Sedangkan di sebuah rumah bergaya tempo dulu serta dengan penjagaan ketat, seorang pria dengan tubuh tegap dan rupawan sedang duduk di sebuah kursi yang dia goyangkan pelan. Di depannya, sebuah meja kayu besar persegi panjang dengan sebuah layar komputer tengah menyala. Di layar komputer itu terpampang foto seorang gadis cantik dengan dress berwarna pink berlengan pendek sedang memegang bunga dengan senyum mengembang. Dia menatap tak berkedip foto itu dengan mata berbinar dan penuh puja.
"Kau gadis satu-satunya yang kucintai dan kau adalah milikku." Pria itu tersenyum lembut sambil mengelus layar besar di hadapannya. Bahkan, dia tak segan mendaratkan ciuman di sana karena luapan rasa sayang dan cinta di hati. Di saat dia sedang sibuk dengan kegiatan yang pasti dianggap tak wajar bagi orang yang melihatnya. Tiba-tiba seseorang membuka pintu dan mengalihkan perhatian. Matanya menatap tajam pada siapa yang mengganggu kesenangannya.
"Bos, pemakamannya sudah beres. Polisi tak curiga dan menyatakan kalau sebab kematian adalah murni kecelakaan tunggal," ucap pria yang baru masuk ke ruangan itu dan berdiri di depan meja besar. Tampaklah deretan gigi putih nan rapi begitu jelas dilihat pria yang sedang berdiri dan tak melanjutkan ucapan.
"Bagus. Bagaimana dengannya?" tanya pria itu setelah diam sejenak.
"Dia mendadak bungkam, Bos. Dia tak menunjukkan raut sedih dan justru memasang wajah datar. Beberapa anggota keluarga justru aneh melihat reaksinya serta menganggap dia gila," jawab pria itu lagi karena sudah mendapatkan informasi itu dari sumber terpercaya.
"Gadis yang malang," serunya dengan kepala mengangguk pelan karena mengerti dan maklum akan musibah yang menimpa.
"Ya sudah. Kau boleh pergi dan jalankan rencana yang sudah kuatur. Mengerti?" katanya lagi dan langsung diangguki sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Pria itu menatap kepergian anak buahnya dan ketika pintu ditutup, matanya kembali menatap layar di mana foto gadis itu masih terpampang. Tangannya mengelus layar dengan bibir yang tersenyum seperti sedang kasmaran.
"Bersabarlah. Aku yakin kalau kaubisa melewati semuanya. Kau gadis terkuat yang kukenal dan akan kupastikan kau tetap jadi milikku!"
Seminggu sudah berlalu. Elle pun sudah diboyong oleh Edward untuk tinggal bersamanya di Bogor. Keadaan Elle terlihat biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan, dia tak pernah menyebut nama pria yang sudah dia nikahi dan telah meninggal. Dia seolah menjadi sosok yang lupa ingatan, terutama tentang suaminya, meskipun cincin kawin masih melingkar di jari manis dan tak pernah dilepaskan. Dokter yang sudah memeriksa kondisi Elle dan menyatakan bahwa secara fisik, dia baik-baik saja dan menunjukan perilaku normal, tapi kejiwaannya tentu tidak baik karena mendadak tak kenal dengan sosok Marco. Dia seperti menekan rasa sakit dan sedihnya hingga alam sadarnya tak berfungsi dengan baik, lalu melupakan hal yang menyedihkan dalam hidupnya. Namun, hal itu tentu lebih baik bagi Edward, asalkan Elle bisa menjalani hidupnya dengan normal, meskipun harus melupakan masa lalunya saat bersama Marco yang telah tiada.
"Dek, Kak Ed mana?" tanya Emina pada Elle yang sedang melipat pakaian dan baru dia angkat dari jemuran.
"Tadi ada di depan sedang cek mesin mobil, Kak. Memang ada apa?" jawab Elle cepat tanpa menghentikan kegiatannya. Emina menoleh ke arah pintu sejenak dan kembali menatap Elle dan duduk berseberangan dengannya.
"Kakak mau ke supermarket. Kau mau ikut gak?" tanya Emina sekiranya Elle ingin ikut sekedar cuci mata atau ada yang ingin dibeli.
"Ikut, Kak. Aku mau beli pakaian dalam. Kayaknya aku sedang stress berat, deh! Jadi harus beli bra baru supaya pikiranku sedikit lebih tenang!" ujar Elle enteng sambil memamerkan gigi putihnya.
