Polesan make up tipis di wajahnya mampu membuat Viola sudah sangat sempurna. Tidak perlu memasang bedak atau lipstik dengan warna menyala, Viola tampil dengan pesonanya sendiri.
Hair dryer milik tantenya belum dikembalikan. Rencana Viola, saat makan siang nanti dia akan turun lagi. Namun untuk sekarang, akan Viola habiskan guna merancang model gaun.
Viola mengambil posisi duduk yang menurutnya paling nyaman. Dengan tablet berwarna putih, ide dalam otak Viola langsung dicurahkan perlahan-lahan.
Saat tengah fokus dalam keahliannya, Cakra masuk ke dalam kamar dan memandang kegiatan Viola di sofa maroon.
Walau dari kejauhan saja, tapi pria berbaju army itu tahu kalau Viola pasti sedang mendesain gaun atau sejenisnya. Entahlah, Cakra tidak begitu paham soal fashion.
Sebenarnya tidak tega untuk mengganggu, tapi ini berhubungan dengan kesehatan Viola, istrinya.
"Vio ..." panggil Cakra dengan nada menggantung.
Viola hanya berdehem singkat. Kalau sedang asyik bergemul pada tabletnya, susah sekali mencuri atensi Viola.
Cakra berjalan mendekati gadis cantik yang mengenakan atasan bermotif bunga tulip putih, "Kata Eyang, kamu belum sarapan."
"Ayo sarapan dulu." Ternyata, Cakra sudah membawakan nampan berisi paket makanan sehat dan juga s**u rasa vanilla.
Kali ini, Viola melirik sekilas pada apa yang diletakkan Cakra ke atas meja, "Kamu sudah?"
"Belum," jawab Cakra jujur.
Dia tadi memang tidak sempat menuju ruang makan karena harus menata barang-barang yang akan ia bawa ke kampung esok lusa.
Tangan Viola berhenti melukis garis lengkung. Kepalanya mendongak ke arah Cakra, "Kenapa nggak sekalian?"
"Aku cuma bawa satu," alibi Cakra menghindari tatapan heran dari Viola.
Tablet yang tadinya digunakan untuk membuat sketsa akhirnya diletakkan begitu saja. Atensi Viola hanya tertuju pada menu sarapannya.
"Ayo makan," ajak Viola tanpa menoleh sedikit pun ke arah Cakra.
Badan Cakra berputar ke samping kanan dan kiri. Dia tidak melihat orang lain kecuali dirinya dan Viola.
Lalu, Viola mengajak siapa?
Viola mendesis pelan ketika mengetahui respon alay Cakra. Apa otak pria itu tidak sampai untuk menelaah ucapannya?
"Duduk." Sorot bola mata amber itu menajam kala mulut Cakra terbuka hendak protes.
Perlahan, Cakra mendudukkan diri di satu sofa yang tersisa. Kepalanya menoleh ke arah Viola dengan gurat kebingungan.
Tangan Viola langsung mengambil satu piring yang digunakan untuk wadah buah anggur yang sudah bersih. Lalu, dia meletakkan anggurnya di atas meja.
Karena Cakra belum makan, Viola tidak mungkin egois. Dia sudah berjanji akan menghormati pernikahan ini layaknya komitmen keduanya.
Kalau Cakra belum makan otomatis Viola juga harus belum makan. Begitu pula sebaliknya.
Viola membagi isi piring makanan ke atas piring yang tadi digunakan untuk buah anggur. Setelahnya, Viola mengulutkan piring makanan yang asli pada Cakra.
Kening pria tampan bernama lengkap Cakra Abimanyu itu mengerut tak paham, "Untuk apa?"
"Dibuang," ketus Viola terlanjur kesal.
Apa Viola harus seperti seorang guru yang menjabarkan sesuatu sampai sedetail mungkin?
Huh, yang benar saja!
"Ini kan buat kamu, Non—Viola." Ah bisa-bisanya lidah Cakra terpeleset di saat situasi seperti ini.
Viola memaksa senyum, "Makan ya."
"Ta-"
"Bisa tidak sih langsung nurut?!" Murka, Viola benar-benar murka.
Cakra menghela napas sejenak. Lantas, dia menerima piring makanan dari Viola, "Kalau kamu lapar lagi gimana?"
"Aku tidak sarapan terlalu banyak," kata Viola sembari menyendokkan makanan dengan sendok plastik yang seharusnya khusus untuk buah.
Melihat kebaikan yang tulus dari Viola, jujur saja Cakra terkesima. Meski cuek dan sangat arogan, tapi Viola tidak pernah lupa tugas dan tanggung jawabnya.
Setidaknya, Cakra bisa tenang jika benar Viola akan berkomitmen dengan pernikahan ini.
Sore harinya, seluruh keluarga besar tengah bersantai ria dalam sebuah ruangan berukuran lebih dari sepuluh meter persegi. Kediaman Keluarga Ningrat menjadi lebih hidup karena kehadiran Cia, putri kecil Rosalia Ningrat. Bocah yang masih duduk di taman kanak-kanak itu sibuk berceloteh hingga tiga ornag dewasa di sana kewalahan menanggapi.
