"Siapa kamu?" tanya Kyra saat melihat wanita berkerudung berada di dalam kamarnya.
Wanita itu menengok ke arah Kyra dan saat mereka berpandangan Kyra terkejut melihat wajah wanita tersebut.
"Dewi, aku pikir kamu siapa. Gak biasanya kamu pakai kerudung?!"
Kyra benar-benar takut orang asing yang masuk ke kamarnya tadi, karena dia tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang kondisi dirinya yang sebenarnya, tapi ternyata yang ada di kamarnya adalah Dewi sang asisten hanya saja penampilannya berbeda sehingga Kyra tak mengenali saat sebelum melihat wajah Dewi.
"Nona sudah pulang, maaf membuat terkejut. Saya hanya sedang mencoba model hijab baru yang saya beli di online," jawab Dewi.
"Kamu mau pakai hijab?"
"Sudah ada niat sih, Nona. Tapi hati saya belum mantap karena merasa kelakuan saya belum benar."
"Oh."
Kyra tidak bisa berkomentar apa-apa jika menyangkut hijab, identitas para wanita muslimah. Meskipun dia tahu itu adalah kewajiban, tapi dia sendiri pun belum mengenakannya karena alasan yang sama dengan Dewi sebutkan tadi.
Kyra tidak di perkenalkan dengan baik tentang agama yang dia peluk, selama Kalindra masih hidup papahnya itu hanya memberikan pendidikan umum padanya.
"Aku dari perusahaan dan bertemu om Kian, ternyata dia tahu tentang pernikahanku dengan Kaivan. Bahkan dia yang jadi wali nikahnya."
Dewi tidak menjawab ucapan Kyra, dia melepas hijab di kepala dan berpenampilan seperti biasanya. Melihat respon Dewi yang terlihat biasa saja dan tidak terkejut membuat Kyra menjadi curiga pada asistennya tersebut.
"Apa kamu tahu hal itu?"
"Iya, Nona. Saat tahu tentang rencana nyonya Zaina yang ingin menikahkan Nona Kyra, saya langsung mengabari Tuan Kian."
"Jadi om Kian tahu semua itu dari kamu?" tanya Kyra terlihat kesal.
"Iya, tapi saya tidak tahu jika Tuan Kian yang menjadi wali nikah anda. Dia hanya mengatakan pada saya jika dia akan datang saja."
Kyra menghela nafas lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, dia masih kesal mengingat ucapan om nya yang meminta Kyra berhenti untuk berpura-pura dan menerima Kaivan sebagai suaminya.
"Om Kian memintaku berhenti berpura-pura, dan dia ingin aku menerima Kaivan sebagai suamiku. Dia bilang Kaivan lelaki yang baik."
"Saya setuju dengan Tuan Kian, Nona. Suami anda memang lelaki yang baik."
Kyra mencebikkan bibirnya, menyesal bercerita pada Dewi karena asisten pribadinya itu tidak sepemikiran dengannya malah sepemikiran dengan om nya.
Tak
Tak
Tak
Suara ketukan heels terdengar, itu pasti langkah kaki Zaina ibu tiri yang ingin masuk menemui anak tirinya. Kyra langsung bergegas ke kamar mandi karena dia belum menghapus make up di wajahnya. Saat Zaina masuk ke kamar tersebut Kyra sudah berada di dalam kamar mandi.
"Mana Kyra?" tanya Zaina.
"Sedang buang air, Nyonya." Dewi menjawab seraya menundukan kepalanya.
"Setelah selesai bawa dia menemukan di ruang kerjaku!"
"Baik, Nyonya. Saya akan membawa Nona Kyra kesana."
Zaina kembali keluar kamar anak tirinya lalu melangkah dengan gaya arogannya ke ruang kerja. Setelah mendengar jika Zaina telah keluar dari kamarnya Kyra pun keluar dari kamar mandi setelah membersihkan make up nya.
"Ngapain dia kesini?" tanya Kyra.
"Dia ingin nona di bawa ke ruangannya," jawab Dewi.
"Pasti dia butuh cap tanganku untuk tanah kosong yang berada di dekat tempat wisata itu."
Tanah kosong itu milik Kalindra yang sudah pindah nama menjadi milik Kyra, di dekat tanah kosong itu sekarang sedang ada perluasan pembangunan tempat wisata, sudah dari beberapa bulan lalu Zaina ingin menjual tanah itu tapi selalu gagal mendapat cap tangan Kyra. Wanita cantik itu selalu punya tak tik untuk tidak memberikan cap tangannya.
