"Alternatif lain apa maksudnya, Di?" tanya Kaivan kepada sahabatnya.
"Ya kalau orang kena gangguan jiwa itu biasanya butuh support yang kuat, terus kadang nih ya ada jin yang nempel di badannya. Coba kamu bawa dia ruqyah," jawab Ardi sesuai pengetahuannya.
Kaivan terdiam dia mengingat tingkah Kyra saat bersamanya, menurut Kaivan meskipun wanita cantik itu mengalami gangguan jiwa tapi tidak membahayakan dan tidak mengganggu orang.
"Kayanya kalau gangguan jin sih engga, mungkin lebih tepatnya dia depresi berkepanjangan akibat di tinggal orang yang dia sayang. Tapi bukannya di obati malah di biarkan, jadilah seperti sekarang," ucap Kaivan.
"Kalau Kyra susah kamu bawa keluar, coba kamu yang datang ke psikolog. Ceritain semua tentang istrimu, siapa tau dapat solusi dari sana."
"Ini boleh juga, Nyonya Zaina tidak perduli aku mau bagaimana di luar, asalkan rahasia keluarganya tetap aman."
Ardi dan Kaivan pun berbincang dan merencanakan banyak hal, tentang strategi pemasaran toko kelontong yang akan di rubah menjadi mini market. Sampai masa depan Kaivan dan Kyra. Ardi tak menyangka jika sahabatnya ini bertekad untuk menyembuhkan istrinya meskipun belum tahu bagaimana nasib rumah tangga mereka kedepannya.
Di sisi lain.
Diego dan Zaina kini tengah berada di kamar. Di atas ranjang king size dua manusia itu masih polos tanpa sehelai benangpun setelah berbagi peluh di tengah terik mentari.
"Kau sungguh luar biasa, Honey," ucap Zaina memuji sang kekasih.
"Aku tak akan pernah mengecewakanmu, Beibh. Tapi kapan kau akan menepati janjimu?"
Zaina menghela nafas, dia duduk dan menutup tubuhnya dengan selimut lalu berjalan menuju kamar mandi. Hal itu membuat Diego kesal karena Zaina terkesan mengacuhkan pertanyaannya.
Cukup lama Zaina di kamar mandi hingga akhirnya dia keluar dan telah memakai baju rapi serta wangi, dia menyisir rambut dan mengoleskan make up di depan meja rias.
Diego yang baru saja selesai menghisap sebatang rokok di balkon kamar Zaina berjalan mendekati wanita seksi tersebut.
"Kau mengacuhkan ku lagi, apa kau hanya main-main dengan janjimu?"
"Aku tak pernah main-main padamu, Honey. Bahkan aku sampai membayar pria untuk menikahkan Kyra."
"Bukankah kau bilang setelah wanita gila itu menikah maka warisan itu bisa di klaim, kau bisa berkuasa atas perusahaan Kalindra itu!"
Zaina menghela nafas, dia memandang kekasih yang umurnya jauh lebih muda darinya melalui pantulan cermin. Jemari lentik Zaina meraih tangan kekar Diego lalu dia tarik dan di lingkarkan ke tubuhnya.
"Masih ada sesuatu yang harus kita tunggu, Honey. Sabarlah, semua yang akan aku dapatkan pasti akan menjadi milikmu juga," Zaina merayu kekasih berondongnya itu.
"Apalagi yang harus di tunggu?" tanya Diego terdengar tak sabar.
"Usia Kyra belum tepat dua puluh dua tahun. Ketika Kyra berusia dua puluh dua tahun dan usia pernikahannya melebihi enam bulan maka pengacara keluarga akan mengurus semua pengesahannya. Aku juga sudah mempersiapkan berkas pemindahan nama aset-aset dari nama Kyra beralih ke namaku."