Cia menatap wanita lansia yang ia sejak tadi mengelus rambutnya sayang, "Eyang, Mbak Pio mana?"
"Mbak Pio belum pulang ke Jakarta kan?" tanya Cia yang sejak tadi sudah bosan menunggu saudara kesayangannya datang.
Wajah Cia yang cemberut ditangkup oleh Eyang Putri, "Nanti ya, Sayang."
"Mbak Vio lagi sibuk sama suaminya." Eyang Putri tertawa dan disusul dengan Rosalia serta Pradi yang juga tergelak.
Rosalia menyandarkan bahu ke sang suami, "Jadi ingat waktu pengantin baru deh."
"Sama. Eyang juga jadi kangen sama Ayahmu," ungkap wanita lansia tersebut sambil menerawang jauh ke atas.
Tak berselang lama kemudian, dua orang berbeda gender turun dari anak tangga yang terhubung langsung dengan ruang tengah. Fenomena itu jelas menghadirkan senyuman bahagia pada wajah Rosalia, Pradi, dan Eyang Putri.
Bukan hanya para orang dewasa saja, Cia langsung melonjak dari sofa dan menghampiri Viola, "Mbak Pio!"
Pelukan di kaki gadis cantik yang berprofesi sebagai desianer itu membuatnya menghentikan langkah. Karena Viola tengah memegang nampan bekas sarapan, dia tidak bisa menunduk guna membalas rengkuhan Cia.
Untungnya, Cakra peka situasi. Dia berinisiatif mengambil alih nampan tadi meski Viola menatapnya tajam, "Biar aku aja nggak apa, Viola."
Tak mau semakin menjadi tontonan, Viola terpaksa menyerahkan tugas yang seharusnya menjadi milik dia sebagai istri.
Berbeda dengan Cakra yang sudah berjalan menuju ke dapur, Viola justru menunduk dan menggendong Cia layaknya adik kandung.
"Mbak Pio habis ngapain kok lama banget? Cia capek nuggunya," keluh anak kecil dengan pipi tembam yang tertekuk.
Gemas karena kejujuran Cia, Viola mengecup sepasang pipi gembul itu bergantian, "Maaf ya, Cia. Mbak habis makan tadi."
Bukannya puas dengan jawaban Viola, kening gadis itu menampilkan kerutan, "Kata bunda, Cia nggak boleh makan di kamar. Kok Mbak Pio boleh?"
"Makan suaminya dong," cetus Rosalia tanpa filter apa pun.
Pradi pun langsung melotot tajam ke arah istrinya yang kelewat terbuka, "Hus. Kamu tuh."
Rosalia memutar pandangan ke arah Cakra yang baru saja datang dari dapur, "Cie yang perhatian banget sama istri."
"Nggak kayak kamu dulu, Mas," tambahnya mengarah pada Pradi.
"Orang kamunya aja yang galak. Mana berani aku," sergah seakan mengingatkan kejadian lampau mereka.
"Sudah-sudah. Kalian itu sama aja," ujar Eyang Putri menengahi pertengkaran anak dan menantunya.
Hal itu membuat Cakra pun tak bisa untuk menyembunyikan tawa. Pasangan senior itu sudah tidak diragukan lagi rasa sayang satu sama lain.
Atensi Eyang Putri berpindah pada suami cucunya, "Cakra, ayo sini gabung."
"Iya, Eyang" Cakra memilih duduk di sofa cokelat berbahan linen. Lebih tepatnya, persis di sebelah Viola yang tengah memangku Cia.
Kedekatan Cia dan Vio memang bukan pemandangan yang aneh lagi. Sebelum memutuskan ke Jakarta, Cia sempat digendong oleh Vio meski sudah sangat lama.
Telunjuk Rosalia mengarah ke posisi anaknya, "Sama orang lain aja nggak pernah lengket kayak gitu."
"Ikatan batin," celetuk Eyang sambil melempar tatapan ke arah Viola yang tengah mencubit pelan hidung Cia. Lantas, bocah kecil itu terkikik geli.
Kepala Cakra pun menoleh ke samping. Benar apa yang dikatan Eyang. Mungkin, ikatan batin Cia dan istrinya sudah ada di garis takdir.
Tangan Pradi terulur mengambil secangkir kopi kesukaannya, "Kalian mau langsung punya momongan apa nunda dulu?"
Seketika, Viola dan Cakra menoleh dengan ekspresi kaget. Pembahasan tentang 'anak' adalah sesuatu yang tabu bagi mereka.
"Kalau dari Tante sih, mending langsung aja. Sekalian pacaran, punya anak juga nggak masalah," saran Rosalia untuk pasangan pengantin baru di sofa itu.
Cakra melempar pandangan ke Viola. Pria tampan itu sangat berharap kalau Viola mampu mengalihkan pembicaraan.
Tentu saja, Viola berusaha menormalkan detak jantung. Viola memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat, "Makasih usulnya, Tan."
"Kita mau berdua aja dulu," lanjut Viola dengan senyum meyakinkan.
