Sisa Ramadan berjalan pelan di rumah Maya, dan pada pagi Lebaran, tiga setengah pekan sesudah selimut kuning itu ditunjukkan kepadanya, Rani berdiri di depan pintu rumah masa kecilnya dengan kebaya hijau lumut yang dipinjamkan Maya dan perut yang membuat ia harus memiringkan badan di ambang. Takbir berkumandang dari masjid ujung gang sejak malam.
Di antara hari itu dan sekarang, semuanya kecil. Ayah Maya, lewat telepon pada malam kedelapan, hanya berkata, "Terserah kamu, May. Asal dia tidak membawa sawit ke rumah ini," lalu menutup telepon sebelum Maya sempat menjawab. Bagi Danu itu cukup untuk menetapkan akad awal Desember. Ibu Bagas dan Kak Laila pulang ke Banjarmasin di hari kesepuluh puasa, Bagas kembali ke Balikpapan, dan telepon Jumat sore tetap berbunyi. Rani berpuasa dua belas hari penuh, membatalkan sisanya atas perintah bidan, dan menggantinya dengan fidyah yang ia bayar sendiri.
Pintu rumah itu terbuka sebelum ia mengetuk.
"Kak Rani!" Iki menabrak perutnya dengan seluruh berat badan, dan Rani mundur satu langkah sambil tertawa. "Kak Rani datang! Ibu bilang Kak Rani nggak datang!"
"Siapa bilang?" Suara ibu Rani dari dalam, kaku. "Ibu nggak pernah bilang begitu."
"Ibu bilang 'tunggu aja, belum tentu'."
"Iki."
Anak itu terkikik dan lari ke dalam. Rani melangkah masuk. Ruang tamu itu tidak berubah: sofa cokelat dengan sarung bantal bunga-bunga, foto ayahnya di dinding dengan pigura kayu, toples kue kering berbaris di meja. Di kursi sudut duduk Adi, dengan baju koko biru dan rambut yang baru dipotong. Di sebelahnya, kakak tertua mereka, yang jarang pulang, duduk dengan tangan terlipat dan senyum yang canggung seperti orang yang takut salah masuk rumah.
"Ran." Adi berdiri dan menyalaminya. "Selamat Lebaran."
"Kak Adi. Kak."
"Mari." Kakak tertua mengangguk singkat.
Ibu Rani berdiri di tengah ruangan, menunggu. Ia memakai kebaya ungu tua dan kerudung rapi, dan ia tidak tersenyum. Rani menghampirinya, menarik napas, lalu membungkuk sebisa yang diizinkan perutnya. Ia meraih tangan itu, tangan yang keras dan dingin yang dulu menampung seluruh gajinya, dan mencium punggungnya.
"Bu. Mohon maaf lahir dan batin. Rani banyak salah."
Hening yang panjang. Dari belakang Rani, Iki berhenti berlari. Adi menahan napas.
"Kamu," kata ibu Rani, dan suaranya tertahan di tenggorokan. Tangannya tidak ditarik. "Kamu sudah makan?"
"Belum, Bu."
"Duduk. Makan."
Itu bukan maaf. Tetapi tangan yang masih terjulur itu bergeser pelan, dan telapaknya, hanya selama sedetik, singgah di perut Rani. Mengelus sekali. Lalu ditarik cepat, seakan menyentuh api.
Rani tidak berkata apa pun. Ia hanya tersenyum, dan duduk.
*****
Mobil hitam itu muncul pukul dua siang, ketika sebagian besar tetangga sudah selesai bersilaturahmi dan sedang berbaring kekenyangan.
Rani yang meminta mereka datang. Telepon Jumat lalu, ia sendiri yang bilang kepada Ibu Bagas, bahwa kalau Ibu berkenan, ia ingin memperkenalkan Ibu secara resmi kepada ibunya. "Secara resmi" yang ia maksudkan hanya satu kunjungan Lebaran, tanpa maksud apa pun, tetapi saat ia membuka pintu dan melihat Ibu Bagas turun dari mobil, tangannya sudah terasa dingin.
Kak Laila mengeluarkan kursi roda dari bagasi dan membukanya di dekat pintu penumpang. Ibu Bagas menggeleng.
"Tinggal di mobil, Laila."
"Bu, jalannya ada kerikil."
"Tinggal."
Ibu Bagas meraih walker, menaruh kedua kakinya di tanah, dan berdiri. Tok. Langkah pertama. Tok. Langkah kedua. Dari halaman sampai undakan teras ada sekitar lima belas meter yang diselimuti kerikil dan akar pohon mangga, dan Ibu Bagas menempuhnya langkah demi langkah dengan dagu terangkat dan rahang yang mengeras. Bagas di sisinya tidak memegang, tidak membantu. Hanya berjalan sejajar, tangannya terbuka di samping badan, siap kalau diperlukan.
