"Kita izin ke kamar dulu," pamit Viola pada tiga anggota keluarga lain di ruang makan.
Sebenarnya Cakra tidak setuju karena dinilai sikap Viola kurang sopan. Masih ada Om Pradi, Tante Rosalia, dan Eyang di sana. Seharusnya menunggu sampai selesai.
Eyang pun rupanya tak sependapat, "Kok buru-buru, Vio?"
"Kamu nggak mau coba es dawet dulu?" tawar Eyang karena Viola paling suka bila sudah menyantap dawet favoritnya.
Sayang, kepala Viola menggeleng tegas, "Nanti aja, Eyang."
"Udahlah, Bu. Pengantin baru kan bawaannya berdua terus di kamar," gurau Tante Rosalia sambil terkekeh kecil.
Mau tak mau, izin Eyang mengalir pada keputusan cucunya. Akan sangat berdosa bila dirinya sampai melarang Viola dan Cakra untuk menghabiskan waktu berdua saja.
Viola sudah tebal telinga dengan berbagai candaan atau hal-hal berbau pengantin baru yang dilayangkan dari semua orang. Termasuk, dari Tante Rosalia.
Kaki berbalut flat shoes orange itu menapaki anak tangga satu per satu. Cakra yang ada di belakangnya segera bergegas menyusul langkah Viola.
Hingga akhirnya, sampai juga di dalam kamar Viola, "Kamu mau bicara soal apa, Vio?"
Pertanyaan itu membuat Viola membalikkan badan, "Honeymoon."
Jujur, Cakra sedikit terkesiap mendengar kejujuran Viola. Namun, tidak ada sanggahan atau penolakan
Cakra mengikuti alur permainan Viola, "Ya sudah. Bagaimana?"
Viola duduk di bibir ranjang. Kemudian, menyilangkan kakinya anggun, "Sejak kecil, aku memang ingin travelling ke Sumba."
"Sayangnya, ini bukan event yang tepat." Ekspresi datar itu terus melekat di wajah ayu Viola.
Cakra pun mengambil posisi duduk di samping Viola. Hal itu jelas membuat mata Viola melebar, "Kamu ..."
"Vio, sejujurnya banyak hal yang ingin aku bahas serius denganmu." Sudah dua hari yang lalu Cakra menyiapkan topik pembicaraan yang butuh konsentrasi penuh.
Pandangan Viola naik ke arah manik mata Cakra yang memancarkan kesungguhan, "Baiklah. Kamu duluan saja."
"Keluargaku belum tahu jika aku sudah menikah," ucap Cakra sambil menatap istrinya lekat.
Sudah Viola duga. Melihat kegelisahan Cakra pasca ijab kabul kemarin tampak jelas di pikiran Viola. Cakra pasti kehabisan cara untuk menjelaskan pada keluarganya karena pernikahan dadakan ini.
Viola memutus kontak matanya, "Maaf, semua karena ulah Eyang."
Bagaimanapun juga, Cakra adalah korban. Dia tidak bisa disalahkan karena Eyang tak memberi pilihan.
"Aku sudah ikhlas, Vio. Kamu adalah istriku sekarang, tapi aku harus segera memberi tahu ibu dan adikku," cetus Cakra pada Viola.
Kepala Vio manggut-manggut, "Kapan kamu ke sana?"
"Kita harus ke sana berdua." Seakan tidak punya rasa takut kalau Viola marah, Cakra harus belajar jujur dan menjadi kepala rumah tangga.
"Aku nggak mau!" tolak gadis cantik yang super acuh itu.
Tangan Cakra berpindah ke bahu Viola di sisi kanan dan kiri, "Viola, kamu tidak boleh membantah."
"Bu-"
"Aku suamimu, Vio!" tegas Cakra tanpa memberi Viola kesempatan untuk menyanggah lebih egois lagi.
Saat Viola hendak membuang muka, Cakra justru mencegah itu dengan menahan tangannya, "Bukankah kita sudah berjanji untuk menjalani pernikahan ini sebaik mungkin?"
"Aku hanya ingin memperkenalkanmu pada ibu dan adikku," imbuh Cakra memperjelas maksud ucapannya.
Hembusan napas berat menguar dari mulut Viola, "Tapi aku masih butuh waktu kalau soal tinggal di sana."
