Setelah pembicaraan semalam, Vei menjadi semakin nyaman dengan Leo. Bahkan sepertinya ia sudah mulai terserang virus yang menyebar di kalangan anak-anak, remaja, sampai dewasa, yaitu....virus bucin.
Berbeda dengan Leo, pria itu malah merasa semakin tidak nyaman dengan sikap Vei setelah pembicaraan semalam. Gadis itu jadi bersikap semakin aneh. Ia tidak nyaman saat Vei terus memperhatikan segala gerak-geriknya. Bahkan sampai ia makan pun gadis itu tidak mengalihkan pandangannya darinya.
Leo mengangkat kepalanya menatap Vei, dan Vei langsung mengalihkan pandangannya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Lo...ada yang mau dibicarain?" tanya Leo pada akhirnya.
Vei menggeleng cepat, "Em..nggak. Nggak ada," lalu tersenyum layaknya orang gila.
Dan Leo pun ikut tersenyum karena terpaksa, ia kembali menatap makanannya sebentar, lalu kembali menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
Setelah selesai sarapan Leo langsung pergi ke kantor. Ini pertama kalinya ia berangkat terlalu pagi, karena ia lebih sering berangkat kesiangan daripada tepat waktu. Hanya ada beberapa petugas kebersihan saja yang sudah tiba. Leo langsung pergi ke ruangannya, ia segera menyelesaikan beberapa tugasnya yang kemarin sempat tertinggal karena mengurus masalah antara dirinya dan Vei.
Sementara di luar ruangan Leo, tanpa Leo ketahui sudah banyak karyawan yang berada di luar ruangannya. Tadi, mereka semua sengaja bersembunyi saat Leo datang, sebenarnya tidak sengaja juga, mereka hanya pergi sarapan bersama seperti biasanya. Dan betapa mengejutkannya saat mereka mengetahui bahwa bos mereka yang sangat gila kerja itu datang sepagi ini.
Bos mereka itu memang gila dengan yang namanya bekerja. Memang, Leo sering berangkat telat, tapi ia selalu pulang lewat waktu dini hari untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Oleh karena itu, mereka sedikit terkejut dengan Leo yang kemarin pulang lebih cepat, dan hari ini Leo yang malah berangkat lebih awal dari biasanya.
Rafael yang baru sampai pun mengernyitkan dahinya bingung saat melihat pintu ruangan Leo yang dipenuhi dengan para karyawan. Ia juga ikut-ikutan mengintip untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu. Tapi, ia tidak dapat melihat apa-apa.
"Pak Leo tumben banget berangkat pagi, nggak biasanya kan?"
"Kayaknya lagi ada masalah deh. Tau sendiri kan, jadi Pak Leo itu nggak mudah. Udah ganteng, kaya lagi, pasti banyak masalah juga kan?"
"Ya iyalah, Pak Leo juga manusia kali. Sesempurna apapun ya pasti ada masalah juga kan,"
Rafael tersenyum tipis,
"Kalau kalian masih mau ngerumpi, mending besok nggak usah berangkat kerja lagi!" ucap Rafael membuat semua karyawan yang berada di sana pun langsung berpencar pergi.
Rafael masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan Leo sangking fokus dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari kehadiran Rafael. Rafael berjalan mendekat,
"Ekhm," Rafael berdeham, dan Leo langsung menghentikan pengamatannya dan menatap Rafael.
"Lo udah sampai?" tanya Leo basa-basi, lalu ia kembali fokus dengan kegiatannya.
"Gue yang harusnya tanya sama Lo. Tumben jam segini udah sampai?" tanya Rafael sambil menatap jam tangannya.
"Coba deh Lo lihat, ini tampilannya gimana?" tanya Leo sambil menunjukkan sesuatu di layar laptopnya.
Rafael menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menatap layar laptop Leo. Baru melihatnya saja Rafael langsung menatap Leo kesal.
"Lo itu kenapa sih? Ini bukan tugas Lo buat ngerjain hal kayak gini, kenapa keras kepala banget sih?" tanya Rafael.
Leo hanya menatap Rafael sebentar lalu kembali menatap laptopnya.
"Jadi Lo berangkat pagi-pagi buat ngerjain ini semua?" tanya Rafael dingin.
Leo mengalihkan pandangannya, lalu menutup laptopnya. Setelah beberapa saat barulah ia menatap Rafael.
"El,"
"Lo kenapa sih? Lo nggak percaya sama kinerja karyawan Lo sendiri? Makanya Lo lakuin semua ini?" tanya Rafael kesal.
