Amirah menyapu rumahnya, setidaknya meski tidak bagus amat yang penting rumahnya ini bersih. Bagaimana lagi, mereka hanya mampu menyewa kontrakan yang isinya hanya beberapa petak ruangan saja. Ini sudah lebih baik, karena tinggal di kost rumah tangga juga bukan pilihan bagus. Anaknya tidak bisa beristirahat dengan tenang dan tangisnya di malam hari dikecam banyak orang. Situasinya ini, memang sedikit sulit tapi tetap dia tidak bisa memaksa suaminya.
Belum juga selesai dia menyapu rumahnya, seorang wanita tambun memakai rok kembang-kembang datang membawa kresek belang-belang. Meski sedikit aneh karena budhenya ini memang jarang kemari tapi Amirah mempersilahkan wanita itu masuk. Alis mata wanita itu menyatu ketika melihat Aidan yang masih terus saja menangis, sudahlah Amirah sudah paham, tidak semua orang mengerti.
"Siang Budhe, ada apa ya?" tanya Amirah dengan sopan.
"Ini nih, dapet kiriman dari anakku beras satu karung. Nih aku bagi lima kilo." Budhe menyerahkan kresek itu kepada Amirah.
"Makasih Budhe," jawab Amirah bahagia, lima kilo beras sangat berarti karena dia bisa berhemat untuk membeli s**u anaknya.
"Itu anakmu kok nangis terus sih?" tanya Budhe.
"Namanya juga sakit budhe," jawab Amirah.
"Sakit kok gak sembuh-sembuh, padahal katanya ke rumah sakit bolak-balik. Dikibulin dokternya paling kamu, mending bawa ke mbah Samijan biar disuwuk." Budhe kembali berkata.
"Iya Budhe," sahut Amirah yang sudah kehilangan napsu menjelaskan, pasti akan ribut bertanya lagi apa itu gagal ginjal kronis. Paling cuma ketempelan jin.
"Itu nangis terus, suaranya lho kedengeran sampe rumahku. Gak kamu kasih makan apa gimana?" tanya Budhe penuh prasangka buruk.
"Udah Budhe," jawab Amirah serba salah.
"Kupingku ini lho sampe gatel denger omongan tetangga, anaknya Amirah itu nangis terus. Wong ya kamu itu pengangguran momong anak saja kok gak becus. Nangis itu mbok ya diemin." Budhe mulai menyerocos.
Seandainya anaknya sehat tentu tidak akan menangis hingga serak seperti ini, kondisinya memang sudah terlampau parah dan dokter sudah menyarankan untuk transplantasi ginjal saja. Tapi yang darimana, untuk menebus obat juga biaya hidup saja sudah ngos-ngosan dan suaminya harus selalu pulang larut malam. Tangis Amirah hanya bisa dilakukan dalam sunyi, ketika anaknya tidur dan suaminya belum pulang.
"Budhe, mau dibuatin teh?" tanya Amirah mengalihkan perhatian.
"Ya iyalah, pegel aku ini ngos-ngosan jalan dari rumahku ke rumahmu ini." Budhe mengiyakan sekalian mengungkap kekesalan.
"Tunggu sebentar Budhe," ucap Amirah menuju dapur sementara tangis anaknya mulai terdengar lagi.
Budhe itu memijit telinganya, rasanya seperti kemasukan seekor lebah begitu anak itu mulai menangis lagi. Dasar memang ibunya momong aja tidak becus, kalau digendong masih nangis itu mbok ya diayun atau dikeloni. Atau ajak keluar beli jajan di warungnya Mak Jum, sama bocah kok ya tega. Bisa saja sebenarnya Budhe membelikannya, tapi kapok. Dulu pernah dibelikan kerupuk sama permen gambar betmen tapi yang makan malah emaknya.
Tiap hari menangis tidak tahu waktu, katanya sudah diobatkan tapi tidak kunjung sembuh. Jangan-jangan Amirah ini cuma ngibul, bilangnya saja dibawa ke rumah sakit segala tapi kok ya sampe berapa tahun itu tidak sembuh juga. Lagipula budhe tidak yakin kalau si Aidan itu benar-benar diobatkan, buat makan sehari-hari saja mereka irit. Budhe jelas tahu karena ketika belanja saja cuma sedikit sekali di mamang sayur. Rendi itu kerja saja tidak becus memang. Budhe memegangi telinganya lagi.
"Ya ampun Miiir, suara anakmu bikin telinga sakit. Dah aku pulang aja." Budhe segera pergi.
"Iya Budhe," jawab Amirah entah kesal entah bahagia, menjengkelkan meski niat kemarinya baik.
Baiklah, mari menghela napas panjang.
Sabar.
***
Dan perbincangan mengenai perjodohan masih juga berlanjut hingga besok, seperti manusia kurang kerjaan emak dan bapaknya Kay datang lagi ke kantor. Menjadi anak tunggal kenapa begini amat padahal dia tidak sedang tinggal di pedesaan yang mana umur 25 tahun sudah dianggap perawan tua. Di sini banyak sekali wanita berusia 30 lebih masih menikmati hidup dan meniti karir. Mungkin mamanya kebanyakan membaca novel online yang menceritakan tentang nikah muda dengan begitu indahnya.
