"Jika dia tidak dekat dengan Papanya, mengapa dia bisa depresi saat Papanya meninggal?" tanya Kaivan merasa heran.
"Saya tidak mengerti soal itu, Tuan. Seingat saya seminggu setelah Tuan Kalindra meninggal, pengacara keluarga datang dan membacakan surat wasiat. Saya juga tidak tahu apa isinya tapi setelah itu Nyonya Zaina marah-marah terus, Nona Kyra selalu jadi korban dan akhirnya sering melamun."
Kaivan terdiam mencerna apa yang diceritakan oleh asisten rumah tangga yang telah bertahun-tahun menemani istrinya di rumah itu. Wajah itu terlihat sendu saat menceritakan Kyra yang dia rawat sejak kecil.
"Nona Kyra selalu melamun dan beberapa kali mengamuk. Hingga saat ditanya pun tidak nyambung, responnya tidak sama seperti orang normal. Nyonya Zaina sama sekali tidak memperdulikannya, lalu Tuan Kiandra membawanya ke rumah sakit, dan dari sana baru di ketahui Nona Kyra mengalami gangguan mental."
"Tuan Kiandra itu siapa?"
"Adiknya Tuan Kalindra, setelah kejadian itu Tuan Kiandra menempatkan Dewi untuk jadi asisten Nona Kyra," ucap Mbok Rah menjelaskan pada Kaivan.
"Oh jadi Kyra masih punya keluarga lain, dia punya Om. Lalu mengapa sampai sekarang tidak pernah di bawa ke rumah sakit?"
"Nyonya Zaina tak pernah peduli, saya pun tidak mengerti alasan lainnya."
Kaivan mengangguk, dia mengerti dengan situasi yang di hadapi wanita hampir senja di hadapannya. Sebagai seorang asisten rumah tangga dia tak bisa banyak bertanya, meskipun peduli terhadap Kyra hanya bisa melihat dan memperhatikan dari kejauhan saja.
Apalagi melihat sikap Zaina yang selalu mengancam dan sangat kejam pada para pekerja di rumah ini, pasti Mbok Rah takut dipecat dan akhirnya tidak bisa melihat Kyra lagi.
"Mbok, padahal Mbok bisa cari kerja di tempat lain. Kenapa masih bertahan di sini, sedangkan Mbok tahu majikan Mbok tidak baik?"
Mbok Rah menghela nafas lalu mengusap sudut matanya yang berembun. "Kalau saya keluar, tak ada lagi yang masak makanan kesukaan non Kyra, tak ada lagi yang memperhatikan non Kyra."
Kaivan menatap wajah Mbok Rah, terlihat jelas kasih sayang yang tulus dari wanita berusia senja itu, entah apa alasannya tapi Mbok Rah terus menangis, tidak bisa menahan tetesan air mata di pipinya. Dia masih melanjutkan ceritanya meskipun dengan suara yang sedikit bergetar.
"Saya dulu adalah gelandangan, setelah di cerai dan di usir keluarga suami saya. Saya tidak bisa mendapat pekerjaan dimanapun karena tidak punya identitas, hingga seorang wanita berhati malaikat datang memberi saya makan dan membawa saya ke rumahnya. Memberikan pekerjaan pada saya meskipun saya tak memiliki tanda identitas."
"Wanita itu ibu kandung Kyra?" tanya Kaivan menebak orang yang di ceritakan Mbok Rah.
Mbok Rah mengangguk. Rani yang tak lain ibu kandung Kyra saat hamil tidak sengaja melihat seorang perempuan duduk lemas di depan sebuah toko yang tutup. Perempuan itu adalah mbok Rah, dia memberikan makanan dan sedikit uang, hal itu membuat Mbok Rah menangis haru lalu menceritakan kisah hidup nya pada Rani. Kebaikan hati Rani membawa Mbok Rah memberikan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, dan setelah Rani melahirkan dia membantu mengurus Kyra hingga besar.
"Dua tahun setelah Tuan Kalindra selingkuh, Bu Rani di temukan meninggal karena bunuh diri. Saya sendiri tidak percaya hal itu sampai sekarang karena Bu Rani orang yang taat beribadah, dia tahu bunuh diri adalah hal yang paling di benci Tuhannya," ucap Mbok Rah mengingat kejadian kelam.
