Lepas acara ijab kabul dan silaturahmi usai, baik Viola maupun Cakra langsung kembali ke ruang ganti alias kamar dari sang pengantin.
Bukan untuk menikmati waktu berdua tentunya. Viola sudah tidak betah dengan gaya pakaiannya kali ini. Selain ribet, sanggul di kepalanya juga berat.
Begitu masuk di kamarnya, kedua mata Viola terbelalak kaget. Berbagai hiasan romantis seperti tulisan 'Happy Wedding' di tembok, susunan tiga balon di kepala ranjang, dan ... .
Eit tunggu, sejak kapan ranjangnya ada taburan bunga mawar merah?
Huh astaga!
Ini pasti ulah Eyang Putri.
Tanpa menghiraukan keanehan yang terjadi, Viola langsung duduk di kursi meja rias. Tentu saja menunggu orang yang akan bertanggung jawab atas dandannya hari ini.
Cakra yang sejak tadi mengekor hanya mampu terdiam. Dia bingung jika akan memulai pembicaraan. Akhirnya, Cakra duduk di sofa kecil yang ada di ruangan itu tanpa persetujuan Viola.
Dari cermin rias, penglihatan Viola bisa menangkap sosok Cakra yang sudah duduk tenang di sana. Pria itu langsung fokus pada ponsel pintarnya.
'Apa dia sengaja menggunakan ponsel untuk membunuh bosan?' pikir Viola dalam benaknya.
Tok Tok Tok
Keduanya pun langsung menatap pintu kamar yang sebenarnya tidak tertutup rapat. Viola yakin kalau itu adalah orangnya.
"Selamat sore, Nona, Mas." Dua perias datang sambil menunduk hormat.
Tanpa babibu lagi, Viola langsung memerintah salah satu dari mereka untuk menghapus make up yang menurut Viola sangat tebal.
Tapi apa boleh buat? Ini sudah dandanan sesuai tradisi Jawa.
Sedangkan, wanita yang Viola taksir usianya jauh lebih tua dari periasnya sibuk membantu Cakra. Beskap yang tadi membingkai tubuh atletis Cakra sudah terganti dengan kaos casual.
Namun, Viola belum selesai. Saking kompleksnya perangkat riasan adat Jawa, Viola harus rela menunggu sambil menahan kantuk.
Seorang penata rias menyenggol lengan Viola pelan ketika kelopak matanya hampir menyatu, "Nona."
Badan Viola berjengkit kaget. Kepalanya menoleh ke arah si perias, "Ah iya?"
Senyum tipis si perias muda itu terbit, "Tidak apa, Nona. Ini sudah selesai. Apa Nona butuh treatment khusus?"
"Terima kasih, nggak usah." Viola sebenarnya ingin dipijat kepalanya sebentar, tapi kantuknya lebih terasa.
Dua perempuan yang ahli memoles make up tadi mengangguk dan bergegas memberesi peralatannya. Sesudah itu, mereka pamit undur diri dari hadapan Viola.
"Mari, Nona." Kepala dua perias menunduk sekali ke arah Viola. Gadis itu pun membalas dengan senyum tipis.
Tak lupa pula pamit pada Cakra yang asyik dengan mainan kotak berwarna-warni yang tidak lain adalah rubik, "Permisi, Mas."
Cakra menoleh refleks dan memancarkan senyum cerah, "Oh iya. Terima kasih banyak, Mbak."
Sepeninggal para perias, atensi Cakra tertuju pada istrinya, Viola. Gadis itu sekarang berjalan lurus menuju ke arah pintu kamar mandi dengan wajah datarnya.
'Apa dia tidak berniat membuka obrolan untuk sekadar basa-basi saja?' tanya Cakra di dalam hatinya sendiri.
Menunggu istrinya selesai dengan urusannya, Cakra mulai mencari lowongan kerja melalui aplikasi karya anak bangsa. Banyak para pengangguran yang kini sudah memiliki pekerjaan berkat aplikasi tersebut.
Lima menit berlalu, Viola keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Pandangannya tertuju pada sosok Cakra, "Kamu kalau mau ke kamar mandi, silakan."
