"Ke sinilah, Kai. Aku ingin bicara!" ucap Zaina.
Kaivan berjalan menuju sofa ruang tamu, dan kini duduk berhadapan dengan Zaina dan Diego. Zaina pun langsung berbicara tentang hal yang penting kepada menantunya itu.
"Seperti awal perjanjian, jangan sampai kamu bicara keluar tentang keluarga ini. Kau juga seharusnya sudah tidak bekerja di klub malam itu!"
"Saya tidak akan berbicara kepada siapapun tentang keluarga ini, dan masalah pekerjaan saya sebenarnya sudah meminta untuk mengundurkan diri. Namun, bos meminta satu minggu lagi saya bekerja selama menunggu orang baru yang menggantikan pekerjaan saya." jawab Kaivan dengan jujur
"Baguslah kalau begitu, oh ya tanda tangani ini!"
Zaina menyodorkan sebuah kertas dan bolpoin kepada Kaivan, sebelum menandatangani berkas tersebut Kaivan membaca dengan teliti. Lelaki berwajah tampan itu terkejut membaca isi kontrak pernikahannya.
Kontrak perjanjian pernikahan.
1. Pihak lelaki bebas melakukan apapun pada pihak wanita.
2. Pihak lelaki tidak boleh membocorkan masalah keluarga pihak wanita, kemanapun.
3. Pihak lelaki boleh menggugat cerai pihak wanita jika warisan dari Papa pihak wanita telah berhasil di klaim.
Note : jika melanggar perjanjian maka pihak lelaki harus mengganti rugi 2 milliar, dan jika masalah keluarga tersebar keluar maka harus siap mempertahankan nyawa.
Kaivan menghela nafas panjang ia mantap Zaina yang tersenyum licik, di sebelahnya Diego terus menciumi tengkuk wanita itu tak peduli ada orang di hadapan mereka. Kaivan benar-benar merasa jika Zaina adalah ibu tiri yang tidak punya rasa peduli kepada anak tirinya.
Terbukti dari perjanjian nomor 1 dan nomor 3 sangat merugikan Kyra sebagai pihak wanita. Andai laki-laki lain yang menjadi suami bayaran tersebut, pasti sudah sangat senang memanfaatkan keadaan. Namun, berbeda dengan Kaivan dia malah semakin iba kepada Kyra setelah tahu bahwa Gadis itu hanyalah menjadi boneka ibu tirinya untuk mendapatkan harta warisan yang ditinggalkan oleh mendiang ayahnya.
Kaivan tak banyak bertanya dia pun menandatangani surat perjanjian tersebut.
"Saya Sudah menandatangani ini, Nyonya. Sekarang saya pamit dulu, karena nenek saya tidak tahu tentang pernikahan ini jadi saya harus pulang ke rumah nenek setiap pagi, dan malam baru akan kembali ke rumah ini."
"Terserah kamu saja mau menjalankan aktivitas sehari-hari seperti apa, saya tidak peduli. Asalkan satu yang harus kamu ingat, masalah keluarga ini jangan sampai kamu bocorkan pada siapapun!"
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi?"
Kaivan berjalan keluar rumah mewah tersebut, dia tak bisa ikut campur dengan urusan harta warisan itu. Kini dia hanya ingin melindungi Kyra seperti adiknya sendiri.
Sementara di dalam rumah mewah itu Kyra dari lantai atas memandangi Zaina dan Diego yang sedang b******u di ruang tamu.
"Mereka masih seperti itu rupanya, jalang dan b******n. Apa yang tadi di tandatangani oleh Kaivan, ya? Apa dia bekerja sama dengan jalang itu?" gumam Kyra.
Dia masuk ke dalam kamar dan memanggil Dewi, karena biasanya Dewi selalu tahu apa yang di lakukan Zaina di rumah ini. Setelah Dewi masuk ke dalam kamarnya Kyra pun langsung bertanya.
"Apa kau tahu apa yang tadi dibicarakan oleh Lampir dan Kaivan tadi?
"Nyonya Zaina meminta Kak Ivan menandatangani surat perjanjian pernikahan."
