"Aku belum lihat Viola dari tadi," ujar Rosalia sambil mengedarkan pandangan ke sekitar ruang tengah.
Eyang mengangguk setuju, "Sepertinya sedang istirahat." Tangan wanita lansia itu melanjutkan rajutan benang pada sebuah alas.
Sebenarnya, Rosalia tidak puas jika mendengarnya dari orang lain. Jiwa seorang ibunya selalu memberontak ketika belum melihat batang hidung Viola.
Wanita berbaju pink dengan motif bunga itu berdiri dari sofa cokelat, "Aku mau ke kamar Viola sebentar."
Kontan, kepala Eyang terangkat. Dia mendelik tajam pada anak termudanya itu, "Untuk apa kamu susul?"
"Kata Cakra, istrinya butuh waktu untuk istirahat karena tidak enak badan, Rosa. Jadi, berhenti mengganggunya," ingat Eyang Putri tegas.
"Tidak enak badan? Viola kambuh lagi?" panik Rosalia seakan tidak rela bila Viola jatuh sakit.
Hembusan napas panjang menguar dari sosok Eyang Putri. Selain cerewet, Rosalia memang tidak bisa paham situasi dan kondisi.
"Viola itu sudah menikah." Telunjuk Eyang mengarah pada Rosalia, "Kamu tidak perlu mencemaskan keadaan cucuku."
Saat hendak menyanggah ucapan Eyang Putri, penampakan seorang pria berkaos hijau muda turun dari tangga yang terhubung langsung dengan kamar pengantin baru mengalihkan atensi kedua wanita berbeda usia tersebut.
Hal itu jelas membuat kepribadian ala wartawan milik Rosalia bangkit perlahan, "Cakra!"
Refleks, kepala Cakra menoleh pada sosok wanita yang kerap Viola panggil dengan sebutan tante, "Ada apa, Tan?"
Cakra tidak sadar kalau ternyata dua wanita di sana sudah siap membordirnya dengan berbagai pertanyaan. Tentu saja, otak Cakra belum menyiapkan alasan yang tepat.
"Viola gimana? Dia baik-baik aja kan?" tanya Rosalia sambil berjalan mendekati suami keponakannya itu.
Arah pandang Cakra tertuju pada Eyang Putri yang juga menunggu jawabannya. Kalau sudah begini, Cakra terpaksa berbohong, "Iya, Tan. Viola sudah lebih baik."
Seulas senyum terbit dari bibir Rosalia dan Eyang Putri pun menghela napas lega. Cakra kembali menambahkan, "Tadi cuma belum makan saja."
"Boleh Tante masuk ke kamarnya?" Rosalia jelas harus meminta izin pada Cakra lebih dulu. Karena bagaimanapun juga, itu sudah menjadi kamar Cakra juga.
Mendengar permintaan itu, kelopak mata Cakra sedikit terbuka lebar. Posisinya sebagai suami jelas dalam bahaya.
Kalau Rosalia sampai tahu ternyata Cakra belum menginjakkan kaki di kamar Viola, kemarahan akan mengarah padanya. Bukan karena takut, tapi Cakra merasa telah lalai dalam tanggung jawabnya sendiri.
Mana ada suami yang membiarkan istrinya sakit sendirian? Itu pasti yang Eyang Putri dan Rosalia akan pikirkan.
Eyang Putri menegur ulah Cakra yang tak merespon ucapan Rosalia sama sekali, "Telingamu masih normal kan?"
Sontak, pandangan Cakra fokus pada sosok wanita lansia berbaju Batik Semarangan, "Masih, Eyang."
"Sebenarnya, tadi Cakra turun ke bawah untuk membuatkan jus mangga untuk Viola, ta-"
"Biar aku yang buatkan," sela Rosalia tanpa menunggu persetujuan Cakra.
Langkah kaki wanita itu berjalan cepat sampai tertelan pintu dapur. Hal itu membuat Cakra merasa sedikit lega.
