Baru saja selesai memasukkan mobil ke garasi, Cakra dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita lansia yang tak lain adalah Eyang Putri.
Cakra menunduk kecil. Dengan Bahasa Jawa Krama Inggil, Cakra bertanya lugas, "Bagaimana, Eyang?"
"Aku akan membahas sesuatu yang penting denganmu, Cak." Eyang tidak suka basa-basi.
Berhubung di teras ada dua kursi kecil, kaki Eyang langsung berjalan menuju sana. Tentu saja, Cakra mengekori langkah majikannya.
Kening Cakra menyengit bingung. Pasalnya, jarang sekali raut wajah super serius tercetak di wajah wanita lansia itu jika berbincang singkat seperti ini.
"Mau membahas apa ya, Eyang?" tanya pria berusia dua puluh lima tahun tersebut.
Pandangan Eyang menerawang jauh ke atas angkasa luas yang terlihat dari balik spanduk transparan itu, "Ini tentang cucuku."
"Nona Viola?" beo Cakra memperjelas maksud Eyang.
Eyang mengangguk setuju, "Benar. Kamu tidak keberatan kan, Cak?"
Dari logat bahasa yang telah berubah menjadi Bahasa Indonesia baku, Cakra paham betul kalau topik pembicaraan ini sangatlah vital. Tentu saja, bobot tema akan berat bagi Cakra.
"Tidak, Eyang." Mau bagaimanapun, Cakra harus mengikuti alur bahasa Eyang.
"Seberapa besar kamu tahu tentang Keluarga Ningrat?" pancing Eyang begitu memulai pembahasannya.
Ya, Keluarga Ningrat adalah keluarga besar milik Eyang Putri.
Sejujurnya, Cakra takut jika sudah menyinggung soal Keluarga Ningrat. Derajat dan kekuasaan sangat diperhitungkan betul dalam keluarga berpendidikan ini.
Sedikit ragu, Cakra mengangguk, "Lumayan tahu, Eyang."
"Bagaimana pendapatmu?" Kontan, kepala Cakra menoleh ke arah Eyang Putri dengan wajah terkejut.
Tidak salah kalau Eyang meminta argumentasi darinya?
"Maaf, Eyang, tapi saya merasa tidak pantas berkomentar apa pun," jawab Cakra sambil meringis kecil.
Seulas senyum tipis terbit di wajah Eyang, "Jangan khawatir. Eyang tidak akan menghukummu hanya karena itu."
Melihat kesungguhan di manik mata wanita lansia ini, hati Cakra gundah. Satu sisi dia ingin mengeluarkan pendapat, tapi Cakra tidak enak pada Eyang Putri.
"Apa keluargaku begitu mengerikan sampai kamu enggan membuka suara, Nak?" Cakra refleks menggelengkan kepala cepat.
Jangan sampai Eyang Putri salah paham, "Tidak, Eyang."
"Saya hanya sedang merangkai kata-kata," alibinya masuk akal.
Sambil menunggu pemuda ini berucap, Eyang menyuruh salah satu asistennya untuk membuat teh hijau. Tentu hanya sebagai selingan saja.
Cakra menghela napas sejenak. Lalu, menatap Eyang lurus, "Saya tahu Keluarga Ningrat sudah sejak pindah ke Semarang, Eyang."
"Seperti yang Eyang tahu, ibu saya pernah mengabdi untuk keluarga ini. Kata ibu, tata krama dan gelar pendidikan sangat dijunjung tinggi," lanjutnya tanpa berniat melebihkan atau mengurangi fakta sesungguhnya.
Kepala Eyang hanya manggut-manggut. Tidak salah apa yang diucapkan Cakra. Memang begitulah Keluarga Ningrat dikenal masyarakat.
Seolah masih belum puas dengan jawaban Cakra, Eyang terus menggali informasi, "Selain itu?"
"Apa ada yang tahu soal kecelakaan orang tuanya Viola?" Sengaja Eyang menekankan pada poin terpenting.
Hal itu membuat kening Cakra mengerut bingung, "Kecelakaan apa, Eyang?"
Pasalnya, sewaktu ibu Cakra kerja di sini, usia Cakra masih menginjak angka delapan. Belum terlalu paham untuk mengerti topik seperti itu.
"Berati kamu belum tahu," putus Eyang karena ia melihat raut keheranan di wajah Cakra.
Cakra tidak menuntut penjelasan lebih agar dirinya tahu. Menurutnya, itu tidak sopan.
Namun, Eyang justru membeberkannya langsung, "Orang tua Viola meninggal karena kecelakaan."
"Tepat setelah mengantarkan Viola pergi ke lomba peragaan busana," imbuh Eyang membuka lembaran usang dahulu.
Walau sakit itu masih terasa, tapi Eyang pikir kalau Cakra harus diberi tahu lebih awal soal ini, "Viola sangat terpukul. Dia bahkan tidak mau pergi ke pusara terakhir orang tuanya."