"Jadi, apa yang harus saya lakukan?" tanya Dewi.
"Sudah, pura-pura lupa saja. Aku tidak akan memberikan cap tanganku pada berkas itu!"
Zaina menunggu Kyra sambil mengerjakan pekerjaan lain di ruangannya, hingga waktu tidak terasa berganti sore. Zaina menatap benda bulat besar yang menempel di dindingnya.
"Sudah jam segini anak itu belum juga kesini," gumam Zaina.
Wanita seksi itu berdiri dan melangkah keluar kamar. Dia berjalan dengan kesal kearah kamar Kyra, setelah sampai di depan pintu kamar tanpa mengetuk dia langsung membuka pintu. Terlihat Kyra baru selesai mandi dan rambutnya sedang di sisir oleh Dewi.
"Dewi, apa kamu lupa apa yang saya katakan tadi?" tanya Zaina dengan nada tinggi.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak lupa, tapi sejak tadi saya tidak berhasil membujuk Nona Kyra. Saat di bujuk dia malah semakin mengeratkan pelukan pada boneka Barbie miliknya," jawab Dewi seraya menundukkan kepala.
"Aku hanya memintamu membawanya ke ruanganku, bukan membujuknya! Aku tak perduli bagaimanapun caranya dia harus keruangan ku!"
Dewi terus menunduk mendengar bentakan Zaina, wanita itu langsung berjalan cepat ke arah Kyra dan menarik paksa tangan anak tirinya. Kyra meronta seperti anak kecil tidak ingin menuruti keinginan Zaina. Namun, Zaina seperti orang yang di rasuki setan dia menampar pipi Kyra dengan sangat kencang hingga sudut bibir wanita cantik itu berdarah. Kyra tentu saja terkejut dan dalam hatinya sangat kesal, andai tidak sedang berpura-pura gila pasti dia akan menampar balik pipi ibu tirinya tersebut.
Setelah menampar pipi Kyra, dia terus menarik Kyra hingga keluar kamar. Kyra terus meracau dan meronta tak ingin mengikuti kemauan Zaina.
"Lepas ... Enggak mau ... Kyra gak mau ikut nenek lampir ...." Kyra berteriak dengan menirukan mimik anak kecil.
"Lampir, lampir. Aku wanita cantik dan seksi jangan kau samakan aku dengan lampir, dasar sinting!" ucap Zaina kesal.
"Kamu nenek lampir jahat, wajahnya jelek, hatinya jelek kaya nenek lampir!"
Zaina kesal dengan ucapan anak tirinya, dia hendak menampar Kyra kembali. Namun, kali ini Kyra dapat membaca pergerakan tangan ibu tirinya itu. Dia memegang tangan Zaina yang hampir sampai ke pipinya, lalu dengan sekuat tenaga Kyra mengigit tangan wanita yang merupakan ibu tirinya itu.
"Aaaahhh ... Lepas, dasar gila. Apa kau sekarang jadi suka menggigit seperti doggy juga!" ucap Zaina sambil berteriak.
"Nenek lampir, Kyra gak mau sama nenek lampir," ucap Kyra setelah melepas gigitan tangannya.
Zaina mengipas tangannya yang terasa sakit karena gigitan Kyra. Setelah melihat anak tirinya itu meledeknya sambil menjulurkan lidah, membuat Zaina semakin emosi. Dia menjambak dan menarik rambut Kyra hingga wanita cantik itu merasa sangat kesakitan. Dewi berusaha menenangkan Zaina agar tidak melakukan hal itu kepada Kyra, tapi hal itu tidak berhasil malah Dia ikut dimarahi oleh Zaina.
"Lepas nenek lampir jahat ... Rambut Kyra sakit. Nanti rambut Kyra yang indah rontok Kyra akan laporkan ke papah!" teriak Kyra sambil memegangi rambutnya.
"Laporkan saja kalau bisa, papamu sudah menjadi mayat tak berguna di dalam tanah sana! Hanya warisan yang aku inginkan, tapi dia malah memberikan warisan itu ke anak sinting sepertimu!"
Kyra mengepalkan tangannya mendengar ucapan Zaina, rasa sakit di kepala karena Zaina menarik rambutnya tidak seberapa. Tapi hatinya lebih sakit karena mendengar wanita itu mengatakan jika Papanya hanyalah mayat tidak berguna. Meskipun hal itu adalah kenyataan tapi itu begitu menyakitkan bagi Kyra.
