"Itu kamar Lo," ucap pria itu. Dan Vei dengan sangat antusias mengangguk.
"Makasih ya," Vei langsung berlari menghampiri kamar barunya, ralat kamar orang maksudnya.
Sedangkan pria itu pergi ke kamarnya sendiri. Setelah tiba di kamar, ia langsung mengangkat panggilan seseorang dari ponselnya yang sudah berdering sedari tadi.
"Leo! Kamu sengaja nggak datang kan?!"
Pria tampan bernama lengkap Leonard Fa Loren itu segera menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Awas ya kamu!! LEO JAWAB AYAH!!" ucap pria di seberang.
Leo menghela napas sepelan mungkin, lalu ia kembali mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Kan aku udah bilang Pa, tadi itu ada temen yang lahiran," alibi Leo mencari alasan.
"NGOMONG APA KAMU! Tadi katanya mobil temen kamu rusak! JANGAN CARI ALASAN!!"
Leo memukul pelan kepalanya sendiri, ia lupa dengan alasan yang tadi ia buat. Syukurlah, kehidupannya tidak akan aman setelah ini.
"Udah ya Pa, Leo capek. Besok mau kerja, bye!" Leo segera mematikan secara sepihak panggilan itu. Ia
Leo segera menggunakan mode hening pada ponselnya. Ia yakin kalau ayahnya itu pasti akan menerornya semalaman. Leo menaruh ponselnya di dalam laci, lalu pergi ke almari untuk mengganti pakaiannya.
Tiba-tiba saja pintu kamarnya, dan bersamaan dengan itu Leo baru saja melepaskan atasannya, yang membuat dirinya shirtless.
Vei merasakan nyawanya sudah ada di ujung, ia segera membalikkan badannya. Pipinya memanas, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Bayangan tentang tubuh indah pria itu terus berputaran di otaknya. Vei segera menetralkan ekspresinya, ia menggelengkan kepalanya cepat, ia harus menghilangkan pikiran kotor itu. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah....nyawanya.
"Ekhm," Leo berdeham singkat setelah memakai bajunya. Ia melangkah mendekati Vei yang berdiri membelakanginya.
Leo tersenyum tipis, sepertinya ia dapat bermain-main sebentar dengan gadis cilik di depannya ini, ia ingin menggoda gadis itu. Leo mengangkat tangannya, lalu ia taruh di atas bahu Vei.
"Lo ngapain ke si..."
"Tadi saya nggak lihat apa-apa kok. Saya kan tadi nggak sengaja, saya mohon jangan usir saya ya?" Perlahan dengan berjinjit Vei membalikkan tubuhnya, dan saat itu juga ia langsung membelalakan matanya kaget saat sebuah benda kenyal menyentuh keningnya.
Leo juga sama terkejutnya dengan Vei, tapi ia hanya diam dengan raut wajah datar andalannya. Vei menapakkan kakinya sempurna di lantai, yang membuatnya sekarang berhadapan dengan d**a bidang Leo.
Lagi, secepat mungkin Vei kembali membalikkan badannya membelakangi Leo, jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Ia menyentuh pelan keningnya yang baru saja....Arghh
"Kening gue udah nggak suci dong?" ucap Vei lirih. Tapi selirih apapun ucapan Vei, tentu saja Leo dapat mendengarkannya dengan jelas, apalagi suasananya sangat sepi dan hanya ada mereka berdua saja yang berada di dalam kamar itu.
Leo tersenyum tipis. Seketika itu juga Leo jadi memikirkan usia gadis itu. Sikap polos dan naturalnya benar-benar sama seperti anak kecil,
"Lo mau ngapain ke sini?" tanya Leo lagi.
"Ah iya, tadi kamar yang Bapak suruh saya tem...tempatin nggak bisa dibuka," ucap Vei gugup,
"Nggak bisa?" tanya Leo sambil mengernyitkan dahinya.
.
.
.
"Gue lupa naruh kuncinya," ucap Leo pada Vei yang berdiri di sampingnya. Leo menoleh, dan Vei langsung memandang ke arah lain.
'Definisi cewek polos lagi nervous'
Leo terkekeh kecil memikirkan itu, tapi memang gadis ini memang terlihat sedikit polos dari cewek biasanya. Biasanya? Bukannya ini kali pertama mereka bertemu? Bagaimana ia dapat menentukan sifat mereka dengan sekali pertemuan? Sungguh, sepertinya gara-gara ciuman tadi ia sudah jadi sedikit gila.
"Terus gimana Pak? Saya tidur di mana?" tanya Vei sambil menatap polos pada Leo.
Leo tidak mengerti arti tatapan itu, tapi ia merasa kalau ucapan gadis itu sedikit ambigu di telinganya.
Leo menggelengkan kepalanya cepat, ia tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh sekarang.
"Emm...kayaknya masih ada satu kamar lagi," ucap Leo sambil berjalan ke bagian dalam rumah, dengan diikuti Vei dibelakangnya.