Air mata itu terjun bebas dari sosok renta di samping Cakra. Pria itu tak tega. Tangannya mengulurkan tisu pada Eyang, "Saya ambilkan air putih dulu, Eyang."
"Tidak usah, Nak. Ayo duduk lagi," titah Eyang ketika badan Cakra sudah berdiri.
Akhirnya, Cakra menurut. Dia bingung bagaimana cara menyikapi kejadian seperti ini selain menolong dengan segelas air minum.
"Kalau Eyang tidak sanggup, lebih baik jangan dilanjutkan, Eyang." Cakra tidak mau kalau sampai nenek dari Viola kembali menitihkan air mata.
Telapak tangan penuh kerutan itu menyentuh tangan Cakra, "Kamu berhak tahu karena sebentar lagi ... Viola adalah istrimu."
Keesokan harinya, gadis berbaju blouse navy itu melangkahkan kaki menuju ke halaman belakang. Bukan tanpa sebab tentunya, ada seseorang yang ingin ia temui di sana.
"Kenapa kau langsung setuju dengan perjodohan ini?" Pertanyaan itu lolos dari bibir pink milik Viola begitu manik matanya menatap punggung tegap milik lelaki berkaos oblong di taman belakang.
Mendengar suara yang kini sudah tak asing di pendengarannya, tangan Cakra spontan mematikan kran yang terhubung dengan selang air berwarna hijau. Kemudian, dia berbalik badan dan balas menyorot mata wanita cantik berwajah ketus itu.
Seperdetik kemudian, Cakra mengedarkan pandangan. Taman belakang ini sepi dan hanya ada dirinya dan Viola saja. Pasti Viola hendak membicarakan sesuatu yang lebih tajam dari satu kalimat sebelumnya.
"Sebaiknya duduk di sana saja, Nona," saran Cakra sambil menunjuk sebuah ayunan rotan.
Seketika, alis Viola terangkat sebelah, "Tidak ada tempat untuk dua orang, Cakra."
Senyum Cakra terbit, "Itu untuk duduk Nona. Saya bisa berdiri saja."
"Oh." Viola langsung melenggang pergi dan bersantai di atas ayunan rotan.
Lagi-lagi, Cakra hanya bisa tersenyum kecil. Sikap ketus dan dingin Viola nyatanya tidak berangsur sedikit pun meski esok Cakra adalah suaminya.
Dengan tulus, Cakra berdiri di samping Viola yang menikmati suasana senja. Beruntung, halaman belakang telah didesain sejuk dan sangatlah rindang.
"Eyang telah sangat berjasa untuk kehidupan keluarga saya, Nona. Jadi, saya merasa berdosa jika menolak permintaan Eyang," ujar Cakra setelah beberapa detik saling hening.
Viola sudah menebak jawaban itulah yang keluar dari mulut Cakra. Kekuasaan uang ternyata sangatlah penting dalam kehidupan ini.
Senyum sinis tercetak di wajah Viola, "Sudah kuduga."
"Maaf, Nona. Saya tidak punya pilihan lain." Ekspresi Cakra langsung redup mendapati sikap sinis Viola yang kembali muncul.
"No problem. Pernikahan ini seharusnya sama-sama menguntungkan untuk kita berdua." Viola menghentikan gerak kakinya.
Kepalanya menoleh ke samping, "Umur saya tidak muda lagi, Cakra. Saya harap pernikahan ini bukan ajang permainan belaka."
"Maksud, Nona?" Cakra mendadak linglung. Bukannya kemarin Viola menolak keras perjodohan Eyang?
Pandangan Viola beralih ke arah deretan tanaman anggur yang merambat di tembok bata, "Simplenya gini."
"Aku nikah karena Eyang meneror usiaku, tapi aku juga tidak mau kamu menyepelekan pernikahan ini hanya karena balas budi saja." Viola menegaskan nada bicaranya.
Ah, Cakra mengerti sekarang, "Iya, Nona. Saya juga sudah bersumpah pada Allah kalau hanya akan menikah satu kali seumur hidup."
"Good. Lalu, apa rencanamu setelah menikah?" tanya Viola mengarah pada hidup Cakra pasca menjadi suaminya nanti.
"Satu yang sudah pasti adalah saya akan mengundurkan diri menjadi sopir Eyang. Mungkin, saya akan mencoba menjadi driver online," sahut Cakra yang sebelumnya sudah lebih dulu merenungkan hal tersebut.
Walau sudah bertahun-tahun bekerja sebagai sopir pribadi Eyang, tapi mustahil jika dia tetap bertahan. Akan sangat tidak masuk akal jika gajinya nanti berasal dari nenek istrinya sendiri bukan?
"Tetap sopir?" sarkas Viola terdengar merendahkan pekerjaan Cakra.
