Suara gemercik air membuat gadis yang tengah bergelung selimut cokelat itu terusik. Buih-buih mimpi pun terpecah seiring dengan kantuk yang terbuang.
Tangannya bergerak ke atas dengan sedikit mengoletkan badan. Belum sempurna nyawanya terkumpul, gadis berpiama itu sudah memposisikan diri menjadi duduk.
Viola, dialah gadis yang harus rela jam tidurnya diganggu oleh sesuatu yang seharusnya tak ia dengar. Pandangannya masih buram, tapi Viola yakin kalau Cakra sudah tidak ada di sofa maroon itu.
Lantas, kepala Viola mendongak ke arah jam dinding motif yang ternyata menunjukkan angka empat, "Dia mandi subuh gini?"
Jelas saja Viola bertanya-tanya. Meski Viola sadar kalau dua hari pertama ini Cakra selalu bangun lebih awal, tapi belum pernah ia lihat Cakra langsung terjun mandi.
Viola bergidik ngeri, "Gue udah bisa bayangin dinginnya air di Semarang pas subuh kayak gini."
Wajar saja bila Viola berkata seperti itu. Ini sudah mulai memasuki akhir tahun. Curah hujan saja terus meningkat. Apalagi suhu air yang mengalir di pagi buta.
Tak berselang lama kemudian, seorang pria berbalut kaos hitam ketat keluar dari balik pintu kamar mandi. Melihat Viola sudah duduk dan memandangnya, bola mata Cakra melebar.
Dengan pintarnya, Cakra menormalkan lagi ekspresinya, "Kok tumben sudah bangun?"
Bahu gadis cantik berpiama biru itu terangkat, "Nggak tahu. Mungkin takdir."
Padahal, sudah jelas kalau penyebab Viola bangun sepagi ini karena ulah orang yang bertanya itu sendiri.
'Kenapa gue nggak bilang jujur ya?' batin Viola sambil berdecak di dalam hati.
"Apa kamu kurang kerjaan sampai mandi air dingin seperti itu?" sindir Viola guna menutupi kebodohan makna ucapan sebelumnya.
Cakra tekekeh mendengarnya, "Jago lawak juga ya kamu."
Viola mengerutkan kening, "Pertanyaanku salah?" Raut wajah Viola kembali datar.
Melihat fenomena itu, senyum Cakra menyurut. Ck, Cakra lupa kalau Viola adalah tipe wanita yang minim gurauan dan paling tidak bisa basa-basi.
Akhirnya, Cakra tidak lagi memperpanjang perbincangan. Langkah kakinya berjalan ke arah almari jati.
Lalu, mengambil sepatu kets putih yang warnanya hampir pudar. Cakra berjongkok untuk memasangkan sepatu tersebut.
"Kamu mau ke mana?" tanya Viola yang tiba-tiba penasarannya.
Sudah bangun sangat pagi, mandi air super dingin, dan kaos ketat khas atlet seperti itu, ke mana tujuan Cakra sebenarnya sih?
"Mau jogging bentar," sahut pria tampan yang berprofesi sebagai sopir itu sambil mengikat tali sepatunya.
Jam empat subuh ... Olahraga?!
Kelopak mata Viola mengerjap. Apa dia tidak salah dengar?
Setelah selesai dengan persiapannya, Cakra kembali berdiri dan menatap wajah cengo Viola, "Bangun tidur saja cantik. Apalagi kalau sudah mandi."
Eh?
Untungnya, Cakra hanya menyampaikan pujian itu sampai ke dalam hatinya. Tidak punya nyali yang besar jika sudah berhadapan dengan Viola.
"Olahraga pagi, Yuk!" ajak Cakra tanpa sadar.
Alis Viola terangkat sebelah, "Olahraga pagi?"
Kenapa bagi Viola itu terdengar multitafsir ya?
Apa hanya otaknya saja yang ambigu?
Menerka ekspresi Viola yang tampak tak biasa, Cakra berusaha menelaah letak kesalahannya. Namun, nihil hasilnya.
"Mau ikut jogging?" Akhirnya, Viola menghembuskan napas lega.
Ternyata, bukan 'olahraga pagi' yang hinggap di otaknya. Viola rasa dia harus membenani pikirannya lebih dulu.
'Ini akibatnya karena gue kelamaan dekat sama Jessy,' batin Viola menyumpahi sahabatnya yang paling liar.
Huh, astaga!
Viola menyibakkan selimut tebal tersebut, "Wait a second."
Karena jam masih terlampau pagi, Cakra tidak terburu-buru jika memakan waktu yang banyak untuk menunggu istrinya selesai bersiap.
Pria itu duduk santai di atas sofa sambil menatap punggung Viola yang sudah tertelan pintu kamar mandi, "Tadi kenapa Viola kayak mikir aneh ya?"
Sepuluh menit kemudian, dua pasang kaki yang sama-sama memakai kets putih itu keluar dari pagar besi hitam milik kediaman Keluarga Ningrat. Meski yang satu tampak lebih usang, tapi tidak mengurangi kadar kekompakkan keduanya.