Zaina terus menarik rambut Kyra meskipun Gadis itu menangis dan meronta, Dewi tak bisa berbuat apa-apa jika sudah seperti ini keadaannya.
"Sakit ... Lepas ... Nenek lampir jahat!"
Zaina tak memperdulikan teriakan anak tirinya tersebut, hingga tiba-tiba ada seseorang yang berani melepaskan tangan Zainal dari rambut Kyra.
"Ada apa ini, Nyonya. Mengapa anda memperlakukan istri saya seperti itu?!" ucap Kaivan.
Kaivan yang baru saja pulang dari rumah neneknya terkejut, ketika dia baru melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah mewah itu, dia mendengar suara sang istri yang berteriak keras. Hal itu membuat Kaivan buru-buru masuk ke dalam rumah, pemandangan yang dia lihat begitu mengejutkan dan juga menyayat hatinya.
"Istrimu adalah anak tiriku!"
"Tidak, Aku tidak mau mempunyai ibu tiri seperti nenek Lampir, dia nenek lampir yang jahat," ucap Kyra.
"Berhenti menyebutku nenek Lampir. Aku cantik dan seksi, tidak mau disamakan dengan nenek lampir!"
"Nenek lampir, kamu nenek lampir jahat," teriak Kyra masih membuat Zaina kesal.
Karena kesal dengan ucapan anak tirinya, Zaina ingin kembali menjambak rambut panjang milik Kyra. Namun, kali ini Kaivan melindungi istrinya. Da menarik Kyra dalam pelukannya hingga Zaina gagal melakukan aksi kasarnya.
"Nyonya tolong jangan berbuat kasar padanya. Seperti apapun dia tetap manusia!" ucap Kaivan.
"Berhenti melindungi nya, Kai. Kau aku bayar hanya untuk menikahinya menjadi suami pura-pura nya. Bukan suami sebenarnya yang melindungi dan membelanya!" Zaina tak terima dengan tindakan Kaivan yang melindungi Kyra.
"Tapi apa yang anda lakukan padanya tidak berprikemanusiaan, Nyonya. Jika ada yang anda ingin lakukan padanya jangan berbuat kasar seperti ini!"
"Dia nenek lampir bukan manusia," ucap Kyra sambil melepaskan pelukan Kaivan.
Ucapan Kyra memancing emosi Zaina kembali, wanita paruh baya itu kembali melayangkan tamparan keras pada Kyra. Hingga Kyra sudah siap memejamkan mata.
Satu
Dua
Tiga
Tamparan itu tidak juga mendarat di pipinya, dia membuka mata dan ternyata Kaivan kembali melindunginya. Menjadi tameng tubuh Kyra dan merasakan tamparan kencang dari tangan Zaina.
"Kai, aku sudah bilang jangan lindungi perempuan sinting ini," ucap Zaina kesal.
"Maaf Nyonya. Saya tidak bisa melihat kekerasan seperti itu terjadi."
"Kau ingin membantahku, Kai. Kau lupa siapa kamu, dan apa yang terjadi jika kau membantahku!"
Kaivan menunduk terdiam, jika mengingat harus mengganti uang menjadi 2 miliar karena tidak mematuhi Zaina, tentu saja Kaivan takut dan tak akan mampu. Akan tetapi, melihat Zaina memperlakukan Kyra dengan kasar membuat jiwa pelindung dalam diri Kaivan tidak bisa diam saja.
Saya Zaina memandang tajam ke arah Kaivan dan Kyra, tiba-tiba ponselnya berdering.
Zaina mengangkat panggilan teleponnya dan bergegas meninggalkan mereka berdua.
Kaivan menarik nafas lega, lalu menatap sang istri. Rambutnya berantakan karena di jambak oleh ibu tirinya, saat menarik dagu Kyra dan melihat wajahnya Kaivan terkejut melihat sisa darah yang sudah mengering di sudut bibir Kyra.
"Apa yang dia lakukan padamu, apa ini sering terjadi?" tanya Kaivan seraya memegang sudut bibir Kyra.
Kyra meneteskan air mata melihat tatapan tulus Kaivan. Dia tak pernah melihat tatapan tulus seperti itu dari siapapun termasuk dari almarhum papahnya. Jemari Kaivan dengan lembut menghapus air mata di pipi Kyra.
"Jangan menangis, ada aku di sini!"
"Kaivan," ucap Kyra dengan suara lirih.
"Kau memanggil namaku, kau sudah mengenalku?" tanya Kaivan begitu senang.