'Salah atau tidak, rupanya aku tetap salah di matamu. Mungkin tidak akan pernah benar bila kau memandangnya!'
°°°
Ruang keluarga yang tadinya sepi mendadak ramai oleh suara bariton yang terdengar dingin. Sejak pemiliknya datang, dengan suasana mencekram laki-laki paruh baya itu mencekal erat lengan pemuda yang nampaknya pasrah dengan semua itu.
Hema menatap Raka dingin. Yang ditatap hanya menunduk enggan untuk menatap balik karena rasa takutnya.
"Yah, udah lah—"
"Diam kamu Fikry, jangan ikut campur! Masuk ke kamar!" perkataan Fikry terpotong oleh bentakan Rida.
Fikry berdecak, lagi-lagi dia belum bisa menjadi kakak yang baik untuk melindungi sang adik. Fikry tahu kelanjutannya akan seperti apa, tapi dia dengan rasa terpaksa meninggalkan tempat ini karena tatapan tajam Rida.
Raka hanya bisa menunduk setelah mendengar perkataan mama tirinya itu. Keberaniannya semakin ciut. Rasa bersalah semakin melekat pada benaknya.
"Do you know, kamu udah bikin acara ayah hancur Raka? Kamu ngapain aja ha?" Suara itu terdengar pelan namun sangat dingin.
"A-ayah..."
"JAWAB!"
Raka terlonjak kaget, bahkan sangat kaget. Dengan perlahan namun sangat cepat mata itu mengeluarkan sebutir air bening diikuti suara isakan pelan dari bibir mungilnya.
Baru kali ini dia mendengar bentakan sekeras itu dari ayahnya. Mungkin dia pernah dibentak tapi tidak sampai membuat hatinya begitu sakit.
Raka masih diam, belum bisa menjawab. Tapi dia berusaha ingin menjawab, sialnya, bibirnya terkunci dengan sangat rapat tidak bisa berucap sepatah katapun.
Hema semakin marah tidak melihat perubahan Raka yang hanya menangis dalam diam. Dia memegang dagu Raka dengan erat lalu mengangkatnya. Mata mereka bertemu, Raka sangat ingin beralih pandangan namun mana bisa dia.
"Sekali lagi kamu ngulangin kayak gitu lagi. Ayah bakal usir kamu dari rumah ini!" Kata Hema pedas.
Dagu Raka dibuang kasar oleh Hema yang sejak tadi dipegangnya. Raka hanya bisa menangis. Dia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana kepada ayahnya. Apa salahnya sampai diperlakukan seperti ini?
Hema meninggalkan tempat ini lalu disusul Rida di belakangnya. Rida sempat melirik Raka. Tapi hati nurani seorang ibu masih tertutup pada diri Rida.
Sakit.
Raka benar-benar tidak tahu letak kesalahannya. Apakah memang dia yang terlalu polos dan tidak mengerti situasi atau ayahnya yang terlalu berlebihan memarahinya seperti ini?
"Ma-affin Raka." Percuma, Raka mengatakan itu. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya.
Raka ingat betul kejadian pagi tadi. Dia juga memang salah tapi bukankah itu bias seseorang bisa telat? Sampai di ruang acara mewah itu. Raka mendengar bahwa sebagian saham ayahnya akan diberikan pada anak-anaknya.
Raka senang karena ayahnya masih sayang padanya dengan bukti memberikan saham padanya. Tapi pagi tadi Hema mengumumkannya bahwa yang menerima saham adalah Fikry dengan pemegang saham kedua dan pemegang pertamanya adalah kakaknya Renald.
Raka masih sabar, ternyata dugaannya begitu salah. Tapi yang sangat membuatnya sakit hati adalah ketika Hema ditanya para wartawan yang meliput. Herman mengatakan hanya memiliki dua orang anak dan yang disebutnya tadi.
Raka tertunduk lesu. Sekarang apa yang harus dia lakukan. Dia meremas jas hitamnya dengan erat sambil menahan isakan yang akan keluar.
Tiba-tiba punda Raka memberat seperti ada sesuatu yang membebaninya. Ternyata Fikry datang dan memeluknya dari belakang.
