'Melindungi'
°°°
Raut bahagia tidak pernah pudar dari wajah tampan Raka. Sudut bibir yang manis itu selalu tertarik ke atas, membentuk senyuman indah.
Mata indah milik Raka terus saja menyapu rintikan air hujan yang menempel di luar kaca mobil. Sesekali dia memainkan jemarinya seolah jemari lentiknya bisa menyentuh rintikan air hujan itu.
"Seneng banget nih?" tanya Fikry sambil tersenyum.
Raka menoleh ke kiri melihat Fikry yang duduk di sampingnya, "Eh, iya kak." Raka mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Hema menghentikan mobil sportnya di depan kantor miliknya. Lalu mereka yang berada di dalam mobil langsung turun mengikuti Hema yang berjalan memasuki kantor megah itu duluan.
Raka sedikit cemas karena di sini terdapat banyak orang petinggi seperti ayahnya dan tak ayal mereka semua juga membawa putra putrinya yang pastinya masih seumuran dengannya ataupun lebih tua darinya. Apalagi ini adalah kali keduanya dari sekian lamanya dia tidak pernah ke sini.
Raka menggigit bibir bawahnya dengan kuat sambil menunduk dia berharap bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak perlu untuk dikhawatirkan.
"Ayo dek, ayah sama mama udah nunggu." ajak Fikry dan mereka berjalan beriringan.
Di sana sangatlah ramai, tempat yang didisain dengan sangat rapi dan sangatlah apik. Membuatnya terheran-heran dengan semua ini. Setelah puas mengamati suasana lalu dia sibuk mencari ayahnya yang entah kemana.
Lalu mata Raka menemukan sosok Hema yang sedang berbincang-bincang dengan rekan kerjanya. Tidak, dia tidak akan ke situ karena mungkin itu hal yang penting bagi orang dewasa bukan untuknya.
Raka bingung sendiri harus berbuat apa saat ini, ini sungguh membosankan. Dia juga berpikir kenapa tidak malam saja acara ini digelar, jadi dia tidak perlu meninggalkan pelajaran di sekolahannya.
Raka ingin duduk tapi semua orang yang berada di sini sedang berdiri dan meminum sambil memakan hidangan yang ada. Dan itu menurutnya tidak patut untuk dicontoh.
Fikry pun juga sedang berhadapan dengan lawan jenisnya, tidak mau mengganggu. Dia memilih duduk saja lalu berjalan ke kursi yang sudah disediakan. Tapi saat ingin mendaratkan bokongnya seseorang lebih dulu menepuk pundaknya.
"Sini ikut mama!"
Raka tertegun, entah kenapa jantungnya terpacu sangat kencang. Tapi dia mencoba untuk tenang setelah melihat senyuman dari bibir Rida yang sangat begitu tipis.
Raka mengangguk, "Kemana ma?"
"Nanti kamu juga tahu."
Raka berjalan berjejeran dengan tangan yang digandeng Rida. Sampai Rida membawanya pada seseorang.
"Hai?"
"Eh, tante." perempuan itu menyalami Rida dengan senyum manis.
Raka mengrenyit, melihat penampilan perempuan itu yang begitu terlihat sangat sexy sekali. Dengan polesan wajah yang sangat tepat.
"Raka?" perempuan itu melihat Raka yang sedari tadi diam.
Raka hanya tersenyum tapi sedetik kemudian senyuman itu kembali sirna. Iya, Raka baru sadar siapa perempuan yang berada di depanya ini.
"Ma, Raka sama Kak Fikry aja."
Saat ingin pergi dari situ tangannya dicetak oleh perempuan tadi, "Kenapa?"
Raka menggeleng, entah kenapa suasana hatinya tiba-tiba memburuk. Dia berharap hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan, tapi apa? Hal yang tidak terduga menimpa padanya.
"Raka, jangan berulah! Daripada kamu gak punya teman di sini, kamu mending sama Inkay!"
Raka menunduk, "I... iya ma." sampai senyuman di bibir Inkay terukir.
Rida berlalu meninggalkan mereka berdua yang terkunci kecanggungan. Dia memilih menemui istri dari teman-teman suaminya.