"Ya, aku paham. Eyang juga sepertinya masih ingin kamu ada di rumah ini," tandas pria tampan di depan Viola.
Setelahnya, Cakra melepaskan tangan dari bahu Viola. Dia juga sedikit menjaga jarak agar Viola tidak terganggu.
Pandangan mereka bertemu, tapi Viola lebih dulu memutus kontak mata. Cakra menarik napas dan kembali berujar, "Sekarang, giliran kamu."
"Aku tidak mau bulan madu!" ucap Viola to the point.
"Bukannya kamu ingin pergi ke Sumba?" tanya Cakra karena dia tidak percaya kesempatan emas berlibur akan disia-siakan oleh Viola begitu saja.
Viola mendesah kecil, "Tapi bukan untuk honeymoon, Cakra."
"Just holiday and travelling," jelasnya dengan wajah frustasi.
Entah dorongan dari setan apa, tiba-tiba saja Cakra bertanya, "Apa kamu keberatan karena statusmu sebagai istri?"
Netra bulat Viola yang awalnya terpejam kini sedikit terbuka. Atensinya tertuju pada Cakra, "Pastinya iya."
Viola enggan berbohong. Dia paling benci ketika harus mengatakan 'tidak' jika nyatanya dirinya tertekan.
"Jangan terlalu mengambil beban dalam pernikahan ini, Vio," tutur Cakra sambil mengelus pundak Viola pelan.
Cakra menjelma menjadi sosok yang paling pengertian, "Aku tidak memaksa kamu melakukan hal yang tidak kamu sukai dan aku juga tidak akan meminta apa yang tidak ingin kamu berikan."
Gadis cantik keturunan Keluarga Ningrat itu tercenung dalam diam. Dia bukan lagi anak kecil yang tak paham pesan tersirat dalam sebuah kalimat.
Entah berapa level kesabaran yang Cakra punya, tapi Viola sangat kagum dengan kejujuran sikap suaminya. Ah, bahkan Viola jadi merasa bersalah.
"Maaf," lirih Viola sangat pelan.
Tanpa disangka, telinga Cakra sangatlah peka. Ia mendengar satu kata yang belum pernah ia dengar dari mulut Viola.
Benarkah gadis angkuh ini meminta maaf padanya?
Senyum tipis Cakra membuat pandangan Viola terkunci, "Soal hadiah dari Om Pradi, kamu ambil aja."
"Kita tetap akan berangkat, tapi berpisah di tengah jalan," sambungnya karena Cakra tahu kalau Viola ingin pergi sendirian ke Sumba.
Sebelah alis Viola terangkat, "Kamu?"
"Aku akan pulang ke rumah ibu. Sekalian kasih tahu soal pernikahan kita sebelum kamu berkunjung," terang Cakra tanpa menutupi kebohongan apa pun.
Gadis berbaju dongker itu menghela napas panjang, "Kalau Eyang tahu gimana?"
"Kamu nggak perlu khawatir. Nanti kita bisa bersandiwara untuk menutupi kenyataan ini seperti yang kamu mau." Cakra berusaha ikhlas bila memang kehadirannya tidak diinginkan oleh Viola.
Hati nurani Viola tersentil. Sebagai seorang istri, tugas dan kewajibannya adalah untuk patuh pada perintah suami. Namun yang terjadi, justru sebaliknya.
Saat Cakra hendak berdiri, Viola membuka suaranya kembali, "Apa kamu nggak akan meminta hakmu?"
Kontan, badan tegap Cakra berbalik arah lagi. Senyuman di bibir Cakra tidak pernah luntur, "Kalau yang ada dalam pikiranmu adalah soal anak, tenang aja ... aku nggak akan memaksa."
Siang harinya, Viola memutuskan untuk pergi ke rooftop kediaman neneknya ini. Meski matahari sedang panas-panasnya bersinar, tapi gadis cantik berkulit putih itu tak takut akan ancaman sinar UV saking peliknya pikiran dia hari ini.
Berhubung ada ring basket juga perlengkapan olah raga tersebut, akhirnya tangan Viola tak kuasa menahan godaan untuk melemparkan bola belang orange itu ke dam ring yang tingginya tak begitu jauh darinya.
"Kenapa firasat gue jadi nggak enak gini ya?" gumam Viola sambil berlari menddrible bola berwarna dominan orange.