Jus mangga adalah minuman favorit Viola sejak duduk di bangku sekolah dasar. Cakra tahu perkara itu karena Eyang Putri sempat membeberkannya langsung.
Cakra akan memanfaatkan jus mangga buatan Rosalia untuk mencegah tante dari Viola itu masuk ke kamar pengantin.
Bisa gawat nanti kalau Rosalia datang dengan membawa jus yang jelas-jelas tidak dipesan olehnya.
"Eyang, saya pamit menyusul ke dapur." Cakra menunduk hormat pada nenek Viola. Tentu saja, Eyang langsung mengangguk setuju.
Baru saja hendak menginjak lantai keramik bermotif peperangan zaman dahulu, badan Rosalia sudah berdiri di depannya, "Tante, maaf."
"Nggak apa, Cakra." Rosalia hampir saja berlalu dengan membawa jus mangga yang tampak menggiurkan itu.
Tangan kanan Cakra terulur guna mengambil alih gelas kaca tersebut, "Biar aku yang membawanya, Tante."
"Cak-"
"Tante sudah sangat membantuku membuat jus mangga ini. Jadi, biar aku yang berikan ke Viola. Kebetulan, kami sedang bertukar cerita tadi," alibi Cakra sambil tersenyum lebar.
Alis Rosalia terangkat sebelah, "Viola sedang sakit, tapi kamu malah mengajaknya berbincang?"
Seketika, senyum Cakra memudar. Dia tidak memprediksi kalau respon Rosalia tak jauh beda dengan ketusnya seorang Viola.
Ibarat hujan di cuaca yang cerah, ekspresi Rosalia berubah sangat kilat. Bibir merah wanita itu mengulas simetri sabit, "Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Kalau kamu ngomong sejak awal, Tante nggak akan ganggu momen romantis kalian." Dengan senang hati, Rosalia memindahkan kekuasaan gelas jus mangga tadi pada Cakra.
Cakra pun tak bisa berkomentar apa-apa. Dia kaget, senang, tapi juga bingung. Apa wanita secepat itu berubah pikiran?
"Tunggu apalagi?" tanya Rosalia karena Cakra tidak segera naik ke lantai dua.
Kesadaran pria tampan itu terserap kembali. Cakra memamerkan raut bahagia, "Terima kasih banyak, Tante."
Tujuan Cakra hanya satu yaitu menuju ke kamar Viola. Saat langkah kaki Cakra sampai di ruang tengah, pandangan pria itu mengedar karena tak mendapati keberadaan Eyang Putri.
"Ah, aku lupa. Kalau jam segini, Eyang pasti lagi istirahat di kamar," gumamnya pelan. Cakra langsung beranjak menuju ke anak tangga.
Meski Cakra tidak yakin akan memberikan jus mangga ini pada Viola secara face to face, tapi Cakra ingin kalau minuman kesukaan Viola bisa sampai ke tangan gadis cantik nan cuek itu.
Atensi Cakra berpindah dari gelas di tangannya menuju ke seorang pembantu yang belum pernah ia kenal wajahnya, "Permisi."
Wanita seusia adiknya yang tengah membawa keranjang cucian baju itu berhenti melangkah, "Ada yang bisa saya bantu?"
Senyum Cakra terbit. Akhirnya, dia punya cara cerdik untuk memberikan jus mangga pada istrinya, "Iya."
"Tolong antarkan minuman ini ke kamar paling ujung ya," titah Cakra pada perempuan yang ia duga kuat sebagai pengganti salah satu pembantu di rumah ini.
"Baik, Tuan." Badan perempuan itu berbalik lagi dan menghampiri kamar Viola.
Pemandangan itu membuat Cakra tidak bisa untuk tak tersenyum. Walau Viola enggan melihat wajahnya, tapi otak Cakra cukup pintar untuk terus memberikan kebaikan tulus pada istrinya itu.