"Apa kau tahu isi surat perjanjian tersebut?"
"Ya, Saya sempat membaca surat perjanjian itu sebelum Nyonya Zaina dan Tuan Kaivan berbincang di ruang tamu."
"Di mana kamu membaca surat perjanjian itu?"
"Di ruang kerja Nyonya Zaina. Mbok Rah yang membawa saya masuk dan berpura-pura membantu membersihkan ruangan itu."
"Lalu, apa isi perjanjiannya?"
Dewi pun menceritakan apa yang telah dia baca dari surat perjanjian itu, Kyra mengepalkan tangannya setelah tahu hal-hal tersebut. dia sangat benci pada ibu tirinya itu, andai membunuh tidak dosa dan tidak dapat hukuman dari negara maka sejak dulu dia sudah membunuh ibu tirinya tersebut.
"Nona tidak perlu takut, saya rasa Tuan Kaivan tidak akan macam-macam kepada, Nona."
"Bagaimana kau yakin akan hal itu, apa jangan-jangan Kaivan bukan lelaki normal, apa dia gay yang menyukai sesama jenis jadi tidak akan melakukan apapun kepada wanita meski tidur dalam satu kamar?!"
"Bukan seperti itu, Nona. Saya pernah mendengar obrolan antara Tuan Kaivan dan sahabatnya yang bernama Ardi. Tuan Kaivan meragukan sahnya pernikahan jika salah satu pengantin dalam keadaan tidak 100% sadar atau waras, dan Ardi sahabatnya mempertegas bahwa pernikahan yang dilakukan tersebut tidak sah!" beritahu Dewi.
"Lalu apa hubungannya dengan aku, apa itu bisa menjamin dia tidak akan macam-macam denganku?!"
"Iya, Tuan Kaivan mengatakan akan menganggap Nona sebagai adiknya, menyayangi dan melindungi Nona. Karena Nona adalah perantara yang Tuhannya berikan untuk menyelesaikan permasalahan hidupmu."
"Jadi dia menganggap aku sebagai adik?" tanya Kyra.
Dewi menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan majikannya. Kyra menghela nafas, masih belum percaya masih ada lelaki yang berpikir seperti itu. Walau bagaimanapun dia harus tetap waspada, meskipun Kaivan suaminya dia tidak mau jika sampai Kaivan menikmati tubuhnya, dan memanfaatkan harta miliknya.
Sementara di sisi lain, Kaivan sampai di rumahnya dan melihat sang nenek sedang membersihkan toko kelontong, sepertinya akan segera membuka rolling door.
"Assalamualaikum," ucap Kaivan.
"Waalaikumsalam, sudah pulang, Van?" Asnah menjawab dengan pertanyaan.
"Iya, nenek sedang apa?"
"Lagi bersih-bersih toko, karena kamu kalau sudah pulang kan langsung buka toko
"Nenek jangan capek-capek, biar yang ngurus toko sampai bersih-bersih aku aja. Nenek istirahat aja di dalem."
Asnah tersenyum mendengar ucapan cucunya, Kaivan memang selalu perhatian kepada Asnah. Tidak ingin tubuhnya yang sudah renta itu kelelahan karena banyak beraktivitas di dalam rumah. Bahkan seringkali Kaivan yang melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian dan membersihkan rumah.
"Nenek bosen di rumah gak ngapa-ngapain, kalau kemarin-kemarin kan ada televisi nenek bisa nonton. Sekarang nggak ada televisi bingung mau ngapain!"
"Aku sudah menelpon toko elektronik tadi malam, siang ini akan dikirim televisi, mesin cuci, mesin jahit, dan kulkas."
"Kamu beli semuanya, memang ada uangnya?"
"Kalau nggak ada, aku nggak mungkin membelinya, Nek!"
"Uangnya dari mana, Van?"
"Dari bos aku, Nek. Uang yang dia berikan cukup besar, aku bisa lunasi hutang, beli barang-barang isi rumah, dan juga bisa merenovasi toko kelontong juga menambah isi dagangannya."
"Jadi berapa sih pinjaman yang dia berikan?" tanya Asnah masih penasaran.