Rumah Eyang Putri yang cukup lebar membuat beberapa ruangan anti maenstream jadi ada di sini. Contoh konretnya adalah rooftop dengan desain lapangan basket.
Kalau sedang bosan atau dirundung pikiran berat, Viola datang ke tempat ini. Setidaknya, bermain basket bisa mengalihkan atensinya.
Tangan Viola melempar bola besar di genggamannya ke arah ring dan akhirnya masuk, "FINALLY!"
Dengan napas ngos-ngosan, Viola mengibaskan tangan untuk mengurangi gerahnya. Meski sudah memakai tank top hitam saja, tapi udara terasa sangat panas.
"Tante cari ke mana-mana, ternyata di sini," cetus Rosalia yang baru saja muncul dari balik pintu kaca.
Viola menoleh ke belakang, tepatnya ke arah wanita bercardigan cokelat gelap, "Olahraga, Tan."
"Kok siang terik gini?" Tidak wajar memang pilihan aktivitas Viola kali ini.
"Luangnya sekarang," alibi Viola tak berani menatap manik mata Rosalia.
Wanita itu mendekati keponakannya. Lantas, tertawa kecil, "Lagi marahan?"
Mulut Viola menganga, "Ha?"
"Siapa yang marah?" Raut heran itu tercetak jelas di muka glowing Viola.
"Ya kamu lah sama si Cakra. Iya kan?" tebak Rosalia sok tahu.
Viola berdecih singkat, "Emang aku bocah apa?" Tentu saja, Viola tidak terima dengan praduga dari tantenya.
"Loh, Tante kan cuma nebak aja. Soalnya, tadi Tante lihat Cakra ngalamun terus di depan teras sambil cuci mobil Eyang." Fakta baru yang detik ini Viola dengar.
Namun sebisa mungkin, Viola tidak memberikan keadaan rumah tangganya yang baru memasuki satu hari, "Kami nggak ada masalah, Tan."
"Oh iya, jadwal ke Sumba itu lusa kan?" Otak cerdik Viola langsung menggeser topik pembicaraan.
Bak bunglon yang bisa berubah sesuai kondisi lingkungan tinggalnya, Tante Rosalia juga mudah berganti ekspresi, "Wah, kamu pasti udah prepare ya!"
Tanpa menatap Rosalia, Viola kembali menggiring bola basketnya perlahan, "Lumayan sih."
"Bagus deh kalau gitu. Tante jadi nggak cemas kalau kamu bakal batalin tiba-tiba," celetuk wanita berusia dewasa itu.
Setelah berhasil memasukkan bola ke dalam ring lagi, Viola bari berbalik badan, "Sumba itu udah impianku dari dulu, Tan."
"Mustahil aku tolak," lanjut Viola bercermin pada pasal-pasal di logikanya.
Ya meski terdengar menyakinkan, tapi kenapa hati nurani dan otaknya tidak selaras untuk kali ini ya?
Seolah tak menemukan solusi untuk problematikanya, ketika mentari mulai terbenam, kaki mulus Viola mengalun ke taman samping yang dibuat khusus untuk alamrhumah ibunya dulu. Telihat di sana Eyang tengah menyiram tanaman hias daun dan gerombolan bunga tulip putih dengan teliti. Jangan sampai ada yang terlewat sedikit pun.
Seperdetik kemudian, bibir peach itu meloloskan satu kata panggilan yang ampuh untuk menyadarkan atensi waniat lansia di pelupuk matanya, "Eyang."
Tak perlu repot menoleh, Eyang Putri sudah tahu kalau Viola akan datang menemuinya, "Mau bicara soal apa?"
"Eyang benar minta ke Cakra buat tinggal di sini?" Viola berjalan mendekati sang nenek.
Lantas, kembali mengajukan pertanyaan, "Dengan alasan apa?"
Eyang tidak langsung berbalik badan. Tangan penuh kerutan milik lansia itu lebih dahulu memutar kran guna mematikan air pada selang yang ia pegang.
"Iya, Eyang yang suruh Cakra buat tetap ada di sini meski kalian sudah menikah," jawab Eyang Putri sambil menatap si cucu tertua.
Seulas senyum kecil terbit, "Alasannya supaya Eyang Putri tidak kesepian."