Spontan, kepala Cakra mendongak. Dia mengangguk kecil sambil meletakkan ponsel di dekat meja sofa, "Terima kasih."
Viola tidak mengindahkan ucapan terima kasih dari Cakra. Bagi gadis cantik yang berprofesi sebagai desainer itu, Cakra hanya sedang berusaha mengakrabkan diri.
Well, Viola belum bisa.
Kepribadian yang kaku dan sifat cueknya menghalangi Viola untuk lebih dekat dengan lawan jenis. Ah, bahkan dengan sesama wanita saja, Viola sering menunjukkan sifat acuh.
Karena segera ingin tidur, Viola mengambil sapu lidi dari lemari kusen di dekat pintu keluar. Bukan karena alergi, tapi Viola tidak betah jika tidur di atas ranjang berisikan bunga.
"Kok disingkirin?" Suara bariton dari arah belakang Viola terdengar.
Namun, Viola tetap cuek saja. Tangannya terus menyapu sisa kelopak mawar merah di atas kasur empuknya.
Karena merasa tidak diperhatikan, Cakra berusaha menarik atensi Viola, "Biar aku bantu sini."
"Nggak usah. Udah hampir selesai," sahut Viola karena memang betul hanya tinggal sedikit. Tentu Viola bisa mengatasinya sendiri.
Akhirnya, Cakra mundur perlahan. Dia membiarkan istrinya beraksi. Cakra sadar kalau Viola belum terbiasa dan terlalu mandiri. Sampai-sampai perempuan cantik itu lupa kalau sudah memiliki suami sebagai sandaran.
Setelah selesai, Viola mengembalikan sapu ke tempat semula. Lalu, berjalan menuju ranjang dan menghempaskan tubuh lelahnya di sana.
Cakra masih setia berdiri di dekat bibir ranjang. Otaknya terlampau bingung ingin memutuskan tidur di mana.
Tidak mungkin dia satu ranjang dengan Viola kan?
Bisa ngamuk nanti.
"Ngapain masih di situ?" Raut wajah Viola tampak sangat ketus.
Laki-laki berkaos hitam polos itu menggaruk tengkuknya tak gatal, "Anu ... aku izin tidur di sofa saja."
Kepala Viola menoleh ke arah sofa maroon di kamarnya. Melihat ukuran yang tidak sebanding dengan tinggi Cakra, apa itu akan muat untuk menampung tubuh Cakra?
"Oke." Jawaban Viola memang terdengar tidak berperasaan, tapi perempuan itu tidak bisa menolak.
Bukankah tadi Cakra langsung yang meminta izin padanya?
Ya udah.
Meski terkejut mendengar balasan Viola, tapi Cakra berusaha tersenyum manis. Dia sadar kalau kehidupan pernikahan ini tidaklah semanis gulali.
Viola pasti masih belum bisa menerima dirinya sebagai suami.
Sambil berjalan menuju sofa, Cakra mengucapkan rutukan di dalam hatinya, 'Apa aku terlalu mengharapkan kalau dia akan menghentikanku tidur di sofa?'
"Huh, jangan bermimpi, Cak," guman pria itu sembali memukul kepalanya pelan.
Semua tingkah konyol itu terekam jelas di netra bulat Viola. Keningnya menyerngit bingung, "Kepala kamu sakit, Cak?"
Deg.
Cakra membolakan mata. Sungguh dia menyesali perbuatannya yang kelewat batas. Bagaimana Cakra bisa lupa kalau dirinya masih berada di kamar Viola?
Badan pria tampan itu berbalik dan bibirnya mengukir senyum, "Mungkin kecapekan aja."
"Oh." Viola asal percaya saja. Dia terlalu malas untuk memperpanjang masalah.
Gadis itu sudah merebahkan diri di atas empuknya ranjang. Dengan selimut tebal, Viola mulai diantar ke alam mimpi perlahan-lahan.
Keesokan paginya, Cakra Abimanyu terlebih dahulu membuka kelopak mata. Sudah kebiasaan baginya untuk bangun di waktu sebelum subuh. Bergegas memakai kamar mandi untuk bersih-bersih juga mengambil air wudhu sebelum tidur Viola terusik karenanya.