"Sepertinya nenek tidak perlu tahu nominalnya, yang jelas Kaivan harus berterima kasih kepadanya. Jadi Kaivan tiap malam menjaga miliknya di sana mungkin seumur hidup, Nek!"
"Jika orang itu adalah orang baik, nenek tidak keberatan, Kaivan. Asal kamu tidak berbohong kepada nenek dan kamu tetap di jalan yang lurus. Jangan sampai kamu melakukan hal-hal yang dibicarakan oleh para tetangga,"
Kaivan tersenyum dan mengangguk, memberi pelukan hangat kepada sang nenek walaupun sebentar untuk menenangkan pikiran wanita yang sudah renta itu.
Para tetangga memang bergosip, jika Kaivan menjadi seorang gigolo atau mungkin pengedar narkoba, karena dengan waktu singkat ia bisa mengumpulkan uang untuk membayar semua hutang kepada rentenir.
Kaivan sama sekali tidak peduli dengan gosip pada tetangga, yang penting baginya sekarang membahagiakan satu-satunya keluarga yang ia miliki yaitu neneknya.
Ia membuka toko kelontong seperti biasanya, siang harinya Ardi datang bersama seorang yang akan dipercaya untuk merenovasi toko kelontong miliknya. Setelah selesai mengobrol, berdiskusi dan negosiasi masalah pembangunan selesai orang itu pun pamit pergi meninggalkan Kaivan dan Ardi.
"Di, seandainya toko kelontong ini buka 24 jam, Apa kamu mau kerja malam harinya?"
"Ya mau lah, aku sudah mencari kerja ke mana-mana tapi nggak ada yang diterima satupun. Nggak apa-apa jagain toko kelontong dengan gaji kecil yang penting ada pemasukan."
"Nanti gaji kamu 30% keuntungan toko ini."
"Terserah kamu aja, yang penting aku kerja dulu. Udah umur segini belum punya tabungan sama sekali, bayangin aja mana ada perempuan yang mau sama aku."
"Aku juga berpikir seperti itu, Di. Maka dari itu sekarang aku sudah menikah, aku ingin membuat istriku waras, mungkin aku akan seumur hidup bersamanya."
"Kamu yakin, Van?"
Kaivan mengangguk menjawab pertanyaan sahabatnya. Dia sudah lelah di hina orang ketika dia hanyalah orang miskin dan tidak punya apa-apa. Kyra baginya adalah hadiah yang di kirim Tuhan untuk mengangkatnya dari lubang kemiskinan itu, meskipun dia sadar sama saja telah menjual harga dirinya untuk hal tersebut. Namun, mengetahui keadaan Kyra yang ternyata di manfaatkan oleh ibu tirinya Kaivan bertekad untuk membuat istrinya itu sembuh.
"Kalau gitu kamu harus membawanya berobat."
"Sepertinya hal itu tidak akan diperbolehkan oleh Nyonya Zaina, jika memang dia ibu tiri yang baik pasti sudah sejak dulu membawa Kyra ke rumah sakit jiwa. Nyatanya dia memang memanfaatkan keadaan Kyra yang seperti itu untuk keuntungan dirinya sendiri."
"Serius, maksudnya gimana sih. Apa seperti kisah bawang merah bawang putih?"
"Mirip, tapi sepertinya lebih tragis. Aku gak bisa cerita detailnya karena aku sudah menandatangani surat perjanjian pernikahan, dan salah satu poin perjanjian itu Aku tidak boleh membocorkan rahasia keluarga mereka kepada siapapun," ucap Kaivan menjelaskan.
Ardi menghela nafas, sudah diduga olehnya bahwa masuk ke dalam kehidupan keluarga orang kaya tidaklah semudah kehidupan orang biasa. Pasti ada sesuatu yang rumit yang mungkin akan Kaivan hadapi suatu saat nanti.
"Van, kalau kamu nggak bisa bawa Kyra berobat ke dokter umum, tapi kamu ingin benar-benar membuatnya sembuh. Ada alternatif lain."
"Alternatif lain?" tanya Kaivan dengan menautkan kedua alisnya.