"No, Eyang. I can't believe the reason," elak Viola karena dia yakin Eyang Putri menyembunyikan alasan sebenarnya.
Lagi-lagi, Eyang melebarkan lengkungan simetri sabit, "Otak kamu memang cerdas, Vio, tapi ... Eyang tidak bisa mengatakan alasannya."
Viola menghela napas berat, "Supaya aku nggak bisa bertindak semena-mena sama Cakra?"
"Pintar," puji Eyang dengan kekehan renyah.
"Oh ayolah, Eyang. Aku tidak berani bertindak seperti itu," ucap Viola dengan wajah tertekannya.
Tangan Eyang memegang tongkat bantu jalannya erat, "Kenapa tidak?"
"Bahkan kamu saja tidak memanggilnya dengan sebutan Mas atau sejenisnya."
Viola memijit keningnya pusing, "Aku lebih tua daripada dia, Eyang."
"Tapi Cakra adalah suamimu, Vio!" sanggah pemimpin rumah ini.
"Eyang selalu memaksaku!" pekik Viola dengan intonasi tegas dan menukik.
Telapak tangan kanan Viola terangkat. Kemudian, dia menunjukkan cincin emas putih yang ada jari manisnya, "Aku menikah pun bukan atas pilihanku sendiri."
"Saat aku sudah mengikuti permintaan Eyang, tapi lagi-lagi Eyang memaksaku bukan?" Raut wajah Viola datar walau menyimpan banyak luka.
Viola lelah diperalat.
Pandangan Viola beralih pada langit cerah yang ada di atasnya, "Aku sudah besar, Eyang."
"Keputusan tentang hidupku adalah hakku!" lanjutnya dengan menekan kata terakhir di kalimatnya.
Lepas berdebat dengan sang nenek, Viola melangkahkan kaki dengan perasaan marah yang tak terbendung menaiki satu per satu anak tangga yang langsung terhubung dengan kamar pribadinya. Hanya perlu bebeapa menit saja, Viola tiba dan memasuki kamar dengan wajar super dingin. Beruntung, Cakra belum menyadari kehadiran istri juteknya itu.
Pria berkaos putih polos itu memang tengah sibuk menata tumpukan baju ke dalam almari jati. Hal itu membuat Viola yakin akan sesuatu, "Apa Eyang yang suruh?"
Barulah Cakra menoleh sekilas. Lantas, si sopir pribadi Eyang itu kembali mengerjakan kegiatannya, "Iya."
"Rumah ibumu dekat dari sini?" tanya Viola sambil duduk di bibir ranjang.
"Jauh. Sedikit pelosok," jawab Cakra seadanya. Dia masih belum ingin berbincang lama dengan Viola.
Bukan.
Cakra bukan marah atau merajuk. Cara menuntaskan emosinya adalah dengan diam sejenak.
Sebenarnya, otak jenius Viola sudah mampu menelaah sikap dan gaya bicara Cakra yang berubah drastis. Sosok yang tenang dan tidak banyak bicara seperti Cakra ternyata bisa juga marah.
Ah, Viola bahkan baru tahu kalau Cakra adalah tipe pria berpikiran dingin. Tidak meluapkan amarah atau kekesalannya dengan memaki-maki.
'Eh, kok gue jadi memuji dia sih?!' pikir Viola dalam batinnya.
Viola berdehem singkat untuk menegaskan kalau dirinya masih ada di sini, "Setelah ke rumah ibumu, mungkin aku akan kembali ke Jakarta."
Tangan kekar yang semula tengah memasukkan kemeja navy di rak tengah almari kini menggantung di udara. Telinga Cakra masih normal. Apa Cakra tidak salah mendengar?
"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan di Jakarta. Banyak pesanan yang membutuhkan kinerjaku langsung," terang Viola tanpa repot mendengarkan pendapat Cakra.
Hati Cakra memberontak. Walau awalnya adalah sebuah perjodohan dadakan, tapi Cakra tak rela jika harus berjauhan dengan istrinya.
Akan tetapi, Cakra tidak punya kuasa. Sudah untung Viola mau menerima dirinya yang hanya sebagai sopir, "Baiklah."
"Apa pun yang membuatmu bahagia," lanjutnya sambil tersenyum tipis. Bahkan nyaris tak terlihat.