"Saya terima nikahnya dan kawinnya Viola Sekar Queeningrat binti Almarhum Bagas Raden Adinigrat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya sang penghulu pada hadirin di kediaman Keluarga Ningrat.
"SAH!"
Seketika, ucapan syukur mengalir dari para tamu. Perasaan haru dan bahagia menyelimuti suasana pernikahan ini.
Walau hanya diadakan ijab kabul dan yang datang dikhususkan untuk keluarga dekat dan tetangga saja, tapi pernikahan tetaplah suatu hal yang sakral.
Meski ini bukan pernikahan yang sempurna, tapi hati Cakra berkecamuk berbagai cita rasa. Satu sisi, Cakra senang karena akhirnya dia bisa menyempurnakan agama dengan menikah.
Namun di sisi lain, sedih juga ia rasa ketika di hari terbesar dalam hidup Cakra, ibu dan adiknya tidak bisa hadir karena sedang dalam masa penyembuhan.
Tanpa Cakra sadari, seorang gadis cantik berbalut kebaya putih mutiara berjalan menghampirinya. Senyum tipis gadis itu ukir guna menyakinkan aura kebahagian yang kental ini.
Hiasan paes prada berwarna hitam membentuk lengkungan penuh makna dan cethuk mentul di atas kepala berjumlah ganjil turut serta menguarkan sisi anggun Viola.
Ya, gadis cantik itu adalah Viola Sekar Queeningrat.
Cakra sampai tidak bisa berkedip melihat luar biasanya seorang Viola. Cantik, anggun, dan mempesona. Bahkan, princess di serial animasi televisi pun kalah saing dengan istrinya.
Ah, benarkan Viola sudah resmi menyandang status itu? Cakra sangat tidak menyangka.
Salah seorang keluarga Viola menyentuh lengan Cakra pelan. Kontan, tubuh Cakra berjengkit kaget, "Eh?"
Wanita itu tersenyum maklum melihat wajah Cakra yang bingung, "Pakaikan cincinnya, Nak."
Kotak beludru berwarna merah maroon dibuka perlahan. Tatapan mata Cakra tertuju pada dua cincin emas putih dengan aksen ukiran tipis di bagian tengahnya.
Cakra berdecak kagum. Meski tampak sederhana, tapi Cakra yakin kalau harganya sangat fantastis.
Pelan tapi pasti, Cakra menyematkan benda lingkaran itu sebagai simbol atas ikatan suci dirinya dengan Viola tepat di jari manis istrinya.
'Aku bahkan masih tidak percaya kalau akan menjadi suami dari gadis ketus dan dingin seperti Viola,' batin Cakra pasca memasangkan cincin tadi.
Begitu pula dengan Viola, tangan gadis itu sudah sampai di depan jari manis Cakra untuk memasangkan cincin pernikahan mereka.
'Aku tidak menyangka kalau suamiku hanyalah seorang sopir,' gumam Viola dalam hatinya.
"Vio, cium tangan suamimu," titah Eyang yang ternyata sudah setia ada di sana.
Kedua pasangan pengantin baru itu saling bertatapan. Walau canggung, tapi Cakra tetap mengulurkan tangan kanannya. Pastilah, Viola menyambut sesuai adat dan semestinya.
Setelah selesai melakukan satu hal lumrah dalam prosesi ijab kabul, giliran Cakra yang mendapat bagian. Ya apalagi selain mengecup kening istri sahnya itu?
Dengan perasaan gugup, Cakra maju selangkah ke depan. Degup jantungnya berpacu cepat begitu mendekatkan wajah ke dahi mulus Viola.
Cup.
Satu sentuhan itu berhasil membuat darah Viola berdesir seketika. Sekana situasi mendukung, Viola memejamkan mata sejenak. Bukan, Viola bukan bermaksud mendalami peran.
Dia hanya tidak mau jika harus berpandangan dengan beberapa tamu yang sibuk memotret keduanya. Belum lagi, siulan iseng para pria yang Viola yakin itu adalah sepupunya.
Tiba-tiba, suara serak itu berbisik di telinganya, "Buka matamu, Viola."
Refleks, mata Viola membuka terbuka lebar-lebar. Waktu berjalan sangat cepat sampai Viola tidak sadar jika sudah selesai eventnya.
"Cie yang betah merem terus," oceh salah satu sepupu jauh Viola.
Celotehan itu justru ditanggapi oleh tamu yang lain, "Bayangin malam pertama ya, Mbak?"
Tentu saja, gadis itu mengabaikannya. Telinga Viola sudah kebal jika harus berhadapan dengan candaan seperti itu.
Eyang datang dan menengahi, "Vio, Cakra, kalian boleh sapa keluarga besar dulu."
Viola mengangguk singkat. Dia hendak berjalan lebih dulu, tapi lagi-lagi Viola ingat kalau Cakra sudah menjadi suaminya. Dengan terpaksa, Viola menunggu kepekaan Cakra.
