Pukul lima pagi, Maya membuka pintu rumahnya dengan rambut berantakan dan wajah yang menyiratkan bahwa tidak ada kabar baik yang pernah datang sebelum subuh.
"Dia pergi bawa uang tabunganku, May." Rani berdiri di teras dengan tas kain di bahu dan mata kering. Ia sudah menangis di kamar mandi kontrakan sejak jam tiga, kemudian berhenti karena menangis melelahkan dan ia tidak punya tenaga. "Hajjah sudah suruh pamannya periksa rumah kebun. Aku mau ke sana."
"Kamu hamil, Ran! Lima jam di mobil, ke Sampit?"
"Hajjah menunggu di sana. Aku cuma mau lihat sendiri. Setelah itu aku akan tahu harus apa." Rani menarik napas. "Aku tidak minta kalian ikut. Aku cuma minta pinjam mobil."
Maya membuka mulut, menutupnya, dan berbalik masuk sambil berteriak. "Danuuu! Bangun! Siapkan mobil!"
Kijang kantor sawit itu melaju keluar kota ketika matahari baru memanjat atas atap-atap seng. Danu menyetir dengan kedua tangan di kemudi dan rahang terkunci, Maya duduk di sebelahnya mengunyah roti tanpa selera, Rani di kursi belakang dengan bantal kecil menopang pinggang dan kedua telapak di perut. Mereka melewati Kasongan, melewati hutan karet yang disusul ladang sawit yang berbaris rapat sampai ke ujung mata. Tidak ada yang bicara lebih dari seperlunya, sampai Maya menoleh ke belakang setelah satu jam dan berkata, tanpa basa-basi, "Kamu mau apa kalau ketemu dia?"
"Aku belum tahu."
"Kalau dia minta maaf lagi?"
"Aku akan dengar." Rani menatap jendela. "Tapi kali ini aku tidak akan menjawab apa-apa di tempat itu. Aku mau lihat dulu dia dalam keadaan apa."
"Kalau dia bohong lagi?"
"Aturannya sudah kulanggar sekali, May. Aku tidak mau melanggar dua kali dengan alasan yang sama." Ia berhenti. "Itu cuma untuk anak ini, bukan untuk dia."
Danu melirik spion, sebentar, lalu kembali ke jalan. Ia tidak berkomentar, dan Rani berterima kasih untuk itu.
"Mau berhenti, Ran?"
"Sebentar saja, May. Mual."
Mereka berhenti di warung kayu pinggir jalan. Rani muntah di semak, minum air, dan menatap hamparan sawit seperti lautan hijau tak berombak, sebuah dunia yang terlalu rapi untuk menampung satu laki-laki yang kini entah di mana.
*****
Hajjah sudah menunggu di gerbang rumahnya di Sampit, berdiri sendiri dengan kerudung gelap dan tas tangan terkepit, seperti orang yang sudah berdiri di sana sejak malam. Rumah besar bercat putih itu bersih dan sepi, anggun dalam cara yang sama seperti pemiliknya, dan Rani, yang baru kali ini melihatnya, tidak sanggup membayangkan seorang anak yang tumbuh dalam jarak lima ratus meter darinya merasa sebatang kara.
"Dia di rumah kebun, Nak." Suara Hajjah serak. "Paman lihat mobil sewaan. Ada lima atau enam orang. Dia tidak mau bukakan pintu." Matanya turun ke perut Rani. "Mama minta kamu menunggu di sini. Biar Mama dan paman..."
"Saya ikut, Ma."
"Rani."
"Saya yang ditinggalkan membawa uang. Saya yang berhak bertanya kenapa." Rani memegang tangan Hajjah dan merasakan jarinya dingin sekali. "Saya janji tidak akan mendekat kalau Mama bilang jangan."
Hajjah menutup mata, mengangguk, dan masuk ke kursi belakang tanpa bicara lagi.
*****
Jalan tanah ke rumah kebun itu berlubang dan becek bekas hujan. Setelah dua puluh menit, di antara barisan pohon sawit yang menjulang, muncul sebuah rumah kayu berkolong dengan atap seng berkarat dan jendela yang semuanya ditutup kain gelap. Di halaman, beberapa sepeda motor tergeletak miring. Seorang laki-laki tua, paman Rendi, berdiri dengan peci miring di dekat tangga, wajahnya cemas dan malu.
"Sudah dua jam saya ketuk, Hajjah. Mereka tidak jawab." Ia memilin pecinya. "Saya orang tua, tidak bisa dobrak. Dan dia itu keponakan saya..."
