"Dewi, bisa saya bicara sebentar?" tanya Kaivan pada asisten istrinya.
"Mau bicara apa, Tuan?" Dewi balik bertanya.
Mereka pun duduk di kursi yang ada di dekat kamar Dewi dan Kyra. Kaivan terdiam sejenak sebelum bertanya pada Dewi, sementara Dewi menunggu Kaivan bertanya dengan jantung berdebar. Gadis yang bekerja sebagai asisten pribadi Kyra itu takut suami majikannya bertanya hal yang membuatnya bisa salah berucap.
"Wi, sejak kapan Kyra mengalami gangguan jiwa?"
"Itu ... Semenjak Tuan Kalindra meninggal."
Memang semenjak Papa dari gadis itu meninggal, banyak kejadian-kejadian yang membuat Kyra memutuskan untuk berpura-pura mengalami depresi.
"Apakah dulu dia sangat dekat dengan papanya hingga depresi karena papahnya meninggal?"
"Kalau masalah kedekatan, saya kurang tahu. Saya bekerja di sini ketika Nona sudah dinyatakan Depresi, jadi saya tidak tahu bagaimana saat Nona Kyra kecil atau sebelum papanya meninggal."
"Siapa pekerja paling lama di sini, yang mungkin mengetahui masa kecil Kyra?" tanya Kaivan karena merasa ingin tahu lebih banyak tentang sang istri
"Mungkin, Mbok Rah. Sepertinya dia yang dulu mengasuh Nona Kyra sejak kecil."
Kaivan menganggukan kepala mendengar jawaban Dewi, sebenarnya Kaivan ingin tahu lebih banyak tentang wanita yang kini berstatus istrinya. Namun, ternyata Dewi bukan orang yang tepat untuk ditanyakan lebih banyak.
"Wi, tolong dicatat apa saja yang tidak disukai oleh Kyra, dan apa yang disukainya. Lalu besok kenalkan aku kepada Mbok Rah!"
"Baik, Tuan Kaivan." jawab Dewi seraya menganggukan kepala.
"Terima kasih sebelumnya, silahkan lanjutkan tidurmu, aku juga ingin istirahat!"
"Iya, Tuan. Saya permisi," ucap Dewi lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Sementara Kaivan masih duduk dia menatap kosong ruangan luas di hadapannya. Dia ingin tahu lebih banyak tentang Kyra, ingin memperlakukan wanita itu sebagai adik, memberikan yang terbaik untuknya. Karena bagi Kaivan Kyra adalah perantara yang di kirim Tuhan untuknya lepas dari masalah hidup yang hampir membuat dia merasa tidak berguna untuk neneknya.
Tanpa Kaivan sadari, diam-diam Kyra mendengar pembicaraan Kaivan dan Dewi di balik pintu. Saat tahu pembicaraan mereka selesai Kyra pun langsung berlari kecil menuju ranjang dan pura-pura tidak mendengar pembicaraan tadi.
"Apa-apaan sih, ngapain nyari tahu tentang aku juga. Jangan sampai dia sama jahatnya dengan si Lampir, jangan sampai dia punya niat buruk kepadaku," gumam Kyra.
Seringnya di khianati dan hanya di manfaatkan oleh mantan kekasih, membuat Kyra sulit untuk percaya kepada seorang lelaki, dia selalu over thinking dan negatif thinking.
Krieeet
Suara pintu terbuka, nampaknya Kaivan mulai masuk ke dalam kamar dan melangkahkan kaki mendekat ke arah ranjang. Lelah bekerja membuat Kaivan ingin segera istirahat, tapi dia tak pernah lupa untuk membersihkan badan terlebih dahulu. Sesaat Kaivan menatap wajah sang istri yang tengah tertidur lelap, dia mendekatkan wajahnya, jemarinya menyentuh pipi mulus Kyra menyingkirkan sedikit rambut yang menutupi wajah cantik sang istri. Kaivan tersenyum lalu mengecup kening Kyra."Kalau tidur seperti ini dia tambah cantik, damai melihatnya."
Kaivan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah memastikan Kaivan tidak ada di dekatnya Kyra pun membuka mata dan memegangi dadanya yang berdebar kencang.