Lima belas menit berlalu, lekaki berprofesi sebagai sopir itu sudah siap dengan kaos hitam polos. Bertepatan dengan suara adzan yang berkumandang, Cakra lantas mendirikan sholat dan memohon perlindungan serta berkat atas pernikahan yang telah diikrarkan olehnya.
Seteleh sajada itu dilipat kembali, Cakra memberanikan diri keluar kamar. Berjalan menuruni satu per satu anak tangga dan langsung matanya disuguhkan dengan pemandangan Eyang Putri yang tengah sibuk berkutat dengan koran juga secangkir teh hangat di ruang tengah.
"Selamat pagi, Eyang," sapa Cakra sembari mengulas simetri sabit di wajahnya.
Kepala wanita berusia enam puluh empat tahun itu menoleh ke samping, "Loh sudah bangun?"
"Sudah, Eyang," balas Cakra seadanya.
Eyang memutar pandangan ke samping kanan dan kiri, "Istrimu mana?"
Dilempar pertanyaan seperti itu, Cakra jadi bingung hendak berkata apa. Kalau dia mengatakan 'belum', pasti Eyang akan menceramahi Viola.
Akan tetapi kalau dia mengatakan 'sudah', keberadaan Viola pasti dipertanyakan. Jadi, Cakra seperti berada di dua posisi.
Dasarnya Cakra adalah pria terjujur, dia menggeleng pelan, "Masih tidur, Eyang."
Namun siapa sangka, Eyang justru memamerkan giginya seakan meledek peran Cakra, "Viola pasti kecapekan kan?"
"Ha?" Wajah Cakra bengong seketika.
"Kamu mau teh hangat? Bagus loh buat stamina pria," ujar Eyang sambil terkekeh geli.
Ah, Cakra paham sekarang.
Apa Eyang berpikir kalau semalam telah terjadi sesuatu yang lazim bagi pasangan pengantin?
'Bahkan, Viola terlihat tidak peduli dengan keberadaanku,' gerutu Cakra dalam hatinya.
Cakra meringis kecil, "Tidak usah, Eyang."
Eyang tertawa lepas, "Kamu masih malu-malu aja." Tangan Eyang memukul bahu Cakra pelan.
Sedangkan di ruangan yang berbeda, seorang gadis berpiama itu menguap pelan. Dikuceknya mata sambil menatap seluruh penjuru kamarnya dengan kerutan kecil di dahi mulusnya, "Tuh Bocah udah bangun ya?"
Bisa dibilang pagi ini Viola bangun terlambat. Entah karena faktor kelelahan akibat acara ijab kabul atau memang sudah tertumpuk dengan berbagai pikiran yang menguras energi.
Viola menjulurkan kakinya, menyapa keramik yang dingin. Segera mandi adalah keputusan yang tepat mengingat langit dari balik jendela kacanya sudah amat cerah. Tak lupa tangannya meraih salin baju rapi ke dalam kamar mandi.
Hingga waktu menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh, Viola baru menuju ke meja rias. Hendak mengambil hair dryer yang sudah tersedia sejak dulu di kamarnya. Sayangnya, alat pengering rambut itu tidak juga menyala.
Dalam kondisi hanya berbalut kimono mandi dan rambut yang digelung handuk, Viola mendumel kesal, "Listriknya ngalir, tapi kok nggak nyala sih?!"
Tangan Viola mengangkat hair drayer itu tinggi-tinggi, "Ah, pantas aja. Kabel bekas gigitan tikus mana ada yang bisa normal."
Gadis cantik bertubuh molek itu meletakkan kembali benda rusak tadi. Jujur saja, Viola paling tidak bisa membiarkan rambutnya kering dengan sendirinya. Harus ada alat bantu.
"Apa gue pinjam Tante Rosalia aja ya?" tanya Viola mengingat salah satu tantenya itu menginap di rumah Eyang.
Akhirnya, kaki Viola melangkah pergi dari ruangannya. Dia hendak menuju ke kamar tamu yang pastinya ada Tante Rosalia dan keluarga kecilnya.
