Setelah mengantarkan Mina ke rumahnya, Horan bergegas meluncur kembali ke Jakarta dan sekitar jam 8 malam akhirnya dia tiba di rumah. Dia berjalan santai menuju ruang keluarga di mana terlihat Saraa sedang duduk sambil menonton TV sendirian. Melihat kedatangannya, Saraa hanya menatap sekilas dan menatap layar kembali disusul suara yang terdengar.
"Mama pada ke mana?" tanya Horan pada Saraa yang terlihat acuh dengan mulut mengunyah sesuatu.
"Ada di kamar. Paling lagi buat adik lagi buat kita!" seru Saraa membuat Horan yang berdiri tak jauh darinya memutar bola mata jengkel dan sekilas menatap ke arah menuju tangga.
"Lihat saja kalau sampai nongol tuyul botak di rumah ini. Aku ajak dia nongkrong di club tiap malam!" cicit Horan menimpali dan duduk berseberangan dengan Saraa yang melotot karena sejak dulu tak ingin ada anggota keluarga baru di rumahnya.
Untuk beberapa saat, suasana di antara mereka menjadi hening. Keduanya menatap pada layar TV yang menayangkan berita banjir di beberapa daerah karena sudah memasuki musim hujan. Horan melirik pada Saraa yang terlihat begitu tenang, kemudian berdehem untuk mencairkan suasana.
"Ehem ... tumben kalem betul, sih, Ra! Habis mabok kecubung, ya?" celetuk Horan membuat Saraa meliriknya tajam.
"Jangan mulai, deh, Kak! Aku sedang bosan karena patah hati!" jawabnya cepat mengutarakan apa yang dirasa. Namun, senyum kecil terukir di bibir Horan dan menimpali.
"Kalau bosan jangan begitu denganku! Wajah macam ketek tukang ojek saja. Senyum sedikit dong!" balasnya dengan ledekan sambil cekikikan dan langsung dilempar bantal berbentuk persegi berwarna grey oleh Saraa yang jengkel.
Horan menangkis lemparan bantal dari Saraa dan wajah cantiknya seketika tak enak dilihat karena cemberut akibat ulah iseng yang dia lakukan. Horan meletakkan bantal itu di pangkuannya dan berujar pelan sambil melirik waspada.
"Eh, Ra, tahu nggak?"
"Gak tahulah!" jawab Saraa cepat dan memotong.
"Makanya, dengar dulu kalau orang tua bicara. Jangan main asal potong! Cantik-cantik, kok, begok!" gerutu Horan yang sudah biasa dipotong kalimatnya oleh Saraa dan kerap adu mulut.
"Ya sudah, lanjut cepat!"
"Aku baru saja dari Bogor setelah kemarin menginap di rumah Mina untuk ajep-ajep gratis sampai pinggangku encok. Sore tadi, aku mengantarkan Mina untuk membeli beberapa kebutuhan pokok di supermarket dan tahu tidak apa yang kulihat di sana?" ujar Horan diakhiri kalimat menggantung dan membuat Saraa berkerut kening. Bahkan, Saraa menatap curiga pada parasnya saat ini seakan ada yang janggal.
"Lihat apa? Pasti ketemu wanita lain yang menjadi teman tidurmu, bukan? Pasti ribut, deh, antara Mina dan wanita itu! Malu-maluin saja!" sahut Saraa menebak sambil tersenyum sinis karena sudah berulang kali mendengar Horan mengalami hal tersebut di tempat umum karena wanita yang menjadi korban gombalannya.
"Anjir banget punya adik macam kau! Bukan itu, tapi aku lihat Elle, jandanya Marco!" kata Horan santai sambil menyandarkan punggung dan menepuk beberapa kali bantal yang ada di pangkuannya.
"Apa? Kau lihat Elle? Kau yang benar kalau bicara, Kak!" timpal Saraa tak percaya dan menatap lurus padanya.
"Tentu saja aku serius bodoh. Kaupikir mataku sudah rabun tak bisa mengenali. Papa sudah pernah menunjukkan foto Elle padaku. Jadi, aku tentu mengenalnya." Amat yakin Horan mengatakan hal yang baru dialami diikuti Saraa bangun dari duduknya dan memilih bergabung duduk bersamanya karena pembicaraan terasa menarik.