Diego tersenyum dan mengecup pipi sang kekasih, mereka tidak pernah ingin menikah tetapi selalu menikmati waktu bersama. Jika Zaina ketahuan menikah lagi maka aset atas nama Zaina akan di hibahkan pada panti asuhan dan orang-orang tidak mampu. Itu sebabnya mereka menjalani hubungan tanpa status bertahun-tahun.
Seluruh pekerja di rumah itu tahu, tetapi tak ada yang berani protes pada Zaina.
"Besok kau harus bekerja, Honey. Jangan sampai namamu jelek karena membolos terus!"
"Aku ingin selalu bersamamu, Beibh. Menghabiskan waktu berjam-jam di kamar dan membuatmu lemas."
"Itu memang keahlianmu, tapi kau perlu bekerja juga. Jika kau terlalu sering bolos maka sulit untukku menempatkan mu di posisi penting perusahaan!"
Diego mengangguk, dia salah satu karyawan di KLG group. Karena pewaris utama KLG group adalah Kyra dan gadis itu berpura-pura mengalami gangguan jiwa maka yang menggantikan peran Kyra saat ini adalah adik dari Kalindra Gandana yang tak lain adalah om nya.
Saat Zaina dan Diego asik bermalas-malasan di kamar dan belanja di mall. Kyra menandatangi om nya di perusahaan, seperti biasa memakai make up yang menyamarkan wajahnya dan keluar melalui pintu rahasia. Dewi tetap stay di rumah agar tidak satupun pekerja tahu jika Kyra keluar dengan J2 Bodyguardnya.
"Kyra, kau datang tak memberi kabar?" tanya Kiandra terkejut dengan kedatangan keponakannya.
"Om, aku pusing di rumah. Jadi aku terpaksa kesini."
"Untung om sedang di sini, bagaimana kalau om sedang di perusahaan om sendiri. Percuma kamu kesini tak bertemu dengan om."
Kiandra sebenarnya sudah memiliki perusahaan sendiri, yang dia rintis bersama sang istri. Namun, sepeninggal kakaknya dia terpaksa ikut campur tangan karena amanat kakaknya mengurus perusahaan Kalindra karena Kyra belum memenuhi syarat untuk mendapatkan hak waris. Kyra duduk di depan Kiandra dan membuat omnya itu menatap heran.
"Apa yang kamu pikirkan, Kyra?"
"Zaina," jawab Kyra singkat.
"Kenapa kau membuang energi hanya untuk memikirkan ibu tirimu itu. Jika masalah warisan, om jamin dia tidak akan bisa berkutik karena semua sudah atas nama kamu. Makanya om bilang berhentilah bersandiwara, apalagi sekarang kamu sudah menikah dan ulang tahunmu yang ke dua puluh dua tinggal menunggu hitungan bulan."
Kyra menghela nafasnya dan menatap Kiandra dengan kesal. Seakan ada rasa kecewa pada om yang sudah dia anggap sebagai papahnya sendiri atas apa yang kini terjadi padanya.
"Kenapa om diam saja saat Zaina membayar orang untuk menikahiku. Om pasti tahu rencana Zaina, karena om menempatkan anak buah untuk memata-matai nya!" ucap Kyra seraya memanyunkan bibirnya.
"Karena om juga ingin kamu menikah, dan asal kamu tahu wali hakim yang menikahkan kamu itu sebenarnya om."
Kyra melebarkan bola matanya mendengar ucapan lelaki paruh baya di hadapannya, dia menggelengkan kepala tak percaya. Saat hari pernikahan sekilas dia menatap orang-orang yang berada di hadapannya. Mulai dari Kaivan, penghulu, saksi nikah, dan wali hakim. Dia yakin penglihatannya masih normal dan tidak melihat keluarga Kiandra datang di pesta tersebut, dia juga yakin jika Zaina tidak mengundang mereka.
"Om bohong, aku tak percaya."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi om belajar dari kamu. Wajah Om di make up biar menyerupai orang lain."
"Tapi kenapa Om melakukan itu, apa Om tahu lelaki yang menikahi aku itu bekerja di klub malam pasti dia bukan lelaki baik-baik," ucap Kyra dengan ekspresi kesal.