Semoga saja, suasana hati Viola akan segera membaik.
Tok Tok Tok
Fokus Viola buyar seketika. Gadis cantik dengan rambut digerai itu menggeram kesal. Kurang detail sedikit saja, gaun pesanan langganannya akan jadi sempurna.
Tapi lihatlah.
"Siapa sih. Ganggu aja!" hardik Viola sambil beranjak turun dari ranjang.
Kaki mulus itu berjalan ke depan dan membuka pintu kamarnya, "Kau siapa?"
"Maaf, Nona. Saya hanya melaksanakan perintah untuk memberikan jus mangga ini," jelas remaja perempuan seraya mengulurkan gelas kaca tersebut.
Walau tangan Viola sudah menerimanya, tapi gadis itu tetap mengajukan pertanyaan, "Tapi aku tidak pesan jus mangga."
Manik mata milik pembantu itu menatap Viola sekilas. Lalu, dia menundukkan kepala lagi, "Maaf, Nona. Saya tidak tahu nama laki-laki tadi."
Kening Viola mengerut tak paham, "Tunggu ... Maksudmu, laki-laki siapa?"
"Jus mangga itu dari laki-laki yang berdiri di sana, Nona." Jari jempol pembantu muda itu mengarah ke sisi pangkal lorong di lantai dua ini.
Lebih tepatnya, bagian pertama mata memandang setelah berhasil menaiki anak tangga, "Di sana?"
"Ya sudah, terima kasih," ucap Viola singkat. Pikirannya sedang malas untuk diajak menganalisa sesuatu.
Setelah itu, Viola kembali masuk dan mengunci pintu kamarnya. Tangan Viola mengangkat gelas berisi jus mangga, "Memang sih ini ampuh buat moodku membaik."
"Tapi siapa yang udah kasih ide buat jus ini?" Rasa penasaran itu masih mengakar kuat.
Kalau dipikir-pikir lebih rinci, anggota Keluarga Ningrat yang kebetulan menginap di sini hanyalah keluarga tantenya.
Viola menurunkan lagi gelas tadi, "Apa Om Pradi yang buatin?"
"Ah mana mungkin. Om Pradi kan nggak tahu kalau aku suka jus mangga. Toh, buat apa coba dia lakuin itu?" elaknya mematahkan argumentasi pertama.
Kaki Viola beranjak ke sisi kiri ranjang. Lantas, meletakkan gelas itu di atas nakas, "Apa dari Cakra ya?"
Kuat dugaan memang tertuju pada pria yang berprofesi sebagai sopir itu adalah pelakunya. Hanya Cakra yang tahu kalau situasi hatinya sedang hancur.
Bisa aja kan Cakra melakukan ini untuk menebus kesalahannya?
"Bodo amat lah ya. Mau Cakra kek, mau Om Pradi kek, gue nggak akan minum jus mangga itu." Viola menatap bengis gelas kaca yang sempat ia pegang tadi.
Kala rembulan malam tiba dan angkasa telah gelap gulita, dua insan tengah tertidur di kamar dalam tempat dan posisi yang berbeda. Alam mimpi menyapa dan menawarkan rasa nyenyak tiada tara.
Namun, tepat pukul dua malam, ringisan kecil dari mulut Viola tanpa sadar telah membuat tidur seorang pria di sofa terganggu. Cakra, pria tampan berkaos oblong biru, bangkit dari posisi telentangnya.
Mata Cakra seketika tertuju pada seorang gadis berselimut tebal yang tengah melengkungkan tubuhnya, "Viola kenapa ya?"
Karena merasa janggal dan firasat tak enak menyusup, akhirnya Cakra turun dan berjalan mendekati territorial milik Viola.
Hingga, Cakra pun menangkap wajah Viola yang memerah seperti menahan sesuatu. Tubuh gadis itu melengkung seiring dengan ringisan kecil dari bibirnya.
"Apa Viola mengalami nyeri haid?" gumamnya sambil memandang Viola lebih lekat.