Cakra menoleh ke arah belakang. Tepatnya pada sang istri, "Cari yang dekat aja ya?"
Kontan, kepala Viola mengangguk setuju. Tidak banyak protes dan mengikuti langkah kaki Cakra yang sedikit berlari kecil.
Sudah lama sekali sejak dia tinggal di Jakarta, Viola jarang menyempatkan waktu untuk berolahraga kecuali jika luang. Padahal, schedule seorang Viola sebagai desainer lebih sibuk daripada perkiraan orang lain.
Viola sedikit lupa tentang arah jalanan di tanah kelahirannya sendiri. Maklum, pikiran Viola hanya berorientasi pada karir saja.
Pandangan gadis cantik berkaos hitam pekat itu mengedar. Walau adzan baru berkumandang sepuluh menit yang lalu, tapi segelintir orang sudah ada yang giat menggerakkan tubuh di sekitar Kota Lama.
Tak terasa, langkah kaki mereka telah sampai di Taman Srigunting, salah satu spot olahraga di Kota Semarang. Lengkap dengan nuansa alam yang asri, Taman Srigunting hadir sebagai ruang hijau terbuka.
Tata letak yang teratur antara taman, jalanan, dan pelengkap seperti patung atau ornamen lain sungguh maksimal. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat atau wisatawan dari berbagai kota di luar Semarang.
Objek bangunan rumah di sekitar area Taman Srigunting yang kental akan ciri khas Eropa membuat suasana tentram begitu terasa.
Biasanya ketika pagi hari, banyak orang yang menghabiskan waktu dengan jogging atau sekadar mengelilingi taman menikmati euforia menganggumkan ini.
Tidak hanya ketika pagi saja, para muda-mudi kerap berkumpul di sore hari untuk bertukar cerita sambil menunggu mentari tenggelam.
Karena sisi estetik dari hamparan tanaman bunga dengan gradasi yang halus, saat malam pun bisa dimanfaatkan untuk mencuci mata dengan kelap-kelip lampu beraneka warna di sekitar kawasan Taman Srigunting.
"Udah lama kan kamu nggak lihat suasana kayak gini?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Cakra.
Kaki Viola berhenti melangkah. Napasnya sedikit ngos-ngosan akibat terlampau lama absen berolahraga, "Hampir ... enam tahun."
Cakra berdecak kecil, "Sayang sekali. Kalau malam padahal lebih indah daripada sekarang."
"Apa yang beda dari yang dulu?" Punggung Viola menegak sambil mendongak ke arah Cakra yang tubuhnya lebih tinggi dari Viola.
Bibir Cara menipis seperti tengah berpikir, kira-kira komentar apa yang cocok untuk mendeskripsikan perbedaannya.
Viola menunggu, tapi pada akhirnya, hanya dua kata yang terucap dari mulut Cakra, "Pokoknya beda."
Gadis cantik itu mendengus kesal. Dalam pikirannya, mata Cakra cukup normal untuk merekam kondisi Taman Srigunting ketika malam hari.
Tapi ternyata, dugaan Viola salah. Cakra sangat payah!
Melihat ekspresi kecut dari istrinya, kekehan ringan menguar dari sosok Cakra, "Becanda."
"Sekarang udah ada stand buat pedagang di ujung belokan sana." Telunjuk Cakra mengarah pada jalan setapak yang terhubung dengan Gereja Mblenduk.
Lalu, Cakra berpindah pada jajaran rumah tua yang tidak terlihat menyeramkan sedikit pun, "Terus banyak lampu hias di pion-pion bangunan dan sering ada festival budaya di sini."
"Seriously?" Wajah Viola terlihat sangat terkejut. Gadis itu bahkan sudah teralihkan dari letih akibat terlalu bersemangat jogging.
Cakra mengangguk, "Memang sih baru berjalan beberapa bulan."
"Penasaran ya?" tanya Cakra sembari menatap bola mata amber milik Viola.
Viola mengangguk. Tangan Viola menyeka keringat di dahinya, "Banget."
Cakra tersenyum kecil. Melihat wajah Viola yang memerah karena ajakan joggingnya, Cakra tidak tega jika harus mengajak Viola berlari lebih jauh lagi, "Istirahat dulu aja kalau gitu."
Tanpa Viola duga sebelumnya, Cakra menggenggam tangan kiri Viola yang bebas. Hal itu jelas membuat kepala Viola terangkat kaget, "Cak ..."
Cakra menggeleng singkat. Dia tidak mau melepaskan genggaman tangan mereka, "Sekali aja."
"Ayo duduk di bangku sana," ucap Cakra sambil menunjuk sebuah kursi panjang berwarna silver dengan dagunya.
Meski canggung, Viola tetap menurut. Dia tidak mungkin memuntir tangan Cakra yang notabenenya adalah suami sahnya.
Toh, Cakra sudah janji kalau hanya sekali saja kan?
Akhirnya, sepasang suami istri itu melangkah pelan menuju ke sisi samping taman. Berhubung masih pagi, Cakra tidak perlu repot berebutan bangku dengan orang lain yang gemar nongkrong di sini.
