Bruk! Bruk!
"Ya Allah! Kamu kenapa?!" panik Eyang Putri begitu melihat wajah kusut Viola.
Bukannya memberi klarifikasi, gadis cantik itu langsung melenggang pergi. Jelas saja, kening Eyang Putri semakin takut.
Tadi ia dengar kalau Viola dan Cakra sedang berolahraga di luar. Eyang Putri jelas saja bahagai. Setidaknya, ada kemajuan dalam hubungan pasangan pengantin baru tersebut.
Saat hendak menyeduh teh hijau favoritnya, telinga Eyang Putri justru mendengar suara benda jatuh dari teras rumah.
Ternyata, Viola membanting sepasang sepatu dengan raut dinginnya, "Sebenarnya ada apa sih?"
Pertanyaan itu terlontar untuk Cakra yang baru saja tampak. Sama dengan Viola, wajah Cakra juga tidak sedap dipandang.
Bukannya membeberkan keadaan sebenarnya, Cakra justru mengatakan alasan lain, "Viola sedang tidak enak badan, Eyang."
"Terus kenapa dia datang-datang langsung banting sepatu?" selidik Eyang pada suami cucunya itu.
"Eum, anu ... Viola buru-buru mau ... tidur. Iya, mau tidur langsung," alibi Cakra yang pasti hanya mengelabuhi rasa curiga Eyang.
"Kalian habis olahraga kan? Kamu tahu Viola lagi sakit, tapi kok malah diajak lari?" Terlihat api amarah mulai berkobar di ubun-ubun Eyang Putri.
Cakra semakin delima. Hendak menceritakan, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Namun kalau tidak, Eyang justru berpikiran negatif padanya.
'Ah sudahlah, lebih baik Eyang murka padaku daripada Viola harus menerimanya,' batin Cakra dalam benaknya.
Pada akhirnya, Eyang Putri menghela napas panjang, "Cepat kamu susul Vio."
"Baik, Eyang. Permisi," pamit Cakra sambil menundukkan kepala pada wanita yang paling ia hormati kecuali ibunya.
Langkah kaki Cakra perlahan menaiki anak tangga. Sebenarnya kalau dia punya mesin pemutar waktu, Cakra akan memanfaatkan itu sekarang.
Ingatan Cakra berputar pada kejadian beberapa menit yang lalu ...
Flashback on
"Kayaknya tembus." Viola meringis kecil entah karena merasa bersalah atau kesakitan, tapi Cakra tidak terlalu paham.
Walau kapasitas otak Cakra kadang terlampau besar, untuk permasalahan kali ini, Cakra harus punya pertimbangan yang matang.
Pria tampan seperti Cakra Abimanyu termasuk salah satu incaran para gadis desa. Sayang, Cakra tidak pernah dekat dengan satu pun wanita kecuali ibu dan adiknya.
Tarisa, adik kandung Cakra, kerap mengeluh kesakitan kala datang bulan. Korban pertamanya jelas adalah Cakra. Dia sering kena omel atau bahkan dijadikan babu untuk membeli pembalut.
Ah, tidak mungkin Cakra juga harus melakukan hal sama kan?
Lagi pula, mana ada warung atau supermarket paling dekat di sini yang buka di pagi buta?
Cakra menggaruk tengkuknya bingung. Tidak ada jaket atau kain yang bisa menutupi celana training bernoda merah itu. Ya walaupun tidak terlalu mencolok, tapi tetap saja Cakra bisa melihat bagian basah di sana.
Astaga, mata Cakra jadi ikut ternodai.
"Cak," panggil Viola seakan meminta pertolongan.
"Masih sanggup jalan sampai ke rumah Eyang nggak?" tanya Cakra pada istrinya itu.
Jaraknya sih tidak jauh. Akan tetapi, di hari pertama haid, Viola tidak menjamin jika laju darahnya mau berkompromi, "I dunno."
Cakra maju perlahan mendekati bangku besi yang tadi sempat Viola singgahi. Pandangan matanya tertuju pada bercak darah di sana.
Kalau begini, Cakra harus turun tangan. Kepalanya menoleh ke arah Viola, "Tunggu di sini."
Viola mengangguk selagi tubuhnya mematung di tempat berdirinya. Viola takut kalau ia jalan satu langkah saja akan berpengaruh pada sesuatu yang lain.
Di sisi lain, Cakra sedang mencari dedaunan kering di sekitar bundaran taman. Akhirnya, tangan Cakra mampu mengambil salah satu daun layu yang bebas di ambil.
Sebenarnya, bisa saja Cakra mengambil daun di Taman Srigunting. Namun, Cakra tak mau ambil risiko.