"Dua tahun bertahan setelah mengetahui perselingkuhan suaminya, apakah selingkuhan suami nya itu Zaina?"
"Iya, Bu Rani meminta bercerai secara baik-baik saat itu, tapi Tuan Kalindra tidak mau. Tuan Kalindra berjanji untuk menyudahi hubungan dengan selingkuhannya tapi tiba-tiba Bu Rani di temukan meninggal dunia."
"Bagaimana dengan keadaan Kyra saat itu?"
"Mbok rasa itu adalah masa terburuk Non Kyra. Sejak kecil dia adalah anak yang baik, penurut, mudah berteman dan periang. Semenjak mengetahui perselingkuhan Papanya dia jadi selalu murung, setelah ibunya meninggal dia sama sekali tidak mau berteman dengan siapapun. Dua bulan setelah Bu Rani meninggal Tuan Kalindra membawa Zaina ke rumah ini, setelah itu Nona Kyra jadi anak yang suka membangkang."
Kaivan menghela nafas. Tidak menyangka jika kisah masa kecil istrinya begitu menyedihkan, wajar saja jika jiwa dan psikologis terguncang. Mbok Rah masih bercerita pikirannya menerawang pada kejadian beberapa belas tahun silam dimana Zaina datang ke rumah tersebut dan membuat rumah yang tadinya bagaikan surga berubah menjadi neraka untuk gadis cantik tersebut.
"Kyra, kenalkan ini mama Zaina. Dia akan tinggal di sini dan akan jadi Mama kamu," ucap Kalindra seraya menggandeng Zaina.
Kyra menatap wanita di hadapannya. Baju yang mini dan ketat, wajah full make up, perhiasan berkilau di leher dan tangan, serta aroma parfum yang menyengat indera penciuman. Kyra ingat wanita itu adalah selingkuhan Papanya, dia sempat melihat papanya sedang vidio call dan akhirnya kembali bertengkar dengan sang mama.
"Kyra tidak mau punya mama seperti dia. Mama Kyra cuma mama Rani, tidak ada yang bisa menggantikan mama Rani," ucap Kyra dengan berdecak pinggang dan menatap tajam kearah Zaina.
Zaina sangat kesal melihat respon anak berusia sepuluh tahun di hadapannya itu, tapi karena di depan suaminya dia bersandiwara. Zaina mencoba membujuk Kyra agar suaminya percaya dia bisa menjadi ibu sambung untuk anaknya. Setelah itu ia bisa menjadi istri sah Kalindra Gandana sesuai dengan rencananya.
"Kyra sayang, karena Mama Rani sudah tidak ada jadi Kyra sekarang harus jadi anak baik dan menuruti mama Zaina. Nanti Mama Zaina akan berikan apapun yang Kyra mau," ucap Zaina dengan senyum palsu menghias wajahnya.
"Tidak mau! Aku hanya mau mama Rani. Papa bawa pergi dia aku tidak mau mama yang lain," ucap Kyra masih berdecak pinggang.
"Kyra, kamu tidak boleh seperti itu. Papa mengajarkanmu menjadi anak yang sopan!" ucap Kalindra dengan nada yang mulai tinggi.
"Mas, sudah jangan di marahi. Mungkin butuh waktu untuknya menerimaku di sini," ucap Zaina pura-pura bijak.
Kalindra membawa Zaina ke kamarnya tidak peduli dengan Kyra yang berteriak protes tidak setuju dengan keputusannya. Setelah kehadiran Zaina di rumah itu kehidupan Kyra seperti kisah bawang putih yang selalu di maki oleh ibu tirinya saat Papahnya tidak ada, tetapi di depan papanya Kyra selalu di manja dan pura-pura di perhatikan.
"Kasihan, mungkin selama ini dia memendam luka sendiri. Hingga luka dan kesedihan itu menumpuk seperti piramid, dan akhirnya menyebabkan dia menjadi seperti ini sekarang," ucap Kaivan setelah Mbok Rah selesai bercerita.