Tanpa menghiraukan tundukan hormat dari segelintir pembantu wanita yang sudah bekerja, Viola menuruni anak tangga satu per satu.
Kemudian, Viola berbelok ke kiri. Lebih tepatnya menemui kamar dengan pintu berwarna hijau kukus di pojok sana.
Tok Tok Tok
"Tante," panggil Viola setelah mengetuk pintu lebih dulu.
Seperdetik kemudian, seorang anak kecil berusia lima tahun muncul dari balik pintu tersebut. Kontan, bola mata Viola berbinar senang, "Cia."
"Mbak Pio!" Bocah kecil itu memekik senang meski sebutan nama Viola berubah huruf. Kedua perempuan berjarak rentang usia yang jauh saling berpelukan melepas rindu.
Sudah enam tahun lebih Viola tidak bertemu dengan putri semata wayang Tante Rosalia, "Kamu kapan datangnya?"
Viola menggendong bocah imut berbando pink polkadot, "Cia baru ke sini tadi malam, Mbak."
"Sama ayah?" Cia langsung mengangguk antusias.
"Eh, ada Viola." Suara laki-laki dewasa membuat Viola dan Cia menoleh.
Senyum Viola terbit, "Pagi, Om."
"Pagi juga, Vio. Selamat ya atas pernikahannya," ucap Pradi, suami Tante Rosalia.
Karena tidak enak hati pada Om Pradi, Viola berniat memberikan Cia ke gendongan ayahnya. Namun, kaki Cia justru semakin erat memeluk pinggang Viola.
"Udah nggak apa, Vio. Dari kemarin Cia ribut mulu pingin ketemu kamu." Pria itu terkekeh dan Vio pun melepaskan tawanya.
Tak berselang lama, Tante Rosalia datang dengan sepiring nasi rendang favorit suaminya, "Ini mas sarapannya."
Lantas, Om Pradi pamit undur diri dari sana. Rupanya, Tante Rosalia sangat perhatian pada pria yang sudah lama menjadi suaminya.
"Kamu ternyata di sini toh?" Tante Rosalia menatap Vio lekat.
Viola mengangguk, "Mau pinjam hair drayer, Tan. Punyaku kabelnya digigit tikus."
"Tikusnya nakal banget ya, Mbak?" Cia menimpali pembicaraan keduanya.
Tangan kanan Viola yang bebas mencubit kecil hidung Cia yang mancung, "Kayak kamu."
"Tapi Cia nggak pernah nakal sama bunda. Cia juga sayang sama ayah," sahut Cia seakan tidak terima dikatakan nakal oleh Viola.
Rosalia melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Anaknya sudah persis seperti perangko yang enggan lepas dari keponakannya.
Kaki Rosalia berjalan masuk ke kamarnya guna mencari hair dryer. Dia selalu membawa karena itu penting untuknya. Tentu saja, untuk menemukan benda tersebut tidak butuh waktu lama.
"Ini." Tangan Rosalia langsung mengulurkan hair dryer pada Viola.
Karena Viola tampak kesusahan, Rosalia berinisiatif mengambil alih Cia dari gendongan Viola, "Pagi-pagi udah keramas aja nih."
"Udah gol ya?" bisik Rosalia sambil menutup telinga sang anak.
Cia memberontak, "Bunda, kenapa tangannya ditaruh ke telinga aku?"
Viola memutar bola matanya mendengar pertanyaan bernada 'aneh' dari Rosalia. Apa keramas hanya terjadi karena penyatuan suami istri?
Huh, yang benar saja!
Kepala Viola kemarin harus bersentuhan dengan sanggul yang sangat berat dan terlalu menekan bagian akar rambutnya. Jadi, apa salahnya coba keramas untuk memperbaiki rambutnya?
"Aku bawa dulu." Viola langsung memutuskan pembicaraan yang semula tenang.
Rosalia tergelak amat puas, "Cie yang malu-malu."
"Tante!" kesal Viola pada adik ibunya itu.
'Nikah aja dipaksa, masa iya harus langsung gitu-gituan?!' keluh Viola dalam hatinya.