Di ambang pintu, ibu Rani berdiri membeku.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Ibu Bagas sambil terengah, bibirnya tersenyum. "Mohon maaf lahir batin. Kami datang bawa kue dan sedikit rezeki."
"Waalaikum salam." Ibu Rani menatap walker itu, kaki yang berdiri sendiri, kursi roda yang masih terlipat di bagasi mobil. Mulutnya terbuka sedikit. "Ibu... jalan?"
"Alhamdulillah, Bu." Ibu Bagas tertawa kecil. "Dokter bilang paling cepat tahun depan, tapi Ibu tidak mau menunggu. Silakan, kita duduk dulu. Kaki Ibu masih belajar."
Mereka duduk di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sempit. Iki langsung mendekati Bagas dengan mata berbinar dan bertanya soal bola, dan Bagas, yang rupanya sudah menyiapkan, mengeluarkan bola plastik kecil dari tas. Anak itu berteriak girang dan berlari ke halaman bersama Adi.
Ibu Rani duduk kaku di seberang Bagas. Ia memandangnya cukup lama, seperti menaksir barang di toko.
"Kamu kerja apa?"
"Pengawas proyek menara dan jaringan listrik, Bu. Untuk perusahaan telekomunikasi."
"Gajinya?"
"Cukup, Bu. Saya tidak akan menyebut angka, tetapi cukup untuk tidak minta tolong siapa-siapa."
"Rumah?"
"Rumah Ibu saya di Banjarmasin. Saya anak laki-laki satu-satunya, tinggal bersama beliau."
"Dan sesudah menikah?" Ibu Rani tidak berkedip. "Anak saya mau kamu bawa ke mana?"
"Bu, kami belum..." Rani menyela.
"Biar dia jawab."
Bagas menarik napas. "Saya belum melamar siapa pun, Bu, dan tidak akan, sampai Rani sendiri mengizinkan saya bertanya. Tetapi kalau ditanya sekarang, saya tidak akan membawa Rani menjauh dari ibunya dan adiknya. Rani anak yang menjaga keluarganya, Bu, dan saya tidak mau jadi alasan ia berhenti. Perusahaan saya punya cabang di sini. Saya akan bicara dengan atasan saya. Belum tentu bisa, tetapi saya akan meminta."
"Dan bayinya?" Suara ibu Rani nyaris tak terdengar. "Bayi itu bukan anakmu."
"Bukan, Bu. Saya tahu."
"Kamu mau terima bayi orang lain?"
"Bu," Adi muncul di ambang, Iki bergelantungan di lengannya, "dia yang menyetir semalaman ke Sampit waktu Rani di rumah sakit. Aku dengar sendiri dari Maya."
"Kamu diam, Di."
"Aku nggak mau diam." Adi berdiri tegak. "Aku sudah diam terlalu lama, Bu."
Ibu Rani menutup mulut. Kak Laila di sofa menunduk menyembunyikan senyum, sementara Ibu Bagas hanya menyesap teh, tenang, seperti orang yang menunggu hujan berhenti.
Kakak tertua, yang sejak tadi diam, akhirnya berdeham. "Orang tuamu, Nak Bagas?"
"Yang Bapak lihat hari ini, Pak. Ibu saya dan kakak perempuan saya."
"Mhm." Kakak tertua mengangguk, lalu menatap adiknya Rani sebentar, dan tidak bertanya lagi. Dalam diam itu Rani mengerti satu hal: kakak yang jarang pulang itu sedang menghitung, bukan menolak.
*****
Mobil hitam itu pamit menjelang magrib. Sebelum berdiri, Ibu Bagas menggenggam tangan ibu Rani dengan dua tangannya. "Terima kasih sudah menerima kami, Bu."
"Saya belum menerima apa-apa," jawab ibu Rani, lurus.
"Itu sudah lebih dari cukup untuk hari ini."
Rani mengantar sampai teras, memandang Ibu Bagas masuk ke kursi penumpang dengan bantuan Kak Laila, sementara Bagas menutup pintu dan, sebelum masuk ke balik kemudi, menatap Rani sebentar dan menundukkan kepala, hormat yang sederhana. Hanya itu. Mobilnya berbelok di tikungan dan lenyap.
Rani berbalik hendak masuk, dan sebuah tangan menahan lengan bajunya.
Ibu Rani berdiri di ambang, di bawah lampu teras yang baru dinyalakan. Wajahnya sulit dibaca. Rahangnya mengatup, lalu rileks, lalu mengatup lagi.
"Ran."
"Ya, Bu?"
"Kamis ibu mau bicara." Jari-jarinya meremas kain lengan baju itu sedetik lebih lama dari yang perlu. "Datang sendiri."