Vei menatap takjub ke sekelilingnya, ini kali pertamanya melihat rumah seorang laki-laki bisa se-rapi ini. Ralat.... maksudnya melihat rumah seorang pria pertama kali di kehidupannya.
Katakanlah Vei berbohong, tapi itu bukan kebohongan, ia bahkan tidak pernah pergi ke rumah temannya, jalankan laki-laki, perempuan pun ia tidak pernah. Bukannya tidak pernah berkunjung, tapi ia memang tidak pernah memiliki teman dekat sebelumnya. Daripada teman, sepertinya ia lebih banyak memiliki musuh di kehidupannya ini.
Leo membuka sebuah kamar yang berhadapan dengan kamarnya. Ia masuk ke dalam, diikuti dengan Vei yang melangkah masuk.
"Ini kamar adek gue, Lo bisa pakai sementara. Nanti gue cari dulu kunci kamar tamunya," ucap Leo.
"Tapi Pak..."
"Bisa nggak sih jangan panggil Pak, saya nggak setua itu," ucap Leo geram, sambil menatap tajam Vei.
"Terus harus panggil apa?" tanya Via dengan suara khasnya.
"Leo," ucap Leo dingin. Lalu berlalu keluar dari kamar itu.
Vei tersenyum senang, ia segera menutup pintu kamar itu setelah Leo keluar. Vei mendudukkan dirinya di atas tempat tidur yang tersedia di kamar itu.
"Kurang apalagi tuh orang, udah ganteng, tinggi, mancung..." Lalu seketika Vei jadi teringat kejadian beberapa menit yang lalu, tepatnya saat ia melihat tubuh shirtless pria itu, pipinya langsung bersemu merah. Vei mengambil bantal, dan menutup wajahnya dengan bantal sambil berteriak.
Vei menjauhkan wajahnya dari bantal,
"Apalagi auranya, kayak ada... aura-aura cool boy ama bad boy- nya deh...Aaaa, idaman banget...hiks," Sepertinya Vei sudah benar-benar gila sekarang, ia bahkan menangis hanya karena mengagumi indahnya ciptaan Tuhan itu.
"Pasti dia posesif banget sama pacarnya," ucap Vei dengan raut kagumnya.
'Bugh!'
Vei memukul bantal di atas pahanya, "Yes! Gue suka pada pandangan pertama!"
.
.
.
Setelah begadang hampir semalaman akhirnya Leo bisa tidur dengan nyenyak selama 4 jam, sampai ia mulai terusik karena ponselnya terus-menerus berbunyi membuat Leo mau tidak mau harus bangun dari tidurnya.
Leo mengambil ponselnya di atas nakas. Hampir saja ia mengangkat panggilan tersebut, lalu tangannya langsung berhenti saat melihat nama kontak yang ada di layar ponselnya 'Papa'. Leo memilih men-silence ponselnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa menit, Leo keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, ia tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi. Jujur saja, ia trauma dengan kejadian itu.
Setelah bersiap, ia mengambil ponselnya. Beberapa notif pesan terlihat di layar ponselnya.
Papa: Send a picture
Ia langsung memencet pesan dari ayahnya. Ia hanya ingin tahu pesan yang dikirimkan oleh ayahnya saja, karena jarang sekali ayahnya itu mau repot-repot mengetik, apalagi mengirimkan pesan padanya.
Papa:
Yakin masih mau nolak?


"Gila apa, masa gue dijodohin sama bocah sih," ucap Leo terkejut setelah melihat foto yang dikirimkan ayahnya.
"Tapi....kok gue kayak pernah lihat ya?" ucap Leo. Ia mengamati dengan saksama foto-foto itu.
Leo langsung membelalakan matanya setelah mengingat sesuatu.
"Dia...cewek polos itu kan?"
Pikiran Leo mendadak kosong, ia tidak dapat memikirkan apapun lagi. Leo meneguhkan dirinya, ia ingin mencoba sekali lagi, ia ingin memastikan kesamaan kedua wanita ini.
Mereka bukan orang yang sama kan? Mereka hanya mirip saja kan?
Leo menghela napas pelan, ia harus memastikannya terlebih dahulu.
Leo mengambil jas hitamnya, lalu memakainya. Setelah siap, Leo keluar dari kamarnya.
'Cklek!' "Pagi!" Suara knop pintu yang di tarik Leo, bersamaan dengan suara Vei yang juga sudah berdiri di depan kamar Leo.
Leo reflek memegang dadanya, ia benar-benar terkejut dengan kehadiran tiba-tiba gadis itu. Tapi dengan cepat Leo langsung menetralkan ekspresinya menjadi datar seperti semula.
Vei pun merasa bersalah ketika melihat keterkejutan Leo karenanya, mendadak suasana menjadi sangat dingin. Ia bahkan tidak berani menatap Leo yang kini sedang menatapnya tajam.
Vei segera membungkukkan tubuhnya beberapa kali, "Maaf, Maaf, Maaf. Sama minta maaf, saya tidak sengaja,"
Melihat tingkah Vei membuat Leo teringat dengan foto yang tadi dikirimkan ayahnya. Ia menghela napas pelan, lalu berjalan melewati Vei.