Sejujurnya, mata Eyang Putri tidak lepas dari sosok gadis yang baru saja melepas status singlenya. Meski dia adalah dalang perjodohan ini, tapi Eyang tidak menyangka kalau Viola bisa membuat keputusan bijak seperti itu.
Terlalu buru-buru memiliki anak di saat mereka belum kenal satu sama lain bukanlah hal yang baik.
"Eyang setuju, tapi jangan terlalu lama. Sambil program, kalian tetap bisa lebih dekat kan?" Ya walaupun pada akhirnya, Eyang ingin segera menimang cicit.
Viola jengah bukan main. Dia malas menanggapi lebih dalam lagi. Toh, percuma saja argumennya di mata si Ratu Maha Benar.
Atas dasar tidak tega pada Viola, tangan Cakra tersampir melingkari pundak istrinya, "Kami usahakan, Eyang."
Cia, bocah perempuan imut nan cerdas itu, menangkap sosok Cakra dengan wajah garang, "Mas ini siapa?"
Secara otomatis, alur pembicaraan para orang dewasa di sana berbalik pada Cakra dan Cia. Mereka sudah menduga kalau Cia adalah tokoh utama yang akan mencegah pria asing memeluk Viola.
Tangan Cakra mengelus puncak kepala Cia pelan, "Namaku Cakra, Dek. Mas ini suaminya Mbak Vio."
"Suami itu apa, Mbak?" Wajah Cia berpindah ke pada gadis cantik yang memangkunya.
Seulas senyum cerah terukir di bibir pink Viola, "Kayak bunda sama ayah Cia."
"Berati nanti Mbak Vio bakal punya Cia?" Pertanyaan itu menghadirkan guratan kebingungan di wajah Viola dan Cakra.
Karena Rosalia adalah ibu kandung Cia, jadi dia tahu apa maksud ucapan bocah polos itu, "Anak maksudnya, Vio."
Viola dan Cakra saling berpandangan. Kalau boleh protes, mereka tidak suka tema bahasan pertemuan kali ini.
Apa tidak ada bahan lain selain anak?
"Nanti ya, Nak. Cia bisa punya teman main," ucap Eyang seolah mendukung Viola segera hamil.
'Huh, tadi bilangnya setuju. Eh, sama aja ternyata,' batin Viola dengan segudang kekesalan.
Melihat wajah keponakannya yang suram, Pradi berniat untuk memberi Viola sedikit hiburan. Siapa tahu setekah ini Viola bisa tersenyum bebas.
Sebuah amplop berwarna putih diletakkan oleh Pradi di atas meja, "Ini hadiah pernikahan buat kalian berdua."
"Om kasih uang?" heran Viola karena dari segi visual persis seperti sumbangan uang ibu-ibu kondangan.
Rosalia terbahak-bahak, "Ya kali kasih uang. Ada-ada aja kamu!"
"Buka coba, Cak," pinta Pradi pada suami Viola.
Meski awalnya ragu, tapi Cakra tetap melaksanakan perintah. Tangannya perlahan membuka hadiah pernikahan dari paman Viola.
Begitu puncak amplop dibuka, Cakra menarik dua kertas yang entah apa isinya dari balik sana. Lantas, mata Cakra sibuk membaca tulisannya.
Viola tampak tidak tertarik sedikit pun. Dia lebih senang menikmati celotehan Cia yang menggelitik tawa.
Tiba-tiba, kepala Cakra mendongak dengan wajah kaget, "Ini tiket liburan ke Sumba?"
Baik dari Pradi maupun Rosalia sama-sama mengangguk antusias. Terlebih kala Viola melirik dengan pandangan terkejut pula.
Viola meletakkan punggung Cia di depan dadanya. Bocah kecil itu asyik bermain game mendesain baju barbie di tablet Viola.
"Coba lihat," pinta Viola pada Cakra.
Cakra mengulurkan dua tiket penerbangan dari Pradi dan Rosalia meski dia masih penasaran, bingung, dan kaget untuk apa hadiah tersebut.
Tangan kanan Viola mengecek destinasi yang tertera pada tiket pesawat itu, "Ini serius ke Sumba?"
"Iya serius dong. Nggak mungkin kita becanda sampai rela pesan tiket kan?" Rosalia berusaha memberi keyakinan pada dua insan manusia di depannya.
Eyang turut senang dengan hadiah pernikahan yang sangat menguntungkan untuk kedekatan Viola dan Cakra, "Anggap aja itu bonus honeymoon kalian."
"Honeymoon?!" pekik Viola yang masih dilanda syok.
"Heem. Dari dulu katanya kamu pingin jalan-jalan ke Sumba kan? Ya udah deh Om sama Tante kasih itu," seloroh Rosalia dengan euforia kebahagiaan.
Pradi sebagai koordinator dalam rencana ini juga menambahkan, "Penginapan dan fasilitas udah paket komplit pokoknya."
"Tinggal berangkat aja," sambung Eyang semakin memojokkan posisi Viola dan Cakra.
Kalau sudah begini, harus bagaimana?