Bukannya marah karena sakit hati, Cakra justru tersenyum lebar, "Iya. Asalkan halal, saya jalankan, Nona."
"Whatever. Terus kalau soal tempat tinggal?" Jujur, ini pertanyaan yang sangat Cakra hindari.
Gaji Cakra selama ini memang sudah disisihkan untuk tabungan. Namun jika untuk membeli rumah layak pakai, Cakra belum sanggup.
Melihat wajah pias Cakra, Viola berdecak kasar, "Apa bayaran dari Eyang tidak cukup untuk membeli rumah sepetak saja?"
"Bukan begitu, tapi sa-"
"Shut-up!" Viola menatap Cakra tajam.
Seharusnya, otak cantik gadis itu paham kalau sopir seperti Cakra tidak bisa mencukupi semua gaya hidupnya. Jangankan barang mewah, kebutuhan primer pun Cakra tidak mampu.
Ini semua salah Eyang!
Kalau Viola dijodohkan dengan pria berderajat sama bak ayah ibunya, kepala Viola tidak akan pusing memikirkan hal ini.
Kalau rumah tak ada, lalu di mana Viola akan tinggal?
Cakra punya alasan sendiri. Tidak seperti yang Viola asumsikan tentu saja. Tak sedikit hal-hal yang harus Cakra tanggung untuk ibu dan adiknya.
Akan tetapi, Cakra tidak murka ada Viola. Pasca mendengar keseluruhan kisah dari Eyang, tak ada hak untuk menghakimi karakter Viola saat ini.
"Jika Nona Viola mengkhawatirkan tentang tempat tinggal, saya sudah punya pilihan," ujar Cakra sambil menatap teduh calon istrinya.
Viola melirik sekilas, "Di mana?"
"Rumah ibu saya," tandas Cakra cepat dan lugas.
"Semarang juga?!" Wajah Viola bercampur kaget dan tidak terima.
Kepala pria tampan berprofesi sebagai sopir itu mengangguk enteng. Cakra adalah kepala keluarga. Sebagaimana adat Jawa, perempuan wajib mengikuti ke mana pun suaminya akan tinggal.
Jelas saja, Viola tak sependapat. Dia punya delapan butik di Ibu Kota yang super sibuk. Mana mungkin Viola akan kabur lebih dari satu minggu dan meninggalkan tugas sebagai desainernya.
"Aku nggak mau," tolak gadis bermata bulat itu.
Cakra tidak kaget mendengarnya. Dengan santainya, Cakra bertanya saja, "Maumu gimana?"
Dilempar pertanyaan tidak jelas tersebut, Viola jadi bingung sendiri. Kalau dia mengatakan 'tidak' dengan alasan supaya bisa bekerja di Jakarta, Eyang pasti murka.
Namun jika Viola patuh, bagaimana dengan karirnya?
"Aku nggak akan melarang Nona untuk tetap menjadi desainer. Kalau Nona mau, kita bisa hubungan jarak jauh saja," celetuk Cakra yang sejujurnya dia sendiri tidak yakin.
Impian Cakra sebagai seorang laki-laki jelas memiliki istri yang sempurna. Bukan dalam bentuk fisik, tapi keelokan hati. Taat pada perintah suami dan selalu mendukung satu sama lain.
Sayangnya, ini bukan pernikahan yang Cakra nantikan.
Netra bulat itu menyipit curiga, "Kenapa semudah itu?"
"Lalu aku harus bagaimana?" Cakra bingung dengan kemauan Viola yang sebenarnya.
Tadi menolak untuk tinggal di Semarang, tapi saat diusulkan untuk hubungan jarak jauh Viola justru menaruh rasa tidak percaya.
'Laki-laki memang serba salah,' batin Cakra.
Bahu Viola terangkat acuh, "I dunno."
"Aku punya butik di Jakarta, nggak mungkin kan ditinggal gitu aja?" Viola mencoba menjabarkan kondisinya.
Tentu saja, Cakra sudah tahu. Beruntung Eyang lebih dahulu memberinya informasi, "Iya."
"Makanya, kalau kamu mau ... aku izinkan." Sungguh, kalimat yang terlontar justru berkebalikan makna seperti di dalam hatinya.
Cakra ragu mengizinkan Viola kembali ke Jakarta.
Tangan Viola memijit pelipisnya pelan. Meski Cakra sudah memberinya lampu hijau, tapi tetap saja masalah ada di dalam sanubarinya.
Viola itu tulen keturunan Jawa. Dia hafal betul adat dan istiadatnya. Setelah menikah, istri harus ikut ke mana pun suami akan tinggal.
Ya walaupun kepribadian Viola sudah terkontaminasi dengan keterbukaan mind set, tapi kenapa sekarang hatinya gundah seperti ini?
Hembusan napas berat membuat Cakra menoleh heran, "Kenapa, Nona?"
"Akan aku pertimbangkan lagi," putus Viola daripada merasakan pening di kepalanya.