"Ya namaku, Kaivan. Aku suamimu ingat itu!" ucap Kaivan.
Kyra tak berbicara apapun lagi, dia menundukan pandangannya dan Kaivan membawanya dalam pelukan. Kyra kembali menangis, teringat sejak dulu sering kali mendapat perlakuan tidak baik dari Zaina sang ibu tiri. Tentu saja Kyra tidak diam saja hingga sering terjadi perkelahian, setiap kali pertengkaran itu terjadi Kyra selalu mengadu kepada sang Papa. Namun, Kalindra tak pernah mempercayai ucapan anak gadisnya, dia malah lebih percaya pada Zaina dan menganggap Kyra terlalu manja.
"Sudah jangan menangis lagi, ayo kita ke kamar obati luka di bibirmu!"
Kyra berhenti menangis dia berjalan gontai mengikuti sang suami, Mbok Rah yang melihat kejadian itu dari balik tembok mengusap air mata di pipinya. Dia menyayangi Kyra seperti anaknya sendiri, karena sejak kecil sudah mengasuhnya. Namun, semenjak Kyra pura-pura gila hanya Dewi yang boleh berada di dekat Kyra. Mbok Rah hanya bisa memandang wanita cantik itu dari kejauhan dan berdoa agar Kyra segera mendapat kebahagiaannya, melihat Kaivan yang memperlakukan Kyra dengan lembut dan berani melawan Zaina membuat Mbok Rah merasa terharu.
Kaivan terus menggenggam tangan Kyra dan wanita cantik itu tidak menolak sama sekali, sesampainya di kamar Kaivan meminta Dewi membawakan kotak p3k.
"Wi, tolong bawakan kotak p3k!"
"Baik, tunggu sebentar, Tuan." Dewi bergegas mengambil kotak p3k.
Sementara menunggu Dewi, Kaivan menyisir rambut Kyra yang berantakan. Lagi-lagi hal itu membuat Kyra tak terasa meneteskan air matanya, sejak kecil dia sudah kehilangan kasih sayang dari Papahnya.
"Kenapa kamu menangis, apa kepalamu sakit saat rambutmu aku sisir?" tanya Kaivan.
Kyra tak menjawab dia menangis memejamkan matanya, ingatannya kembali Ketahun-tahun dimana dia masih kecil.
Kyra yang berusia 8 tahun sangat menyukai Barbie, Kalindra sang papa katanya pulang dari luar kota dan membawakan oleh-oleh untuk Kyra.
"Ini Barbie untuk Kyra," ucap Kalindra.
"Wah, cantiknya. Terima kasih, Papa." Kyra memeluk boneka sambil tersenyum manis kearah papahnya.
Rani sang istri masih mempersiapkan air minum untuknya, Kyra mengambil sebuah sisir lalu di arahkan ke papahnya.
"Papa, lihat rambutku panjang dan cantik seperti boneka Barbie. Coba papa sisir rambutku, dan aku sisir rambut Barbie," ucap Kyra kecil.
Kalindra tidak menanggapi ucapan sang anak, dia sibuk dengan gawainya dan sesekali menampilkan senyumnya melihat gawai tersebut. Hingga kedatangan sang istri membuat Kalindra tiba-tiba menyimpan gawainya di dalam saku.
"Kerjaan lagi, Mas?" tanya Rani.
"Iya," jawab Kalindra singkat lalu menyesap kopi hangat buatan sang istri.
"Kamu baru saja tiba di rumah, masa sudah ngurus kerjaan lagi, Mas!" protes Rani dengan sikap sang suami.
"Ya mau gimana lagi, aku bekerja juga untuk kamu dan Kyra."
Rani menghela nafasnya. Bertahun-tahun menikah dengan lelaki bernama Kalindra, dia merasa perhatian dan kasih sayang suaminya itu berkurang lima tahun belakangan ini. Namun, Rani tetap berpikir positif mungkin memang suaminya sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi Kyra juga sudah sekolah.
"Papa, ayo sisir rambut Kyra!" gadis kecil itu kembali meminta pada sang papa. Namun, lagi-lagi di tolak.
"Kyra main sama Barbie saja ya. Papah sudah lelah ingin beristirahat!"
Dengan rasa kecewa Kyra kecil berjalan keluar rumah, dia bermain dengan boneka Barbie yang baru saja di belikan oleh sang papah. Rani menyusul Kyra dan menemani anaknya bermain, menggantikan Kalindra. Dia menyisir rambut panjang nan indah milik anaknya, sementara Kyra menyisir rambut Barbie.
