Saraa melajukan mobilnya menuju sebuah club malam di mana dia sering ke sana saat berada di Jakarta. Sejak tahu jika pria yang dia cinta telah tiada karena ulah orang tuanya sendiri, Saraa langsung meninggalkan rumah tanpa permisi. Bahkan, dia tak segan membanting sebuah botol di depan orang tuanya yang justru menatapnya tak perduli.
"Kenapa kau harus mati di tangan orang tuaku? Kenapa jadi begini, sih!?" gumam Saraa kesal sambil memukul kemudi berulang kali dan menghapus matanya yang berkabut karena patah hati tak kunjung sembuh dan kian sesak tatkala rasa cintanya yang tak berbalas semakin mengenaskan karena berakhir sia-sia.
"Kalau kutahu jadi begini, tak akan kupinta bantuan pada Papa untuk mendapatkanmu. Ini salahku yang sudah melibatkan Papa dan lupa kalau dia pembunuh berdarah dingin. Aku benar-benar sial sudah dikhianati oleh orang tua sendiri!" cicit Saraa yang terus merutuki kesalahan karena sudah melibatkan Mateo dalam urusan cintanya.
Memecah keheningan dalam mobil, terdengar bunyi handphone yang terus berdering dan diabaikan olehnya. Terlebih dia tahu siapa yang melakukan panggilan itu kalau bukan dari Nora yang menyebalkan dan terlibat dalam rencana pembunuhan pria yang dia cintai dan incarannya sejak lama.
"Orang tua jahat. Bisa-bisanya bunuh pria yang dicintai anaknya. Sial aku miliki kedua orang tua seperti mereka. Padahal dia pria terkaya di negeri ini dan aku tak akan kekurangan jika menjadi istrinya. Ini benar-benar sial!" oceh Saraa dan mengabaikan panggilan yang terus berulang-ulang dan justru mematikannya, lalu melempar ke kursi penumpang layaknya benda tak berharga.
Dia terus mengemudi dan membelah jalan yang masih terpantau ramai lancar, meskipun sudah larut malam. Setengah jam kemudian, sampailah Saraa di sebuah club bernama FunFun Club yang merupakan milik Kakaknya. Langkahnya cepat menuju pintu masuk dan melewati dua orang penjaga yang sudah mengenalnya.
"Apa Horan datang ke sini?" tanya Saraa pada salah satu dari mereka.
"Iya, Non. Tuan Horan ada di dalam sejak dua jam yang lalu," jawab pria tinggi besar tersebut.
Tanpa basa-basi, Saraa langsung masuk dan menuju di mana biasanya Horan duduk. Mata Saraa menatap tajam suasana club yang nampak ramai dengan para pengunjung tengah menikmati alunan musik di antara kepulan asap.
"Saraa!" panggil seorang wanita dengan pakaian amat seksi dan menunjukkan belahan d**a yang membuat para hidung belang menelan ludah berulang kali.
"Hai, Nov. Apa kaulihat Horan?" tanya Saraa langsung setibanya Nova di depan dia.
"Tentu saja ada. Dia lagi di kamar cobain barang baru!" jawab Nova enteng sambil tersenyum.
"Sial. Aku lagi kesal, tapi dia malah asik buang benih!" gerutu Saraa dengan mata menatap sinis arah lorong menuju kamar yang biasa digunakan para pengunjung untuk menuntaskan kesenangan dunia.
"Ayo duduk dulu! Paling sebentar lagi keluar!" ujar Nova mendinginkan hati Saraa yang nampak kesal.
"Keluar yang bawah maksudmu?" celetuk Saraa tajam dan dibalas tawa geli oleh Nova.
"Hahaha ... kira-kira begitu karena dia sudah cukup lama di dalam!" sahut Nova sengaja dan kian membuat Saraa menekuk wajahnya yang amat kesal kini.
"Kudoakan lecet-lecet dia supaya bisa berhenti dari kebiasaan buruknya!" timpal Saraa dan kian membuat Nova mesam-mesem sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita duduk!" ajak Nova yang langsung menarik tangan Saraa.
Tak ada pilihan, Saraa mengikuti ajakan Nova menuju tempat yang tadi digunakan oleh Horan sebelum masuk kamar. Terlihat jajaran botol beer kosong ada di meja. Bahkan, tergeletak dua bungkus a**************i serta rokok di sampingnya. Melihat pemandangan itu, Saraa tersenyum kecut dan tak menduga jika Horan masih gemar melakukan freesex pada sembarang wanita.
"Dasar pria jorok!" decih Saraa muak melihat barang-barang milik Horan di meja. Nova yang tahu Saraa datang dengan suasana hati tak baik memberikan sebotol beer dan duduk di sebelahnya, lalu memperhatikan wajah Saraa dari jarak dekat.