"Mau ke mana dulu?" tanya Cakra karena melihat Viola memaku di tempat semula.
Sejujurnya, Viola juga bingung. Keluarga yang datang tidaklah terlalu banyak. Hanya beberapa suadara dari luar kota yang hadir ke Semarang.
"Ikut aku." Viola memimpin di depan, tapi Cakra lebih dulu menyampirkan tangannya di pinggang gadis cantik ini.
Hendak protes, tapi tidak alasan yang masuk akal. Akhirnya, Viola pasrah. Mereka berdua jalan seolah 'pasangan serasi' yang 'saling mencintai'.
Nyatanya, tidak sama sekali!
Acara ijab kabul telah hikmat terlaksana. Tak perlu pesta mewah karena memang Viola tidak mengingkan hal berlebihan dalam pernikahan yang tak ia impikan ini.
Satu per satu tamu yang sebagian besar didominasi oleh tetangga dekat dan kawan lama Eyang mulai meninggalkan lokasi acara. Hingga mentari mulai berada di atas kepala, Cakra dan Viola memilih kembali ke dalam rumah. Penat dan letih tersenyum dirasakan oleh Viola.
Sialnya, Tuhan tak menginginkan Viola beristiarahat bebas secara langsung. Dihadapkan dengan keluarga besarnya, tangan Viola berulang kali mimijit pelipisnya pelan.
"Wah pengantin barunya udah datang nih," ujar seorang remaja berusia enam belas tahun di single sofa.
Secepat kilat, Tante Rosalia menonyor kepala remaja di bawah umur itu tanpa rasa bersalah, "Anak kecil nggak boleh banyak omong."
"Apaan sih, Tan. Aku udah besar loh ini," rajuknya sambil melempar tatapan iba.
Viola bergidik ngeri melihatnya. Remaja lelaki itu jelas adalah sepupu jauhnya. Sifat alay dan tidak tahu diri entah muncul dari mana.
Padahal ...
"Boy!" Suara seorang ibu berkebaya orange itu menggelegar di ruangan tak begitu luas ini.
Pandangan wanita itu menajam, "Habis kamu apain adekmu?!"
"Enggak kok, Bun. Ak-"
"Cepat minta maaf!" sergah wanita berwajah garang di sana.
Remaja ingusan itu menggeleng cepat, "Nggak mau ah. Orang adek yang salah."
Wanita yang tak lain adalah kakak dari ayahnya itu langsung berkacak pinggang. Jika digambarkan, ada dua tanduk merah di kepala wanita paruh baya itu.
Viola hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Selalu begini jika sudah bertemu dengan keluarga kakak dari ayahnya.
Ngeri deh pokoknya.
Tante Rosalia mengalihkan atensi, "Cakra, Tante belum kenalan resmi loh sama kamu."
Pandangan wanita yang tadi sempat meledak-ledak turut berpindah pada sosok Cakra, "Oh, ini toh yang namanya Cakra?"
Cakra mengulas senyum termanisnya, "Iya, Tante."
"Kamu kerja di mana sih? Kok Eyang sampai ngotot banget jodohin kalian berdua." Sindiran itu jelas menohok harga diri Cakra sebagai laki-laki.
Viola memutar bola matanya jengah, "Budhe, jangan mulai deh."
"Ya habisnya Budhe jengkel. Kemarin waktu dikenalin sama anaknya direktur, Eyangmu malah nolak." Kekesalan itu masih memenuhi lubuk hati wanita tadi.
Cakra mengendurkan rangkulan di pinggang Viola. Tentu saja, Viola merasakan perubahan ekspresi dan sikap Cakra.
Namun, Viola berusaha masa bodoh, "Budhe, sekarang Cakra adalah suamiku. Jadi hargai dia sebagaimana Budhe menganggapku."
Wanita bersanggul kecil dengan kebaya biru langitnya spontan menatap wajah Viola yang lekat dengan riasan ala pengantin Jawa. Dia sungguh tak menyangka kalau sifat tegas Viola dapat diaplikasikan tepat sasaran.
Senyum bangga menghiasi wanita yang tak lain adalah Rosalia, "Semoga kalian langgeng ya."
"Jangan lupa buatkan cicit untuk Eyang," imbuh Tante Rosalia sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Vio, kok kamu udah di sini? Tuh di luar ada teman Eyang yang baru sempat datang," ujar Eyang tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah.
Viola mendesah lemah. Ternyata, belum usai acara pernikahan ini secara tuntas. Dengan terpaksa, sepasang pengantin itu mengekor di belakang Eyang Putri. Namun, niat Cakra terhenti ketika nenek Viola memintanya pergi sebentar ke salah satu pondok makanan yang tersedia. Pastinya, dia mengambil makan siang untuk Viola juga dirinya.
Sehingga, kini Viola bersama sang Eyang. Menyapa sejenak beberapa wanita lansia sepantaran dengan Eyang. Kemudian, Viola menepi ke deretan kursi kosong sembari menghirup udara bebas. Sayangnya, sebuah drama baru memeriahkan hari yang semestinya bahagia ini.
