Hmm, let's be friends?
°°°
Sesuai perkataannya. Setelah bel pulang berbunyi Raka dengan langkah santai menuju kelas XII IPS 1. Kelas yang sempat menjadi pencariannya sama Devan. Untung Devan tidak marah.
Raka duduk di kursi koridor menunggu seseorang keluar kelas. Melihat murid yang berlalu lalang sepertinya tidak terlalu buruk. Raka tidak biasa bergrombol beda sekali dengan murid lain.
Menurutnya sendiri akan lebih nyaman walaupun presepsi itu sangat salah total. Raka hanya bingung harus memulai berteman dengan cara apa.
Raka bukan anak yang easy going seperti Devan. Raka tertutup, sulit untuk membuka orang baru yang ingin singgah hanya sekedar berkenalan.
Karena faktanya Raka itu takut. Dia takut dihianati. Mungkin sudah menjadi trauma tersendiri, makanya Raka sangat berharap jika Devan akan menjadi orang yang paling baik untuk menerima dirinya sebagai seorang sahabat. Dan tidak ada penghianatan setelah itu.
Raka bernapas gusar. Sedikit khawatir dengan jam pulangnya nanti. Tapi apa buat, Raka bukan akan yang seenak jidat main kabur aja. Sedikit lama juga Raka menunggu karena mungkin saja jam untuk anak kelas akhir pasti bertambah.
Raka memicing ketika pintu kelas yang dia tunggu terbuka lebar lalu guru yang mengjar keluar dan disusul suara gaduh dari dalam.
Beruntung sekali Raka tidak perlu mencegat kakak kelasnya itu di kerumunan teman-temannya yang keluar.
Raka berdiri, matanya menyapu orang yang ditunggunya. Kakak kelasnya itu—jika tidak salah namanya Emira terlihat kaget dengan kedatangannya maka dengan gerakan tidak disangka langsung memegang tangan Raka erat lalu membawanya menjauh dari sana.
Raka terbelalak tangannya tertarik kuat mengarah ke gadis di depannya.
"K-kak jangan kenceng-kenceng!" pekik Raka setelah tangannya dihembaskan oleh Emira.
Emira menatap nyala ke arah Raka, "Kenapa lo di depan kelas gue sih, mau cari mati lo?"
"Ya, tadikan... kakak bilang kalau aku harus tanggung jawab. Jadi aku samperin—"
"What the hell! tanggung jawab? lo udah diapain sama dedek gemes ini?" Perkataan Raka terpotong saat dengan tidak sopannya ada seseorang menimbrung.
Emira menepuk jidat cewek itu dengan kencang. Cewek itu mengadu tidak suka, baru pertama kali Emira sesial ini. Di tuduh yang tidak-tidak.
"Apaan anjir Ta, jangan ngaco deh!"
"Lah tadi dedek emesnya bila tanggung jawab, emang tanggung jawab apaan?" Heta temen Emira menaik-turunkan alisnya dengan centil.
Emira cringe sendiri mendapat perlakuan seperti itu dari sesama genre.
Rasanya Emira ingin sekali mencekik Raka yang hanya diam saja dan memperlihatkan mereka berdua dengan tatapan polos layaknya anak kucing.
"Tadi dia ngerusakin miniatur planet gue, jadi gue suruh tanggung jawab!" jelasnya sewot.
Heta ber—hooh panjang dengan iseng dia mencolok lengan Emira. "Hahaha.... Gue kira tanggung jawab ituan."
Emira melotot, sungguh temannya yang satu itu memang kelebihan hormon. Pikirannya selalu saja kotor. Dan jangan ditiru.
"Yaudah gue pulang duluan sis, biasa mau kencan dulu—"
"Gak nanya!" Heta berdecih tidak suka, "Btw, lo cocok sama dia!" kata Heta berbisik di telinga Emira.
Wajah Emira mendidih rasa ingin menjitak kepala Heta sangat besar. Tapi anak itu sudah ngacir lari sambil tertawa terbahak-bahak dan berlari keluar gerbang sekolah.
Emira bedecak marah, moodnya ambruk begitu saja.
Hening. Emira hanya menatap Raka tanpa minat, bersedekap d**a dan menunggu anak itu berbicara. Namun nihil tidak ada kata yang keluar dari bibir mungil Raka.
Emira mendengus.
"Sekarang lo mau apa?" Tanya Emira ketus.
Raka mendengar itu sedikit cemberut, mengatup mulutnya rapat-rapat yang terlihat imut. Emira berkedip membuat pikiran itu jauh-jauh.
Inget lo udah punya pacar Emira. Batinnya meletup-letup.
"Kan disuruh benerin, aku bisa bantu kok bikin miniatur planet baru."
"Yaudah ikut gue!" Emira menyelonong pergi. Tapi tidak ada pergerakan dari Raka. Anak itu hanya menatap punggung cewek itu tanpa kedip.
Emira menyadari Raka masih memantung di tempat. Lantas dia berdecak tanpa pikir panjang langsung menggeret pergelangan tangan Raka.
Raka tersentak tidak tahu saja kalau tangan Raka tengah sakit makanya dengan cepat dia langsung menghempas jari-jari yang melilit di pergelangan tangannya secara halus dan cepat.
Emira sangat menyadari dan membeku melihat Raka yang menunduk mengelus tangannya yang sedikit memar.
"Maaf kak, tapi jangan geret-geret. Bukan muhrim." Raka mengeles dengan tertawa pelan.
"O-oke. Makanya cepetan." Masih dengan ketus Emira berjalan duluan diikuti Raka.
Raka terdiam menatap mobil merah yang mengilap milik Emira. Bukan! Bukannya dia terpesona sama mobil yang Emira tumpangi. Melainkan merasa aneh dan sedikit janggal.
"Kenapa ke sini?"
Emira mengrenyit lantas menganggukkan kepala, "Lo ke rumah gue benerin miniatur planet gue yang seperti lo bilang barusan."
Raka meneguk ludahnya susah-susah. "Tapi aku bawa sepeda kok."
Dengusan jengah keluar dari hidung Emira, "Tinggal masukin ke bagasi mobil gue kenapa repot sih."
Raka nampak berpikir, terlalu lama sampai Emira kembali harus yang berkomentar.
"Buang-buang waktu! Cepet bawa sepeda lo ke sini!" Desak Emira marah.
Raka menurut saja dengan wajah yang tertekuk.
Selagi menunggu Raka yang mengambil sepedanya. Emira mengutak-atik layar ponselnya. Mengirim pesan ke kekasihnya tentu saja.
"Kak bukain."
Emira mendengus dengan berat hati membuka bagasi mobilnya dan mempersilahkan Raka memasukkan sepedanya ke dalam bagasi.
"Masuk." Suruh Emira ketika sang empu sudah duduk di kursi kemudi.
Raka kembali menurut. Memasang seatbelt sebelum Emira tancap gas. Raka hanya menatap diam keluar jendela. Berpikir kapan dia terakhir naik mobil.
Memang sangat lama, ayah tidak pernah mengajak Raka berpergian. Orang tuannya sama-sama sibuk. Terkecuali jika Fikry datang mengajaknya menemani membeli barang atau mau-mau saja mengantar Raka ke tempat les.
Emira di sampingnya yang melihat wajah muram Raka terdiam sesaat sebelum berucap lirih dan membuat d**a Raka menghangat serta dengan bersamaan jantungnya yang berdetak lebih kencang.
"Btw, maaf buat yang tadi. Kayaknya tangan lo memar entar sekalian gue obati."
TBC