Rani datang sendiri, seperti yang diminta, dan ia datang tepat sehabis magrib.
Pintu rumah itu sudah terbuka separuh. Lampu ruang tamu menyala, sofa cokelat kosong, dan dari dapur terdengar suara wajan beradu dengan sendok kayu. Rani berdiri sebentar di ambang sambil menahan perutnya yang terasa makin berat tiap hari, lalu mengucap salam.
"Masuk saja, Ran. Ibu di dapur."
Meja makan kecil di dapur itu sudah penuh. Ada sayur asam, ikan patin goreng, sambal terasi, dan sepiring tempe yang digoreng sampai kering, kesukaan Rani sejak SD. Ibu Rani berdiri membelakangi pintu, mengaduk sesuatu yang sebenarnya sudah matang.
"Iki mana, Bu?"
"Ibu suruh tidur di kamar kakakmu. Biar kita bisa bicara." Ibu Rani mematikan kompor, menaruh wajan, dan baru berbalik. Di bawah lampu dapur wajahnya tampak lebih tua daripada yang Rani ingat. "Duduk. Makan dulu. Orang hamil jangan bicara berat-berat dengan perut kosong."
Mereka makan nyaris tanpa suara. Ibu Rani menyendokkan ikan ke piring Rani tanpa bertanya, dua kali, tiga kali, dan Rani tidak menolak. Hanya dentingan sendok dan kipas angin tua di sudut yang berderit tiap kali berputar.
Piring Rani sudah bersih ketika ibu Rani akhirnya bicara.
"Dulu waktu bapakmu meninggal," katanya, matanya menatap taplak, "ibu bilang kamu penyebabnya. Kamu ingat?"
"Ingat, Bu."
"Ibu bilang kalau kamu nggak ngajak bapakmu berangkat pagi-pagi, dia nggak akan kecelakaan." Jari ibu Rani menggaris pola bunga di taplak, bolak-balik. "Padahal bapakmu sendiri yang mau antar kamu tiap hari. Ibu tahu dari dulu."
Rani meletakkan sendoknya pelan-pelan.
"Terus kenapa Ibu bilang begitu?"
"Karena kalau bukan kamu, berarti ibu yang salah. Ibu yang bilang 'ya sudah, sana berangkat' hari itu, padahal bapakmu belum habis kopinya." Suaranya bergetar sedikit dan ia berdeham untuk menutupinya. "Lebih gampang membenci anak daripada membenci diri sendiri, Ran. Ibu pilih yang gampang. Hampir empat tahun."
"Bu..."
"Dengar dulu. Ibu belum selesai." Ia mengangkat wajah. "Ibu nggak benci kamu. Ibu benci harinya. Hari Jumat itu. Tiap kali lihat kamu, ibu lihat harinya, karena mata kamu mirip bapakmu. Dan gaji kamu..." Ia menelan sesuatu. "Ibu perlakukan kamu seperti bank. Tiap tanggal muda ibu tunggu, dan nggak pernah sekali pun tanya apa kamu masih punya uang buat makan siang. Waktu kamu hamil dan lagi susah, yang ibu pikir pertama kali, 'siapa yang kasih ibu uang sekarang'. Ibu malu sama diri ibu sendiri."
Dapur itu sunyi. Kipas berderit. Dari kamar jauh terdengar Iki mengigau pelan.
Rani tidak langsung menjawab, karena ia tidak tahu apa yang akan keluar kalau ia membuka mulut. Ia menarik napas dan mengatakan hal yang paling praktis lebih dulu, hal yang bisa ia pegang.
"Bu, aku mau bilang sesuatu. Dan Ibu jangan marah."
"Bilang."
"Sebagian uangku sekarang aku tabung. Buat bayi. Buat bidan, buat beli perlengkapan, buat jaga-jaga." Rani menatap ibunya lurus. "Aku masih mau bantu Ibu dan Iki. Tapi nggak seperti dulu. Nggak semuanya."
Ibu Rani lama menatapnya. Rahang itu mengatup, lalu mengendur. Rani sudah siap mendengar kalimat yang dulu selalu keluar, kalimat tentang anak durhaka dan balas budi, tetapi kalimat itu tidak datang.
Ibu Rani mengangguk. Sekali, pelan.
"Itu benar," katanya. "Itu bayimu."
*****
Rani tidur di kamar lamanya, di kasur sempit dengan seprai yang berbau matahari. Ia terbangun karena azan subuh dan mendapati selimut tebal yang tidak ia bawa sudah menutupi kakinya. Ibu Rani sudah di dapur lagi, kali ini merebus air.
"Kak Rani nginap!" Iki muncul di pintu kamar dengan rambut berdiri ke segala arah, memeluk guling. "Kok nggak bangunin Iki?"
"Kakak datang malam, Dik. Kamu sudah ngorok."
"Iki nggak ngorok." Anak itu mendekat, menempelkan telinga ke perut Rani tanpa permisi, dan menunggu dengan serius. "Adik bayi belum bangun?"
"Sudah, tapi dia lagi diam."
"Nanti kalau lahir, Iki boleh gendong?"
"Boleh, kalau Iki duduk dulu."