"Kita udah lama gak ketemu, apa kabar?" ucap Inkay tiba-tiba.
"Baik." jawab Raka apa adanya.
"Aku tau. Aku sahabat yang gak baik buat kamu. Tapi aku janji bakal jadi orang yang selalu ada buat kamu. Melindungi maybe.."
Rasanya Raka saat ini ingin tertawa terbahak-bahak. Apa yang Inkay barusan katakan? 'Melindungi? Raka bukanlah bocah yang masih takut dengan kegelapan.
"Gak usah dibahas."
Inkay tersenyum kecut, dia memandangi Raka dengan lekat. Raka masih sama dengan yang dulu. Dia akan menjadi pemuda yang tampan dengan segudang senyum yang tak pernah pudar.
"Raka?" panggil Inkay.
"Iya."
"Kamu masih marah sama aku?"
"Mungkin," jawab Raka tidak pasti.
"Ya udah. Gimana kalau kita ke tempat yang bias kita datangi?"
Raka mengrenyit, "Kemana?"
"Ke taman!" jawab Inkay lantang.
"Ayo!"
Mereka berdua berjalan menuju taman belakang kantor milik Hema. Seperti tidak peduli dengan acara yang sedang berlangsung mereka memilih menyendiri untuk sekedar berbincang.
Setelah sampai di taman dekat kantor. Raka dan Inkay duduk bersebelahan di kursi kayu yang mulai lapuk. Mata mereka tertuju ke pepohonan rindang yang basah karena air hujan. Di sini memanglah sepi karena taman ini masih milik area kantor Hema.
"Kamu kangen gak sama Kak Renald?" Inkay membuka obralan.
"Kangen, banget."
"Waktu aku masih di Inggris aku sempet ketemu sama dia. Katanya dia juga kangen sama kamu. Dia juga nitip salam buat adek manjanya katanya."
Raka langsung memutar tubuhnya menghadap Inkay. Dengan mata yang berbinar dia tidak bisa menutupi raut bahagianya.
"Beneran?"
"Iya." jawab Inkay dengan senyuman manis.
"Terus kakak bilang gak mau balik ke Indonesia?" Inkay menggelengkan kepalanya dengan ragu, dia tidak ingin membuat Raka kecewa.
Raka menghela napas berat. Dia kembali menghadapn ke semula namun dengan kepala yang tertunduk.
"Aku yakin dia bakal balik ke Indo. Secepatnya."
"Mungkin."
Bagi Raka kakaknya itu adalah segalanya setelah kedua orang tuanya. Raka tahu betul kakaknya itu sungguh sibuk. Tapi rasa rindu telah melekat pada benaknya dia ingin sekali bertemu dengan Renald.
Satu tetes, dua tetes air bening itu melosot dari kelompok matanya. Dia tidak ingin dibilang cengeng. Dengan cepat tangannya langsung mengusap pipinya yang sudah basah karena air matanya.
"Kamu kalau mau nangis, nangis aja. Gak usah malu. Karena kamu itu tetap teman kecilku yang cengeng."
Tubuh Inkay perlahan mendekat pada tubuh Raka yang bergetar. Dia ragu untuk mengusap surai rambut Raka. Tidak peduli, dia langsung merengkuh tubuh rapuh Raka yang semakin terisak.
Inkay selalu ragu untuk membahas tentang keluarga Raka, karena yang akan berakhir pemuda itu menangis.
Raka perlahan mendapatkan kehangatan, rengkuhan itu sungguh mencairkan hati Raka yang masih membeku akan kerinduan seseorang. Perlahan namun pasti Raka memegang dengan erat tangan Inkay.
Sayang langkah kaki yang terlalu keras itu mengganggu momen mereka. Fikry berlari dengan napas ngos-ngosan. Lalu dia berhenti di hadapan dua sejoli itu yang sudah mati kutu karena ketahuan.
"Ternyata kalian di sini."
"Ka-kak—"
"Raka kamu tahu acara udah mau dimulai, dan ayah nungguin kamu. Tapi kamu malah enak-enakan di sini."
Mata Raka terbuka sempurna. Apa yang telah dia lakukan? Hal yang menurutnya spesial telah Raka rusak dengan sendiri.
°°°