Karena gelap bukan hanya untuk dilihat. Tapi untuk dirasakan seberapa peliknya hidup kita.
°°°
"Lo apa-apaan sih, bawa gue ke sini segala?" Emira menghepas tangan laki-laki yang membawanya ke dalam ruangan kumuh dan gelap ini.
"Lo! masih bilang kenapa, dan sekarang lo udah bisa manggil lo—gue. Di saat kita udah janji akan manggil dengan sebutan kamu—aku."
"Karna gue udah gak tahan sama sifat lo, yang sok pahlawan!"
Lelaki itu tersenyum sinis. Sedetik kemudian dia mendekat, lalu memegang tangan Emira dengan kasar. Emira mencoba menepisnya, namun apa daya kekuatan seorang perempuan dibandingkan dengan laki-laki.
"Lo mau apa sih Ro?" tanya Emira dengan gemetar.
Emira terus memundur sampai badannya menabrak dinding kotor ini. Sekuat tenaga Emira mencoba menahan badan Aro yang mulai sesenti lagi sudah berada di harapannya pas.
Deru napas Aro semakin menyipak rambut Emira yang tergerai berantakan. Emira tidak ambil diam dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Aro yang mulai mendekat dari hadapannya.
Plak...
Emira menampar Aro dengan kencan, sesekali dia menetralkan deru napasnya yang tidak beraturan. Aro yang ditampar hanya memegang pipinya sekilas. Lantas tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia keluar dari gudang ini.
"KITA PUTUS!" teriak Emira dengan lantang.
Dia tidak peduli Aro akan mendengarnya atau tidak. Yang dia inginkan adalah mulai sekarang dia tidak memiliki hubungan apapum dengan lelaki b******k tersebut. Bahkan hanya sebatas teman pun tidak.
Emira menangis sejadi-jadi. Dia merasa kecewa atas perilaku 'mantan pacarnya tadi. Kenapa dia sebodoh ini bisa menerima cinta lelaki b******k itu yang ujung-ujungnya menyakitinya.
Badan Emira luruh ke lantai yang kotor. Dia membekap mulutnya guna membendung suara tangisan yang sulit dia tahan. Tapi mau bagaimana lagi dia harus tetap kuat, dengan cepat dia langsung menghapus sisa-sisa air matanya. Karena menangis hanya sekilas untuk mengeluarkan rasa jengkel dan emosional.
°°°
Mungkin kegelapan akan membawa kita ke jalan kesesatan. Melihat tanpa ada celah cahayapun akan membelokkan arah kita yang tadinya lurus menjadi berbelok karena saking gelapnya.
Tapi tidak dengan netral seorang lelaki ini. Gelap adalah bagian dari hidupnya. Walaupun pagi akan menjadi topeng keceriaannya. Karena gelap dia akan menjadi kuat.
Raka bersender pada dinding dinginnya malam. Ditemani kegelapan yang menjadi melankolis yang sebenarnya. Hanya cahaya bulan yang mulai meredup karena tertutup kabut awan hitam.
Raka selalu membayangkan di saat dia seperti ini kakaknya akan datang memeluknya erat. Tapi itu hanyalah realita, faktanya tidak akan mungkin memang.
Saat asik melamun tiba-tiba pintunya diketuk oleh seseorang. Sedetik kemudian orang itu membukanya. Raka mengrenyit pasalnya kamarnya ini gelap tidak tahu siapa yang datang.
Lampu itu tiba-tiba menyala dan juga bertepatan dengan wajah seseorang yang Raka liat. Seketika jantungnya berhenti berdetak.
"Aa-yah?"
Dengan tampang datar Hema menghampiri Raka yang masih duduk di lantai. Raka benar-benar gelagaban, tidak tahu nasibnya nanti bagaimana.
"Bangun!" suara Hema bagai petir yang menyambar pendengaran Raka.
Raka bangkit, namun dia tidak bergeming apapun. Hanya berdiri di hadapan Hema sambil menundukkan kepada.
"Ayo makan malam!" ajak Hema.
Kepala Raka terangkat. Saat ini telinganya tidak bermasalah kan? Yang didengarnya barusan itu sebuah kebenaran kan?
Hema meninggalkan kamar Raka. Di situ Raka masih tidak bisa percaya. Walaupun seperti itu adalah hal yang paling biasa bagi semua orang, tapi tidak dengannya. Apa ayahnya ini sudah berubah?
Raka tersenyum lebar. Tidak ambil pusing dan tidak mau meninggalkan kesempatan ini dia langsung pergi ke ruang makan dengan wajah berbinar.
Saat ada di meja makan di sana sudah terdapat sepasang suami istri, tapi pertanyaan adalah dimana Fikry sekarang?
Raka duduk di kursi tempat biasanya. Dia masih merasa canggung dengan keadaan saat ini.
"Ya udah langsung makan aja!" kata Hema.
Baru saja Raka akan mengambil piring, Rida sudah terlebih dahulu mengambilkan padanya. Raka hanya memperhatikan sambil tersenyum tipis. Lauk dan nasi pun yang mengambilkan Rida.
Mereka bertiga kini memakan makan malam dengan lahap, walaupun tidak ada yang bersuara hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Raka ingin sekali bertanya tentang keberadaan Fikry saat ini, sayangnya dia benar-benar tidak bisa mengatakannya.
Sampai suara bariton itu memecahkan, "Raka?" Raka merasa terpanggil. "Iya yah?"
"Besok kamu gak usah sekolah dulu!"
"Hmm, kenapa yah?" tanya Raka ingin tahu.
"Besok ada acara di kantor ayah, dan semuanya harus datang!" jawab Hema.
"Oke, yah."
Raka senang dari sekian lama akhirnya dia bisa kembali menikmati kantor ayahnya lagi. Waktu itu dia masih berumur lima tahun pergi ke sana di temani oleh sang bunda. Tapi tidak masalah dia akan ke sana besok.
Karena keinginan tahu yang begitu tinggi Raka memberanikan diri untuk bertanya, "Yah, kak Fikry kok gak ada?"
"Dia lagi di kampus. Ada acara di sana." bukan Hema yang menjawab melainkan Rida yang menjawab.
Cukup lama mereka menghabiskan makanannya. Dan akhirnya selesai juga. Raka membantu Rida membersihkan piring-piring bekas yang dipakai mereka tadi.
Setelah itu Raka naik ke atas untuk menuju ke kamarnya. Di pertengahan tangga dia sekilas melihat Hema yang masuk di kamarnya. Untuk apa ayahnya ke kamarnya lagi?
Dengan langkah cepat dia langsung ke kamarnya. Di sana Hema yang tengah berdiri menghadap sebuah bingkai foto kecil yang di gambar itu terdapat Raka, Hema, sang bunda, dan Renald.
"Ayah kenapa?" tanya Raka pelan.
Hema seketika kaget mendengar suara seseorang tiba-tiba. Lantas dia berbalik ke belakang. "Gak papa." katanya.
"Ini, besok kamu pakai ini!" Hema memberikan pakaian yang seperti orang kantoran memakainya, sebuah jas berwarna hitam dan kemeja putih.
"Makasih yah?"
Hema hanya mengangguk sekilas lantas dia pergi dari kamarnya. Raka masih tidak berkutip sedikit pun dia hanya tersenyum sambil memandangi pakai yang diberikan ayahnya tadi.
Karena Raka tahu sebuah kegelapan pasti akan ada celah sedikit cahaya. Walaupun celah itu hanya selebar jalan semut.
°°°