Jeannete memarahi Geo yang buta dan bodoh sepanjang jalan pulang ke asrama.
Payung yang dia bawa sebelumnya terbang entah kemana. Gaun yang dia pakai sekarang terlihat lebih mirip gembel dari pada peri yang lembut seperti bayangannya tadi pagi.
Jeannete kembali ke asrama dengan tubuh lunglai. Ketika dia melewati lorong kamar, tanpa sengaja Jeanette melihat pantulan dirinya di jendela kaca, dan langsung dikejutkan oleh bayangannya sendiri.
“Anjir!”
Dia lari di sepanjang lorong seperti di kejar anjing, dan berteriak marah begitu membuka pintu.
"Laura lihat nih apa yang lo perbuat ke gue!”
Laura yang tiduran main gawai menoleh, lalu tubuhnya menyusut ke sudut kasur sambil baca-baca karena takut.
Gila nekat banget sih kuntilanak era revolusi industri 4.0. Bukan malam lagi munculnya, masih pagi sudah pada eksis.
Melihat temannya masih komat-kamit macam dukun, Jeannette makin emosi. “Diem lo, anjir! Gue bukan setan, nggak usah dibaca-bacain doa. Nggak mempan!”
“Bgst kaget gue! Kok penampakan lo kayak kunti insomnia sih, Jea? Whats wrong?”
“Pake nanya lagi kenapa. Gara-gara eyeliner, maskara sama sunscreen murahan yang lo pinjemin nih, luntur semua make up gue!” jantung dan paru-paru Jeannette nyaris meledak saking dia kesal. “Pantesan aja Geo langsung kabur pas lihat gue. Lihat aja nih penampakan gue, kayak demit!”
Melihat wajah mengerikan ini di cermin, Jeannete langsung memaafkan Geo yang tadi mengabaikannya. Kalau tadi bukan mobil Geoffry, mungkin dia sudah ditabrak.
Untuk menghibur kegagalannya dua kali berturut-turut, Jeannette menghibur dirinya dengan menulis novel genre roman perkotaan.
Tentu saja yang jadi tokoh utama novelnya itu, Geo dan dirinya sendiri. Sudah jadi sebanyak 15 bab dengan lebih dari 20.000 kata.
Plotnya dia buat sebagus mungkin. Karena tokoh utama novel ini dirinya dan Geo, sudah pasti Jea bikin kisah cintanya semanis dan seindah mungkin.
Setiap bab isinya bucin-bucinan, sayang-sayangan, sama baper-baperan tanpa konflik orang ketiga. Apa nggak senang dia nulisnya?
Jea sudah mengirim sinopsis dan contoh bab untuk diterbitkan di platform novel online. Namun, novel romantis yang mendebarkan jantung itu mendapat penolakan dari editor.
Alasannya klise.
Genrenya nggak sesuai dengan selera pembaca.
Huh!
Bahkan dalam khayalan pun dia nggak ditakdirkan berjodoh sama Geoffry.
Jeannette menghapus email dari editor dengan kesal, dan hampir tertidur ketika Laura bergegas masuk dari pintu—
"Jea, gue ada gosip nih. Ini tentang crush lo, Ko Geo, fresh from the oven. Mau denger nggak?”
Secara mendadak Jeannette mendapatkan kembali energinya, dia sudah bekerja keras mikirin plot, tetapi dia nggak dapat hasil apa-apa dari novelnya. Mendapat kabar terbaru tentang Geoffry, tentu saja itu menjadi obat penghibur bagi duka laranya.
Seperti kata pepatah, Tuhan menutup pintu dan jendela, tetapi masih ada lubang angin yang terbuka.
“Kenapa? Ada berita apa tentang Geo?”
Laura tersenyum saat mengulurkan tangannya. “Biaya buka mulut.”
Bibir Jeannettte mencebik, “berapa?”
“Seratus ribu aja.”
Laura pikir harga itu kemahalan, dan Jeannette pasti akan menawar, tetapi gadis itu berbalik, mengambil dompetnya dan menarik tiga lembar seratus ribuan dari sana, “Kok lo jual informasinya murah banget sih? Ini Geo lho, nggak menghargai banget! Nih gue kasih tiga ratus ribu buat lo.”