Leo berdiri berhadapan dengan Rafael.
"Bukannya gue nggak percaya El, Lo tahu sendiri kan? Dulu, gue udah kerja keras dari gue masih SMA, gue udah berusaha buat lebih baik lagi. Terus apa? Semuanya hancur gitu aja. Gue nggak mau ada kejadian kayak dulu-dulu lagi, Lo ngerti kan?" ungkap Leo. Sungguh, Leo hanya bisa bicara setenang ini pada Rafael seorang. Karena hanya Rafael-lah yang selalu menjadi pendengarnya.
"Oke gue tahu. Tapi itu dulu kan? Pliss lah, Lo jangan kayak gini. Lo kayak gini malah nyiksa diri Lo sendiri," ucap Rafael.
"Lo tahu sendiri kan, susah buat gue percaya sama orang lain. Ini perusahaan besar, gue yang mulai, gue nggak mau ada orang lain yang ngerombak usaha gue," ucap Leo sungguh-sungguh.
"Oke gue ngerti. Tapi dengan lo kayak gini, lo pikir karyawan Lo bakal tenang. Mereka senang? Lo mikirin perasaan mereka nggak?" tanya Rafael sarkastik.
Leo hanya diam, ia tidak menjawab, ia tidak ingin bertengkar dengan siapapun.
"Gue udah pernah bilang kan? Nggak semua orang di dunia ini tuh sama. Nggak semua orang bakal khianati Lo. Oke, gue tahu Lo sama Justin itu deket, terus dia khianati Lo. Tapi semua orang itu beda, mereka itu nggak sama. Pliss, Lo ngerti. Gue nggak mau tiap hari Lo tersiksa kayak gini," ucap Rafael bijak.
Leo memegang kepalanya pening. Ia mendudukkan kembali dirinya di kursi.
Rafael menghela napasnya, ia pun juga mendudukkan dirinya di sofa.
Mereka terlarut dalam keheningan. Rafael sibuk dengan pikirannya, begitupun dengan Leo.
Leo kembali membuka laptopnya, lalu mengetikkan sesuatu di sana. Setelah selesai menyimpan file-nya di flashdisk miliknya. Ia mencabut flashdisk itu, lalu bangkit menghampiri Rafael.
Leo menyodorkan flashdisk itu di depan Rafael. Rafael pun menerimanya.
"Lo liat dulu, terus suruh semua ketua divisi ke ruang rapat," ucap Leo sambil tersenyum tipis. Ia duduk di samping Rafael.
Rafael menatap flashdisk di tangannya dan Leo bergantian. Rafael bangkit lalu membuka file itu di laptop Leo. Betapa terkejutnya ia saat melihat isi dari file tersebut. Ia langsung menatap Leo dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Leo.
Rafael menaikkan sebelah alisnya,
"Gue udah mikirin ini semalaman. Sebenarnya tadi pagi, itu yang gue kerjain, tadi gue sengaja aja buat Lo marah," ucap Leo santai.
Rafael menatap Leo,
"Wahh. Otak pintar Lo itu akhirnya bekerja sesuai kemampuannya," ucap Rafael kagum.
"Silahkan kerjakan tugas anda Tuan Rafael yang terhormat," ucap Leo.
Rafael mengambil kembali flashdisk itu lalu berjalan mendekati Leo, ia menepuk bahu pria itu lalu berlalu keluar dari ruangan itu.
"Hah!"
Akhirnya Leo dapat bernapas dengan tenang, ia berdiri untuk mengambil ponselnya, lalu pergi keluar ke ruang rapat.
.
.
.
"Udah?" tanya Leo pada Rafael.
Rafael mengedarkan pandangannya, menghitung jumlah orang yang berada di ruangan itu.
"Udah semua," jawab Rafael.
"Oke semuanya!" Leo berdiri.
Leo menatap Rafael, dan Rafael yang paham dengan maksud Leo pun mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Sebelumnya, saya mau minta maaf sama kalian semua," Leo menghela napas, lalu menatap semua karyawannya.
"Saya sadar saya sudah berlaku keterlaluan sama semuanya. Saya tidak pernah membiarkan ide kalian berkembang di perusahaan ini. Saya selalu menolak semua hasil kerja keras kalian, saya benar-benar mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap Leo membuat semua orang yang berada di ruangan itu terpana dengan kalimat yang diucapkan bos dingin mereka ini.