"Astagaaaaaa, udah deh stop deh cariin Kay calon suami." Kay menjadi emosi.
"Lah kamu nyari gak pinter," sahut Papa.
Kay merasa pusing mungkin hipertensi, menghadapi orang tua seperti ini harus bagaimana. Kok bisa mencarikan menantu kriteria acak seperti itu, satu-satunya kesamaan dari mereka hanyalah, laki-laki. Ingin memaki tapi itu adalah dosa, ingin marah tapi nanti tidak bisa mengendalikan emosi, sebaiknya Kay menarik napas perlahan dan menenangkan diri, namaste. Tapi tidak bisa, kepalanya makin pusing.
Satu-satunya lelaki yang berada di otaknya hanyalah Rendi, meski buluk mungkin kalau dipoles di bengkel ketok mejik akan sedikit terbantu. Bukankah papa dan mama tidak pilih-pilih, asal lelaki saja sepertinya sudah cukup. Tapi Rendi sudah beranak bini, umpama disuruh cerai saja bagaimana, mau apa tidak. Detik jarum jam itu seakan tidak mau tahu apa yang sedang dipikirkan Kay, dia terus saja bergerak membawa deadline itu semakin dekat.
Dia ingat sekali, kalau minggu depan tidak membawa calon suami makan hak waris akan musnah. Enak saja. Uang pak tua itu banyak sekali, kalau satu sen pun tidak dibagi kepadanya lalu buat apa. Begini juga Kay ini sangat mata duitan meski hidupnya tidak hedon. Kay masih saja tidak bisa berpikir bahkan ketika papa dan mamanya berpamitan. Memang bahagia akhirnya dua sejoli itu pergi, tapi kalimat terakhirnya itu membuat Kay semakin pusing.
"Kamu, weekend bawa calon suami atau papa jodohin. Kalo nolak, gak ada warisan." Papa mengancam.
"Kalo gak dikasih Kay, duid Papa banyak gitu mo buat apa?" tanya Kay heran.
"Mau dipake keliling dunia, sampe tua sampe mati." Papa menjawab dan langsung pergi.
"Pak tua ini semakin tidak tahu diri saja," gumam Kay lemah. Katanya disumbangkan ternyata disumbangkan untuk diri sendiri.
"Sabar Mbak," kata Santi kalem.
Kalau begini tidak bisa lagi, Kay harus segera mencari suami untuk dibeli. Mana target dia hanya satu, si Rendi buluk itu. Bodo amat dia punya istri juga anak.
"San, telpon si Rendi target kita tu," suruh Kay dengan pasti.
Tanpa banyak bicara Santi segera menghubungi nomor yang tertera pada kertas yang mulai lusuh itu. Sedikit lama hingga beberapa kali dial hingga akhirnya tersambung juga, tapi Santi bingung. Setahunya yang hubungi adalah nomor si Rendi itu tapi kenapa yang mengangkat adalah cewek.
"Kenapa?" tanya Kay curiga.
"Yang angkat cewek," bisik Santi.
"Sini," kata Kay langsung menyambar hempon. "Halo selamat pagi, bisa saya bicara dengan Rendi?" tanya Kay dengan percaya diri.
"Mas Rendi, sedang kerja, nanti malam baru pulang. Ini dari siapa ya?" tanya wanita dari seberang.
"Saya yang memberi donasi satu juta waktu itu, oh ya dengan siapa saya bicara? Maksudnya, anda siapanya Rendi? Ini nomor Rendi bukan?" tanya Kay dengan pongah seperti biasa.
"Jadi ini anda? Terimakasih, kami sangat terbantu. Saya, saya istrinya mas Rendi," jawab wanita itu.
Kay terdiam beberapa saat, jadi ini adalah istrinya, bagaimana ini. Masa akan langsung berkata, hei anda ... saya sangat butuh suami anda, boleh saya beli? Ya Tuhan itu tidaklah mungkin. Tapi deadline dari papa itu sudah semakin dekat dan tidak akan ada lagi calon lebih baik dari pada orang culun itu. Dan entah bagaimana dia akhirnya malah berbasa-basi hingga hampir lima menit.
"Jadi nama anda Amirah?" tanya Kay.
"Iya Bu," jawab wanita di telepon itu.
"Boleh saya berkunjung?" tanya Kay.
"Silahkan, akan saya kirim alamatnya," jawab Amirah dengan ramah.
Kay menutup teleponnya dengan napas lega, "Sant kita ke alamat ini setelah meeting." Kata Kay menunjukkan layar hemponnya.
"Rumah mas Rendi? Ngapain? Kan katanya tu orang pulangnya malem," tanya Santi bingung.
"Mau nego istrinya, kali aja suaminya bisa dibeli." Kay menjawab dengan polos.
"Ya gustiiii,"
Serius ternyata.
***