Apa yang diperbuat Horan terus berlanjut seolah memata-matai Sella agar tak luput dari pengawasannya. Tatapan para pengunjung yang hilir mudik tak digubris sedikitpun dan justru melayangkan tatapan nyolot sehingga mereka hanya bisa berbisik dan berlalu. Namun, kegiatannya yang berlangsung cukup lama harus terhenti saat terdengar suara lain menyapa telinga.
"Kau sedang melihat apa, Sayang?"
Tiba-tiba tubuh Horan menegang ketika mendengar sebuah suara di belakangnya dengan tangan yang menepuk punggung lebarnya dan seketika sadar jika dia datang ke supermarket tersebut bersama teman wanita bernama Mina Ataman.
"Oh, aku hanya melihat ada seseorang yang kurasa kenal dan sepertinya salah, hehehe ...," jawab Horan apa adanya demi mencari alasan sambil berpura-pura sibuk dengan jajaran parfume di etalase seakan mengalihkan pandangan Mina. Namun, Mina menoleh ke kiri dan ke kanan, kemudian menatap Horan yang masih menatap ke arah di mana tadi Elle berada, meski sekilas disusul pertanyaan lain terdengar.
"Siapa? Apakah aku juga kenal dengannya?" tanya Mina penasaran dan sempat menatap ke kasir di mana Elle sudah tak ada. Tentunya kondisi itu amat melegakan hati Horan karena Mina tak sempat melihat Elle.
"Sudah hilang dan tadi dia ada di kasir. Mungkin dia sudah selesai dan pergi!" jawab Horan enteng dan seketika membuat wajah Mina tertekuk di mana rasa ingin tahu mengisi hati. Bahkan, dia menatap curiga pada Horan dan berprasangka lain semisal ada wanita lain yang pernah berhubungan dengannya. Ya, Mina juga tahu kalau saat ini dia sedang menjalin kasih dengan seorang pria kaya dan dikenal playboy. Namun, uang membuatnya tetap bertahan karena Horan dikenal tak pelit untuk mengeluarkan uang dan memberi barang-barang mewah untuk kekasihnya. Dengan kata lain, Mina memang menginginkan sesuatu dari Horan di mana dia berhasil menyingkirkan deretan wanita yang bersedia buka kaki untuknya demi uang.
"Sudahlah tidak penting. Ayo kita ke kasir! Kebetulan perutku sudah sangat lapar," ajak Horan pada Mina.
"Hah, lapar lagi? Bukankah kita baru saja makan? Masa sudah lapar lagi!" kata Mina kebingungan. Horan langsung menoleh ke arahnya karena Mina masih berdiri di tempat dengan wajah bodohnya.
"Perutku memang kenyang, tapi burungku belum kenyang dan dia ingin segera memakanmu. Ayo cepat!" ujar Horan mengumbar mulut genitnya dan membuat Mina merona karena paham dengan kode keras yang diutarakan Horan.
Dengan sumringah, Mina berjalan dan menggandeng lengan kokoh Horan menuju kasir dan tanpa menunggu lama, mereka pun selesai. Layaknya pasangan kekasih, mereka berjalan dengan mesra dan membuat siapapun iri atas kemesraan yang mereka tampilkan di muka umum. Horan dan Mina langsung memasuki mobil yang terparkir tak jauh dari parkir motor di mana Elle berada. Ketika baru saja akan membuka pintu mobil, mata Horan menangkap sosok Elle kembali yang sedang memakai helm. Dia menatap sesaat ke arahnya dan melanjutkan kembali untuk masuk mobil karena ingat bahwa ada Mina saat ini bersamanya. Dalam diamnya, Horan sedang mengatur rencana dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan bagi Mina.
"Sepertinya aku harus mengikuti kemana arah dia pulang. Lumayan bisa tahu di mana dia tinggal." Suara hati Horan yang penasaran di mana tempat tinggal Elle di Bogor. Ya, kabar kepindahan Elle sudah didengar oleh Horan dan tentunya tak menyangka melihatnya saat ini. Maka, kesempatan itu tak disia-siakan demi kelancaran niat serta mengurai penasarannya juga.
Ketika motor yang dibawa oleh Elle melewati pintu gerbang supermarket, mobil yang dikendarai oleh Horan mengikuti perlahan dari belakang. Dia melaju dengan kecepatan cukup lambat dan membuat Mina bertanya.
"Kenapa lambat sekali bawa mobilnya? Macam siput saja!" tanya Mina yang heran karena biasanya Horan mengendarai mobil tak selambat itu. Tentunya Mina menoleh pada Horan yang duduk tanpa seatbelt dan mata menatap ke depan.
"Santai dululah! Pinggangku agak sakit sedikit, nih, gara-gara kebanyakan goyang!" jawab Horan frontal dan membuat Mina terhenyak. Dia tak menyangka jawaban seperti itu yang dilontarkan.
"Kamu, tuh, kalau ditanya jawabnya tak jauh-jauh dengan adegan ranjang. Isi otakmu tak jauh dari s**********n saja! Tadi bilang lapar dan sekarang pinggang sakit. Padahal salahmu sendiri yang suka sekali main sambil gendong aku. Sudahlah, nanti biar aku saja yang kerja dan main di atas!" cicit Mina yang sudah geli karena berulang kali mendengar Horan berkata seperti itu di mana dia merasa berdesir dan ingin sekali sampai di rumah.
