"Bila memang memberikan luka bisa membuat bahagia, aku pasti akan memberanikan diri untuk mendapat luka sayatan. Dan semata-mata hanya untuk membuat kebahagiaan yang nyata dalam arti membuatku menderita."
°°°
Raka menggayuh sepedanya dengan sedikit terburu-buru, tidak peduli dengan peluh yang membajiri wajahnya. Yang Raka kejar hanyalah sampai rumah sebelum ayahnya sampai terlebih dahulu.
Matahari sepenuhnya telah menghilang pertanda malam akan datang dan sudah dipastikan ayahnya akan pulang jam segitu, karena memang ayahnya tidak ada jadwal meeting, lalu bisa pulang ke rumah lebih awal.
Raka sudah berada di depan gerbang yang menjulang tinggi, yang dimana itu adalah rumahnya. Memang benar kenyataannya mobil dengan sepeda lebih cepat mobil yang memang menggunakan mesin canggih.
Raka memasuki rumah dengan keringat dingin yang membanjiri tubuh. Dia menengok di sekelilingnya, tidak ada orang. Dia bernafas lega lalu berjalan hendak pergi ke kamarnya.
Namun sayang, tubuhnya kembali menegang saat di pertengahan anak tangan dia mendengar ayahnya sedang bertepuk tangan.
prok.. prok.. prok..
"Hebat juga, Sekarang udah jadi anak brandal yang selalu nongkrong sama teman brandalannya dan pulang larut." suara itu terlihat sinis.
Hema berjalan turun dari tangga menemui putranya. Matanya menajam ketika melihat putranya hanya menunduk dalam dengan takut.
Dengan wajah yang sudah merah karena menahan marah Hema menarik kasar lengan Raka lalu menggeretnya kedalaman kamar putranya. Tujuan Hema tidak di dalam kamar melainkan di dalam kamar mandi.
Hema membawa Raka memasuki kamar mandi lalu mendorongnya kuat sampai badan ringkih itu menabrak dinding kamar mandi yang dingin.
Raka memegangi kepalanya yang tiba-tiba pening, sampai tubuh itu terjatuh ke lantai yang seperti berada di kutub. Tanpa disadari Hema dengan tanpa berpikir langsung menghidupakan shower.
"Ayah!" Raka memekik kaget waktu tubuhnya terasa dingin karena air shower yang mengguyur tubuhnya kasar.
"Di-dingin.. please jangan!"
Telinga Hema bagai sudah mati. Dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan sang putra. Bahkan Hema menulikan rintihan kecil dari celah bibir mungil itu.
Hema berdecih lantas membawa tubuh putranya menjauhi air shower yang masih setia menyala. Lalu tangan Hema mematikan shower dengan kasar.
Tubuh Raka kembali didorong secara kasar sampai badan ringkih itu merosot ke bawah. Lantas Hema juga ikut berjongkok menatap manik kelabu Raka yang terlihat kelam. Anak itu memeluk kedua lututunya erat.
"Look at me!"
Raka menggeleng kencang, takut melihat mata ayahnya yang layaknya menghunus seperti timah api.
Karena tidak mendapat respon Hema dengan kasar langsung memegang rahang putranya keras.
Raka berjengit ketakutan ketika ngilu mendominasi wajahnya sekarang.
"Ayah gak suka dibantah." Tenang namun sangat dingin.
Raka menelan kasar salivanya. Hema terlihat sangat marah saat ini. Rasanya Raka seperti tersengat listrik ribuan wot.
"Ayah udah pernah bilang. Jangan pernah telat pulang!"
"Ma-maaf.."
"Maaf? Minta maaf emang gampang Raka. Tapi apa kamu tau dengan minta maaf semua yang kamu lakuin itu bakal hilang gitu aja?" Hema berucap sarkas.
"Kamu mau jadi anak gak berguna?"
Perlu digaris bawahi Hema memang keras dalam mendidik anak. Tidak berpikir lanjut jika psikis putranya akan bermasalah.
Raka menggeleng kuat-kuat. Dia sungguh takut di setiap belah bibir sang ayah berucap. Rasanya ada belati yang siap menggoreskan di setiap hati Raka.
"Gak kan?!"
"Ta-tapi..."
"Kenapa?" Sahut Hema sedikit menaikkan nada suaranya.