“Serius nih? Kok banyak banget, Je?”
“Ini bentuk dari gue menghargai crush gue. Lain kali lo jual lebih mahal dari ini. Ngerti?”
Biarpun nggak paham bagaimana sirkuit otak Jeannette bekerja, Laura tetap mengangguk. Kapan lagi dapat cuan hanya dengan modal nguping omongan oang?
“Lumayan nih buat beli album.” Laura dengan senang hati mengantongi uangnya.
“Ayo cepat bilang, apa beritanya?” Jeannette duduk tegak, membuka telinganya lebar-lebar.
“Jadi gini, Gresya kan baru pulang dari pertunjukan kemarin, kayaknya sukses deh pertunjukannya, soalnya dia pamer kemana-mana…”
“Skip Gresya. Langsung ke intinya.”
“Intinya, si Gress lagi nongkrong sama Miss Natalie, tahu kan lo dia siapa?”
Jeannette meremas tisu di tangannya, tahu lah dia siapa Natalie, cewek itu kan guru musik yang sama Gresya mau dijodohin sama Geoffry buat menjegalnya.
“Ngomongin apa mereka?”
“Iya, gue denger sih Gresya nyebutin kokonya, dia bilang, kokonya Minggu ini ada jadwal berenang di hotel Dewinda.”
Mata Jeannette melebar, "Minggu jam berapa?”
"Jam enam!"
Jeannette mengeluh
Manusia jenis apa yang bangun pagi-pagi hari libur? Kalau dia berenang jam enam, bukannya minimal harus bangun jam lima?
Laura bisa membaca keluhan di wajah Jeannette. “Itu pola tidur orang sukses, tahu. Bangun pagi setiap hari, tidur sebelum jam sepuluh malam…”
“Siapa yang bilang?”
“Lah, Nadiem, kata lo kemarin.”
“Tapi, Nadiem kan nggak bilang itu berlaku juga buat hari libur. Kalau orang normal nih ya, hari libur tuh begadang sampai malam, bangun siang. Kasihan banget sih Geo, bahkan dihari libur dia nggak bisa santai biar bisa sukses.”
Jeannette mengabaikan kebisuan Laura, menggelengkan kepalanya, dan menghela napas. "Ini nggak bisa dibiarkan. Kalau gue jadi istri Geo di masa depan, pasti gue juga bakal terkena tekanan mental bangun pagi sepanjang tahun.”
*****
Pada hari Sabtu malam, Jeannette mengatur dua puluh jam alarm, dan terbangun di alarm terakhir.
Jam enam kurang sepuluh dia muncul di tepi kolam hotel bintang lima dengan jubah mandi di atas bikini dan menguap.
Tepat jam enam pagi, Geoffry benar-benar masuk.
Pada saat ini, matahari pagi menerpanya, wajah Geoffry tidak menunjukkan ekspresi kurang tidur sama sekali, dan gerakan pemanasannya penuh dengan semangat.
Jeannette menatapnya selama beberapa detik, dan kemudian dia mulai untuk mempersiapkan dirinya.
Gadis yang menjelang dewasa itu sengaja memilih bikini seksi, yang dengan sempurna memperlihatkan sosoknya yang berlekuk. Dia juga sudah melatih aktingnya dengan baik selama beberapa hari.
Ketika Geoffry masuk, dia melepas jubah mandinya dan berdiri di tepi kolam untuk bersiap berolahraga. Secara alami, bersiap untuk berolahraga itu bohong, tujuannya ke sini adalah mencoba menggoda Geoffry dengan visual tubuhnya.
Dengan kepribadiannya yang seperti warga ber-KTP kutub utara, dia pasti hanya memasang wajah datar, tetapi bukankah sorot matanya nggak bisa bohong?
Geoffry yang dingin dan acuh tak acuh tidak mengindahkannya terakhir kali, siapa tahu dia tidak bisa mengabaikan tipe glamor dan seksi.
