*****
Hambatan demi hambatan ku lalui dengan apik bersama suamiku, dan Alhamdulillah kami berdua di karuniai ya malaikat cantik dari Allah.Kami sangat bersyukur sekali atas lahirnya putri kami tercinta.Kerjaan demi kerjaan datang silih berganti, meskipun kecil tapi kami mensyukuri nikmat tersebut.Saat lahiran putri pertamaku harus kuberanikan diri meminjam uang untuk persiapan persalinan, besar nominal tiga juta lima ratus ribu rupiah.Bukan tanpa jaminan pinjaman tersebut, tapi aku menggadaikan kartu nikahku bersama suamiku.Dan kewajiban kami satu bulan harus setor tiga ratus lima puluh ribu rupiah selama satu tahun
Sungguh nikmat yang tiada Tara, angsuran demi angsuran kami punya dan semenjak lahiran aku hanya mengandalkan suamiku untuk bekerja.Bahkan mas Dede pun sepertinya banting tulang siang malam bahkan sampai rela lembur untuk mencukupi kebutuhan kami.Meskipun hasil tidak banyak, karena mas Dede hanya kuli dan bekerja kasar lainnya kami bertiga hidup bahagia.
**
Bulan Ramadhan pertama malikahku aku, suami dan keluarga suami terjadi perang dingin yang cukup sengit. Awal kisah karena orang tuaku pernah menjalin partner bisnis dengan mertuaku, tetapi orang tuaku mengalami kerugian yang cukup banyak dan akhirnya harus menghutang kepada mertua.Tetapi cara menagih hutang mertuaku terbilang cukup keras, apakah kalian tahu kata- kata yang keluar dari Adik suamiku saat menagih hutang kerumah.
" mbok ya mikir utange ko wes sue, keluarga kene kan ngode Kabeh", yang dalam bahasa Indonesia intinya mereka mengira kami sekeluarga bekerja semua tetapi kenapa masih belum bisa membayar hutang juga.
Jujur aku kecewa sekali atas statement dari keluarga suamiku tersebut, kami tahu itu semua karena bisnis, tapi apakah tidak ada toleransi yang lebih ya bisa dibilang kita ini keluarga loh. Apakah mereka tidak berfikir jauh bahwa mas Dede juga tinggal serumah dengan kedua orang tuaku, apa mereka tidak berfikir bahwa kami berusaha keras membayar hutang- hutang kami tetapi memang belum terkumpul.
Semenjak keluarga suami ribut dirumahku gara- gara uang tersebut, hubungan suami dan ayah mertuaku menjadi dingin.Pernah ketika waktu hari raya tiba, aku suami dan anaku berkunjung untuk kerumah mertua yang letaknya mungkin 2 km dari rumahku. Dari semenjak kami tiba sampai kami ijin pulang sama sekali kami tidak ditegur, boro- biro untuk sekedar menimang cucu anak kami.Padahal anak kami itu adalah cucu pertama, harusnya pemenang tahta di keluarga tetapi entahlah apa yang ada dipikiran Ayah mertuaku.
Pernikahanku dengan suami tahun ini sudah menginjak 6 tahun pernikahan, Alhamdulillah kami melaluinya dengan cobaan- cobaan yang luar biasa dan kami masih berpegang teguh dan ingat ikrar janji setia kita. Sampai saat ini kami belum mempunyai kediaman atau tempat tinggal, boro- boro punya rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan cicilan kami masih sangat kurang.
Tidak pernah kami ditawari atau sekedar dikasih uang oleh keluarga suami, padahal mereka adalah juragan Jenitri yang kalau panen bisa dapet ratusan juta.Tapi suami tidak pernah jatah apapun dari Ayahnya.
Adik suamiku yang saat itu belum menikah pun sudah di bikinkan rumah, sangatlah tidak pantas, sangatlah tidak etis padahal kami yang sudah lama menikah pun belum mempunyai kediaman sampai sekarang, Ayah mertuaku tidak pernah menawarkan apapun kepadaku atupun ke pada suamiku. Kami berdua ikhlas diperlakukan seperti itu.Dalam tekad kami, meskipun dimusuhi keluarga asal kita tidak minta bantuan apapun itu tidak masalah.
Apakah aku tidak kepikiran untuk pindah dari rumahku?, sangat lah pikiran itu sudah jauh-jauh hari ada dipikiran ku.Tapi apalah daya angsuran kita masih banyak