"Dia bukannya Viola Queen ya? Desainer itu kan?" bisik salah satu tamu yang tidak Viola kenal.
Meski posisi Viola dan dua wanita di sana berjauhan, tapi telinga gadis itu tidak tuli. Kadar pekanya pun sangat bagus.
Wanita bergamis batik cokelat menyahut, "Kayaknya sih bukan."
"Kalau dia emang Viola Queen yang desainer itu ... nggak mungkin kan kalau nikah diam-diam?" duga wanita tadi tanpa rasa malu sedikit pun.
Viola menatap mangkuk berisi nasi rawon tanpa minat. Selera makannya sudah hilang begitu mendengar celotehan tidak bermutu itu.
Pengantin pria datang dengan dua gelas sup buah. Lantas, dia duduk di sebelah Viola, "Katanya lapar, kenapa nggak dimakan?"
Ya, itu benar ... tapi tadi.
Untuk berdandan kha Jawa membutuhkan durasi yang sangat lama. Perias sudah datang sejak pukul lima subuh dan Viola harus rela dandan di saat matanya masih berat.
Saking sibuknya dengan riasan pengantin, Viola sampai melewatkan sarapan. Padahal, belum pernah sekali saja dia melupakan makan pagi.
Wajar lah ya kalau Viola kelaparan.
Namun, sekali lagi harus ditegaskan bahwa Viola sungguh lapar sebelum dua wanita tidak tahu diri itu asyik menggibah pasca ijab telah selesai.
"Vio?" Telapak tangan Cakra menari di depan wajah Viola yang bengong.
Bulu mata Viola berkedip langsung, "Kenapa?"
"Kok nggak dihabisin rawonnya?" Cakra menunjuk mangkuk kecil di tangan penuh heena itu.
"Tidak jadi." Viola meletakkan kembali mangkuk rawon yang belum ia sentuh sama sekali.
Spontan, Cakra mencegah niat istrinya itu, "Kata Eyang, kamu punya maag."
Alis Viola terangkat sebelah. Sejak kapan Cakra peduli soal kesehatannya?
"Makan, Vio. Keluargamu bisa menyerbuku seperti tadi kalau lihat kamu sakit," bujuk Cakra realistis.
Cakra tidak sedang membual. Keluarga Nigrat itu jauh lebih ganas daripada bayangannya.
Mengingat riwayat maag terdahulu, Viola akhirnya menyuapkan satu sendok rawon dengan hati-hati. Jangan sampai kebaya putih ini ternodai.
Sembari menyesap sup buah di tangannya, Cakra mencuri pandang ke arah Viola. Jika dilihat dari jarak sedekat ini, mata Cakra langsung berkilau.
Hal konyol itu ternyata tak lepas dari sudut mata Viola, "Kenapa menatapku seperti itu?"
"Hah?" beo Cakra sambil menormalkan kekagetannya.
Viola acuh saja. Awalnya, dia kira Cakra berbeda dengan pria lain. Ternyata, berondong ini juga terkesima dengan wajah cantik Viola.
"Oh iya, tadi budheku. Lebih tepatnya, kakak dari ayahku," ujar Viola memutar ingatan ke beberapa menit yang lalu.
Wajah Cakra berubah datar. Bukan karena sifat pria ini moody, tapi kata-kata wanita berkebaya orange tadi terus terngiang-ngiang di kepala Cakra.
Apa seburuk itu pandangan Keluarga Ningrat padanya?
Viola paham kalau susah mengontrol perasaan jika sudah berhadapan dengan celotehan pedas, "Tidak perlu diambil hati atas apa yang dia ucapkan."
"Aku juga nggak masalah. Toh, itu tidak sepenuhnya salah." Cakra berusaha mengenyahkan rasa malasnya ketika membahas wanita beranak bandel tadi.
Setelah rawon di mangkuk kecil itu habis, Cakra berinisiatif membantu. Hal itu menghadirkan senyum tipis di hati Viola.
Setidaknya, Cakra sedikit perhatian dengannya.
Begitu pembantu datang, tangan Cakra langsung mengulurkan mangkuk bekas tadi dan dua gelas yang sudah tandas isinya. Lantas, kembali duduk di samping Viola.
"Cak, aku nggak lihat di mana orang tuamu." Sontak, tubuh Cakra menegang mendengar kalimat yang terlontar dari mulut istrinya.
Kepala Viola miring guna mengamati lekat wajah Cakra yang tampak sendu, "Apa pertanyaanku salah?"
Cakra menggelengkan kepala dan tersenyum manis pada Viola, "Enggak. Nanti aku akan ceritakan detailnya setelah acara selesai ya."
Beruntungnya, Viola tidak jadi membuka suara lagi karena kedatangan tamu yang hendak menyapa. Melihat itu, Cakra menghembuskan napas lega.
Setidaknya, atensi Viola teralihkan dalam sekejap.