"Gak terima ayah bilang gitu? Dari dulu kamu kerjaannya emang nyusahin ayah. Gak berguna!"
Raka meremas seragamnya yang lembab. Sakit sekali. Raka hanya bisa menunduk dalam tidak berani melihat tatapan nyala sang ayah.
"hiks..." Satu isakan lolos dari bibir yang bergetar itu.
Pertahanan Raka selalu dia tobang sendiri dengan apik. Tapi tidak mungkin juga semua usahanya akan berakhir mulus. Ada kalanya Raka hancur dan mengingat semua torehan luka itu.
"A-ayah.. Raka janji—"
"Gak usah buat janji kalau diri kamu sendiri aja masih kayak gitu!"
Raka menggeleng kencang sambil meringkuk. Tidak ada tatapan iba dari mimik Hema. Pandanganya sedari tadi menatap putranya tajam.
Tidak peduli dengan tubuh Raka yang sudah menandakan efek tak enak. Punggung Raka rasanya ngilu sekali. Tubuhnya bergetar kedinginan.
Raka ingin menangis meraung karena rasa sakit dan kebas di bagian tubuhnya.
"Sa-sakit.."
"Bun..da.. sakit..."
Guman Raka sangat pelan sekali. Seperti bisikan saja.
Tapi Hema mendengar gumaman itu. Sekelebat bayangan sang istri melayang di pikirannya. Tubuh itu menegang entah kenapa, mulut Hema terkunci, dia tidak bisa berucap. Hema bangkit dengan tergesa meninggalkan kamar Raka dengan langkah cepat.
Raka tertegum. Pikirannya tambah kalut.
"Aa-yah, pasti marah.."
"Bodoh!" Raka memukuli kepalanya berulang-kali. Merutuki apa yang baru saja dia lakukan sampai ayahnya bereaksi seperti itu.
Raka menangis sesenggukan di dalam kamar mandi. Meringku menahan sakit di seluruh tubuhnya. Tapi rasanya tidak setimpa dengan hatinya yang tercabik sakit.
Bayangan sang bunda sama sekali belum pernah Raka lupakan. Bunda itu segalanya bagi Raka. Cuma bunda yang selalu tahu keinginan Raka.
Bunda orang pertama yang bakal senang kalau Raka bisa dapet nilai tinggi. Bunda yang bakal marah besar kalau sampai Raka main hujan-hujanan.
Tapi, Raka memejamkan matanya erat. Menghalau rasa perih yang setiap saat hinggap di relung hatinya.
Bunda, bunda, bunda...
"Mau ketemu bunda—hiks.."
Di rumah sebesar ini tidak ada yang sadar seberapa dalam luka yang Raka pikul sendirian.
Suara-suara di kepalanya rupanya selalu saja membuat pertahanan Raka runtuh. Raka memukul dadanya sesak. Menutup kedua telinganya dengan erat ketika jeritan itu datang.
Raka luruh tidak bisa bergerak. Mau mati rasanya. Tapi pikiran itu sangat terdengar bodoh. Bunda pasti bakal nyesel punya anak seperti Raka kalau sampai itu terjadi.
Raka memeluk tubuh kecilnya yang bergetar akibat kedinginan. Kepalanya berputar.
"Gak boleh di sini." Guman Raka sedih lalu mencebik.
Raka berusaha bangkit berjalan keluar kamar mandi dengan tertatih. Sesampainya di kasur dia langsung meringkuk tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Raka mencengkram perutnya yang terasa perih.
Maag-nya sudah dipastikan kambuh. Apalagi Raka belum sama sekali menyentuh makanan sejak sore siang tadi.
Raka bingung harus gimanan. Tangannya terjulur untuk meraih handphone di dalam tasnya. Dengan gerakan lambat dan pandangan yang semakin mengabur Raka mencari nama yang sangat ingin dia hubungi sekarang.
Ingin meminta bantuan tapi rasanya sangat mustahil.
Dan itu pasti tidak akan terjadi. Jarak mereka sangat jauh, jauh sekali. Bahkan benteng perasaan yang mulai terkikis karena termakan waktu.
"Halo?"
Tubuh Raka langsung bergetar. Menangis tanpa menjawab sapaan di seberang sana.
Tbc.