Penghulu duduk dengan tatapan yang terus meneliti Arkana dan Izora, kemudian kembali menatap lembar dokumen yang berada di tangannya. Beberapa kali penghulu itu juga, membenarkan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Apa tidak bisa lebih cepat lagi," perintah Izora dengan tegas, dia terus menerus menatap jam tangannya.
"Eh. Maaf Bu, tapi saya perlu memeriksa semuanya dengan detail. Ada beberapa pertanyaan yang harus saya ajukan juga," ucap penghulu itu.
Izora mendelik, sedangkan Arkana terus menggerakkan kakinya, kepalanya terus menoleh kesana kemari, entah mencari apa. Hal itu benar-benar membuat Izora tidak nyaman.
"Tidak perlu Pak, saya menikah dengan calon suami saya karena cinta, jadi ... saya mohon di percepat." Izora berkata dengan raut wajah tegas.
Penghulu kembali meneliti berkas. "Baik. Wali telah diwakilkan, saksi sudah hadir, mari kita mulai ijab kabulnya."
Jantung Arkana berdegup cepat, dia sempat melirik kecil pada Izora sebelum menatap meraih tangan pria di depannya. Arkana benar-benar tidak menyiapkan apapun, bahkan untuk wali dan saksi. Semua benar-benar sudah diatur oleh Izora dengan sebaik mungkin.
Dengan satu tarikan napas, dan suara yang lantang janji suci itu terucap, Izora tersenyum samar, sedangkan Arkana mulai berkeringat dingin. Dia kembali melirik Izora dan menyodorkan tangannya, Izora dengan cepat meraih tangan pemuda itu dan menciumnya pelan.
Izora berdiri lebih dulu. Senyumnya tipis, nyaris tidak terlihat, dia menatap pada penghulu di depannya dan berucap terima kasih, begitupun dengan Arkana, mereka menggenggam masing-masing buku nikah.
"Sebentar, kita harus melakukan sesi foto." Izora berhenti melangkah, dia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel.
"Mendekatlah, dan pegang buku nikah di depan."
Arkana dengan cepat mendekat, dia berdiri di sisi Izora dengan canggung. Menatap pada layar ponsel yang menyala dan mulai menarik kedua sudut bibirnya pelan.
"Lebih dekat," perintah Izora.
Arkana mengerjap pelan, dia melangkah lebih dekat lagi. Aroma parfum yang Izora pakai tercium menusuk ke hidungnya, mereka mulai berpose layaknya pasangan bahagia yang baru saja menikah.
Izora menatap layar ponselnya yang memperlihatkan dirinya dan juga Arkana. Dia merasa puas dan mengangguk samar, lantas dengan cepat menyimpan ponselnya ke dalam tas. Wanita itu mengeluarkan satu kartu hitam dan menyerahkan pada Arkana.
"Ini uang bulanan. Kamu bebas memakainya sesuka hati, tapi ... jika saya butuh, maka kamu harus datang dengan cepat. Paham!"
Setelah mengucapkan hal itu, Izora pergi begitu saja meninggalkan Arkana di depan kantor KUA dengan kartu hitam di tangannya. Arkana terdiam, dia menatap kartu itu dengan perasaan bimbang, haruskah dia menikmati uang yang ada di genggaman tangannya.
Tetapi, Arkana juga membutuhkan uang ini untuk memulai hidupnya, dengan langkah yakin dan pasti, Arkana keluar dari dalam kantor KUA, dia memesan taksi dan akan pergi ke universitas. Dia harus mulai mengejar mimpi yang kini berada di depan matanya.
Sementara itu, foto yang Izora ambil sudah dia kirimkan pada ibunya, Izora hanya berharap bahwa Ratna tidak lagi ikut campur mengenai asmara dirinya. Dia hanya lelah ... lelah karena Ratna yang terus menerus menjodohkan dirinya.
Dering ponsel terdengar nyaring. Izora meliriknya sekilas dan terus melajukan mobil dengan pelan, dia yakin jika Ratna akan marah karena dia yang tidak memberitahu terlebih dahulu mengenai pernikahan ini.
Sesampainya di kantor, Rani sudah menunggunya di lobby dia terlihat meremas jemarinya dengan wajah cemas. Wanita itu dengan cepat menghampiri Izora, ketika melihat kedatangan bosnya.
"Pagi, Bu," sapa Rani dengan ramah.
"Pagi." Izora menjawab dengan wajah cuek, dia terus berjalan ke arah lift pribadinya.
Pintu lift tertutup pelan, dan Rani masih terus mengikuti dari belakang. Dia ingin sekali mengatakan sesuatu. Namun, dia ragu untuk memberitahu.
Rani memejamkan mata, dia terus meremas jemarinya dengan pelan. Dia menatap punggung Izora dari belakang, mulutnya sudah terbuka, dan kembali tertutup ketika bingung harus menyampaikan seperti apa.
"Bicaralah, Rani," ucap Izora dengan dingin.
Rani terkesiap, dia berdehem pelan untuk menetralkan suaranya. "I-itu, Bu Direktur, Anda di tunggu Ibu di ruang kerja."