"Iki udah gede, Kak." Ia duduk dengan angkuh di lantai, kaki bersila. "Iki jadi om."
Dari dapur, ibu Rani berseru, "Iki, cuci muka! Jangan ganggu kakakmu!" Tetapi suaranya tidak setajam biasanya, dan di meja sudah ada dua piring nasi goreng, satu dengan telur mata sapi yang kuningnya masih utuh, persis seperti yang dulu Rani buat untuk adik-adiknya.
Pukul tujuh, terdengar ketukan di pintu depan.
Hajjah Salmah berdiri di teras dengan kerudung abu-abu dan tas kain, wajahnya pucat seperti orang yang tidak tidur semalaman. Ia datang naik travel dari Sampit sejak dini hari dan belum sempat makan.
"Nak." Hajjah menahan diri untuk tidak meraih tangan Rani. "Maaf Mama datang pagi-pagi. Tadi Mama ke rumah Maya, katanya kamu di sini."
"Silakan masuk, Bu Hajjah."
Ibu Rani keluar dari dapur sambil mengelap tangan. Dua perempuan itu berhadapan sebentar di ruang tamu, yang satu pernah menghina menantunya dan yang satu pernah menolak membayar utang anaknya. Ibu Rani menunjuk kursi dengan dagunya.
"Silakan duduk, Bu. Saya buatkan teh." Lalu ia menghilang ke dapur dan tidak keluar lagi, tetapi suara air mendidih terdengar lebih keras daripada seharusnya.
Hajjah duduk di tepi sofa, tas di pangkuan.
"Kamu sehat, Nak? Bayinya?"
"Sehat, Bu Hajjah. Dua bulan lagi lebih sedikit, kata bidan."
"Alhamdulillah." Hajjah menarik napas, seolah itu satu-satunya kabar yang ia perlukan. Lalu ia menegakkan tubuh. "Mama datang bukan hanya mau lihat kamu. Ada dua hal."
"Putusannya keluar kemarin, Nak. Untuk Rendi." Ia berbicara cepat, seperti ingin segera selesai. "Lima bulan sepuluh hari. Dihitung dari hari dia ditahan, tanggal dua Juli. Jadi dia bebas hari Rabu, tanggal dua belas Desember."
Dua belas Desember. Rani menghitung di kepalanya, otomatis, seperti menghitung stok di toko. Sesudah Alya lahir, kalau semua lancar. Sebelum tahun berganti.
"Saya dengar, Bu Hajjah."
"Dia tidak dituntut sebagai pengedar. Mama bersyukur untuk itu. Kemarin Mama jenguk, dia kurus sekali. Dia tanya kabar kamu sebelum tanya kabar Mama." Hajjah membuka tasnya dan mengeluarkan amplop putih yang dilipat dua, tepinya sudah lusuh karena dipegang terlalu lama. "Ini dari dia. Yang kedua. Mama sudah tolak, Nak. Dia mohon lewat petugas, dia bilang dia nggak minta kamu balas, nggak minta kamu baca sekarang. Dia cuma minta Mama taruh di tangan kamu."
Rani menerimanya. Kertas itu hangat dari tas Hajjah, dan tulisan di depan, Untuk Rani, masih tulisan tangan yang sama, tulisan yang dulu membuat Rani menyimpan SMS-SMS manis di ponselnya sampai penuh.
Sekarang yang ia rasakan cuma berat.
Rani menimbang amplop itu di telapak tangan. Surat yang pertama sudah ia baca sekali, di sahur pertama itu, dan kalimat-kalimatnya masih datang tanpa diundang. Yang ini belum perlu.
"Mama tidak minta kamu membacanya." Hajjah menyeka sudut mata dengan ujung kerudung. "Tapi boleh Mama bilang satu hal? Di bagian atas, dia menulis bahwa dia baru sadar dia mencintai kamu. Dia menulis begitu, Nak. Mama sendiri yang membaca, karena petugas minta diperiksa. Mama nggak berani mengulang kalimatnya."
Ruang tamu hening. Dari dapur, suara air berhenti.
"Bu Hajjah." Rani melipat amplop itu dan menaruhnya di pangkuan, di atas perutnya, seperti menaruh sesuatu di atas meja yang sudah penuh. "Bayi ini akan tahu siapa ayahnya. Saya tidak akan menyembunyikannya. Tapi Rendi harus membuktikannya dengan waktu, bukan dengan surat."
"Mama mengerti."
"Saya tidak sedang menghukum. Saya sedang menunggu."
Hajjah mengangguk, berkali-kali, dan bibirnya bergetar tetapi ia tidak menangis. Ibu Rani keluar membawa nampan dengan dua gelas teh, menaruhnya di meja tanpa berkata apa pun, dan sempat melirik amplop di pangkuan Rani.
"Surat dari dia lagi?" tanyanya pelan, setelah Hajjah pamit dan mobil travel itu menjauh.
"Iya, Bu."
"Mau dibakar? Kompor ibu masih nyala."
Rani menatap amplop itu lama, lalu memasukkannya ke tas, di antara buku biru tes urin dan Quran kecil.
"Belum, Bu."