Timbangan di toko emas itu berayun sebentar, lalu tenang.
Pasar pagi itu riuh oleh teriak penjual ikan dan suara radio dari kios kaset sebelah, dan toko emas di sudutnya sepi seperti ruang yang sengaja dijauhkan dari kebisingan. Rani berdiri di depan etalase kaca dengan kedua tangan terkepit di bawah ketiak, supaya tidak kelihatan gemetar. Di atas alas beludru hitam terhampar tiga benda: cincin emas bermata kecil yang disematkan Hajjah di meja lamaran, kalung tipis dari mahar, dan gelang emas yang dipasang Hajjah sendiri di pergelangannya pada hari pertama Hajjah datang ke Palangkaraya.
Pemilik toko, lelaki tua berkacamata tebal dengan loupe di dahi, memutar gelang itu di bawah lampu.
"Ini gelang bagus, Nak. Kadarnya tinggi. Biasanya orang tidak menjual yang begini kecuali terpaksa." Ia mengangkat wajah, dan ada kasihan yang sopan di matanya. "Kamu yakin?"
"Yakin, Pak."
Ia ingat jelas apa yang Hajjah katakan waktu itu, sambil menutup kait gelang di pergelangannya yang kurus: gelang pertama yang Mama beli sendiri dengan uang hasil berjualan, waktu Mama masih orang yang tidak punya apa-apa. Ia ingat Hajjah menggenggam tangannya dan mengatakan, "Kamu menjaganya, ya, Nak." Rani tidak menjaganya. Ia menjualnya, dan ia sadar bahwa kalimat itu akan menemaninya lama.
"Empat belas juta empat ratus," ujar pemilik toko akhirnya setelah menghitung di kalkulator tua. "Itu harga baik. Tidak saya potong ongkos."
"Terima kasih, Pak."
"Ibu hamil, ya?" Pemilik toko menunjuk perutnya dengan dagu, tanpa bermaksud ikut campur. "Simpan satu cincin saja, Nak. Buat jaga-jaga. Anak kecil butuh banyak hal yang tidak terduga."
"Tidak apa-apa, Pak. Semuanya."
Ia menerima uang dalam amplop cokelat, menghitungnya dua kali, lalu menambahkan empat juta enam ratus dari tabungan yang ia keluarkan dari kaus kaki. Sembilan belas juta, tepat separuh. Dua juta sisa tabungannya ia simpan di kaleng biskuit di dapur, untuk bidan dan untuk makan, dan ia sudah menyiapkan dalam hati bahwa itu tidak akan disentuh siapa pun.
*****
Selesai dari pasar, Rani menelepon nomor yang ditinggalkan si kumis malam itu, dan mereka datang pukul empat sore, sama santunnya. Rendi sudah menunggu di ruang tamu, mandi dan berbaju bersih. Rani duduk di seberang meja, dengan amplop cokelat di antara mereka.
"Sembilan belas juta." Rani mendorongnya. "Hitung."
Si kumis menghitung lembar demi lembar dengan jari lincah, sementara si badan besar berdiri diam di dekat pintu, memandang ke arah dinding. Ketika selesai, si kumis mengetuk-ngetukkan tumpukan uang itu ke meja sampai rapi, dan menatap Rani tanpa senyum dagangan. "Mbak ini dari mana dapat uang? Saya tanya karena penasaran, bukan apa-apa. Biasanya orang di sekitar Bang Rendi cuma bisa menangis."
Rani tidak menjawab, dan si kumis berdeham, kembali ke senyum dagangannya.
Ia menarik selembar kertas dari saku jaketnya dan menuliskan sesuatu dengan pulpen yang tintanya macet.
"Tanda terima. Sembilan belas, kurang sembilan belas. Tenggat akhir bulan, Mbak. Kami tunggu." Ia menyerahkan kertas itu kepada Rani, bukan kepada Rendi, dan Rani menyadari mereka sudah memutuskan siapa yang bisa dipercaya di rumah ini. "Kalau Mbak bisa begini, Bang Rendi seharusnya malu."
"Saya malu," kata Rendi pelan, menunduk.
"Bagus."
Pintu menutup. Hening seperti setelah gempa kecil.
Rendi bangkit begitu cepat sampai lututnya membentur meja, lalu menghampiri dan memeluk Rani dari samping. Pelukan itu erat dan penuh, sampai dagunya bertumpu di kepala Rani, dan ia merasakan tubuh Rendi bergetar.
"Abang janji, De. Abang janji sama Allah. Abang akan bayar sisanya. Abang akan ganti gelang Mama sepuluh kali lipat. Abang akan..."
"Bayar saja, Bang." Rani tidak membalas pelukan itu, tetapi tidak juga menepis. Ia membiarkannya, seperti membiarkan hujan menyelesaikan dirinya. "Aku tidak perlu sepuluh kali lipat."