"Iya Tuan. Waktu kecil Non Kyra tidak bisa melawan dan hanya menangis di pelukan Mbok saat di perlakukan tidak baik oleh Nyonya Zaina. Tapi setelah beranjak remaja dia berani melawan, tapi setiap kali bercerita pada Tuan Kalindra, papanya itu malah lebih percaya pada ibu tirinya."
Kaivan menghela nafas, membayangkan perasaan Kyra pasti sangat sedih. Lelaki yang harusnya percaya dan melindunginya sepenuh hati tidak pernah menjadi sebenar-benarnya pelindung untuknya. Waktu sudah semakin malam Mbok Rah pamit untuk tidur karena besok harus memasak pagi untuk sarapan. Kaivan pun melangkahkan kaki ingin kembali ke kamar. Saat melewati ruang tamu dia melihat Zaina sedang bermesraan dengan Diego.
"Kai, kau tidak bekerja malam ini?" tanya Zaina.
"Tidak Nyonya. Tadi bosku di Club' mengabari dia sudah dapat karyawan penggantiku, jadi aku tidak perlu bekerja lagi."
"Baguslah kalau begitu, lebih baik diam dan nikmati hidupmu bersama gadis sinting itu," ucap Zaina.
Kaivan mengangguk lalu pamit untuk masuk ke kamar. Sejak awal bertemu dengan Zaina di club' malam dia sudah tidak suka dengan wanita itu karena terlihat seperti bukan wanita baik, setelah menawarkan pernikahan itu dia semakin yakin Zaina memang bukan wanita baik, dan mendengar cerita dari Mbok Rah Kaivan tidak ragu lagi jika Zaina benar-benar wanita yang jauh dari kata baik bahkan lebih pantas di bilang kejam.
"Aku pikir hanya ibu kandung yang meninggalkan aku dan ayah adalah wanita paling jahat, ternyata ada wanita jahat lain yaitu Zaina," gumam Kaivan.
Zaina terus memandangi langkah Kaivan, hal itu membuat Diego sang kekasih curiga sekaligus cemburu. Karena bukan sekali dia memergoki Zaina memperhatikan Kaivan seperti itu.
"Kenapa kau selalu memandanginya seperti itu, apa kau menyukainya?"
"Mana mungkin aku menyukainya, dia suami anakku!" elak Zaina.
"Anak tiri, dan semua miliknya selalu ingin kamu rebut. Apa kamu juga ingin merebut suaminya?" tanya Diego penuh selidik.
Zaina menggelengkan kepala lalu menatap wajah sang kekasih yang menatapnya penuh curiga. Wanita itu tersenyum dan mengecup pipi sang kekasih.
"Aku sudah puas denganmu dan tak menginginkan lelaki lain, Honey!" ucap Zaina dengan suara manja nya.
"Kau merayuku agar aku melupakan hal ini, aku melihat tatapan yang berbeda. Jujur saja apa kau menyukai dan menginginkan nya?!"
"Aku tidak menyukainya apalagi menginginkannya, percayalah padaku, Honey!" ucap Zaina dengan suara manja seraya memainkan jemari di d**a bidang Diego membentuk sebuah lingkaran.
Diego tidak percaya begitu saja dengan Zaina, dia yakin tatapan wanita seksi itu berbeda setiap kali melihat Kaivan. Sementara Zaina terus menggoda Diego dengan gerakan tangannya yang mengarah ke area sensitif agar pria itu lupa dengan hal tersebut karena aksinya yang memancing sesuatu. Namun, ternyata Diego memegang tangan Zaina tidak terpancing dengan gerakan tangan wanita seksi itu, dia masih terus bertanya tentang tatapan Zaina kepada Kaivan.
"Kalau kau tidak mau jujur, aku akan pergi meninggalkanmu," ucap Diego melepas tangan Zaina.
"Jangan begitu, Honey. Aku bisa gila tanpa kamu, aku akan jujur padamu. Aku tidak menyukai dan menginginkannya, tapi tiap kali melihat perangai Kaivan mengingatkan aku kepada seseorang yang sudah lama tak aku lihat dan dengar kabarnya."
"Siapa orang itu?" tanya Diego penasaran.