Emina tertegun. Dalam hati dia yakin, jika Elle memang stres dan lebih tepatnya depresi. Elle memang sedikit aneh karena akan membeli bra jika sedang mengalami stress dan itu menyadarkan Emina bahwa dia memang dalam keadaan tak baik dan mulai menyadarinya.
"Ya sudah kalau begitu. Kita bawa motor saja, ya?" ujar Emina menimpali dan diangguki Elle. Emina bangun dari duduknya dan meninggalkan Elle untuk menuju ke garasi mobil di mana Edward sedang sibuk mengecek mobil. Dia bukanlah montir, tapi sedikit mengerti tentang mesin.
"Sayang, aku akan ke supermarket bersama Elle. Mau pesan apa?" ucap Emina pada Edward.
"Hah? Elle mau ikut?" jawab Edward cepat tak percaya karena sejak Marco tiada, Elle tak mau keluar rumah dan hanya diam di kamar. Bahkan, bicara dengan tetangga pun tak mau.
"Iya. Dia bilang ingin beli pakaian dalam karena sedang stress. Sepertinya Elle sudah membaik sekarang!" ucap Emina berharap demikian yang ditatap saksama oleh Edward.
"Baguslah kalau begitu. Memang itu yang kita harapkan. Ya sudah, ajak saja Elle agar pikirannya lebih segar melihat suasana luar," timpal Edward yang diangguki Emina.
Maka, dia bergegas masuk ke rumah dan Edward memanaskan mesin motor yang akan digunakan olehnya karena jarak supermarket tak begitu jauh. Tak berapa lama, muncullah dua wanita yang dicintai Edward di mana wajah Elle tampak berseri tak seperti biasanya. Dia melepaskan kepergian mereka dengan harapan bahwa Elle akan segera bangkit dari keterpurukannya kehilangan Marco.
Sesampainya di supermarket yang dituju, mereka bergegas turun dari motor dan jalan beriringan sambil berbincang masuk ke dalam supermarket yang terlihat cukup ramai. Jarak dari rumah ke supermarket hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit menggunakan motor. Berkeliling sekitar 30 menit, Emina menyudahi kegiatannya karena barang yang dicari sudah didapatkan semua. Termasuk dengan Elle yang sudah mendapatkan pakaian dalam kesukaannya. Emina tentu tidak merasa aneh dengan kebiasaan Elle tersebut yang memang selalu membeli pakaian dalam ketika mengalami stress atau banyak pikiran. Apalagi saat ini tentu dia sangat maklum karena tahu jika dia baru saja mengalami keterpurukan yang tak pernah dibayangkan oleh mereka karena baru saja ditinggal oleh Marco untuk selamanya. Status Elle yang telah menyandang sebutan janda muda tentu membuat sedih, tapi hidup terus berjalan dan dia akan menemukan kebahagiaanya kelak.
"Sudah dapat belum yang dicari?" tanya Emina menghampiri Elle yang sedang memegang satu set pakaian dalam wanita berwarna pink.
"Ini yang terakhir, Kak. Modelnya lucu!" seru Elle menatap bahagia satu set pakaian dalam yang berada di tangannya. Tak ragu dia langsung memasukkannya ke dalam keranjang, lalu menggandeng tangan Emina untuk menuju ke kasir yang hanya menggeleng melihat kelakuannya.
Di sudut lain tak jauh dari mereka yang sedang antre, seorang pria menatap ke arah mereka karena mengenali bahwa yang dilihatnya adalah Elle. Matanya memicing dan meyakinkan hati bahwa yang dia lihat tak salah.
"Bukankah itu yang namanya Elle, ya? Siapa yang bersamanya dan kenapa ada di sini?" gumam Horan mengenali sosok Elle karena sudah melihat foto yang pernah ditunjukkan oleh kedua orang tuanya beberapa waktu lalu.
"Ternyata jandanya Marco cantik banget. Imut lagi! Aku jadi nafsu kalau begini ingin mengajaknya ke ranjang," gumam Horan dengan senyum m***m terus terukir bersama mata yang terus menatap arah di mana Elle berdiri. Ya, Horan lupa dengan kegiatannya yang sedang memilih parfume dan berdiri dengan posisi layaknya penguntit agar tak dilihat oleh Elle. Namun, ada beberapa pengunjung yang menatap aneh padanya karena bersembunyi di balik tumpukan rak parfume sambil mengoceh tak jelas.
"Astagaaaa ... kenapa celanaku jadi sesak begini hanya karena melihat seorang janda."