Arkana terdiam sambil menatap ponselnya, dia terus memikirkan ulang tawaran yang wanita tadi berikan. Netra Arkana beralih pada satu tas besar, dan satu tas kecil yang sudah tertata rapih.
Dia baru saja di usir dari kost karena telat membayar sewa. Arkana memijat pelan ujung hidungnya, semua terasa sulit karena dia yang dikeluarkan dari tempat kerja.
Pemuda berusia awal dua puluhan itu meronggoh saku, dia meringis pelan dengan bahu yang merosot perlahan. Hanya tersisa uang sepuluh ribu saja, dan beberapa uang logam seribuan.
"Bagaimana ini?" bisik Arkana pelan. Dia menggaruk rambutnya dan kembali menatap layar ponsel.
Tangan Arkana dengan cepat meraih benda pipih itu ketika layarnya berkedip pelan, nomor baru masuk begitu saja, membuat Arkana terkesiap dan dengan cepat mengangkat telepon itu. Dia begitu ragu, namun dengan cepat mengangkat telpon itu.
[Saya Izora, saya tunggu kamu di perumahan Nirwana, jam tujuh malam]
Tut...
Panggilan terputus sebelum Arkana membuka suaranya, dia menatap layar ponsel yang kembali meredup pelan. Dia terdiam cukup lama, sampai senyum lebar kembali tercetak di wajah tampannya.
Jarum jam masih menunjukkan angkat lima sore, dia masih ada waktu sebelum berangkat ke tempat pertemuan. Dengan cepat Arkana berangkat dengan menenteng tas-tas miliknya.
Butuh waktu satu jam untuk Arkana sampai, peluh membasahi wajah pemuda itu, dia tersenyum ketika tujuannya sudah berada di depan mata. Langkahnya kian bertambah cepat, namun harus terhenti di depan gerbang menjulang tinggi.
"Maaf, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu satpam yang berbadan tinggi besar.
"Eh, iya Pak, saya mau masuk ke dalam," jawab Arkana dengan gugup.
"Boleh tahu, Mas mau berkunjung ke rumah siapa?" tanya satpam itu lagi.
Arkana diam, dia tidak memiliki alamat lengkap Izora, dia hanya diminta untuk datang ke tempat ini saja. Di tengah kekalutan Arkana, suara klakson mobil terdengar dari belakang, seorang wanita cantik dengan pakaian elegannya turun.
Izora berjalan menghampiri Arkana, dia menatap dengan teliti penampilan pemuda di depannya. Semua terlihat lebih kacau dari tadi pagi, Izora menggelengkan kepala pelan, dia menatap satpam dan tersenyum samar.
"Dia tamu saya, Pak." Beritahu Izora dengan suara tenangnya.
Satpam itu mengangguk paham tanpa menanyakan hal yang lebih lanjut lagi. Satpam itu memilih undur diri dan masuk kembali ke dalam pos nya.
"Selamat malam, Kak," sapa Arkana basa basi. Dia tersenyum sambil menggaruk pelan ujung pelipisnya.
"Masuk," perintah Izora.
Arkana meremat tasnya, dia benar-benar seperti akan menjual diri pada Tante-tante. Arkana menarik napas dalam sebelum memasuki mobil hitam milik Izora.
Arkana menelan ludah ketika pintu mobil tertutup dengan rapat, dia sudah memilih, dan inilah pilihan untuk masa depannya, Arkana yakin dan ia percaya bahwa wanita di sampingnya ini adalah wanita baik. Mobil melaju pelan, meninggalkan gerbang perumahan Nirwana dan masuk ke dalamnya.
Beberapa rumah mewah berjejer dengan rapinya, semua terlihat sama dengan interior yang serupa, tidak ada percakapan yang berarti di dalam mobil, semua terasa hening tanpa suara. Sampai mobil putih itu berbelok pada salah satu rumah dengan nomor sembilan di depannya.
Mobil berhenti tepat di depan rumah mewah yang terlihat indah dengan beberapa lampu terang di setiap sisinya. Izora keluar lebih dulu, lalu di susul Arkana di belakangnya, wanita itu masih tanpa kata, membuka pintu perlahan dan masuk tanpa mempersilahkan.
Arkana hanya mampu mengikuti saja dari belakang, sampai tiba di ruangan besar yang begitu luasnya. Rumah ini begitu sunyi, namun ada ketenangan yang membuat Arkana nyaman.
"Jadi ...," ucap Arkana berdehem pelan. "Mengenai tawaran Kakak ...,"
"Panggil Izora saja," potong wanita itu tanpa menoleh, dia duduk tenang di kursi dengan satu kaki yang menyilang.
Arkana terdiam, dia menunduk sekilas dan menatap kembali pada Izora, memanggil nama sepertinya bukan pilihan yang baik. Tetapi ... "Baik, Izora."
Izora mengeluarkan satu berkas yang di lapisi map biru dari dalam tas kerjanya. Dia menaruh map itu di atas meja dan mempersilahkan Arkana untuk membaca isinya.
"Jika kamu tidak setuju, kamu bisa keluar dari rumah ini, saat ini juga. Saya tidak memaksa," ucap Izora dingin, terdengar tegas dan serius. Dia menatap penampilan Arkana dan memperhatikan satu tas besar yang pemuda itu bawa. "Tapi ... sepertinya kamu tidak memiliki pilihan lain."