"Tidak apa-apa, Paman," kata Hajjah, dengan kelembutan yang menyakitkan. "Bukan salah Paman."
Bau menyergap Rani begitu ia melangkah ke teras. Bau plastik terbakar yang sudah ia kenal, tebal dan pekat sekarang, bercampur asap rokok dan keringat yang basi. Danu menahan lengannya.
"Biar aku dulu."
"Tidak, Mas." Rani melepaskan diri dengan lembut. "Dia suamiku."
Pintu tidak dikunci. Di dalam, ruang depan gelap dan sesak. Kain menutup jendela, satu bohlam kuning bergantung di langit-langit, dan di lantai berserakan kaleng, gelas plastik, kartu remi yang melengkung. Empat laki-laki bergeletakan di kasur lipat dan sandaran dinding, dua tidur, dua menatap langit-langit dengan mulut sedikit terbuka. Tidak seorang pun menoleh.
Di pojok teras belakang, seorang perempuan berblus krem duduk memeluk lutut, rambut sebahunya kusut, tas kulit hitam tergeletak di sebelah kakinya. Nur. Wajahnya sembab dan basah.
Ia menatap Rani, lalu Hajjah di belakangnya, lalu menunduk dan menangis lebih keras.
"Dia di dalam," bisik Nur. "Saya sudah suruh berhenti. Saya sudah bilang jangan. Dia nggak mau dengar." Matanya menatap tas kulit di kakinya. "Saya ke sini karena dengar dia nelepon temannya. Saya cuma mau lihat dia baik-baik saja."
Rani tidak punya kata untuk perempuan itu, jadi ia hanya menatapnya sejenak, lalu menatap pintu dalam.
Rendi duduk bersila di kasur paling ujung, bertelanjang dada, dengan kaus kusut di pangkuan. Rani nyaris tidak mengenalinya. Matanya merah dan besar, pupilnya menelan seluruh warna cokelat, dan senyum yang terpasang di bibirnya terlalu lebar dan terlalu lama.
"Ade." Ia terkekeh. "Ade datang! Wah. Lihat, teman-teman, istriku datang jemput."
"Pulang, Bang."
"Pulang?" Ia bangkit, sempoyongan, dan melangkah mendekat dengan pandangan yang tidak benar-benar mengarah. "Pulang ke mana? Ke kontrakan yang nggak ada isinya? Ke lantai dingin tempat aku disuruh tidur?"
"Rendi!" Suara Hajjah menyayat. "Rendi, berhenti!"
"Mama juga datang. Lengkap!" Rendi tertawa lagi, makin keras. Hajjah melangkah maju dengan tangan terulur seperti hendak merengkuh anak kecil, dan paman di ambang pintu menahan bahunya. "Jangan, Hajjah. Dia sedang tidak mengenali siapa pun." Rani melihat Hajjah mundur satu langkah, dan itu satu-satunya gerak Hajjah yang terlihat seperti kalah.
"Kalian semua datang... mau lihat anaknya Mama jadi apa. Oke. Lihat." Ia merentangkan kedua tangan. Lalu pandangannya jatuh kepada Rani, dan tawa itu lenyap, digantikan sesuatu yang dingin dan telanjang. "Kamu tahu apa, De? Kamu nggak pernah ada artinya."
"Bang..."
"Kamu cuma tantangan." Ia mendekat sampai napasnya yang pahit menyentuh wajah Rani. "Perawan Palangkaraya yang nggak mau pacaran, yang sok suci. Aku taruhan sama diri sendiri bisa dapat kamu atau nggak. Dan dapat. Gampang." Ia nyengir. "Aku nggak pernah cinta kamu. Nggak pernah. Nggak sehari pun."
Di belakangnya, Nur menjerit pelan dan menutup mulut. Maya berseru, "Hei, kamu..." dan Danu menarik lengannya.
"Anak itu juga," lanjut Rendi, tersenyum, menunjuk perut Rani dengan dagu. "Aku nggak pernah minta."
Rani tidak sempat mundur. Tangan itu terayun dengan seluruh berat badannya, telapak terbuka, dan menghantam pipi kirinya begitu keras sampai kepalanya terpelanting ke samping dan pandangannya berubah putih. Di suatu tempat jauh, Hajjah menjerit, panjang, nyaris tak seperti suara manusia.
Plak.
Rani terhuyung mundur dan menabrak kusen pintu. Hal pertama yang ia lakukan, sebelum menyentuh pipinya yang terbakar, sebelum bernapas, adalah menutup perutnya dengan kedua telapak tangan.