Akan tetapi, tidak tahu apa yang terjadi, mungkin kurang tidur mengacaukan konsentrasinya. Jeannette tidak bisa melepaskan ikat pinggang jubah mandi untuk sementara waktu.
Melihat Geoffry tidak memperhatikannya, dan pria itu sudah berada di tepi kolam, siap untuk melompat ke dalam air, Jeannette menjadi semakin tidak sabar. Dia akhirnya melepaskan tali pengikat dengan menariknya kuat-kuat, tetapi tanpa sengaja dia keserimpet dengan tali samping yang menggantung di pinggangnya.
Sebelum dia sempat menunjukkannya sosok yang sempurna, dia keburu…
Byurrr….
Dengan suara percikan air, Jeannette kecebur ke dalam kolam. Meskipun tidak sengaja meminum dua teguk air kolam, Jeannette bisa dengan cepat mengatasi kecelakaan yang menimpanya.
Kedua kaki dan tangannya bergerak seirama, membuatnya tidak benar-benar tenggelam dan berenang nyaris ke tepian. Ketika dia berbalik, dia menemukan dirinya berada sangat dekat dengan Geoffry sekarang.
Adaptasi adalah suatu keharusan bagi orang-orang sukses!
Jeannetta menginjak air dan berenang ke arah Geoffry. Dia sudah memikirkan semua langkahnya.
Ketika dia sampai di sisi Geoffry, dia akan berakting dengan berpura-pura kakinya kram karena dia jatuh ke air tanpa pemanasan lebih dulu, lalu menarik leher Geoffry dan memeluknya.
Jeannete dalam kondisi yang tidak berdaya, dan penampilannya hari ini juga seksi meggoda. Kalau dia meminta bantuan Geoffry lagi, pasti pria itu tidak akan menolak.
Pria normal mana yang menolak terhadap kontak fisik semacam ini?
Seperti adegan di drama-drama, Geo akan memeluk dan mengangkatnya ke atas.
Sempurna, benar-benar sempurna!
Jeannette melihat bahwa dia hanya berjarak setengah meter dari Geoffry, dan dia akan segera dapat melaksanakan rencananya.Dia dengan lembut berteriak.
"Ko Geo, tolong aku, kakiku ..."
Akibatnya, sebelum kata "kram" terucap, Geoffry bahkan tidak melihat ke belakang, tetapi hanya menambah kecepatan renangnya.
Jarak setengah meter tadi dengan cepat diperbesar menjadi satu meter, dan Jeannette melihat kalau Geoffry semakin menjauh hingga dua meter…
Pada saat ini, hanya ada tiga orang di kolam renang.
Jeannette berenang di sebelah pria gemuk yang mirip gentong air saat mengapung.
Dengan posisi ini, kalau dia pura-pura tidak bisa berenang dan berteriak kakinya kram, sudah tentu bukan Geoffry yang akan menjadi dewa penolongnya.
Memikirkan hal ini, Jeannette berhenti berbicara, segera menutup mulutnya, dan mulai memaksakan kakinya, mengejar Geoffry.
Hanya saja Geoffry berenang dengan cepat dan semakin cepat, membuat pengejaran Jeannette semakin sulit, apalagi kakinya termasuk yang pendek kalau dibandingkan dengan kaki Geoffry.
Kalau pada awalnya dia masih memikirkan bagaimana menggoda Geoffry, sekarang dia hanya memiliki keinginan untuk menang melawan pria itu.
Sialan, si Geo ini apa lagi pamer kalau dia jago berenang?
Didorong oleh semangat kompetitifnya, Jeannette mengejar Geoffry bolak-balik.
Ketika dia menemukan bahwa dia sedikit kehabisan kekuatan, dia menyadari bahwa dia sudah lima kali bolak balik, yang berarti sudah menempuh jarak sejauh satu kilometer.
Dan sepertinya dia masih belum bisa mengejarnya.
Orang-orang sukses tidak dapat berpikir dengan cara yang tetap, mereka harus berinovasi untuk bisa membalikkan situasi!