"Jangan marah lagi, Ra. Nanti cantikmu bisa luntur dan cepat tua kalau marah-marah terus!" kata Nova mencoba menghibur hati Saraa sambil menggeser barang milik Horan bersama dompet yang turut serta dia tinggalkan. Dia melirik tajam pada Nova yang teramat santai menatapnya, lalu tersenyum kecut, dan meneguk beer di tangannya.
"Aku benci dengan keluargaku, Nov!" kata Saraa menatap ke depan dan bukannya pada Nova yang ada di sampingnya. Sontak kening Nova berkerut karena tak mengerti maksud ucapannya.
"Eh, kok begitu, Ra? Mana ada bicara begitu pada keluarga. Sebenarnya ada apa? Coba ceritakan dari awal apa masalahmu datang dalam keadaan emosi begini!" jawab Nova yang bingung akan ucapan Saraa barusan. Saraa menoleh pada Nova yang sejak tadi menatapnya. Dia membalas jeli kedua mata Nova yang meminta penjelasan akan ucapan dia barusan yang berupa sindiran.
"Aish, aku tak mungkin cerita pada Nova kalau Marco dibunuh orang tuaku. Kalau dia bicara pada orang lain bisa gawat," cicit hati Saraa yang masih bisa mengontrol emosi dan tetap tak ingin orang tuanya celaka.
"Aku sedang kalut, Nov. Bukankah kautahu kalau aku cinta pada Marco, tapi dia justru menikah dengan wanita lain. Puncaknya, aku pun tak tahu kalau Marco sudah meninggal!" kata Saraa akhirnya menemukan alasan lebih masuk akal dengan mata menatap sendu pada Nova yang menyiratkan kesedihan amat dalam.
Nova bergeming. Tentu dia sudah tahu tentang kabar pernikahan Marco serta kematiannya yang begitu tragis. Dia menarik nafas dan mengangkat tangan kiri, lalu mendaratkannya di bahu Saraa seraya mengelus.
"Aku mendengar kabar itu juga. Aku pun kaget dan tak percaya kalau Marco meninggal dengan cara seperti itu. Dia mengalami kecelakaan tragis dan meninggalkan seorang istri yang kini terpaksa menyandang status janda. Masih muda lagi!" terang Nova yang tahu sedikit tentang istri Marco dari beberapa rekan karena turut hadir saat resepsi mereka. Saraa menatap Nova dengan alis terangkat sebelah. Dia tak menyangka jika sahabatnya bisa tahu tentang hal itu daripada dirinya karena Nova tak kenal baik dengan Marco dan hanya mendengar sekilas saja.
"Kenapa kau tak bilang padaku kalau Marco akan menikah, terlebih lagi kasih kabar kalau dia sudah meninggal, huh?" oceh Saraa tak habis pikir jika dia seorang yang telat mengetahui hal itu.
"Kupikir kau sudah menyerah ingin dapatkan Marco karena tak ada kabar sama sekali hingga membiarkan dia menikahi gadis biasa itu. Yaaa … meskipun nasib sial justru didapat gadis malang tersebut. Aku malah bersyukur kau tak menikah dengan Marco. Bisa jadi janda kau, Ra!" tutur Nova pada Saraa yang melotot dan sadar jika Nova hanya tahu sedikit saja.
"Janda?" gumam Saraa pelan dan bingung.
"Iyalah. Gadis itu sudah jadi janda muda sekarang. Janda kayanya si Marco. Menang banyak juga dia dapat warisan bejibun. Janda muda yang kaya raya dan tak habis tujuh turunan. Kalau kau yang menikah dengan Marco, maka kau jadi janda, Ra!" oceh Nova tersenyum dan meraih botol beer serta menenggaknya seperti pria, lalu menggoyang botol itu sambil tersenyum. Saraa terdiam. Dia mencerna semua ucapan Nova. Tiba-tiba senyum sinis terukir di ujung bibirnya dan menatap pada Nova yang tengah bersandar.
"Kenapa melihatku seperti itu? Macam kupunya hutang saja!" kata Nova asal dan membuat Saraa tersenyum pertama kali sejak kedatangannya sambil membawa wajah suram beberapa saat lalu dan berganti cerah kini.
"Sepertinya aku punya rencana jitu, Nov. Mau ikutan gak?" cicit Saraa tersenyum licik seperti biasa pertanda sifat aslinya telah kembali. Nova bangun dari duduk malasnya dan meneguk kembali minuman hingga habis. Dia duduk tegak sambil menatap raut wajah Saraa yang tak marah lagi dan justru terlihat bahagia.
"Rencana apa, sih?" tanya Nova dengan sikap malas-malasan.
"Porotin jandanya Marco, yuk!"