Asrinya lingkungan hidup di taman tersebut sangat dijunjung tinggi. Terdapat larangan memetik daun hijau, bunga, atau merusak bagian tanaman.
Begitu ada bagian daun yang menguning, para pembersih taman akan mengurus itu. So, Cakra tidak bisa menemukan daunnya di sana.
Setelah dapat daun kuning tadi, Cakra berjalan kembali ke tempat Viola berada. Saat tengah berjalan, kaki Cakra berhenti sejenak di dekat kran khusus pengunjung yang hendak cuci tangan.
Cakra memutar kran air itu. Lantas, membasahi daun tadi perlahan. Pasca terlihat sesuai kriteria, Cakra bergegas menuju Viola yang sudah menunggunya.
"Lama banget sih!" protes Viola begitu Cakra datang dan berjongkok di dekat bangku tadi.
Tangan Cakra langsung mengelap noda darah akibat kejadian dadakan yang Viola alami. Jelas saja, Viola membungkam mulutnya seketika.
'Cakra melakukan itu untuk apa?' pikir Viola tak paham.
Setelah tidak lagi terdapat sesuatu di sana, Cakra berdiri dan tersenyum manis pada Viola, "Ayo pulang."
"Aku gimana?" Viola tidak mungkin jalan jauh kan?
"Celanamu warna hitam, Vio. Mumpung belum banyak orang di sini, jalan aja meski nanti akan sangat basah," ujar Cakra sambil membuang bekas daun tadi ke salah satu tong berwarna hijau.
Viola mendesah kesal, tapi dia juga tidak punya pilihan lain, "Ya udah."
"Kamu jalan duluan!" titah Viola sambil menatap Cakra tajam.
Alasan Viola meminta Cakra berada di depan tentu saja supaya mata pria itu tidak berkeliaran ke mana-mana. Kalau Viola di belakang, Cakra tidak bisa melihat noda di celana gadis itu kan?
Namun, kepala Cakra justru menggeleng cepat, "Aku di belakang."
"Ka-"
"Vio, kalau kamu milih di belakang, terus nanti ada orang lain yang lihat ... gimana?" Cakra mencoba mengungkapkan perspektifnya.
Viola melengos acuh, "Kan mereka tidak kenal siapa aku."
"Tapi nanti kamu malah malu sendiri loh," bujuk Cakra agar istrinya yang paling keras kepala ini bisa luluh.
Viola terdiam sejenak. Memikirkan bagaimana keputusan yang tepat. Meski ada benarnya apa yang diucapkan Cakra, tapi tidak dipungkiri kalau Viola juga akan malu ketika Cakra melihat kondisinya nanti.
Pandangan Cakra terfokus pada mobilitas warga yang sudah mulai terlihat, "Udah mulai banyak orang. Kamu yakin mau di belakang?"
Wajah Viola semakin datar, "Oke." Akhirnya, dia jalan lebih dulu. Tentu saja, Cakra menyusul di belakangnya.
"Eh, Mbak, bocor tuh!" ingat salah satu wanita seusia Cakra pada Viola.
Refleks, langkah kaki gadis cantik itu berhenti. Kepalanya menunduk guna melihat sejauh apa 'bocornya' itu.
Cakra yang sejak tadi setia mengawal pun tak bisa mengelak kalau dia juga memastikan sesuatu pada Viola. Hingga bola matanya menangkap noda merah di sepatu kets Viola.
Hal tersebut juga diketahui Viola. Dia mendesis kesal dan bingung hendak bagaimana.
'Apa gue nggak usah pakai sepatu ya?' batin Viola bertanya-tanya.
Tanpa disangka-sangka, Cakra sudah berjongkok di belakang Viola. Bukan untuk 'mengecek' sesuatu, tapi guna melepas sepatu kets usang miliknya.
Lantas, dia berjalan maju tepat di sebelah Viola, "Pakai punyaku dulu."
Arah pandang Viola mengarah pada sepasang sepatu milik suaminya. Dalam hati, Viola bergidik ngeri dengan bentuk serta model sepatu Cakra.
Tak ada respon cepat dari Viola, Cakra berinsiatif melepas sepatu istrinya yang terdapat noda merahnya. Berhubung Viola sangat merawat apa pun benda yang ia punya seperti sepatu, maka tak heran jika noda tadi terlihat mencolok di sepatu putihnya.
Viola tak bisa berkata apa-apa lagi ketika Cakra bertindak. Dia hanya diam bak patung.
Beberapa orang yang lewat di sekitar tempat Viola dan Cakra berdiri pun berdecak kagum dengan ketulusan Cakra. Ada juga yang ikut terbawa perasaan sendiri.