Jeannette memikirkannya dan akhirnya dia berhenti mengejar Geo dan mulai berenang dengan santai.
Matematika mengajarkan kalau kendaraan dengan kecepatan 50km/jam nggak bisa mengejar mobil dengan kecepatan 10km/jam dengan arah yang sama, tetapi! Dua mobil dengan kecepatan berbeda akan punya kesempatan bertemu kalau melaju dari arah yang berlawanan.
Untungnya dia mempelajari matematika, fisika, dan kimia dengan baik, jadi dia bisa mengingat rumusnya.
Ketika Jeannette menatap Geoffry yang sekarang berenang semakin dekat dengannya, dia berpikir, rumus benar-benar tidak menipunya!
Belajar benar-benar membuat seseorang lebih pintar dan berguna untuk mengubah hidup!
Melihat Geoffry, yang sudah dekat dengannya, Jeannette langsung menyadari banyak tentang kebenaran hidup – caranya mengejar Geo memang salah kemarin-kemarin.
Hampir saat Geoffry berenang di depannya, Jeannette menendang air dan melakukan kesalahan klasik di dalam air.
Dia langsung memblokir jalur renang Geoffry, mengambil keuntungan dari lambatnya pihak lain saat merespon, dan meletakkan satu tangan langsung di bahu Geoffry, dan kemudian meletakkan seluruh tubuhnya di tubuh Geoffry, berpura-pura akan tenggelam, sambil berkibar seperti tenggelam dalam air.
Kemudian dia berteriak ngeri, "Ko Geo, kakiku kram, tolong, Ko, kaki ku, kaki ku…”
Jeannette tidak sempat melihat ekspresi Geoffry sama sekali, dan tanpa menyelesaikan kalimat terakhir, dia pura-pura pingsan di pelukan pria itu.
Ketika dia menutup matanya, Jeannette tidak bisa melihat bagaimana reaksi Geoffry. Dia hanya merasa bahwa tubuh yang dia pegang kaku untuk sesaat. Untungnya, Geoffry tidak mendorong, tetapi gerakannya juga tidak lembut, bahkan cenderung kasar saat mengangkatnya dari air dan meletakkannya di lantai pinggir kolam.
Jeannette diam-diam membuka matanya sedikit, dan dia melihat Geoffry berdiri di samping sambil menatapnya dengan mata menyipit.
Jeannette berbaring, tetapi semua pandangan matanya fokus pada celana renang Geoffry yang menonjol.
Jeannette meliriknya, dan dengan cepat menutup matanya.
Tuhan ampuni aku.
Ini nggak sengaja. Sumpah nggak sengaja.
Pada saat itu juga Jeannette merasakan seseorang mendekatinya, dan kemudian berjongkok di sampingnya.
Meskipun dia menutup matanya, dia sangat yakin yang jongkok itu Geoffry, ada bau kayu lembut bercampur dengan kaporit yang samar di tubuhnya. Mungkin karena dia keluar dari kolam.
Jeannette dengan sengaja belum bangun dan masih berpura-pura pingsan.
"Dia pingsan. Sepertinya butuh napas buatan.”
Jeannette mendengar suaranya. Fixed, itu benaran Geoffry. Suaranya sangat unik, dengan sedikit es, sangat stabil, dan tampak sedikit tanpa emosi.
tetapi……
Benarkah dia mau memberinya napas buataan??? Ya Tuhan, ini lebih indah dari yang aku kira! ! !
Jeannette nyaris menari dalam hatinya, tidak percuma dia membeli bikini yang harganya menguras uang jajannya.
Geoffry ternyata memakan umpan ini!
Gadis seksi dan glamor itu tiba-tiba pingsan di pelukannya, bagaimana orang bisa tahan? Beri dia napas buatan! Bukankah itu artinya sebuah ciuman?
Wow! Ciuman pertamanya adalah dengan Geoffry.
Gresya, tunggu saja sebentar lagi kamu harus berlutut di depanku, kakak iparmu.
