'Malam tidak semuanya gelap, karena aku menemukan cahaya di sampingku. Bulan yang pernah pegi tanpa kabar'
°°°
Raka memicingkan matanya. Dia melihat seseorang turun dari mobil berwarna merah ngejreng itu. Walaupun sudah malam tapi Raka mampu melihat jelas siapa yang datang menghampirinya sambil melambaikan tangannya ke arah Raka.
Seorang perempuan.
Raka sempat kaget saat perempuan itu mulai menghampirinya dengan seulas senyum yang merekah.
"Hai?"
Raka terdiam cukup lama dia memastikan yang dilihatnya itu beneran orang atau tidak. Raka bangki, "Kamu? Ngapain kamu di sini?" Raka bertanya kepada Inkay yang tiba-tiba bisa berada di sini.
"Tadi aku mau ke rumah kamu, tapi aku kayak liat kamu di sini. Jadi aku ke sini deh." Jelasnya dengan menampilkan senyum manisnya.
"Oh." Raka mengangguk singkat lalu kembali duduk di kursi taman ini. Disusul Inkay yang ikutan duduk di sampingnya yang bukan untuk tempat tas ranselnya tadi.
"Kamu sendiri ngapain malam-malam di sini?" Tanya Inkay yang mulai heran keberadaan Raka di sini.
Raka hanya tersenyum hangat menanggapi pertanyaan Inkay. Dia juga tidak tahu sebenarnya mengapa dia bisa berada di sini. Karena baginya yang terpenting adalah dia bisa jauh dari rumahnya. Buat apa masih tinggal di rumah mewah itu tanpa setatus? Dianggap anak saja tidak.
"Loh, kok malah senyam-senyum?"
"Gak pa-pa kok. Kamu emang mau ngapain ke rumahku?"
Inkay ragu untuk menjawabnya, "Sebenernya... Aku, mau minta maaf sama kamu. Karna aku, kamu pasti di marahi ya sama Om Hema?"
"Aku sendiri juga salah, jadi jangan minta maaf." Raka tersenyum getir.
"Kamu itu tetep sama ya, sama lucunya waktu masih kecil." Inkay merasa gemas, dia langsung mencubit pipi kiri milik Raka yang membuat sang empunya kesakitan.
"Aduh sakit..."
"Hehe, abisnya lucu sih."
Pipi Raka merona, semburan merah melekat di area wajahnya. Sudah seperti tomat. Inkay yang melihat jelas malah semakin menggodanya.
"Cie, cie... Baper nih. Belum pernah digituin ya sama cewek? Makanya cari pacar dong, masa jomblo."
"Emang kamu udah punya?" Raka bertanya meremehkan.
"Ya udah lah." Jawab Inkay bangga sambil mengibaskan rambut gelombangnya.
"Tapi aku gak peduli."
Inkay melotot dan sedetik kemudian dia langsung mendorong lengkap Raka dengan lembut. "Ih... Kamu harus bahagia karna aku punya pacar. Atau kamu cemburu nih? Hayo ngaku?"
"Enggak lah." Jawab Raka spontan.
Keduanya langsung tertawa. Entah apa yang membuat mereka tertawa. Hanya dengan candaan yang tidak bermutu mampu membuat Raka lupa kejadian yang menimpanya tadi pagi.
Mungkin benar. Tuhan itu punya cara lain untuk membuatnya tidak berlama-lamaan dengan kepedihan. Bertemu dengan orang yang disayangi mampuh membuat hal yang tidak nyata menjadi nyata.
Raka juga sangat heran dengan dirinya sendiri. Sewaktu bertemu dengan Inkay diacara ayahnya dia merasa enggan untuk bertemu bahwa menyapa. Tapi sekarang bisa kembali sedekah ini bahkan sudah hampir sepuluh tahun tidak bertemu.
Hal yang sangat aneh.
"Ayo!" Inkay bangkit sambil menggenggam tangan Raka.
Raka mengernyit, "Mau ke mana?"
"Pulang lah, aku anter."
Raka terperanjat, dia meneguk salivnya. Dia bingung harus berbuat apa saat ini. Apa dia berkata jujur saja? Raka hanya bisa menggeleng lemah.
Sekarang gantian Inkay yang mengrenyit. "Loh, kenapa?"