Viola tahu dirinya sedang jadi pusat perhatian. Tentu saja ini karena Cakra, "Cak! Bangun cepat!"
Cakra mendongak. Dia belum selesai mengikat tali karena posisinya sungguh tidak nyaman.
"Cakra," geram Viola karena Cakra tak kunjung berdiri.
Akhirnya, gadis itu tidak menghiraukan lagi seorang Cakra. Viola berjongkok dan mengikat tali sepatu Cakra sendiri. Setelah itu, kaki Viola melangkah pergi dari sana.
Viola malas menjadi pusat perhatian!
"Vio!" Cakra terus meneriaki nama istrinya ketika Viola sudah berada jauh di depannya.
Beruntung, Cakra punya postur tubuh yang lebih proposional dari seorang sopir biasa. Langkah lebarnya membuat Cakra tiba di sebelah Viola.
Namun, Viola tidak merasa terganggu dan enggan membuka suara. Wajahnya sangat triplek dan aura dingin menguar.
Cakra menatap Viola yang terus berjalan tanpa henti, "Maafkan aku, Vio."
"Tapi aku hanya memakaikan sepatu saja. Tidak lebih," ungkap Cakra berharap semoga Viola mau membalas kata-katanya.
Sayangnya, Viola terlalu pelit untuk sekadar mengatakan 'terima kasih' atau 'oke, tidak masalah' seperti biasanya orang-orang setelah mendapat sesuatu dari yang lain.
Cakra terus membujuk istrinya, "Aku salah apa, Vio? Tolong jangan diam seperti ini."
"Apa gara-gara aku terlalu lama?"
"Atau gara-gara sepatuku yang usang?"
"Atau mungkin karena kamu sudah tidak tahan?"
Plak!
Sontak, pipi mulus sedikit berdekik itu memerah. Bukan karena rona di wajah, tapi Viola sudah menampar suaminya sendiri.
Bola mata amber itu berubah seperti elang yang hendak memangsa buronannya, "Kalau bukan karena sepatu buluk lo dan tingkah absurd lo tadi ... gue nggak akan menanggung malu!"
"Harusnya lo sadar diri! Status lo cuma sopir. Nggak usah sok baik deh lo!" selorohnya pada laki-laki berhati mulia itu.
Mulut Cakra terbuka seiring dengan rasa kagetnya. Cakra tidak menyangka kalau Viola bertindak kasar dan tidak tahu terima kasih.
Viola menatap nyalang pria berkaos hitam di depannya, "Gue muak lihat wajah lo!"
Setelah puas menyemburkan amarahnya, Viola benar-benar meninggalkan Cakra sendirian. Cakra pun tidak berniat menyusul istrinya lagi.
Bukan, Cakra bukan marah. Rasa kagetnya belum reda. Ada sesuatu yang salah telah terjadi, tapi Cakra tidak menegur Viola.
Bukankah seorang istri tidak boleh kasar pada suaminya?
Cakra menghembuskan napas panjang. Niatnya murni untuk menolong. Namun yang terjadi, justru sebaliknya.
Flashback off
Cakra menghela napas berat. Sepasang kakinya sudah menginjak area depan kamar Viola.
Dia menatap pintu bercat abu-abu itu dengan wajah nanar, "Sekarang aku harus bagaimana?"
Tangan Cakra menyugar rambutnya frustasi, "Belum ada seminggu, rumah tanggaku sudah seperti di ujung tanduk."
Sedangkan di dalam kamar, Viola duduk di depan meja riasnya usai membersihkan diri secara tuntas. Tangan gadis itu dengan lincah memoles make up tipis yang sangat elegan.
Saat hendak mengaplikasikan lip cream matte miliknya, Viola berhenti sejenak. Pikirannya berkelana jauh pada peristiwa beberapa jam yang lalu.
Perasaan bersalah menyusup di lubuk hatinya, "Apa gue udah keterlaluan sama dia?"
"Nggak. Sikap gue udah paling benar. Cakra memang sopir dan seharusnya dia sadar akan posisinya," lanjut Viola menghapus rasa bersalah tadi.
Begitulah Viola. Gadis cantik, kaya, dan berjabatan tinggi yang sifatnya cenderung cuek, acuh, dan keras kepala.
Terbiasa hidup di atas, Viola jadi lupa cara berterima kasih atau sekadar mengapresiasi kebaikan seseorang.
Viola berpindah dari meja rias menuju ke nakas. Diambilnya tablet dan beranjak duduk di atas ranjang.
Kalau sedang tidak mood melakukan apa pun, Viola lebih tertarik mencurahkan perasaannya ke dalam desain gaun.
Setidaknya, hati Viola menjadi lebih lega meski hanya sejenak saja.