Tidak sampai hanya disitu ujian keluarga, dari tahun pertama sampai tahun kelima pernikahan kami benar-benar diuji dalam hal perekonomian.Pernah seketika kami sama sekali tidak mempunya uang sama sekali.Suami juga diam takut aku tanya uang, tapi aku pun juga sadar karena waktu itu lagi musim hujan.Memang suamiku kalau musim hujan pekerjaan nya agak terganggu karena beliau bekerja mencari pasir di sungai.Tapi semua itu mampu kami berperan apik didalamnya dan ujian itu terlalui dengan sangat baik.Jangankan untuk bergaya, kadang untuk sehari-hari kami pun harus benar-benar mengatur keuangan.Bagi kami intinya kebutuhan anak tercukupi.
Hari demi hari kehidupan kita hanyalah seperti itu.Hidup berdampingan dengan angsuran dan angsuran. Sebenarnya kami tidak mau seperti itu tapi mau bagaimana lagi kita tidak punya pilihan lain lagi.Mau sama siapa lagi kita mengeluh, semoga hanya aku dan suami yang mengalami seperti ini dan anakku tidak mengalami hal semacam itu.Kami berusaha semaksimal mungkin itu mencukupi kebutuhan malikah.Kelak malikah agar bisa mengenang perjuangan ayah dan ibunya.
Untuk hal kasih sayang memanglah keluarga suami untuk keluarga ku sangat lah kurang.Disaat aku lahiran di salah satu tempat bidan praktek di desa.Mas Dede berusaha menghubungi keluarga nya bahwa aku mau lahiran tapi Ibunya baru menjenguku jam 1 siang padahal aku sudah dirawat dari jam 5 pagi.
Tidak sampai hanya disitu ketika malikah lahir pun hanya ibunya yang datang ke klinik tidak ada sanak saudara lainya jangankan Adek iparku ayahnya pun tidak berkunjung ke klinik.
Waktu aku mau dibawa pulang, kami juga harus pinjam mobil punya Pamanku padahal Ayah mas Dede punya mobil bukannya senang atas kelahiran cucunya tetapi tidak demikian.Kami harus pinjam mobil paman untuk membawa aku dan bayiku pulang kerumah. Aku sampai dirumahpun Ayah mertuaku juga belum datang untuk menjenguk cucunya. Barulah ketika aku mau memberi nama mereka sekeluarga datang, dan dengan alasan karena sangat sibuk makanya tidak bisa menjengukku dan baru sekarang sempetnya.
Dalam batinku hanya bergumam, "wah cucu pertama sudah kalah dengan pekerjaan", batinku. Entah apa yang ada dipikiran keluarga suami dulu memintaku untuk cepat cepat menikah dengan anaknya tapi setelah menikah kami seperti tidak di hiraukan bahkan sudah lepas tangan.Pernah seketika waktu itu aku pernah dengan sesumbar tanya sama suamiku, " mas sebenarnya mas ini anaknya atau bukan si, kenapa kemarin nenekku meninggalpun ayahmu tidak datang jangan menjenguknya sewaktu sakit". Tapi mas Dede pun tidak menjawab apapun dari pertanyaan ku tersebut.Mungkin dia juga merasa seperti itu.Tetapi mas Dede sendiri meskipun diperlakukan sedemikian oleh orang tuanya tidak pernah iri ataupun hanya sekedar bicara apa seperti itu.Beliau mampu menyimpan apapun bahkan aib dari keluarganya.
Semua adek- Adek suamiku di sekolahkan dan di pegangi kendaraan sendiri- sendiri.Hanya suaminku yang tidak disekolahkan dan tidak di kasih bekal apapun dari rumah.
Mas Dede dulu putus sekolah karena memang dulu keluarganya belum mampu menyekolahkan mas Dede karena adek- adeknya juga sekolah semua, akhirnya suamiku memutuskan untuk tidak bersekolah lagi dan memilih untuk bekerja merantau ke pulau seberang. Namanya juga hanya lulusan SMP mana ada perusahan yang mau nampung, suami hanya bekerja kasar, bangunan ataupun bantu bantu masak di ketring yang gajinya pada saat itu tidak lebih dari lima ratus ribu rupiah. Uang segitu dengan sangat hati-hati mas Dede menyimpannya untuk dikirimkan ke adeknya dikampung untuk bersekolah dan sedikit- sedikit membantu beli garam dan cabe ibunya.
Dirinya juga tidak memperdulikan diri sendiri, karena beliau sadar ada Adek di kampung yang butuh uluran darinya.Bahkan suamiku juga sampai rela hutang motor di dealer untuk adeknya berangkat sekolah dan suamiku pun yang mengangsur.
Semenjak mas Dede kenal aku langsung dipaksa menikah sama Ayah nya padahal kami kenalpun juga belum lama. Sekarang kelaurag suami juga sudah kecukapan dalam hal ekonomi, tapi apakah suami ikut merasakan kenikmatan tersebut, tentunya tidak dong.Aku dan suami kalau butuh atau punya keinginan apapun harus berjuang sendiri. Sampai detik ini aku belum pernah merasakan kasih sayang itu ada buat keluarga kami.Tapi kami mencoba ikhlas, karena karang dilautan juga bisa terkikis karena deburan ombak.Tidak selamanya hantaman dan cobaan itu membuat kita lemah dan menyerah.Itu semua tidak berlaku untuk aku dan suami. Dengan tekad, doa dan kerja keras kita akan buktikan bahwa kami mampu tanpa bantuan siapapun.Biarpun saat ini kami masih hutang dibank tapi pikiran kami tenang tidak selalu apa apa disalahkan.
Alhamdulillah di tahun keenam kita menikah kita sudah punya pasir, batu bata, batu hitam dan sudah punya laham untuk membangun rumah kami kelak.Sekarang juga pekerjaan suami tidak hanya dari satu atau dua lubang, tapi sudah mulai mendapat beragam pekerjaan.