Seperdetik kemudian, Viola kembali mengeluarkan keluhannya dengan mata terpejam, "Sakit banget, Ya Tuhan."
Keringat yang bercucuran di dahi istrinya membuat Cakra tidak tinggal diam. Kalau sudah begini, keyakinan Cakra jika Viola benar-benar dalam kondisi tak baik semakin ketara.
Cakra berlari menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Setelah ember terisi penuh, Cakra langsung membawanya ke dekat ranjang Viola.
Tangan Cakra menepuk lengan Viola pelan, "Vio, bangun dulu sebentar."
Karena raga Viola tidak beraksi apa pun, Cakra berinisiatif menegakkan posisi Viola dengan hati-hati. Beruntungnya, Viola tidak melawan atau menendangnya.
Punggung Viola disandarkan tepat di kepala ranjang. Saat Cakra mengambil handuk di lemarinya, kelopak mata gadis cantik berpiama orange mengerjap.
Viola sadar kalau rasa sakit tadi bukanlah mimpi semata. Nyeri yang melilit di bagian perutnya terasa menyiksa, "Akhh."
Badan Cakra langsung berbalik dan bergegas menghampiri istrinya, "Kompres air hangat ya."
Handuk yang semula pria itu pegang kini sudah tercelup sempurna ke dalam wadah berisi air hangat tadi. Akan tetapi, Cakra ingat kalau posisi kompresan harus berada tepat di atas perut.
Kalau menyuruh Viola yang mengompreskan sendiri, bisa dilihat kondisi gadis itu cukup memprihatinkan. Tidak berhenti meringis kesakitan sejak tadi.
Lalu, bagaimana dengan kompresan ini?!
Kepala Viola mendongak ke arah Cakra. Dia ingin sekali melempar otak Cakra dengan high heels karena tak kunjung menolongnya, "Cepat!"
"Sakit, Cak!" geram Viola pada suaminya itu.
"Tap-"
"Please ..." Viola sungguh tidak tahan karena nyerinya sudah membuat kondisinya melemah.
Saking asyiknya dengan sketsa gaun, Viola sampai tertidur pulas padahal ini hari merah pertamanya. Tentu saja Viola menyesal karena dia lupa menelan pil pencegah rasa nyeri sebelum tidur.
Akhirnya, Cakra turun tangan mengobati Viola. Meski Cakra sudah mengangkat piama itu sedikit, tapi arah pandangnya sama sekali tidak tertuju pada itu.
Bahkan, Cakra melengos ke arah lain dengan tetap menjaga posisi handuk yang sudah dicelupkan air hangat sebelumnya.
Begitu aliran air hangat tadi mengenai permukaan perut Viola. Sedikit demi sedikit, nyeri di bagian perutnya berkurang.
Menurut metode pengobatan alami, cara ini adalah strategi yang ampuh untuk mengatasi nyeri datang bulan. Bukan karena Cakra sok tahu, tapi dia sudah sering diminta merebus air hangat untuk adiknya ketika mengalami hal yang sama.
"Apa sudah jauh lebih baik?" tanya Cakra tanpa repot menatap manik mata Viola.
Tangan Cakra pun langsung pria itu tarik ketika handuknya sudah tak lagi basah. Tanpa bertatapan mata sedikit pun, Cakra kembali menawarkan kebaikan, "Aku buatkan herbal sebentar ya."
Sepeninggal Cakra dari kamarnya, Viola menghela napas panjang. Pandangan matanya jatuh pada handuk kuning dan perut ratanya bergantian.
Melihat cara kerja Cakra yang teramat jujur, kepala gadis itu hanya bisa menggeleng heran.
Padahal, Viola sudah mengizinkan pria itu untuk menolongnya. Kalau sampai Cakra melihat perutnya pun, tidak berdosa kan?
'Dasar Bocah Tengil!' maki Viola dalam hatinya.