"Mah, papa kenapa sekarang sibuk kerja terus sih. Kapan jalan-jalan sama kita, padahal Papa sudah janji akan jalan-jalan kalau Kyra libur sekolah?!" ucap Kyra.
"Iya Papa sibuk kerja, mencari uang untuk kita. Jadi belum bisa jalan-jalan bareng kita. Kalau Kyra mau kita bisa jalan-jalan berdua saja."
"Yang benar, Mah. Aku mau ke Disneyland, melihat para princess di sana."
"Oke nanti sama mamah kesana."
Kyra tersenyum lalu berbicara pada boneka Barbie yang dia pegang, Dia sangat senang dengan rencana mamanya yang akan membawanya ke Disneyland. Tangan Rani terus menyisir rambut panjang sang anak.
"Rambut Kyra sudah terlalu panjang, sepertinya lebih cantik kalau di potong dan di rapihkan lagi!"
"Tidak mau, Mamah. Kyra mau rambut panjang seperti boneka Barbie," tolak Kyra.
"Padahal ada juga loh boneka Barbie yang rambutnya pendek tapi tetap cantik."
"Benarkah?"
"Iya, mau lihat. Mama punya fotonya di handphone."
"Mau lihat dong, Aku mau bandingin lebih cantik boneka Barbie yang rambut panjang atau yang rambut pendek!"
"Tunggu sebentar, Mama ambil dulu handphone mama tertinggal di kamar."
Kyra mengangguk melihat sang mama berjalan meninggalkannya. Dia tidak sabar melihat bagaimana tampilan boneka Barbie dengan rambut pendek seperti yang diceritakan oleh Rani sang mama. Namun, Setelah menunggu cukup lama, Rani tidak kunjung datang. Kyra yang merasa bosan akhirnya berjalan menuju kamar orang tuanya. Berapa terkejutnya Kyra saat mendengar suara benda pecah dari dalam kamar kedua orang tuanya.
Prank ...
Kyra mengintip di balik pintu yang tidak tertutup rapat.
"Jadi selama ini kamu selingkuh di belakangku, Mas?" tanya Rani dengan berlinang air mata.
Saat Rani masuk ke dalam kamarnya hendak mengambil handphone yang tertinggal, dia tak sengaja melihat sang suami sedang video call bersama wanita muda. Kalindra terlalu asik berbincang dengan wanita muda yang mengenakan baju seksi itu sehingga tidak menyadari jika sang istri masuk ke dalam kamar.
"Rani, dengar dulu penjelasanku!"
"Penjelasan Apa maksud kamu, Mas. Kamu ingin menjelaskan jika selama di luar kota kamu bukan bertugas, tapi kamu asik liburan dengan selingkuhanmu!" ucap Rani memegangi dadanya yang terasa sesak.
Kyra anak yang cukup pintar, mendengar pertengkaran kedua orang tuanya dan mendengar kata selingkuh pun mengerti bahwa rumah tangga orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.
"Sudah selesai aku bersihkan, apa masih terasa sakit?" ucapan Kaivan membuyarkan lamunan Kyra.
Dia merasakan sesak di dalam dadanya kala mengingat masa lalu rumah tangga orang tuanya. Dia tidak menjawab pertanyaan Kaivan, meskipun dia tahu Kaivan mengobatinya dengan sangat lembut dan tidak membuatnya merasa sakit.
"Tuan Kaivan, sudah waktunya makan malam," ucap Dewi.
"Tolong bawakan jatah makan aku dan Kyra ke kamar. Nanti aku akan menyuapi Kyra!"
"Baik, tunggu sebentar Tuan," ucap Dewi lalu berjalan keluar kamar untuk mengambilkan makanan.
Kaivan terus memandang wajah cantik sang istri. Tatapan matanya kosong, tapi menyiratkan begitu banyak kesedihan. Kaivan berjongkok di hadapan Kyra dan memandangi wajahnya.
"Apa dia selalu seperti ini memperlakukanmu?"
Kyra menganggukan kepala menjawab pertanyaan Kaivan. Merasa ada respon baik yang Kyra berikan padanya, Kaivan pun kembali memberikan pertanyaan-pertanyaan kecil pada Kyra.
"Apa ini masih sakit?" tanya Kaivan menunjuk bibir Kyra.
Kyra menggelengkan kepalanya, lalu menatap Kaivan. Lelaki itu tersenyum lembut membuat debaran jantung Kyra terasa semakin cepat. Lalu dia mengingat nasehat sang paman yang mengatakan bahwa seorang istri boleh bergantung kepada suaminya.
