Memikirkan seharian pun percuma, Leo masih belum menemukan jalan keluarnya. Mengusir gadis itu pun sepertinya tidak mungkin, apalagi ketika ia mengingat sikap polos gadis itu. Yang bahkan mungkin saja gadis itu akan dengan polos melakukan apapun yang diinginkan pria-pria bangs*t di luaran sana.
"Oh iya, kan gue nggak punya persediaan apa-apa di rumah," Leo segera mengambil kunci mobil dan ponselnya, lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Ia menuruni lantai perusahaan dengan menggunakan lift. Setelah sampai di lantai dasar, ia bertemu dengan Rafael di lobi yang sedang berbincang dengan salah satu karyawan
Leo menghampiri Rafael,
"Gue mau pulang," bisik Leo di depan telinga Rafael.
Rafael tersenyum tipis, lalu menoleh.
"Good luck!" ucap Rafael dengan nada mengejek.
"Diem Lo!" ucap Leo tajam.
Leo hendak berjalan meninggalkan Rafael, tapi ia teringat satu hal yang ingin ia katakan pada Rafael. Leo kembali mendekatkan kepalanya, membuat Rafael bingung.
"Nanti pesenin makanan dua porsi, kirim ke rumah gue," ucap Leo lalu melangkah keluar meninggalkan kantor.
Setelah Leo keluar dari kantor, banyak orang yang tiba-tiba menatap ke arah Rafael, terutama para kaum hawa.
"Kenapa ya Pak Leo deketnya cuma sama Pak Rafael aja, padahal kan Pak Rafael cowok,"
"Iya juga sih, gue juga nggak pernah lihat Pak Leo bawa cewek ke kantor,"
"Sstt! Jangan kenceng-kenceng ngomongnya,"
"Mulai lagi," ucap Rafael malas, lalu ia pergi untuk menghindari tatapan-tatapan menyebalkan itu.
.
.
.
Leo ragu-ragu masuk ke dalam rumah. Ia mencari keberadaan gadis yang berhasil menyita penuh perhatiannya hari ini. Ia tidak menemukan Vei di lantai dasar, lalu ia menaiki anak tangga, meyakini kalau Vei pasti sekarang sedang berada di kamar adiknya.
'Tok! Tok! Tok'
Beberapa kali Leo mengetuk, tapi tetap tidak ada balasan dari dalam.
"Pak Leo!" Leo langsung membalikkan badannya, dan ia langsung menemukan Vei yang sekarang tengah berdiri di ujung tangga.
Untuk kesekian kalinya ia dibuat terkejut oleh wanita itu, hanya dalam kurun waktu 12 jam saja. Leo berusaha tersenyum tipis, lalu berjalan mendekati Vei.
"Kok Bapak cepet banget pulangnya?" tanya Vei.
"Emm...kamu...lo udah makan?" Pertanyaan di balas dengan pertanyaan, pasti Leo sudah benar-benar kacau sekarang.
"Sudah Pak, tadi saya makan sisa roti di kulkas. Nggak papa kan?"
Leo menggeleng, "Nggak, nggak papa,"
Tiba-tiba suasana menjadi sangat canggung, Leo sudah tidak tahu harus bicara apalagi, pikirannya selalu kosong jika berhadapan dengan calon istri...ralat! Bukan calon istri maksudnya.
"Kalau bapak? Tadi kan nggak sempat sarapan?" tanya Vei.
"Gue udah pesan makanan tadi," jawab Leo.
"Oh iya Pak,"
Leo menghela napas pelan,
"Bisa nggak jangan panggil gue 'Pak'? Gue bukan bapak lo, ngerti? Dan gue juga belum setua itu buat lo panggil Pak,"
Vei menggaruk dahinya yang tidak gatal, ia merasa takut jika harus berdiri terlalu lama dengan hawa dingin yang dikeluarkan pria di hadapannya ini.
"Ya..yaudah, saya panggil Kak Leo, boleh?" ucap Vei sambil menatap Leo dengan senyum canggungnya.
"Gue bukan kakak Lo. Panggil gue Leo, only Leo, understand?" Vei mengangguk cepat.
Suara bel berbunyi memecah keheningan yang tidak berlangsung lama,
"Maaf Pak...Leo, saya mau buka pintu dulu," Vei segera membalikkan badan, lalu berlari menuruni anak tangga.
Sedangkan Leo kembali menghela napas, berharap bebannya ini akan segera hilang saat ini juga.
Leo juga menuruni anak tangga, bersamaan dengan Vei yang kembali dengan membawa makanan pesanannya tadi.
"Ini pesanan kamu kan?" tanya Vei.
Leo termenung sebentar, mendengar panggilan kamu yang Vei ucapkan membuatnya terdiam.
"Leo?"
"Ah iya, itu pesenan gue," jawab Leo.
Leo mengambil alih kresek yang dipegang Vei, lalu membawanya ke meja makan, diikuti Vei di belakangnya.
"Lo duduk," ucap Leo saat Vei akan pergi ke dapur untuk mengambilkannya piring.
Dan Vei pun hanya bisa menuruti kemauan pangeran tampannya itu. Dengan senyum manis Vei mendudukkan dirinya di kursi.
"Tuh kan, belum pacaran aja udah posesif. Idaman banget," gumam Vei lirih.
Leo kembali dengan membawa dua buah piring, sendok, dan dua gelas jus di atas nampan. Dengan wajah dinginnya yang menaruh nampan di atas meja, Leo terlihat sangat menawan di mata Vei. Vei tidak bisa berhenti menatap keindahan ciptaan Tuhan itu.