Cakra menyuruh Viola duduk dan gadis cantik itu patuh. Lagi pula kakinya sudah pegal dan tenanganya berkurang sangat.
Saat Viola sedang beristirahat sejenak, Cakra meminta izin pada istrinya, "Aku lari sampai Gereja Blenduk ya."
Tak ingin mengganggu niat Cakra dari awal, kepala Viola manggut-manggut. Lalu, kaki Cakra mulai mengayun pelan sampai tidak lagi terlihat oleh netra bulat Viola.
Sebenarnya tidak jauh jarak taman ini dari Gereja Blenduk. Walau langit masih cenderung biru tua, tapi Viola tidak takut ditinggal sendiri dalam sepi.
Terlebih, dia sudah hafal jalan pulang kalau bosan.
Karena lututnya masih lemas, Viola mencoba memijitnya sendiri sambil merutuki keteledorannya, "Harusnya gue tadi pemanasan dulu."
Sekuat apa pun tekanan yang ada di lututnya, tapi itu percuma saja. Tenaga Viola tidak cukup. Ibarat indikator bensin dalam speedometer, tenaga Viola sudah ada tepat di huruf E.
Bukannya semakin mengeraskan tekanan pada pijitannya, tangan kanan Viola justru memukul lututnya keras, "Payah banget sih lo!"
"Gini aja ngeluh mulu," omel Viola pada tubuhnya sendiri.
Tiba-tiba saja, suara Cakra kembali terdengar di telinga Viola, "Jangan dipukul gitu, Vio."
"Aku bantu sini," tandas Cakra berinisitatif. Tidak mungkin dia diam saja kalau melihat istrinya lemah begitu kan?
Belum sempat gadis itu membuka mulut, Cakra sudah mengambil posisi jongkok di hadapan Viola. Sontak, kedua mata gadis cantik itu terbelalak kaget, "Ngapain kamu?!"
"Maaf, aku izin untuk memijat kakimu," ucap Cakra sambil mendongak menatap bola mata amber itu.
Cakra bukan tipe pria yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kalau niatnya membantu, itu pasti murni karena kebaikannya.
Viola menelan salivanya. Berhubung kakinya benar-benar butuh pertolongan, Viola memalingkan wajah. Bukan berati menolak, tapi Viola mengizinkan Cakra dengan responnya sendiri.
Pelan tapi pasti, Cakra memijit kaki Viola yang tertutup rapat oleh celana training warna hitam.
Ketika samar-samar ia mendengar ringisan kecil, Cakra memelankan tingkat pijitannya, "Coba kamu gerakan."
Sesuai perintah Cakra, Viola meluruskan kakinya pelan-pelan. Kemudian, kaki Viola bergerak kecil memastikan keadaannya.
"Sudah lebih baik," kata Viola tanpa mengucapkan terima kasih. Hal itu membuat Cakra langsung berdiri dari posisi jongkok.
Pandangan mereka bertemu sekilas, tapi Viola lagi-lagi memutusnya cepat, "Ayo balik. Eyang pasti udah cari kita."
Badan Viola terangkat dari bangku besi tersebut dengan hati-hati. Kakinya sudah baikan, tapi bukan berati langsung bisa diajak berlari cepat.
Tanpa sengaja, netra bulat Viola menangkap bangku hitam itu sedikit basah. Keningnya mengerut dan menanyakan itu dalam hati, "Kok ada air?"
Awalnya Cakra sudah berjalan dua langkah, tapi dia melihat Viola belum beranjak sama sekali, "Kenapa?"
Viola tergugu dan menatap Cakra dalam diam. Gadis itu ingin memastikan sesuatu. Akan tetapi, ia ragu karena kehadiran Cakra.
"Kamu hadap sana!" titah Viola tak menjelaskan maksud ucapannya. Dia bahkan menatap Cakra tajam.
"Ada apa, Vio?" Cakra jelas heran karena tiba-tiba saja Viola tampak seperti orang linglung.
'Apa jangan-jangan, Viola kerasukan penunggu di taman ini?' pikir Cakra.
Viola menggeram kesal, "Nurut aja kenapa sih!"
Akhirnya, Cakra berbalik badan. Walau ada firasat buruk, tidak ada alasan yang kuat untuk Cakra membantah.
Saat Cakra sudah dipastikan tidak melihat aksinya, tangan Viola langsung meraba aset di belakangnya. Lantas, membuka matanya lebar-lebar.
"Shit." Viola mengumpat pelan.
Arrgghh. Kenapa harus sekarang?!
Tak kunjung mendengar suara istrinya, Cakra tidak bisa untuk tidak bertanya, "Kamu baik-baik aja kan, Vio?"
"Cak, aku halangan," ungkap Viola sambil menghela napas panjang.
Kontan, Cakra berbalik menatapnya dengan wajah kaget. Oh My God, Cakra bukan pria yang over polos sampai tidak tahu soal siklus bulanan wanita.
Dan sekarang, Viola juga mengalaminya di saat tidak tepat?!
"Kayaknya tembus," cicitnya sambil meringis kecil.