'It's all because I watched it last night'
°°°
Tubuh mungil yang dibalut dengan seragam putih abu dengan tatanan rambut yang begitu rapi tengah mematut dirinya di depan cermin. Raka melihat pantulan matanya yang terlihat begitu sembam. Dia berdecak sebal lantas cemberut.
"Gimana nih?" Raka membuang napasnya jengah. Selalu saja seperti ini.
Dengan gerakan berulang-kali Raka meraup wajahnya dengan air secara kasar. Lumayan, dan tidak terlalu buruk. Raka mencoba tersenyum untuk menghilangkan titik sembam di bawah matanya.
Sebelum akan pergi turun untuk bergabung ke meja makan. Raka sempat menggigit bibir bawahnya. Takut. Tapi dia bisa apa.
Maka dengan gerakan super lambat dan wajah yang menunduk Raka melihat anggota keluarganya telah berkumpul menyantap hidangan sarapan yang dibuat mama.
Tanpa embel-embel selamat pagi atau sapaan hangat. Kursi yang Raka tarik telah berbunyi bising. Tidak ada yang peduli dan Raka sudah terbiasa.
Raka duduk di samping Fikry kakaknya dan berhadapan langsung dengan ayahnya.
Tidak peduli seberapa dinginnya tatapan Hema ayahnya, Raka mencoba abai dengan fokus mengoles selai di roti gandumnya.
Sunyi dan ini benar-benar canggung. Dengan tubuh yang mulai gemetaran Raka tetap memakan dengan diam.
"Dek mata lo kok sembam gitu? Lo habis nangis?"
Tubuh Raka seketika menegang. Kepalanya mendongak menatap Fikry yang tengah menatapnya balik bahkan dengan gerakan yang menelisik seperti tengah mencari benda kecil di dalam rumbut.
Raka meneguk ludahnya susah-susah mendengar pertanyaan kakaknya barusan. Raka bingung harus menjawab apa?
"Eng-enggak kok kak." jawabnya asal dan tersendat.
"Oh, gue tau apa ini gara-gara ayah?" Mata Fikry menajam.
"Kamu ngomong apa?" Kini suara bariton sang ayah angkat bicara.
Raka menunduk takut. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri kenapa harus ikut sarapan. Raka tidak mau kena marah lagi. Sudah cukup tadi malam sampai membuat dadanya sesak bukan main.
"Ayah apaan sih? tadi malem ayah habis ngapain adek? It must you, okey dad!"
Hema menatap acuh putra tirinya itu. Kesal. Tentu saja.
"Kak aku gak papa! It's all because I watched it last night." Raka berucap lirih di akhir kalimat berusaha meyakinkan kakaknya.
"Ayah tadi malem abis nampar dia, emangnya kenapa?" kata Hema santai karena muak mendengar dusta anaknya sendiri.
Raka membuang napasnya sedih. Tidak ada yang bisa Raka lakukan selain menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju air mata yang mendesak ingin keluar.
"What the— okey im sorry dad udah lancang. Tapi apa salah adek? Raka ngelakuin apa sampai ayah—" perkataan Fikry terpotong saat lengannya di pegang erat oleh Raka.
Tubuh anak itu bergetar halus. Raka takut, dia tidak ingin membuat kakak dan ayahnya malah bertengkar di pagi yang cerah ini dan hanya karena dirinya.
"Udah! Mendingan kamu Raka, berangkat sekarang aja! Ini udah hampir telat." Rida berdecak karena paginya sudah buruk hanya karna suami dan anaknya yang bertengkar.
Dalam hati Raka bersyukur namun juga hanya bisa menghela napas. Raka bangkit dari kursi tanpa menghabiskan sisa potong rotinya yang masih banyak.
"Loh, adek belum ngabisin sarapannya ma. Kenapa suruh berangkat sekarang?" lagi dan lagi Fikry mendumel kesal.
Apa kedua orang tuannya ini sudah gila?
"Gak papa kok kak. Raka juga ada piket hari ini."
Raka menunduk enggan untuk meminta berjabat salam dengan ayah dan mamanya.
"Raka itu boros, biarin aja dia sarapan di kantin."
Raka memejamkan matanya erat mencoba abai dan menutup kalimat cacian dari sang ayah.
Demi Tuhan, rasanya sakit. Raka bukan anak tiri! Tapi kenapa dirinya seperti dianak tirikan. Cukup tadi malam saja Hema telah menggores luka dihatinya karena pulang terlalu larut.
"Raka berangkat."
Raka tersenyum miris. Sekuat tenaga apa dirinya terlihat baik-baik saja. Nyatanya hal itu malah semakin banyak yang ingin menghancurkannya.
Dengan kasar Raka menghapus air matanya yang menetes tanpa permisi. Lantas Raka dengan cepat mengambil sepedanya di garasi.
Raka keluar sambil menggayuh sepedanya. Dia cepat-cepat ingin pergi ke sekolah. Tempat di mana dirinya bisa melepas penat.
"Dek tungguin!"
Raka mendengar teriakan sang kakak. Namun apa peduli sama sekali tidak menggubris. Dia tidak ingin menambah suasana di rumah itu berantakan hanya masalah sepele.
*
"Widihh udah ada tukang sapu nih guys sekarang!"
Raka menunduk, dia tersenyum kecut saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh teman sekelasnya.
"Udah Ka gak usah didengerin tuh lambe turah!"
Raka cuma mengangguk seadanya. Sampai gurunya memanggil Raka, aktivitas menyapu pun berhenti.
"Raka bantuin ibu ya bawa ini."
Raka tersenyum, "Iya bu."
Raka berjalan mengikuti Bu Widy dengan terburu. Langkahnya agak tertatih karena kakinya yang lumayan sakit saat berjalan. Entah penyebabnya apa tapi sedikit ngilu.
Karena terlalu sibuk dengan tumpukan buku Raka sampai tidak tahu bahunya sudah menabrak seseorang dengan kencang.
"Anjir!" Umpat orang itu spontan saat keduanya tersungkur di lantai.
Cewek yang ditabrak Raka melotot gaket saat miniatur planet-nya rusak. Dan Raka belum mengetahui hal itu, dia mencari barang milik bu Widy yang jatuh terpencar.
"HEH LU TANGGUNG JAWAB YA ANJIR! MINIATUR GUE RUSAK!"
Raka meringis melihat kakak kelasnya itu yang sedang kesal luar biasa. Wajahnya memerah siap-siap mau meledak.
Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ma-maaf kak, aku beneran gak sengaja."
"Iih lo, siapa nama lo?" bentak Emira.
"Aku Raka kak."
Plesetan sama senioritas. Cewek itu napak tidak nyaman dengan sebuatan aku-aku yang diucapkan Raka barusan.
"Pokoknya gue gak mau tau ya besok miniatur planet gue harus udah jadi." Raka gelagaban mendengar ocehan kakak kelasnya itu.
Raka kembali meringis. Dia harus tanggung jawab ya? Okey. "Iya nanti aku benerin kak."
Setelah mengucapkan itu lantas Raka meninggalkan cewek yang masih gondok karena tugas miniatur planetnya rusak begitu saja.
"b*****t lu. Awas aja lo ya kalau gak mau benerin, gue cekik lo!" Cewek itu berteriak keras sambil menyumpah-serapahi Raka.
Tapi Raka benar-benar tidak menggubris. Raka masih inget dia tengah membawa barang milik orang lain yang mungkin saja bu Widy tengah menunggunya.
Tbc