Rasanya memang ingin sekali menunggui anaknya ini, sejak tengah malam dia hanya menangis saja. Pagi ini makanan yang disuapkan oleh ibunya meski mulut menerimanya tapi perutnya tidak, makanan itu kembali keluar dan begitu terus. Padahal tumbuh kembang anak itu sudah terganggu, dia tidak bisa memenuhi kurva tumbuh kembang anak pada umumnya. Bagaimana lagi, kedua orang tuanya sudah berusaha semaksimal mungkin dengan segala kemampuan mereka.
"Masih gak ada makanan yang masuk kah?" tanya Rendi iba.
Amirah menggeleng lemah, anak itu masih menangis meski lemah. Bagaimana tidak melemah, dia bahkan tidak bisa makan sejak semalam. Sudah begitu masih kesulitan ketika buang air kecil, tangisnya akan menjadi ketika itu terjadi. Dengan lirih Amirah bercerita, kemarin dia sempat menelpon saudaranya untuk meminjam uang, tapi nihil. Sempat ke rumah budhenya yang hanya jarak beberapa rumah saja dari kontrakan, berharap dia sudi meminjamkan uang semampu mereka. Tapi nihil juga.
Amirah tidak bercerita kalau wanita itu malah mencela anaknya yang penyakitan juga suaminya yang dianggap tidak becus bekerja. Amirah memendamnya sendiri saja, karena pastinya dia paham betul kalau suaminya juga sudah sangat keras berusaha, berangkat sejak pagi sekali dan pulang larut malam. Tapi berusaha tersenyum di situasi seperti ini bukanlah hal yang mudah, tangis anaknya ini selalu mengiris hatinya, ditambah dengan kenyataan dia sama sekali tidak memegang uang.
"Bawa ke PUSKESMAS saja Dek, biar dirawat di sana. Kalo gak bisa makan kan gimana," saran Rendi yang kuatir dengan keselamatan anaknya.
"Tapi biasanya PUSKESMAS gak berani rawat Mas, pasti dirujuk ke RS." Amirah kembali menenangkan anak dalam gendongannya.
"Dicoba dulu saja, ini hempon Mas kamu bawa saja. Nanti kalo perlu apa-apa kamu telpon kantor." Rendi menyerahkan sebuah benda persegi panjang.
"Iya Mas," jawab Amirah.
"Mas pergi dulu, Aidan ayah kerja dulu ya. Doain lancar trus dapat donasi buat pengobatan kamu." Rendi mengecup dahi anaknya itu.
"Gak sarapan dulu Mas?" tanya Amirah begitu melihat suaminya sudah mau pergi.
"Gak sempet Dek," jawab Rendi beralasan dan berpamitan.
Memang hanya beralasan, nasi itu hanya sedikit dan kalau dia sarapan nanti istrinya makan apa.
***
Masih pagi sekali dan Kay harus dihadapkan dengan kenyataan kalau kedua orang tuanya ini terlalu rajin. Saking berminat nya mereka mantu hingga jam segini mereka sudah menampakkan diri di ruangan Kay. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin, bukankah satu minggu itu masih beberapa hari lagi. Kenapa kedua orang ini sudah mengusik kehidupan putrinya hingga seperti ini, hanya satu minggu saja waktu yang mereka beri tapi belum genap itu mereka sudah bertanya terus. Baiklah memang mereka menanyakan progresnya setiap hari.
"Bu Kaylee sudah ditunggu pak Ardiyanto dan Bu Ranti di ruangan," kata salah seorang OB yang kebetulan bertemu di depan lift.
"Hehh?!" gumam Kay kaget.
"Hah heh aja Mbak Kay ini," gumam Santi membuntuti majikannya.
"Kamu, San itu dia tadi ngomong apa?" tanya Kay menajamkan telinga.
"OB itu? Itu Mbak, udah ditunggu bapak sama ibu di dalem," jawab Santi mengulang kalimat OB tadi.
Wahai dasternya Mak Lampir, apapula ini. "Astagaaaa, San kita balik ajalah gak usah ngantor." Kay dengan sebal berbalik.
"Eh Mbak, gak ngantor gimana? Kan nanti ada jadwal meeting sama salah satu supply chain loh." Santi gelagapan.
"Nanti aja datang pas meeting, lokasinya ganti aja di luar kantor. Hari ini aku gak usah ngantor aja," putus Kay sambil berjalan cepat menuju lobi.
"Mbak jangan gitu, kan nanti ada perlu tandatangan itu. Kalo gak kan gak gajian semua manusia itu." Santi mengingatkan, kan gawat kalau sampai didemo karyawan.
"Bodo amat, berkas suruh bawa ke rumah," sahut Kay kesal berjalan cepat keluar.
"Mbak, gimana sih punya majikan satu aja ribet bener," keluh Santi.
Belum sampai menginjak halaman kantor Santi sudah ditelpon, bapaknya si Boss sudah menunggu dan Kay jam segitu seharusnya sudah sampai di kantor, ada di mana dia. Kalau tidak becus bekerja sebaiknya turun saja dari kursinya, akan banyak orang yang bersedia menggantikannya di posisi itu. Santi memberitahukan itu dan Kay segera lemas mendengar ancaman bapaknya. Kalau Kay turun dari situ tidaklah bagus, membangun karir dari nol lagi sangatlah memakan waktu.