Ting...
Pintu lift terbuka, Izora masih berdiam diri di tempatnya membuat Rani ikut terdiam juga. Ketika pintu lift akan tertutup dengan cepat Rani menghalangi dengan tubuh kecilnya. Izora menarik napas sebelum keluar dari dalam lift, dia mencoba melangkah dengan percaya diri.
Begitu pintu ruang kerja Izora terbuka, dia melihat ibunya sudah duduk di sofa dengan raut wajah dingin, tatapan tajam Ratna melayangkan pada putri satu-satunya itu.
"Kamu menikah, dan tidak memberitahu Mommy?" sentak Ratna begitu saja.
Izora menghela napas pelan, dia berjalan ke arah kursi kerjanya dan duduk dengan tenang. Dia bahkan tidak terpancing ketika Ratna mulai berteriak membabi buta terhadapnya.
"Duduk Mommy, kakimu akan sakit bila berdiri terlalu lama," perintah Izora dengan santai.
"Kamu," geram Ratna dengan tangan terkepal kuat, tetapi wanita itu dengan cepat menarik kursi dan duduk dengan wajah kesal. "Jadi, siapa pria yang kamu pilih."
Izora memutar bola mata dengan malas, dia menatap Rani yang masih berdiri di dalam ruangan, "Tolong, buatkan minum."
Rani mengangguk pelan, dia keluar dari ruangan Izora untuk membuatkan minuman. Dua wanita berbeda usia itu saling pandang, Izora dengan wajah tenangnya dan Ratna dengan wajah menahan geram.
"Namanya Arkana ...," ucap Izora memulai percakapan. "Berusia dua puluh tahun, sedang melakukan pendidikan di salah satu universitas di kota ini. Dia juga kurir makanan."
"Apa?!" teriak Ratna dengan tangan menghentak meja dengan kencang.
Izora menutup mata, dan bersiap akan amukan ibunya. Dia sudah tidak aneh dengan sikap Ratna, sikap disiplin yang dia dapatkan berasal dari wanita yang melahirkan dirinya.
"Kamu gila! Dia pria muda yang bahkan tidak memiliki pekerjaan, sedangkan kamu direktur utama, Izora Qailula Zivara!" Ratna kembali berteriak, menumpahkan rasa kesal dalam d**a.
Ratna bahkan berdiri dari duduknya dengan suara kursi yang bergeser cukup nyaring. Mata Ratna menyala penuh amarah pada putri satu-satunya itu.
"Mommy nggak mau tahu. Pokoknya kamu harus cerai dengan dia!"
Izora memejamkan mata, dia menarik napas pelan dan menatap ke arah ibunya. "Tidak bisa, kami baru menikah dua jam, tiga puluh menit, dan sembilan detik. Bahkan kami belum melakukan malam pertama," ucap Izora terdengar santai.
"Sejak kapan kamu menjadi anak pembangkang seperti ini, Izora?" tanya Ratna dengan suara tegasnya.
"Mommy pulang dulu. Aku harus bekerja," usir Izora.
Ratna semakin menahan geram, dia meraih tasnya dan pergi dari sana dengan perasaan kesal. Tepat di ambang pintu, Rani berdiri dengan segelas air teh hangat di tangan, dia menatap Ratna dengan wajah heran.
"Ibu, airnya," tawar Rani dengan wajah tersenyum.
"Minum sendiri!" sentak Ratna sambil berlalu pergi dari sana.
Rani meringis pelan, dia menggaruk pelan rambutnya, lalu menatap Izora yang berwajah santai. Rani melangkah mendekat pada Izora, menatap bosnya itu dengan tatapan bingung.
"Bu Bos, nyonya kenapa?" tanya Rani merasa heran.
"Pergilah bekerja Rani, jangan banyak tanya."
Rani menelan ludah dengan susah payah, dia mengangguk samar dan memutar tubuh. Dengan langkah cepat Rani keluar dari dalam ruang kerja Izora.
Ting ...
Ponsel Izora berdenting pelan, dia dengan cepat meraih ponselnya dan menatap sederet kata di dalamnya.
[Bawa pria itu bertemu dengan mommy, malam ini]
Izora menatap layar ponselnya cukup lama, dia mengetukkan jari ke atas meja dengan ritme pelan. Tidak ada lagi pesan dari ibunya, membuat Izora mulai membalas pesan itu dengan cepat.
[Aku sibuk]
Dua kata yang cukup membuat Ratna bertambah geram, dia dengan cepat membalas pesan putrinya.
[Mommy berhak tahu bagaimana pilihanmu itu, bawa dia ke rumah atau mommy yang ke rumahmu]
Izora memutar bola mata dengan malas, dengan berat hati, Izora mulai mengetik sesuatu dan mengirimkan langsung ke ibunya. Sementara itu, Arkana terlihat berdiri di depan sebuah universitas yang cukup terkenal di ibukota, dengan langkah mantap dia melangkah masuk ke dalamnya.
"Aku pasti bisa," gumam Arkana, semangatnya terlihat menggebu dengan binar yang menyala.