Kiandra hanya tersenyum mendengar protes dari keponakan yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri tersebut. Dan senyum Kiandra membuat Kyra semakin kesal.
"Saat anak buah Om melaporkan jika Zaina merencanakan pernikahan itu, Om langsung meminta anak buah untuk menyelidiki Kaivan. Laporan anak buah Om tentang lelaki itu cukup baik jadi Om pikir dia memang cocok untuk kamu," ucap Kiandra menjelaskan.
"Apanya yang cocok sih, dia menikahiku karena dibayar!"
"Dia lelaki yang baik, Kyra. Dia menerima penawaran itu karena keadaan yang mendesak."
Kyra menghela nafasnya, merasa semakin kesal karena semakin banyak orang di dekatnya yang mengatakan bahwa suaminya adalah orang yang baik. Sementara wanita itu sendiri belum mau percaya jika ada lelaki yang baik dan tulus di dunia ini, seakan trauma dengan masa lalu yang selalu bertemu dengan lelaki licik dan hanya memanfaatkan Kyra saja.
"Kyra, kau boleh uji suamimu. Om rasa Dia adalah lelaki yang baik dan tidak akan memanfaatkan kamu seperti mantan-mantan kekasihmu dulu."
"Entahlah, aku tidak yakin."
"Om rasa Kaivan adalah lelaki yang tepat untukmu. Jujurlah padanya tentang keadaanmu, setelah usiamu genap dua puluh dua tahun kamu bisa mengesahkan hak waris itu, keluar dari rumah itu dan mulai hidup baru dengan suamiku. Jika Zaina berulah Om tidak akan tinggal diam."
Kyra terdiam memandang ujung kakinya, di dalam hati dan otaknya berkecamuk, haruskah dia menerima pernikahannya?
Kaivan lelaki yang sama sekali tak pernah dia kenal, akankah mampu mencairkan hatinya yang telah lama membeku dan apakah benar Kaivan tidak seperti lelaki lain yang hanya memanfaatkan dirinya saja.
"Kyra, kau anak tunggal Kalindra dan Rani. Kau tak punya saudara lagi, setelah kamu menikah jadikanlah suamimu teman hidup dan kau bisa bergantung padanya."
"Aku punya om Kiandra, Tante Ambar, Daniel dan Dita," ucap Kyra menyebut anggota keluarga Kiandra.
"Om dan tante Ambar sudah tua, entah sampai kapan kita ada di dunia ini, dan entah sampai kapan Om bisa menjaga kamu. Sementara Daniel dan Dita mereka suatu saat akan menikah dan pastinya akan fokus dengan keluarga baru masing-masing."
"Apa itu artinya Om sudah bosan mengurus dan menjagaku?" tanya Kyra dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan seperti itu Kyra, om hanya tidak ingin kamu terus tenggelam dalam masa lalu yang kelam. Sedangkan di hadapanmu ada masa depan yang mungkin bisa memberikan cahaya kebahagiaan, buka hatimu lihatlah orang-orang baik di sekitarmu."
Kyra tak berkata apapun lagi setelah mendengar ucapan dan nasehat dari Om nya tersebut. Dia berdiri dan melangkah pergi dari ruangan Kiandra, J2 sang body guard langsung sigap mengikuti langkah Kyra. Kiandra menggelengkan kepala melihat kepergian keponakannya, dia tahu Kyra pasti marah mendengar ucapan tadi, tetapi Kyra memang sudah waktunya bangkit dan melupakan masa lalu. Jalan di hadapannya masih panjang dan pasti akan berliku, Kyra harus dibentuk menjadi pribadi yang lebih tangguh untuk menghadapi situasi-situasi di masa depannya.
Kyra memang kesal dengan ucapan Kiandra dan dia meminta J2 membawanya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah dia terkejut karena melihat seseorang berada di dalam kamarnya.