"Gimana ni? Bapak telpon kita suruh cepet Mbak," lapor Santi menunjuk smartphone di tangannya.
"Pak tua dan nenek sihir itu emang keterlaluan," sungut Kay yang segera ke atas tanpa banyak pilihan.
"Sabar lah Mbak, mungkin emang udah kepengen nimang cucu." Santi dengan tergopoh mengikuti boss-nya.
Dengan malas Kay memasuki ruangannya juga, tampak mama dan papanya semringah duduk bersama menikmati kopi juga cookies. Rasanya jadi segera ada firasat buruk, wajah mama dan papanya ini terlihat berseru, entah apa yang mereka rencanakan lagi kali ini. Waktu itu mama sudah datang ke rumah membawakan foto seorang pria dengan kepala botak yang langsung Kay tolak mentah-mentah. Lalu yang sekarang apalagi, bukankah waktu satu minggu itu juga masih belum habis.
"Pimpinan macam apa yang datang terlambat? Gak ada tanggung jawabnya," sindir papa begitu melihat Kay.
Bukannya datang terlambat wahai pak tua, rasanya Kay ingin sekali meneriakkan itu. Tapi urung, diam sajalah daripada semakin runyam. Melawan papanya ini Kay biasanya memang tidak pernah menang, memang papa bukan orang jahat, tapi sikapnya yang selalu memaksa itu memang menjengkelkan. Tanpa suara keras papa akan menekan lawan bicaranya hingga tidak punya pilihan, dan itu sudah terjadi beberapa kali. Kay tidak akan bisa dikibuli lagi.
"Kay, udah dapet laki belum?" tanya papa dengan enteng.
Tuh kan, wahai dasternya Mak Lampir yang belum pernah cicipi londri. Menanyakan calon menantu seperti membeli sepatu saja. Mencari laki memangnya segampang itu, untuk suami saja Kay harus berpikir keras pria mana yang pantas mendampinginya, apalagi sebagai ayah untuk anaknya. Lelaki memang banyak di antara hampir delapan milyar manusia penghuni bumi, tapi ya yang sesuai dengan kriteria lah. Cari suami kok ngawur.
Yang seperti itu harus berulangkali dipikirkan, paling tidak dia harus tampan, Kay tidak mau anaknya buruk rupa. Yang pasti dia harus cerdas, tidak lucu kalau punya anak planga-plongo. Dan pria itu harus penurut, Kay tidak ingin hidup dalam aturan laki-laki. Santi menjawab yang diinginkan oleh Kay itu bukanlah suami tapi b***k, bodo amat lah. Kalau tidak sesuai dengan kriteria itu sebaiknya Kay jadi wanita single saja.
"Belum Pa," jawab Kay lirih.
"Anak bandel emang, makanya nurut Mama Papa aja. Kita jodohin." Papa kembali dengan pendapat yang sama.
"Selera Mama dan Papa jelek," jawab Kay.
"Menghina, sini deh duduk sini liat Mama bawa calon lagi. Gak cuma satu tapi ada banyak, kamu bisa pilih." Mama mengeluarkan sebuah amplop.
"Akhir bulan kamu harus sudah menikah," kata papa.
"Kalo gak?" tanya Kay penuh selidik.
"Kalo gak, gak dapet warisan. Papa sumbangin aja semua." Papa mengancam.
"Ini aku anak kandung apa anak nemu sih?" keluh Kay lemah.
***
"Mama please deh, gak yang gendut begini juga kali," protes Kay tidak rela.
Pria ini, baiklah masih bisa dianggap tampan. Ada gurat ketampanan yang tertutup lemak di wajahnya, tapi ini bukan pilihan. Kay tidak suka ini, apalagi kabarnya yang sebesar ini alat kelaminnya juga tertutup lemak, tidak maksimal mana enak. Dan lagi perut itu kenapa seperti membawa kendang, bahkan orang hamil 9 bulan pun tidak begitu amat. Ya Tuhan, bila berjalan dengannya pasti rasanya seperti membawa sebuah gentong berjalan.
"Kay, dia ini kaya banget. Value perusahaan dia udah nembus beberapa T yang di luar sana." Papa kembali yang dilihat hanya kemampuan finansial.
"Pa, gak mau. Kalo Papa maksa, Papa kawini aja sendiri," kata Kay tidak sopan.
"Ngawur, masa Papa kawin ama sesama laki," jawab papa.
"Ini aja lho Kay, ganteng banget anaknya tante Vika, namanya Donny." Mama memperlihatkan sebuah foto pria yang kekar dan gagah, oh ya dia juga tampan.
"Ini baru keren, lulusan mana Ma?" tanya Kay terpesona pada pandangan pertama.
"Itu, nganu ... S1 gak lulus, agak kurang pinter sih emang." Jawab mama yang segera disambut dengan wajah pahit anaknya. Mamanya ini bagaimana, seneng punya mantu agak bodoh.
Mencari suami kenapa sesulit ini. Memang benar, sebaiknya beli saja. Dan kepala Kay sekarang cuma ada Rendi seorang, bagaimana caranya agar bisa membeli lelaki itu,
***