"Apa aku bisa bergantung padamu, apakah kamu lelaki yang yang berbeda dari mantan-mantan kekasihku? Ah ... Sepertinya aku harus terus menguji mu agar tahu seberapa besar ketulusanmu," ucap Kyra dalam hati.
Kaivan terus bertanya dan Kyra menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala. Kaivan senang karena Kyra sepertinya tidak takut lagi dengan keberadaanya. Dewi datang membawa baik makanan.
"Terima kasih, Wi. Saya yang akan menyuapi Kyra. Kamu istirahat saja."
"Terima kasih, saya permisi Tuan!"
Kaivan mengangguk, Dewi keluar dari kamar dan Kaivan pun mulai menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut Kyra.
Kyra menata piring makanan yang belum tersentuh dan dia pun menunjuknya.
"Kamu mau yang ini?" tanya Kaivan.
Kyra menggelengkan kepala. "Kamu."
"Oh, kamu ingin aku makan?"
Kyra menganggukan kepala menjawab pertanyaan Kaivan, lelaki tampan itu tersenyum kembali menyuapkan makanan pada Kyra.
"Nanti saja aku makan setelah selesai menyuapi kamu."
Kyra menarik piring yang Kaivan pengang lalu memakan sendiri makanannya, kemudian menatap Kaivan dan piring jatah makan Kaivan bergantian. Kaivan mengerti Kyra ingin mereka makan bersama-sama tanpa harus Kaivan menyuapinya.
"Baiklah, kita makan bersama!"
Setelah selesai makan, Kaivan mengelap sudut bibir Kyra yang tersisa makanan dengan tisu. Hal itu membuat degup jantung Kyra kembali tak menentu.
"Kamu istirahat, aku akan menyimpan piring kotor ini. Setelah itu aku juga akan istirahat!"
Kyra mengangguk, Kaivan tersenyum lalu berjalan keluar kamar membawa baki berisi piring kotor. Dia berjalan mencari dapur, karena belum tahu letak dapur di rumah mewah tersebut.
Setelah sampai di dapur Kaivan langsung mencuci piring kotor itu, terbiasa melakukan semua sendiri membuatnya tidak keberatan melakukan hal itu.
"Loh kok di cuci, Tuan? Padahal biar saja saya yang nyuci," ucap Mbok Rah yang tiba-tiba ada di dapur.
"Tidak apa-apa, Bi. Saya sudah terbiasa mencuci piring sendiri di rumah."
"Tuan, terima kasih sudah membela Non Kyra dari Nyonya Zaina," ucap Mbok Rah mengungkap perasaan harunya.
Kaivan tersenyum dan menganggukan kepalanya, dia mengelap tangannya dengan kain karena sudah selesai mencuci piring.
"Itu kewajiban saya, Bi. Karena Kyra adalah istri saya."
"Alhamdulillah, saya bersyukur Non Kyra mendapat suami seperti Tuan," ucap Mbok Rah seraya mengusap air mata di pipinya.
Kaivan mengerutkan keningnya melihat wanita paruh baya itu seperti memendam kesedihan. Tanpa di minta Mbok Rah pun menceritakan siapa dirinya kepada Kaivan, dah hal itu cukup membuat Kaivan merasakan sesak di dadanya
"Saya sudah bekerja di rumah Tuan Kalindra hampir 15 tahun, saya yang membantu Bu Rani mengasuh dan membesarkan Non Kyra sejak kecil," ucap Mbok Rah.
"Jadi Mbok adalah pekerja paling lama di rumah ini?"
Mbok Rah mengangguk, ya semenjak Tuan Kalindra meninggal banyak pekerja yang mengundurkan diri dari rumah itu karena Zaina semakin semena-mena memperlakukan pekerjanya. Hanya Mbok Rah yang bertahan karena tidak tega melihat Kyra wanita cantik yang sudah dia anggap sebagai anaknya.
"Jadi Bibi tahu kenapa Kyra sampai seperti ini, dan kenapa Nyonya Zaina tidak membawanya berobat ke rumah sakit?"
"Panggil saja saya Mbok Rah," ucap wanita itu.
Kaivan mengangguk dan menunggu jawaban wanita bernama Mbok Rah itu. Mbok Rah menarik nafas panjang sebelum bercerita.
"Non Kyra sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Tuan Kalindra semenjak nyonya Zaina di bawa masuk ke rumah ini."
"Jika dia tidak dekat dengan Papanya, mengapa dia sampai depresi saat Papa nya meninggal?" tanya Kaivan merasa heran.