengerti dengan apa yang dimiliki oleh Xian. “Tapi, setelah gue pikir-pikir lo belum pernah menggunakannya ya? Hal yang paling berbahaya dari kemampuan lo itu?”
“Gila aja lo! Ngapain juga gue gunain dan sepertinya gue nggak akan pernah menggunakannya untuk selamanya,”
“Baiklah, berikutnya Xera. Akan kupanggil dia dahulu,” ucap Stella dan pergi dari balkon kamar Xian.
***
“Gue udah dapat jawabannya, bagaimana dengan lo?” tanya Sera sebaik datang ke dalam perpustakaan Kingdom. “Lah? Gue juga udah dapat, tinggal masukin bahan ke presentasi aja.” Keduanya terdiam.
“Jadi, gimana dong? Lagian Dater Liza kasih soal mudah banget, heran gue.”
“Gue juga nggak habis pikir, gue udah khatam materi ini sejak sekolah dasar sepertinya,” gumam Rei. “Lah? Gue waktu TK,” ucap Sera yang membuat Rei menatap ke depan tempat Sera berada dengan raut bingungnya, “Waktu TK? Gila aja,”
“Yah mau bagaimana lagi? Gue harus paham apa itu atom sebelum bisa membatu orang tua gue membuat obat-obatan langka,” ujar Sera.
“Sekarang coba kita gabungkan saja materi yang kita simpulkan,” ucap Rei.
Sera beranjak dari tempat duduknya dan berpindah duduk di samping Rei. Ia mengeluarkan tabnya dan melihatkan catatan kesimpulan yang tertata rapi di tabnya. Rei dengan cepat dan cermat membaca kesimpulan yang dibuat Sera tentang atom, begitu juga dengan Sera yang melihat kesimpulan yang dibuat Rei di buku catatannya.
“Sama aja pun, gue kira bakal ada perbedaan,” gumam Sera. “Gue juga berpikir begitu, tetapi semuanya sama persis, bahkan kata-kata yang kita buat juga sama persis.” Rei denga cepat menghidupkan laptopnya, ia tidak ingin berlama-lama mengerjakan tugas yang diberikan oleh Dater Liza.
“Bentar ... Lo sebelumnya ada meneliti lagi nggak?” tanya Rei kepada Sera yang asik menggambar di tabnya. “Mau meneliti apa lagi? Jurnal sains lebih jelas dan lengkap mendeskripsikan atom, gue yang udah sering melihat memakai mikroskop dari kecil sudah bisa menebak, kalau atom itu sesuai dengan pendapat ilmuwan sekarang ini,” jawab Sera.
“Benar-benar masih misteri,” sambung Rei. “Benar, gue setuju sama yang lo bilang kalau ruang kosong yang ada pada atom merupakan materi yang dapat diraba sebenarnya, walaupun ia seperti angin. Tidak ada yang benar-benar tau kan? Bisa saja ada yang lebih kecil dari atom, atau ada zat baru penyusun atom yang tidak diketahui oleh manusia seperti kita.”
“Mari kita kerjakan, gue udah singkat bahannya. Sekitar 7 slide?” ucap Rei.
“7 Slide doang? Bagaimana lo bisa meringkas-“ Ucapan Sera terpotong karena Rei menyodorkan coretan buram yang sudah diringkasnya untuk penempatan disaat presentasi nanti. “Gila! Ini mah udah udah banget!” seru Sera.
“Lo makin lama makin cocok jadi orang Indonesia ya,” ungkap Rei.
“Habisnya orang tua gue sebenarnya di rumah pakai Bahasa Indonesia,” timpal Sera.
“Kenapa gitu?”
“Mereka sebelum balik ke Swedia saat menganduku, mereka tinggal di Indonesia kurang lebih 10 tahun,”
“Pantas saja,” ucap Rei menanggapi jawaban Sera. Setelahnya mereka berdua fokus kembali mengerjakan yang seharusnya mereka kerjakan. Tidak lama sampai satu jam kemudian, semuanya sudah selesai.
“Sudah siap juga akhirnya!” seru Rei dan merenggangkan tubuhnya.
“Oh iya Rei, lo mau ikut gue ke perpustakaan khusu nggak besok pagi?” tanya Sera dengan raut wajah seperti memohon kepada Rei. “Untuk apa?” tanya balik Rei.
“Ada yang mau gue baca tentang kemampuan pasif Starzy sebelum kita.” Perkataan Sera membuat Rei menegakkan badannya, “Kemampuan pasif? Yaudah kalau begitu gue ikut.”
“Okesiip, gue balik dulu ya ke kamar. Lo gak balik?”
“Gue lagi nunggu salah satu Starzy Bintang Ganda,” ucap Rei yang membuat Sera mengererutkan dahinya, “Kakak kelas tingkat kedua ya? Bukannya mereka masih dalam masa liburan?”
“Ini sudah masuk minggu ketiga mereka diliburkan, dan sudah ada dari mereka yang ada urusan di Starlight School harus balik cepat,”
“Kalau kakak kelas tingkat ketiga?”
“Entahlah, seingat gue mereka hanya melakukan tur di beberapa wilayah terlarang untuk menambah wawasan, tetapi ini sudah minggu ketiganya? Dari yang gue dengar sih mereka bakal balik lagi dalam waktu tiga bulan,” jawab Rei.
“Gitu ya? Yaudah deh, kalau gitu gue balik dulu ya. See u Rei!” seru Sera dan pergi meninggalkan Rei sendirian di perpustakaan besar dan mewah itu.