****
Setelah berfikir kurang lebih dari satu Minggu lamanya, akhirnya ku mantapkan hati untuk menjawab ya atas pinangan dari orang tua Mas Dede.
" Aku siap mas dan mau menjadi istrimu mas, Insya Allah meskipun kita berdua sama- sama belum mempunyai pekerjaan ataupun uang, tuturku pada calon suamiku waktu itu". Mas Dede pun sangat senang akan jawabanku pada saat itu. Sebenarnya bukan ini mimpi ku dari dulu, dalam benakku aku akan menuntaskan Kuliahku dulu bekerja berkarir, tapi yang namanya jodoh, maut, rezeki semua sudah ada yang mengatur.
Waktu pernikahan pun tiba
Aku yang masih menyandang status mahasiswa dan calon suamiku yang belum mempuanya apa- apa akhirnya menikah dengan semua modal dari orang tua.Apakah kalian tau, apakah aku bahagia akan pernikahan ini? yang menurutku terlalu terburu- buru. Jarak antara kami kenal dengan menikah tidak lebih dari enam bulan lamanya.Yang artinya aku belum sama sekali mengenal sosok calon suamiku bagaimana watak bahkan tingkah laku suamiku.
Aku menikah hanya dengan mahar dua ratus ribu dari pemberian suamiku, dan aku menerimanya dengan tulus ikhlas dan berharap mas Dede adalah calon suami dan imam yang baik untuku dan untuk anak-anak ku kelak.
Dua bulan menikah Mas Dede harus merantau ke Jakarta karena memang Mas Dede belum mempunyai pekerjaan di kampung, bahkan untuk sekedar mentraktir ku makan bakso saja Mas Dede tidak mampu. Tapi bagiku tidak masalah karena apa, aku melihat mas Dede begitu tulus dan bertanggung jawab atas diriku.
Di Jakarta mas Dede bekerja sebagai kuli bangunan, tau kan gaji kuli bangunan berapa yang kadang uanganya habis untuk makan.Karena sekarang statusnya sudah menjadi suami makanya mas Dede kadang sering telat makan karena di kampung ada istri yang harus dinafkahi.
Setelah selama dua bulan kami LDR Kebumen Jakarta akhirnya mas Dede pun pulang karena memang suamiku itu sakit dan aku yang menyuruhny pulang.
Kami menjalani kehidupan seperti pasangan lainnya dikampung dengan bertahan dari sisa uang yang ada.
Aku pada saat itu bekerja disalah satu warung sembako di kampung ku yang gajianya satu bulan tidak lebih dari empat ratus ribu, uang segitu untuk keperluan hidup ku dan suami yang kebetulan pada saat itu belum bekerja.Pada saat itu aku juga mempunyai cicilan motor yang mana setiap bulan kami harus mengangsur Tujuh ratus ribu selama tiga tahun.
Bisa dibayangkan bagaimana aku harus mengelola keuangan dengan gaji yang ku miliki dan kadang mas Dede dapat orderan untuk mengantar orang.
Memang setelah menikah aku dan suami sudah lepas tangan tidak lagi bergantung kepada kedua orang tuaku ataupun ke mertuaku.Kami yakin dan kami mampu bahwa kami bisa.
Kisah bulan usai disaat kami lagi kesusahan cari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, cicilan bahkan kuliahku pada saat itu Alhamdulillah aku hamil anak pertama. Kalau kami boleh meminta kami belum mau untuk punya momongan pada saat itu, karena kami masih kesulitan ekonomi.
Tapi Allah kasih rencana yang lebih indah, setelah aku hamil 7 bulan suamiku mendapatkan pekerjaan ya meskipun hanya sebagai kuli kasar di kampung tetapi aku sudah sangat bersyukur sekali karena bisa untuk menyukupi kebutuhan sehari-hari.
Meskipun berat, tapi kulalui semuanya dengan ikhlas dan suamiku juga sangatlah sabar dan bertanggung jawab.