"Astaga apa yang dia lakukan tadi, berani-beraninya dia mencium keningku. Iya sih aku istrinya, tapi kan ... Ini dadaku Kenapa lagi, jadi berdetak kencang nggak beraturan seperti ini?" Kyra bergumam seraya memegangi dadanya.
Kyra masih dengan debaran jantungnya yang masih terasa belum menentu, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Kaivan selesai membersihkan tubuhnya dan telah berganti pakaian memakai piyama tidur. Lelaki tampan itu berjalan dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur king size tepat di sebelah Kyra, hanya ada guling yang memisahkan mereka berdua. Kyra masih berpura-pura tidur ia memejamkan matanya. Namun, aroma tubuh Kaivan yang baru saja selesai mandi menggoda imannya.
"Sial ... Bisa-bisanya Aku lupa hal ini, mulai sekarang aku harus terbiasa tidur bersama lelaki asing ini. Apa aku bisa tidur tiap malam kalau seperti ini, apa dia akan melakukan itu kepadaku, seperti pasangan suami istri pada umumnya?" gumam Kyra dalam hati.
Gadis cantik itu menggerakan tubuhnya hingga kini dia memunggungi Kaivan, sementara Kaivan yang terbiasa tidur dengan lampu di matikan, tidur terlentang dengan penutup mata dengan masker Buff. Mereka pun tertidur pulas, meski awalnya Kyra takut Kaivan melakukan hal macam-macam padanya. Namun, nyatanya lelaki itu sama sekali tidak melakukan apapun.
Pagi pun datang, matahari mulai menampakan sinarnya melalui celah-celah gorden, Kyra membuka mata dan terkejut melihat mahluk tampan kini tepat berada di hadapannya, wajah mereka begitu dekat. Kyra tak sadar bahwa tadi malam dia mengubah posisi tidurnya sendiri dan memeluk tubuh kekar Kaivan.
"Dia masih tidur, kan?"
Kyra duduk dan terus memandangi wajah tampan sang suami. "Apa ada alasan lain selain karena lilitan utang, sehingga lelaki tampan seperti ini mau menikahi wanita gila?" gumam Kyra dalam hati.
Kyra menggelengkan kepalanya lalu turun dari ranjang, dia berjalan menuju kamar mandi. Selesai mandi Kyra langsung memakai baju di walkin closet.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," ucap Kyra.
Dewi masuk membawa baki berisi makanan, biasanya dia hanya membawa satu piring kali ini ditambah satu piring lagi untuk suami majikannya itu.
"Tuan Kaivan belum bangun?"
"Biarkan saja, dia tidur seperti orang pingsan."
"Dia pulang hampir pagi, Nona. Mungkin sangat lelah jadi masih pulas."
"Kau selalu saja membelanya," ucap Kyra lalu meminum s**u hangat yang di bawakan Dewi.
"Maaf, Nona." 0
Kyra mengangguk, indera pendengar Kaivan terusik ketika mendengar suara Dewi dan Kyra sedang berbincang. Lelaki tampan itu membuka masker Buff yang menutup matanya lalu perlahan membuka mata, membiarkan cahaya masuk dan beradaptasi dengan pupilnya.
"Wi, jam berapa sekarang?" tanya Kaivan.
"Jam setengah delapan pagi, Tuan,"
"Astaghfirullah ... Aku kelewat waktu Salat subuh," ucap Kaivan terkejut lalu bangkit dari duduknya.
Kyra memandang Dewi sekilas lalu menunduk. Mendengar kata Salat dia teringat sudah sangat lama tak mengerjakan hal tersebut, kewajiban seorang hamba yang telah dia lalaikan selama ini.
"Maaf, Tuan. Saya tidak berani membangunkan, takut mengganggu tidur, Tuan," ucap Dewi.
"Tidak apa-apa, Wi. Mungkin saya harus menyetel alarm tiap hari agar tidak ketinggalan salat subuh." Kaivan memaklumi.
"Iya Tuan. Oh iya, ini saya bawakan sarapan untuk Tuan dan Nona."
"Terima kasih, Wi," jawab Kaivan tersenyum manis pada Dewi, hal itu di lihat oleh Kyra dan membuat wanita tersebut sedikit kesal.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi keluar."