*****
Rendi pulang larut malam itu.
Sepanjang senja ia tampak seperti suami yang hampir sempurna: menyapu halaman, menyalakan lampu teras, mengimami magrib dengan suara yang tidak patah. Hasil tes puskesmas terakhir bersih; Rani menyimpannya dalam buku biru, dan baru pada malam itu ia benar-benar menyadari satu kelemahan dari selembar kertas, yaitu bahwa kertas hanya bisa membuktikan satu hari yang sudah lewat.
Ia bilang akan mengambil jam tambahan menjaga parkir di GOR, dan Rani membiarkannya pergi pukul tujuh dengan botol air dan jaket, dan satu kecupan di kening yang ia terima dengan diam. Pukul sebelas ia belum juga pulang. Pukul setengah dua belas, pintu depan terbuka perlahan, dan Rani yang duduk menunggu di kursi makan, ditemani lampu kecil, mencium baunya sebelum ia melihat wajahnya.
Asap. Hangus, manis, tajam. Bau yang sama seperti dari tas hijau lumut, tetapi sekarang melekat pada baju dan napas.
"De?" Rendi berdiri di ambang. Matanya merah, kelopaknya bengkak, pupilnya membesar terlalu hitam. Ia tersenyum lebar, senyum yang terlalu hidup. "Belum tidur? Wah, Abang tadi... kerjaan banyak, De. Banyak sekali. Parkirannya penuh."
"Abang dari mana?"
"Parkiran."
"Abang dari mana?"
Senyum itu bertahan beberapa detik, lalu lepas pelan-pelan seperti plester yang dicabut. Ia melangkah ke ruang tengah, jatuh duduk di lantai, bersandar ke dinding, dan mulai berbicara. Bukan kepada Rani. Kata-katanya tersendat, menyambung dari satu hal ke hal lain tanpa pangkal: Mama, kapal, bola, "dia bilang aku nggak apa-apa", "satu kali aja, satu kali, cuma buat tidur". Jemarinya menggaruk-garuk lutut tanpa henti. Lalu ia tertawa sendiri, pendek, dan berhenti.
Rani berjongkok di depannya, menjaga jarak sepanjang lengan. "Bang. Lihat aku."
Mata merah itu bergerak lambat, mencari, lalu menemukannya. Ada beberapa detik di mana tidak ada yang mengenali siapa pun di sana.
"Ade." Rendi tersenyum, lembut, bodoh, jauh. "Ade baik banget. Abang kasihan sama Ade. Ade nggak tahu apa-apa, ya?"
"Aku tahu, Bang."
"Enggak." Ia menggeleng pelan, masih tersenyum. "Nggak ada yang tahu."
Rani berdiri lagi tanpa membalas, sebab ia mengerti sekarang bahwa orang di hadapannya bukan lawan bicara. Ia hanya tubuh yang sedang berada di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.
Rani berdiri. Lututnya terasa seperti air. Ia berjalan ke teras belakang dengan ponsel di tangan dan menekan nomor Sampit.
"Nak? Jam segini?"
"Mama." Suaranya hampir tidak keluar. "Dia kambuh."
Di ujung sana, tidak ada suara. Lalu bunyi kain bergeser, bunyi orang yang duduk mendadak di tepi ranjang.
"Dia pakai?"
"Saya cium baunya, Ma. Matanya... Saya tidak perlu tanya." Ia melirik ke dalam. Rendi bersandar dengan kepala miring, bibirnya bergerak tanpa suara. "Saya sudah bayar sembilan belas juta sore tadi. Saya jual gelang Mama."
Terdengar isak yang tertahan, panjang, dan di antara isak itu Hajjah berbisik, "Jual... gelang itu..." lalu tidak menyelesaikan kalimatnya. "Nak, tolong jangan tinggalkan dia sendiri malam ini. Jangan biarkan dia keluar. Mama telepon paman, Mama minta dia periksa rumah kebun dan tempat-tempat biasa di sini..."
"Saya akan lihat, Ma."
*****
Rani tertidur di kursi makan menjelang pukul tiga, kepala bertumpu di lipatan lengan. Ia sudah menggeser kursi ke depan pintu kamar, tetapi ia lupa sesuatu.
Ia terbangun karena dingin yang aneh di pipi. Pintu depan terbuka, daun pintu bergerak pelan ditiup angin subuh. Ruang tengah kosong. Bantal masih ada, selimut kusut ditinggal, sandal jepit Rendi tidak terlihat di rak.
Rani menyalakan lampu dapur.
Kaleng biskuit tergeletak di lantai dengan tutup terlepas. Tidak ada uang di dalamnya. Hanya dua lembar kuitansi bidan, terlipat rapi, yang tidak diambil siapa pun.