'Yah benar, Izora membutuhkan suami, dan aku membutuhkan tempat tinggal. Dia hanya membutuhkan aku sebagai seseorang yang berdiri di sisinya, dan aku membutuhkan uangnya,' batin Arkana, sambil terus memperhatikan deretan kata di dalamnya.
Arkana terdiam, dia menelan ludahnya dengan susah payah, dia menggaruk pelan pelipisnya dan terus membaca setiap detail isi yang berada di dalam berkas itu. Izora memperhatikan segalanya, tanpa sadar sudut bibirnya melengkung samar, dia merasa konyol dengan pilihannya ini.
"Bagaimana?" tanya Izora memastikan.
Arkana menaruh map itu di atas meja, dia meraih pena dari saku kemejanya dan berjongkok untuk menggoreskan tinta di atas kertas itu.
"Sama seperti yang Izora ucapkan, saya memang tidak memiliki pilihan yang lain," kata Arkana sambil melirik tas besarnya.
Dia tidak tinggal dengan siapapun di kota sebesar ini, dia berjuang sendiri bahkan sedari kecil. Arkana adalah anak yang tidak di harapkan, tumbuh dengan perjuangan yang sering kali membuat dirinya letih.
"Baik kalau begitu, besok kita menikah."
"Besok," ulang Arkana dengan suara pelan.
Izora mengangguk, dia berdiri dari duduknya dan menatap Arkana yang masih berjongkok di atas lantai. Kaki Izora melangkah perlahan ke arah Arkana, meraih dagu pemuda itu pelan dan membuat wajah polosnya mendongak ke arahnya.
"Selamat malam, suami kecil." Izora tersenyum tipis, dia lantas pergi dari sana begitu saja.
Hati Arkana berdegup dengan kencang, perasaannya membuncah tiada kira. Senyuman yang baru saja dia dapatkan membuat Arkana seperti melayang tinggi ke langit.
Tidak lama, suara langkah kembali terdengar, satu wanita yang terlihat sudah sedikit tua datang menghampiri Arkana. Wanita itu mengangguk ramah, dan mempersilahkan Arkana untuk mengikuti dirinya.
"Mas bisa tidur di kamar ini," ucap pembantu itu, dia membuka pintu perlahan dan mempersilahkan Arkana masuk ke dalamnya.
"Terima kasih, Bi."
"Sama-sama, Mas bisa panggil Bi Surti jika membutuhkan sesuatu," ucap pembantu itu lagi.
Arkana hanya mengangguk saja, kini dia ditinggalkan di dalam kamar yang lebih mirip ruang tamu baginya. Kamar ini begitu luas dengan ranjang yang begitu besar.
Pagi menyapa dengan kicau burung di luar jendela, Arkana menggeliat dari tidurnya dan menguap begitu lebar.
"Sudah bangun."
Arkana refleks bangkit dari tidurnya, matanya membulat dan segar sepenuhnya ketika dia melihat keberadaan Izora yang duduk di dekat jendela. Wanita itu terlihat sudah rapi dengan pakaian sederhana yang menurut Arkana cukup elegan.
Izora melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. "Cepat mandi. Kita akan ke KUA untuk mengurus segalanya."
"KUA?" Arkana mengulang pelan, suaranya masih setengah serak karena baru bangun dari tidur.
"Saya tunggu di lantai bawah, lima belas menit lagi," ucap Izora sambil menatap jam tangannya. Dia menatap Arkana sekilas dan berlalu pergi dari sana begitu saja.
Arkana menggaruk pelan rambutnya, dia menguap kembali dan dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lima menit Arkana mandi, ketika dia akan berganti pakaian, suara ketukan pintu kembali terdengar.
Arkana berbalik dan membuka pintu dengan handuk yang masih melilit pinggangnya. Bi Surti berdiri di ambang pintu dengan paper bag hitam di tangannya.
"Ada apa, Bi?" tanya Arkana.
"Mas, bibi di suruh ibu buat kasih ini," ucap bi Surti dengan ramah.
Arkana mengangguk, dia mengambil paper bag itu, lantas dengan cepat membuka isinya. Satu set jas berwarna hitam, lengkap dengan dasi dan juga sepatu pantofel yang terlihat mengkilat. Arkana mengeluarkan pakaian itu dan dengan cepat memakainya.
Waktu sudah menunjukkan angka delapan pagi, Izora terlihat menunggu dengan tenang walaupun di wajahnya tercetak jelas rasa risau. Hari ini, dia akan membuat keputusan yang begitu besar mengenai hidupnya. Dia akan menikahi pria yang jauh lebih muda dari usianya.
Izora mendongak menatap lampu gantung yang terpasang indah, dia mencoba mengenyahkan perasaan ragu dalam hidupnya. Ini bukan keputusan yang buruk, daripada dia harus terus terlibat dengan kencan buta ibunya.
"Izora, saya sudah selesai," panggil Arkana pelan.
Izora menarik napas, dia menatap penampilan pemuda di depannya dengan sedikit terkejut. Penampilan Arkana jauh lebih baik dari sebelumnya, dia lebih terlihat matang dan rapi, belum lagi rambut yang tersisir ke belakang, dan memperlihatkan jidatnya.
"Tidak buruk juga, ayo berangkat."
Arkana mengangguk, dia mengikuti langkah Izora dari belakangnya.
"Bawa mobilnya." Izora melempar kunci mobil begitu saja.
Arkana menarik napas dalam, mungkin dia harus ekstra sabar ke depannya. Dilihat dari sikap, Izora itu pemimpin, dia pasti sulit sekali di atur, terlebih umur mereka yang begitu jauh.