"Saya sudah putuskan. Saya akan memulai progam baru. El, nanti setelah rapat," ucap Leo sambil menatap Rafael. Dan Rafael mengangguk.
"Saya juga mau berterima kasih sama kalian...."
.
.
.
"Hah, akhirnya selesai," ucap Leo sambil meregangkan otot lehernya.
Rafael tersenyum kagum, ia menepuk pundak Leo sebagai bentuk perhatiannya.
"Kalau gini kan gue juga enak, " ucap Rafael sambil mengangkat kedua alisnya bergantian.
Leo berdecak pelan lalu menepuk punggung Rafael.
"Laper gue," ucap Leo.
"Tumben banget Lo bisa laper,"
"Gue juga manusia," ucap Leo tajam.
Mereka berdua pergi ke salah satu restoran dekat kantor. Restoran itu sedikit ramai, membuat mereka terpaksa memilih meja yang belum ada penghuninya, di ujung restoran.
"Nasi chicken katsu, sama ice lemon, Lo?" tanya Rafael.
"Samain," jawab Rafael, pelayan restoran itu membawa buku menu itu lalu pergi.
"Oh ya, masalah Lo sama perusahaan udah selesai. Terus masalah Lo sama calon istri Lo itu gimana?"
Leo langsung mendesah malas mendengar kata 'calon istri' dari mulut Rafael.
"Rada aneh orangnya," ucap Leo.
"Aneh gimana? Emang Lo udah pastiin dia yang mau dijodohin sama Lo?" tanya Rafael.
"Udah. Oh ya, tadi kan kemarin gue tanya dia alasan kabur dari rumah. Terus Lo tahu nggak dia bilang apa?" tanya Leo sok misterius.
"Apa?"
"Dia itu ngira kalau dia itu mau dijodohin sama Papa gue, gila banget tuh cewek," ucap Leo sambil tertawa.
Rafael yang mendengarnya pun juga ikut tertawa, "Demi apa lo..."
"Sumpah, tuh cewek polos banget," imbuh Leo.
"Emang umurnya berapa?" tanya Rafael.
"18," Rafael langsung membelalakan matanya tidak percaya.
"Udah lulus SMA?" tanya Rafael langsung.
"Ya udah lah, ya kali gue nikah sama bocah sekolah," ucap Leo.
"Oh ya, jangan sampai Lo biarin tuh cewek kerjain pekerjaan rumah. Bisa perang dunia nanti kalau Om Phan tahu," ucap Rafael mengingatkan.
"Ya ya ya,"
Rafael menggelengkan kepalanya pelan, ia masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Leo. Sepertinya pria itu sedang menghayal cerita.
Karena Leo selalu membohonginya tentang masalah perempuan. Dulu Leo juga pernah dipaksa mengikuti kencan buta dari ayah pria itu, dan Leo langsung mengarang cerita tentang visual wanita itu, padahal ia bahkan tidak tahu rupa wanita itu. Dan sepertinya Leo juga mengarang cerita tentang hal ini.
Leo tertawa kecil saat mengingat kelakuan ajaib Vei.
"Gila lagi nih orang," ucap Rafael sambil geleng-geleng kepala.
.
.
.
Pukul 9 malam Leo baru tiba di rumah. Ia sudah memutuskan untuk tidak pulang terlalu larut seperti dulu, ia ingin mengubah kebiasannya. Ya walaupun sekarang pun sudah bisa dikatakan sangat larut, tapi ia tidak akan seperti dulu lagi.
Ia mengetuk pintu utama, dan dalam sekejap pintu itu terbuka menampilkan Vei dengan senyum manisnya.
"Akhirnya kamu pulang juga. Aku pikir kamu kenapa-napa. Kok pulang larut sih?" tanya Vei langsung.
Leo mengangkat kedua alisnya.
"Ah..tadi gue ada lembur," alibi Leo.
"Yuk masuk, tadi aku udah masakin kamu," ucap Vei.
"Oh ya, jangan sampai Lo biarin tuh cewek kerjain pekerjaan rumah. Bisa perang dunia nanti kalau Om Phan tahh,"
Seketika ucapan Rafael langsung terngiang di kepalanya.
"Lo masak?" tanya Leo terkejut.
"Iya, tadi aku masak. Aku juga udah nyapu sama ngepel lantai, terus bersihin kamar, cuci baju, pokoknya semua beres," ucap Vei dengan senyum yang terus terpatri di bibirnya.
Leo tidak bisa berkutik, "Bencana apa lagi ini,"
.
.
.