Kaivan tersenyum dan mengangguk, Dewi keluar dari kamar menyisakan sepasang suami istri tersebut. Kaivan berjalan mendekat kearah Kyra, dia tersenyum melihat istrinya sedang sarapan.
"Sarapannya enak?"
Kyra menjawab dengan anggukan kepala, dia masih fokus dengan makanannya dan tak ingin menatap wajah sang suami.
"Kamu suka sarapan seperti ini setiap hari?"
Kyra mengangguk masih menyantap sandwich dengan isian telur yang di bawakan oleh Dewi tadi.
"Aku bisa membuatkannya untukmu setiap hari, sandwich spesial dengan cinta."
Uhuuk
Uhuuk
Kyra tersedak mendengar ucapan Kaivan, lelaki tampan itu lantas memberikan s**u hangat untuk diminum oleh Kyra. Setelah meminum s**u tersebut Kyra menghela nafas dan memandang tajam kearah Kaivan.
"Apa dia sudah gila, aku baru dengar ada lelaki yang menggombal wanita gila," gumam Kyra dalam hati.
Melihat tatapan Kyra yang tajam, Kaivan tersenyum lalu mengusap sudut bibir Kyra yang terdapat sedikit bekas s**u. Hal itu membuat Kyra melebarkan bola matanya.
"Kamu tidak suka ya?"
Kyra menggelengkan kepalanya, menghabiskan sarapannya dengan cepat lalu meminum sisa s**u hangat hingga tandas. Hal yang baru pertama dia lakukan seperti orang gila sungguhan yang sedang kelaparan.
Setelah menyelesaikan sarapannya Kyra bangkit dan berjalan kearah jendela, menjauhi Kaivan yang sedang menikmati sarapannya.
"Aku bisa jadi benar-benar gila, kalau bersama dia terus berdua di dalam kamar," gumam Kyra dalam hati.
Kyra menatap hamparan bunga-bunga di taman belakang rumah melalu jendela yang telah di buka. dia terus meremas ujung bajunya, gelisah berharap Kaivan segera menyelesaikan sarapan dan pergi dari kamar tersebut.
Setelah Kaivan selesai sarapan, dia pun masuk ke dalam kamar mandi, setelah cukup lama di dalam kamar mandi lelaki tampan itu keluar dengan rambut basah, dan handuk yang melingkar di pinggangnya. Sementara tubuhnya dibiarkan terbuka memperlihatkan d**a bidang dan perutnya yang kotak-kotak seperti roti sobek.
Kyra menelan salivanya, walau bagaimanapun Ini pertama kali dia melihat tubuh atletis seorang lelaki langsung di hadapannya. Kaivan tanpa rasa malu berjalan melewati Kyra menuju walk in closed. Setelah rapi berpakaian Kaivan kembali berjalan mendekat ke arah Kyra.
"Ra, kalau siang kamu sama Dewi ya, karena aku harus pulang ke rumah nenek. Aku jaga toko di sana, nenek juga belum tahu kalau aku menikah dengan kamu."
Kyra tak menjawab ucapan Kaivan, dia bersandiwara dengan berbicara tak jelas dengan boneka Barbie di tangannya. Kaivan mengusap kepala Kyra membuat gadis itu merasakan desiran aneh dalam dirinya.
"Ra, nurut sama Dewi ya, jangan nakal, setiap malam aku akan pulang menemanimu. Terima kasih karena kamu aku bisa melepaskan satu beban besar dalam hidupku, aku berjanji akan selalu menjaga kamu!"
Kyra masih berpura-pura berbicara dengan boneka di tangannya, sementara Kaivan terus mengusap lembut kepala Kyra, hingga tiba-tiba Kaivan mencium kening Kyra hal itu membuat gadis berwajah cantik tersebut merasa ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya, dia terpaku seakan tak bisa bergerak hingga tak sadar Kaivan telah berjalan dan keluar kamarnya.
Saat Kaivan hendak keluar rumah mewah tersebut Zaina dan kekasihnya sedang berada di ruang tamu tengah bersenda gurau.
"Kai, kau mau kemana?" tanya Zaina.
"Saya mau pulang menemui nenek saya dulu, Nyonya."
"Kesini sebentar ada yang ingin aku bicarakan!" ucap Zaina seraya menepuk sofa di sebelahnya.