"Lantas apa yang terjadi?"
"Dia datang ke supermarket bersama seorang wanita dan kurasa dia adalah kakak iparnya. Elle menggunakan motor ke supermarket dan terlihat cantik," tutur Horan begitu yakin dan disimak baik oleh Saraa yang tercengang.
"Lalu?" serunya lagi yang sudah penasaran untuk dengar kelanjutannya.
"Seandainya tak ada Mina saat itu, tentu aku akan menyapanya langsung dan memperkenalkan diri. Bahkan, aku bisa juga cari perhatian kakak iparnya dan menunjukkan juga kalau aku pria yang baik serta ingin berkenalan dengan Elle. Berhubung tak bisa melakukan itu, akhirnya aku membuntuti dia sampai ke rumah dan aku sudah tahu alamat di mana dia tinggal, hehehe ...," terang Horan panjang lebar dan amat jelas.
Terlihat wajah Saraa yang tersenyum senang mendengar penuturan Horan barusan. Ketika pikiran jahat yang sudah direncanakan bersama Nova terngiang di kepalanya. Ide jahat pun kembali muncul ketika dia mengamati Horan yang sedang menatap layar dalam diam.
"Menurutmu bagaimana penampilan Elle di matamu, Kak?" tanya Saraa ingin mengetahui komentar Horan yang baru pertama kali melihat Elle secara langsung.
"Tentu saja dia cantik. Bahkan, dia terlihat lebih cantik dibandingkan foto yang pernah kulihat. Wajar saja jika Marco sangat mencintai dan tergila-gila padanya. Namun kasihan, masih muda dan cantik begitu sudah jadi janda. Aku yakin kalau Elle pasti masih perawan dan itu benar-benar menggiurkan. Percaya atau tidak kalau aku tegang saat melihatnya yang amat cantik," cicit Horan memuji dan diiringi pikiran kotor seperti biasa.
Melihat reaksi serta jawaban dari Horan yang mengakui dan seolah tertarik pada Elle, Saraa bisa melihat ada celah untuk memanfaatkan kekaguman Horan pada Elle untuk mendekatinya. Ya, Saraa memang berniat untuk menggunakan seorang pria tampan untuk mendekati Elle dan mengeruk hartanya. Daripada dia membayar orang untuk mendekati Elle, kenapa dia tak menggunakan Horan saja yang tentu akan lebih mudah mengendalikannya dan bisa menikmati harta tersebut bersama-sama.
"Kak, aku ada ide sedikit, nih! Apa kau mau dengar?" kata Saraa setelah terdiam sesaat untuk meyakinkan hatinya menawarkan rencana itu pada Horan saja. Horan melirik pada Saraa penuh curiga. Kedua alisnya berkerut mengamati gerak-gerik Saraa yang menurutnya akan menyampaikan sesuatu di luar logika seperti kebiasaannya yang sering nekad.
"Kau mau apa, hmm? Ada rencana apa memangnya?" tanya Horan yang yakin jika Saraa memiliki rencana tak baik. Namun begitu, dia tertarik meraih segelas air dingin milik Saraa yang langsung ditenggak hingga tersisa setengah.
"Kenapa kau tak mendekati Elle saja, Kak? Kebetulan dia sudah jadi janda dan kau tak akan disebut pebinor akan hal itu. Selain itu, Elle adalah janda dari Marco yang tentu menjadi pewaris tunggalnya," papar Saraa mulai menghasut Horan yang mendengarkan penuh saksama, meski sambil menikmati kacang mete dari toples.
"Jadi, kau memintaku untuk mengeruk harta Elle? Begitu maksudmu?" tebak Horan tanpa basa-basi dan memicingkan matanya. Seketika jawaban Horan membuat Saraa terkejut karena sudah terciduk dan mudah ditebak niatnya.