Vei pun tidak tinggal diam, ia mengejar Leo dan langsung memegang lengan pria itu.
"Maaf, saya beneran minta maaf. Saya mohon jangan usir saya Pak," ucap Vei sambil membungkuk tubuhnya beberapa kali.
Leo tidak bisa berkata-kata lagi. Pikirannya benar-benar tidak bisa diajak berkompromi. Setelah memikirkan alasan yang tepat, barulah Leo mengucapkan sebuah alasan dengan tenang,
"Saya telat ke kantor," Ya, itulah alasan yang Leo berikan. Lalu pria itu kembali melangkah meninggalkan Vei.
Sungguh, Vei sangat merasa bersalah sekarang. Ia benar-benar tidak bermaksud membuat pria itu marah. Tadi, ia hanya terlalu semangat, sampai ia melupakan batasannya sendiri. Vei memukul kepalanya kesal,
"Bodoh banget Lo! Kalau Lo diusir gimana? Bodoh! Bodoh!"
Dengan lesu Vei pergi ke dapur, ia mengambil sapu dan alat pel, lalu mulai mengerjakan pekerjaannya di rumah besar ini.
.
.
.
Rafael yang merupakan asisten Leo itu hanya bisa diam sambil menatap teman sekaligus atasannya yang terlihat sedang gelisah itu.
Tadi Leo bilang kalau ia tidak ingin diganggu, dan juga tidak membiarkan Rafael pergi dari ruangan ini, jadi yang bisa Rafael lakukan sekarang hanyalah mengamati kegiatan absurd Leo sekarang.
"El!" panggil Leo.
"Hm?"
"Gak jadi,"
Entah sudah keberapa kalinya Leo melakukan hal ini, pria itu hanya melangkah ke sana ke mari sambil melihat ponselnya, lalu pria itu akan memanggil Rafael dan tidak akan mengatakan apa-apa lagi.
"El!"
"Iya Tuan Leo?" tanya Rafael geram.
"Lo kasih saran dong!" ucap Leo frustasi. Ia membanting ponselnya di meja, lalu mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya itu.
"Lo nggak bilang apa-apa ke gue Leonard Fa Loren! Gue harus kasih saran apa?!" ucap Rafael tajam.
"Ya apa kek. Pusing gue!"
"Lo cerita ke gue, nanti gue kasih saran, oke?"
Leo menghela napas pelan, lalu mengajak Rafael untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya.
"Gimana?" tanya Rafael.
"Lo..."
"Lo masih inget kan? Gue bakal dijodohkan sama Papa?" tanya Leo.
"Ya, gue inget,"
"Terus Lo juga tahu kan kalau gue selalu berusaha buat menghindar dari perjodohan ini?" Rafael mengangguk.
"Lo juga tahu kan kalau gue beneran nggak mau terima perjodohan ini?"
"Iya gue tahu. Intinya?"
Leo memejamkan matanya sebentar sambil menghela napas,
"Cewek itu sekarang tinggal di rumah gue," ucap Leo putus asa.
Rafael membelalakan matanya tidak percaya, "What?!"
"Cewek itu di rumah Lo? Kok bisa?"
Leo kembali menghela napasnya, ia mengacak rambutnya kesal.
"Jadi tuh, kemarin setelah gue pulang dari kantor...gue hampir nabrak orang,"
"Hampir?" tanya Rafael, dan Leo mengangguk.
"Dan orang yang hampir Lo tabrak itu... Ha?" tanya Rafael tidak percaya. Dan Leo hanya bisa mengangguk lemah.
"Terus?" tanya Rafael.
"Dia maksa mau tinggal di rumah gue...ck bukan maksa sih, dia mau numpang tinggal sama gue,"
"Terus Lo mau gitu aja?" Leo mengangguk. Pastilah ia terlihat sangat bodoh sekarang. Ya, ia benar-benar bodoh.
Rafael tertawa, menertawakan nasib sahabatnya itu.
"Lo pikir ini lucu nggak sih?" Rafael menepuk pelan bahu Leo.
"Kemarin Lo rela-relain pulang malam buat menghindar ketemu sama dia, terus sekarang? Lo sendiri yang bawa dia ke rumah Lo? Lo gila?!"
"Ejek aja terus?!"
"Nggak. Gue nggak tahu mau kasih saran apaan ke Lo, gue nggak tahu," ucap Rafael masih sambil tertawa.
"Tapi El, gue masih belum mastiin kalau dia cewek yang bakal dijodohin sama gue. Gue pikir mereka mirip aja sih, tapi bukan orang yang sama. Iya kan? Mereka pasti nggak sama kan?" ucap Leo dengan tampang bodohnya.
"Udahlah, itu urusan Lo. Gue nggak mau ikut campur Tuan Leonard Fa Loren yang stupid," ucap Rafael masih dengan tawa bahagianya, lalu ia pergi keluar dari ruangan Leo.
"Arghh!" Leo mengacak rambutnya frustasi.
"Sialan!"
.
.
.