Hanya saja, ketika Jeannette memainkan drama besar di hatinya, ketika dia menunggu kapan Geo akan memulai adegan pernapasan buatan, dia mendengar suara Geoffry bergema lagi, kayaknya dia berdiri karena suaranya menjadi agak jauh.
"Aku belum pernah nolong orang tenggelam. Kamu bisa nggak melakukan pertolongan pertama dengan napas buatan? Cepat tolong dia.”
Tanggapan selanjutnya dari permintaa Geoffry adalah suara laki-laki yang tergagap dan agak terkejut: "Aku? Ya, ya, aku bisa.”
Siapa dia?
Jeannette diam-diam membuka kelopak matanya sedikit, dan kemudian dia melihat pria gendut tadi berjalan ke arahnya, dan dia hampir ketakutan di tempat.
Apanya napas buatan? Yang ada napasnya bisa disedot sampai mati sama si gendut ini.
Jeannette tidak bisa terus-terusan berpura-pura pingsan lagi, dan dengan segera dia bangun dan duduk.
“Nggak usah, nggak perlu napas buatan. A-aku baik-baik saja.”
Begitu Jeannett sembuh mendadak, dia menyadari kalau Geoffry berdiri di samping menatapnya dengan dingin, dan dia kemudian menyadari kalau pria itu mungkin melakukannya dengan sengaja.
Dia melirik Jeannette lagi, lalu berbalik dan pergi dengan acuh tak acuh.
Jeannetta belum bisa menyesuaikan tubuhnya untuk berdiri.
Sekarang dia duduk di lantai yang licin dengan kedua kakinya menyatu, dan dia dengan sengaja berpose rapuh dan memesona seperti putri duyung. Orang-orang di sekitar kolam baik secara terang-terangan atau diam-diam melihatnya dengan kagum, tetapi hanya Geoffry yang tidak sedikitpun meliriknya.
*****
Begitulah, usahanya untuk mendapatkan Geoffry dan membalas dendam ke Gresya sama persis dengan Plankton yang berkali-kali mencari cara untuk mencuri resep rahasia krabby dari tuan Crab. Semuanya berujung pada kata, GAGAL!
Begitu keluar meninggalkan hotel, dia tidak sabar untuk memanggil Laura dan menghina Geoffry dengan sehina-hinanya.
“Si Geo itu memang bukan cowok normal.”
Jeannnette merasa kalau dia harus menarik lagi do’anya sama Tuhan yang minta dijodohin sama Geoffry.
"Lo bayangin ya, Lau. Dia bahkan sama sekali nggak mau liat gue, padahal gue udah pakai bikini! Bikini, lho!”
Di ujung lain, Laura menguap sambil menjawab, “Coba ganti baju lain.”
"Percuma! Dia nggak suka denga gue yang pakai gaya hangat, nggak melirik gue pas pakai style lembut, dia juga nggak suka gaya lemah, nggak mau lihat gue yang pakai bikini seksi, glamour. Intinya, dia nggak normal! Karena dia emang nggak suka sama cewek!”
Jeannette bangun pagi-pagi dan dipaksa berenang sejauh 1.000 meter, dan mulai merasa kepalanya pusing saat ini.
“Mulai hari ini guue mau lupain dendam ke Gresya, gue udah nggak minat jadi kakak iparnya. Siapa yang sudi jadi istri cowok nggak normal? Yang ada ntar gue dicekik, dibanting di kasur. Ih amit-amit!”
Dia menggurui dan mengeluh tentang Geoffry kepada Laura, dan terus berjalan lurus tanpa memperhatikan kondisi lalu lintas yang ramai di sekitarnya.
Jeannette berjalan melintasi zebra cross tanpa memperhitkan lampu lalu lintas yang sudah berubah hijau.
Ketika sebuah mobil melaju kencang dari kirinya, Jeannette sudah terlambat untuk menghindar.
Mobil itu semakin mendekat, dan dia ditabrak.
Pada saat tubuhnya terpental dan melayang di atas kap mobil, Jeannette hanya memiliki satu pikiran di dalam hatinya…
Geoffry sialan! Tunggu saja, bahkan di kehidupan lain, aku nggak akan berhenti mengganggumu!