"Hahaha ... begitulah kira-kira. Sambil menyelam minum air kurasa tak salah. Aku yakin, kau menaruh hati bukan pada Elle karena kecantikannya. Sekalian saja nikmati hartanya. Warisan Marco tak akan habis tujuh turunan, Kak. Daripada jatuh ke orang lain, lebih baik Kak Horan saja yang mendekati, agar aku juga bisa menikmati harta itu. Bagaimana penawaranku? Keren bukan?" cicit Saraa dengan ucapan terdengar begitu enteng dan tanpa dosa.
Horan terdiam mencerna semua ucapan yang Saraa lontarkan. Di lubuk hatinya, dia memang tertarik dengan Elle, meskipun baru pertama kali melihatnya secara langsung dan tak saling berhadapan. Namun, melihatnya dari jauh saja sudah membuat hati bergetar diikuti celana yang mengetat tak wajar. Mengenai harta warisan Marco, Horan juga mengakui jika harta itu memang tak akan pernah habis selama tujuh turunan dan membuat hidupnya menjadi lebih baik serta tak perlu bekerja keras. Justru dengan harta itu, perusahaan yang dikelola Horan semakin kuat karena mendapat kucuran dana yang besar. Horan memutar mata dan menatap tajam pada Saraa yang menunggu jawabannya, hingga tak berapa lama dia menarik nafas panjang dan berujar.
"Sepertinya aku tertarik dengan idemu, tapi aku memiliki syarat untuk hal ini," ucap Horan dan justru mengajukan syarat. Namun, kalimat itu sudah cukup membuat Saraa menghela nafas lega karena tandanya kalau Horan setuju dengan rencana tersebut.
"Syarat apa, sih, Kak? Bantu singkirkan saingan yang sekiranya akan muncul untuk mendekati Elle?" Saraa coba menebak, tapi justru gelengan yang dilakukan.
"Ku minta kau jangan ikut campur urusanku dengan Elle kelak. Kau cukup duduk manis dan mendapatkan uang yang akan kuberikan nanti. Aku tak mau kau ikut campur dan membuat semuanya berantakan. Selain itu, kau juga sudah tahukan kalau aku memang melibatkan perasaanku untuk mendekati Elle. Dengan kata lain, kau tahu bahwa aku menaruh hati padanya dan jika aku berhasil mendapatkannya, kau jangan coba-coba menyakiti Elle karena bisa saja aku akan jadikan dia kakak iparmu. Apa kau mengerti?" terang Horan dengan suara begitu jelas dan diucapkan perlahan agar dicerna dengan baik oleh Saraa. Namun, raut kaget sempat terukir karena Horan menuntut syarat semacam itu. Tampak Saraa terdiam seolah mempertimbangkan penawaran barusan hingga suaranya terdengar juga.
"Baiklah. Kurasa itu hal mudah. Melibatkan hati atau tidak, aku tak perduli karena aku hanya inginkan uang Marco. Bahkan, kalau terjadi pernikahan antara kalian sekalipun tak ada salahnya bagiku dengan hal itu. Asal aku bisa ikut menikmati harta Marco. Tak dapat Marco, uangnya juga boleh, hehehe ...," jawab Saraa meyakinkan dan memang yang dia inginkan hanya uang, meski ada sedikit cinta untuk Marco.
"Elle tak tak tahu apa-apa dan hanya gadis malang nan polos. Dia hanya bernasib sial karena baru menikah malah ditinggal mati oleh Marco. Miris sekali hidupnya dan aku akan jadi penggantinya. Cocoklah dia denganku karena aku tak kalah ganteng dengan Marco!" gumam Horan lagi yang menaruh iba, meski berujung pujian untuk dirinya.
Di saat Horan yang merasa iba pada Elle, justru sorak-sorai memenuhi hati Saraa. Dia sudah tahu kalau Horan tak diberitahu oleh orang tuanya jika pelaku kecelakaan Marco adalah mereka. Adapun Horan dikenal suka bermain dengan banyak wanita, tapi Horan tak segila kedua orang tuanya yang halalkan segala cara dalam berbisnis dan hal itu tak diketahui oleh Horan hingga saat ini, kecuali Saraa.
"Yes, akhirnya aku tetap bisa nikmati harta Marco! Enaknya beli apa, ya?"