"Dek?" Raka tidak berbalik, dia malu dengan air yang masih menempel di wajahnya.
"Lo boleh nangis, jangan dipendem. Gue sekarang kakak lo."
Fikry memutar badan Raka tapi sang empunya malah memilih menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepala.
"Maafin gue dek." Kata Fikry lembut.
Raka mendongak melihat Fikry, dia langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak, kakak gak salah." Senyum itu kembali terpancar dengan wajah yang berkolaborasi dengan kepucatan.
"Gue, akan selalu ngelindungi lo. Gue sayang sama lo."
Air mata Fikry pun mulai menetes. Seolah dia juga bisa merasakan kepedihan yang dirasakan sang adik. Tapi dia dengan cepat langsung menghapusnya. Bukankah dia harus kuat dan tidak lemah untuk melindungi Raka.
"Raka juga sayang sama Kak Fikry." Hati Raka mungkin terbuat dari air yang sangat jernih. Dia tetap sayang dengan Fikry walaupun dialah yang telah membuatnya iri.
Fikry menarik punggung Raka dalam dekapannya. Raka membalas pelukan itu dan tidak kalah eratnya dengan Fikry.
Isakan itu semakin kencang di bibir mungil Raka. Dia menangis sesenggukan sampai pundaknya tergoncang.
"Gue akan biarin lo nangis. Keluarin terus dek. Keluarin rasa sakit lo!" Isakan itu bertambah sangat kencang. Sampai bahu Fikry merasa basah.
Asisten rumah tangga yang melihat anak majikannya itu ikut merasakan sakit yang dialami Raka. Tapi bisa apa, dia hanyalah orang yang menumpang hidup di dalam rumah ini dan tidak memiliki hak apapun untuk ikut campur.
Fikry nengelus lembut rambut Raka. Dia berulang kali memberikan penyemangat untuk adiknya itu.
"Ayah mungkin sekarang kayak gitu, tapi tenang dek ayah bakal baik lagi sama lo. Kakak janji bakal jadi orang yang selalu ada saat lo merasa sakit."
Mungkin itu yang bisa didengar oleh Raka sebelum telinganya berdengung nyaring dan matanya mulai memberat.
°°°
Raka sudah memutuskan, bahkan keputusannya saat ini bisa dibilang sangat gila. Tapi mau bagaimana lagi Raka sudah berusaha kerasa untuk mengobati setiap luka yang digores ayahnya. Raka bukanlah orang yang mudah menutup luka dengan gampangnya.
Dengan bantuan pena dan kertas dia mengukir secarik kata untuk ayahnya. Tidak peduli akan dibaca atau tidak. Apa salahnya kita mencoba, toh dalam tidak kesengajaan kertas ini bisa dibacanya.
Raka mengutarakan segala gundah, rasa sakit, dan bahkan rasa iri. Lalu dia meletakkannya di atas nakas dan di atasnya terdapat kotak merah untuk menjaga kertas itu supaya tidak terban terbawa angin.
Sampai akhirnya tempat inilah tempat yang Raka rasa bagus untuk merenung. Sepi. Hanya bercahaya lampu taman yang mulai redup. Dia memegangi benda pipinya.
Ini sudah malam. Dia tidak tahu harus ke mana. Mungkin kah dia ke rumah Devan. Tidak, keluarganya pasti terganggu akan kedatangannya.
Raka tahu kesehatannya saat ini mulai menurun. Saat sadar dari pingsan tadi dia tidak melihat siapapun yang berada di sampingnya bahkan Fikry. Pasti kakaknya itu ada jadwal kuliah malam hari.
Apakah takdir akan selalu seperti ini dalam hidupnya. Miris, kebahagiaan belum pernah terasa dalam hidupnya.
Raka hanya melamun dan sesekali membenarkan letak jaket yang dikenalnya karena dinginnya malam yang mulai menyeruak pada kulit putihnya.
Tas ranselnya yang berada di sampingnya saat inilah temannya dalam malam penuh cerita pilu seorang Raka.
Sampai sinar siluet kendaraan itu membuatnya kaget dan memicingkan mata karena cahaya.
Siapa dia?
°°°