"Kamu gak tau." Ucapan Raka kian melambat.
Inkay semakin dibuat bingung, dia memutuskan kembali duduk dan memandang Raka lekat.
"Cerita!" Raka ragu untuk sebatas memandang Inkay. Dia semakin gelisah samapi tadinya dia merasa dingin sekarang menjadi sangat panas.
"Ayo cerita!" Ulangnya.
Raka mulai membuka mulutnya, "Aku... A-aku pergi dari, rumah."
"Hah?" Inkay kaget sampai dia menjerit.
Raka meringis karena kendang telinganya tergangu dengan pekikan Inkay. "Jangan triak-triak!"
"Ah, hehe. Kok bisa?"
"Gak tau," Raka kembali melamun.
"Ck, ya udah ceritanya nanti aja. Sekarang Kamu ikut aku aja." Inkay kembali menggenggam tangan Raka dan bangkit.
"Ke mana?"
"Ke rumahku lah."
Raka melotot, "Gak mau, orang tua kamu ada di rumah kan. Aku gak mau ngerepotin."
"Gak pa-pa."
Raka menggeleng dengan napas memburu. Dia tidak mau merepotkan.
Inkay nampaknya sedang berpikir terlihat kerutan di keningnya. "Ah, iya. Ke apartemenku aja kalau gitu."
Tanpa menunggu jawaban Raka, Inkay terlebih dulu menggeret tangan Raka sampai Raka terjungkal kalau saja dia tidak menjaga keseimbangannya.
Tapi Raka langsung berhenti membuat Inkay menoleh, "Kenapa? Di apartemen gak ada orang kok."
"Tas aku." Raka langsung mengambilnya. Inkay hanya menyengir lebar. Lalu mereka masuk ke dalam mobil merah milik Inkay.
°°°
"Besok kamu sekolah enggak?"
"Sekolah."
"Yakin mau sekolah?"
Raka menoleh ke Inkay yang sedang menyetir, "Ya yakin, emang kenapa?"
"Kamu aja kan enggak bawa seragam sekolah kok." Inkay masih tetap menghadap ke depan.
Raka melotot, kenapa dia bisa sebego ini meninggalkan pakaian yang wajib dibawanya. Dia menepuk jidatnya berulang kali. Membuat Inkay yang menengok melihatnya merasa gemas.
"Tenang aja besok beli."
"Gak usah."
"Loh, kenapa?"
Raka menggeleng, "Aku cuma numpang di apartemen kamu."
"Gak masalah, Raka."
Sesampainya mereka di apartemen mewah milik Inkay itu. Mereka berdua langsung turun dan masuk. Inkay membeli apartemen ini untuk berjaga-jaga jika dia pulang ke tempat kelahirannya.
Raka dan Inkay menuju ke lantai empat yang di mana tempat Inkay tinggal saat di Indonesia. Inkay membuka kunci pintu serata-rata dengan yang lain lalu masuk lebih dulu.
Raka sempat ragu untuk masuk ke dalam apartemen ini. Apalagi di sini hanya ada mereka berdua. Raka masih terlalu polos untuk melakukannya ini berdua dengan sahabatnya.
"Kenapa masih di situ?" Inkay berbalik melihat Raka yang masih seperti patung pancoran di situ.
"Ayo masuk!" Ajak Inkay lagi.
Raka meringis kala bau-bau tidak sedap merasuki badannya. Raka mengangguk lalu masuk dengan langkah lambat dan pelan. Inkay yang mengetahui perubahan Raka langsung sadar.
"Gak papa. Kamu tuh masih kecil, aku mana doyan sama kamu." Goda Inkay sambil menahan tawanya.
"A-apaan sih?" Raka menjadi keki sendiri. Dia mencoba tenang.
Raka melihat ruangan luas ini. Baginya ini sangatlah mewah sudah seperti isi rumahnya. Apapun terdapat di sini. Raka jadi heran, apartemen bagus seperti ini baru ditempati Inkay beberapa kali saja.
"Kamar kamu ada di sana ya." Inkay menunjuk kamar yang bersebelahan dengan rumah tamu. Raka hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Aku mau ke dapur dulu. Kamu belum makan kan?"
Raka hanya menyengir lalu menggeleng kembali.
"Ya udah aku bikin mie instan dulu."
°°°