Leo menyiapkan dua makanan pesanannya itu sekaligus, lalu menyodorkan sepiring untuk Vei.
"Makan," ucap Leo.
"Makasih Leo," ucap Vei malu.
"Gue mau bicara sama Lo setelah makan," ucap Leo setelah meneguk jusnya.
"Iya," ucap Vei dengan senyum yang terus mengembang di kedua ujung bibirnya.
Mendengar jawaban Vei, Leo dengan cepat memakan makanannya. Ia tidak bisa menunggu terlalu lama, ia sudah sangat ingin tahu tentang hubungan gadis di hadapannya dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya. Dan lihat saja, dalam sekejap saja Leo bisa menghabiskan makanannya.
"Cepat banget?" tanya Vei tanpa sadar.
"Makan terlalu lama nggak bakal bikin kenyang tahan lama," ucap Leo dingin setelah meminum segelas jusnya.
Benar-benar menohok, Vei pun juga ikut-ikutan makan dengan cepat. Ia merasa tidak sopan kalau Leo terlalu lama menunggunya makan. Apalagi tadi Leo mengatakan kalau pria itu ingin membicarakan sesuatu dengannya.
"Saya sudah selesai," ucap Vei.
"Cepat banget?" gumam Leo,
"Iya pak?"
"Nggak, nggak papa,"
Sudah tiga menit Vei menunggu Leo bicara, tapi pria itu masih belum mengeluarkan suara sedikitpun.
"Emm... Saya beresin dulu ya makanannya?"
Vei hendak berdiri, tapi dengan cepat Leo menahan tangannya. Vei terperangah tidak percaya, jantungnya berdebar dengan sangat cepat, bahkan ini jauh lebih cepat daripada saat ia berlari 200 meter saat sekolah dulu.
"Nggak! Kamu duduk dulu," ucap Leo.
Dengan perlahan Vei kembali mendudukkan tubuhnya. Ia menatap Leo yang kini juga menatapnya, semakin lama tatapan Leo padanya semakin intens, membuat Vei tanpa sadar menundukkan kepalanya karena malu.
"Oh ya, gue boleh tanya beberapa hal nggak sama Lo?" tanya Leo.
Vei mengangguk antusias, "Boleh,"
"Nama lengkap Lo?"
"Veisia Alegarn,"
"Kan bener?" batin Leo.
"Alegarn?"
"Iya, itu nama kakek buyut," jawab Vei.
"Ohh," Vei mengangguk,
"Kemarin itu Lo kabur dari rumah kan?" tanya Leo mengganti pertanyaan.
"Iya,"
"Kenapa Lo kabur? Maksud gue, orang kabur dari rumah itu pasti ada alasannya kan?" tanya Leo.
"Iya,"
"Kalau boleh tahu...alasannya apa?"
Vei mengerucutkan bibirnya, ia paling kesal kalau harus mengingat-ingat tentang masalah kemarin. Tapi ya, kalau pangeran tampan...mana mungkin Vei bisa menolaknya, hehe,
"Aku dijodohin sama orang tua, makanya kabur dari rumah," ucap Vei.
"Berarti....gue ditolak?" batin Leo tidak percaya.
"Ohh,"
"Ya gimana aku nggak kesal. Masa aku dijodohin sama orang tua sih, aku aja baru masuk kuliah, bahkan aku baru lulus SMA beberapa bulan yang lalu. Umur aku aja masih 18 tahun masa udah harus nikah sih, sama orang tua lagi. p*****l banget tuh orang," ucap Vei kesal. Sebenarnya ia malas membicarakannya, tapi entah kenapa ia tidak bisa menahan ucapannya.
Leo menganga tidak percaya, "Gue? Yang dimaksud orang tua itu gue kan? Terus p*****l?"
"Emang...Lo udah ketemu sama orangnya?"
"Ya udah lah, wajahnya aja udah tua banget. Rambutnya udah ubanan, pasti juga udah punya istri," ucap Vei kesal.
"Kapan gue ketemu sama Lo?" gumam Leo.
"Kalau nama orang yang mau dijodohin sama Lo? Lo tahu?" tanya Leo.
"Ya tahu lah. Namanya Om Phan. Bilangnya sih sahabat papa, taunya....udahlah kesal aku ngingetnya,"
"Itukan nama Papa?" batin Leo bingung. Masa iya Papanya yang mau nikah sama bocah 18 tahun, kayaknya gadis itu sudah salah paham.
"Phan? Lo nggak salah nama?"
"Ya nggak lah," jawab Vei sarkas. Ia sedikit sensitif mendengar nama orang itu.
"Beneran?" tanya Leo memastikan.
"Iya Leo. Orang yang datang kemarin aja orang itu kok, pasti dia kan yang bakal dijodohin sama aku? Terus lagi tuh dia bilang gini 'Vei anak yang cantik dan baik, saya yakin kami pasti memiliki banyak kesamaan,'. Makanya aku kabur, kesel banget sama Mama Papa," ucap Vei dengan suara kesal.
Sepertinya benar, gadis itu sudah salah paham. Leo ingin tertawa, tapi ia hanya menahannya dengan senyum tipis saja. Gadis itu benar-benar sangat polos, seperti wajahnya.
"Vei?"
"Iya?"
"Lo boleh tinggal di sini," ucap Leo.
"Beneran?" Leo mengangguk.
"Kayaknya Papa emang nggak salah pilih,"
.
.
.