"Hahaha ... otak laki-laki memang begitu, Sayang. Selain tentang kerjaan, ya perut dan burung. Kau harus paham hal itu supaya aku betah denganmu. Ok?" beo Horan penuh percaya diri dan melirik pada Mina yang memutar bola matanya malas sambil mengajak bicara Mina agar tak curiga dan perhatiannya teralihkan dengan apa yang sedang dilakukan olehnya. Mata Horan menangkap motor yang dikendarai oleh Elle memasuki sebuah perumahan dan terlihat begitu asri karena memiliki banyak taman. Melewati beberapa blok, akhirnya Elle menghentikan laju motornya di sebuah pintu pagar di mana terlihat seorang pria langsung membuka pintu tersebut. Tanpa menghentikan laju mobil, Horan tersenyum ketika melihat bahwa yang membuka pintu gerbang tersebut adalah Edward dan dia kenali sebagai kakaknya Elle. Ya, Horan juga mengenal sosok Edward karena merupakan seorang dokter yang lumayan banyak dikenal serta sering disebut oleh kedua orang tuanya yang pernah menunjukkan fotonya bersama Elle pada dirinya di beberapa kesempatan.
"Ini sebenarnya kita mau ke mana, sih!? Kenapa jadi masuk perumahan seperti ini?" decak Mina yang sejak tadi menahan kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Horan. Dia pun menoleh ke arah Mina dan terlihat mulai jenuh serta tidak mengerti dengan tindakannya.
"Aku dengar perumahan ini sangat asri dan kupikir tidak ada salahnya kalau membeli sebuah rumah di sini. Jadi, setiap aku ke Bogor tak perlu tidur di hotel. Bagaimana menurutmu?" ujar Horan pada Mina yang seketika membuat dia terkejut untuk beberapa detik dan tersenyum lebar setelahnya.
"Benarkah? Jadi kau ingin membeli rumah di sini?" Respon Mina tampak senang, meski didahului dengan kekagetan, tapi dimaklumi.
"Tentu saja dan kenapa tidak? Aku suka dengan lingkungan di sini karena masih sepi dan asri. Tak salah temanku mengatakan kalau perumahan ini sangat asri dan bisa jadi tempat tinggal karena amat tenang," jawab Horan yang begitu yakin.
Mina pun mengangguk dan tersenyum lebar menandakan bahwa dia menyetujui dengan keputusan Horan barusan yang akan membeli rumah. Hal tersebut tentu menguntungkan bagi Mina dan siapa tahu Horan akan mengizinkan dia menempati rumah yang akan dibeli olehnya nanti. Ya, pikiran semacam itu terbesit sudah dan membuatnya lebih dipandang oleh lingkungannya nanti karena bisa tinggal di perumahan itu.
Setelah pintu pagar dibuka oleh Edward, Elle segera memasukkan motornya ke garasi dan dengan cepat Emina turun dari motor untuk mengambil semua barang belanjaan, lalu membawanya ke dapur. Elle yang tengah melepas helm dan meletakkannya ke motor dihampiri oleh Edward yang baru saja menutup pintu gerbang dan tak lupa menguncinya.
"Dek, itu mobil siapa? Sepertinya ada yang membuntuti kalian?" kata Edward yang berjalan menghampiri Elle.
"Mobil? Mobil apa, Kak?" tanya Elle apa adanya yang tak menyadari bahwa ada mobil hitam mengikutinya sampai rumah.
"Saat buka pintu, Kakak lihat ada mobil hitam yang berjalan pelan mengikuti kalian. Kakak pikir mobil itu sengaja mengikutimu dari supermarket. Kau tak sadar?" tutur Edward pada Elle yang memiringkan kepalanya karena bingung.
"Benarkah? Ah, jangan bikin takut, deh, Kak! Mobilnya masih ada di depan?" tanya Elle balik kepada Edward.
"Sudah lewat, tapi Kakak mengingat nomor plat mobilnya dan akan menanyakan kepada teman untuk melacaknya. Semoga saja dia bukan orang yang berniat jahat kepadamu atau keluarga kita," kata Edward menyimpulkan dan diangguki oleh Elle.
"Ya sudah, sekarang kau cepat masuk!"
"Baik, Kak!" jawab Elle yang langsung menuruti perkataan Edward.
Selepas Elle memasuki rumah, Edward kembali menatap jalan raya di mana tadi terlihat mobil warna hitam yang berjalan pelan dan yakin kalau mengikuti Elle dari supermarket atau di jalan. Dia pun menoleh pada CCTV yang dia pasang di pintu gerbang dan memastikan masih berfungsi dengan normal dan ke arah yang tepat.
"Sepertinya aku harus menambah CCTV lagi. Aku yakin mobil itu berniat jahat pada Elle, meskipun aku tak memperdulikan tentang harta warisan Marco, tapi pasti banyak pihak yang mengincar Elle karena dia adalah janda seorang pria kaya raya dan pewarisnya!"
Setelah bergumam akan dugaan yang dia simpulkan serta membaca situasi, Edward terlihat mengeluarkan handphone dari saku celana pendeknya. Dia mengetikkan sesuatu pada layar hingga tak berapa lama, sebuah panggilan terdengar. Edward tersenyum tipis dan mengangkat panggilan itu. Dia mendengarkan dalam diam orang yang berbicara di seberang telepon dan beberapa menit kemudian terputus. Terlihat kening Edward yang berkerut setelah dapat info tentang pemilik mobil itu dan nampak bingung karena tak mengenali pemiliknya.
"Horan Savin?"