Bab 2
(Terpaksa menikah)
Sesampai dirumah Nandita langsung beristirahat. Setelah kejadian dirumah sakit yaitu pertengkaran hebat antara Ayah dan Nandita , suasana rumah mulai canggung. Nandita yang terbaring sakit hanya bisa makan dikamarnya.
***
Setelah beberapa hari Nandita pun sembuh. Meskipun kakinya masih diperban.
"Apa yang harus aku lakukan ?" pikir Nandita.
"Hari ini seharusnya acara launchingku. Tapi, aku malah terbaring tak berdaya diatas kasur ini," ketus Nandita, lemas.
"Nandita! Kamu sudah bangun ?" tanya sang Ayah, yang baru saja datang.
Namun Nandita masih marah dengan ayahnya. Dan enggan berbicara.
"Nanti malam kita akan kerestoran. Bersiap-siaplah Ayah akan memperkenalkanmu dengan calon Suamimu !" jelas sang Ayah.
"Tapi, Ayah!" keluh Nandita.
"Pokoknya, Ayah Nggak mau dengar apa-apa. Kamu harus nurut," tegas sang Ayah.
Lalu meninggalkan kamar Nandita.
"Ahjussi! kamu akan slalu seperti ini. Mulai dari aku kecil sampai sekarang. Selalu memaksakan kehendakmu," teriak Nandita.
***
Nandita dengan berat hati datang kerestoran bersama kedua orangtuanya.
"Jangan mempermalukan Ayah!" pinta Ayah Nandita, sambil menatap putrinya yaitu Nandita.
Namun enggan merespon, ia hanya sibuk dengan tablet tab-nya. Dan keluarga calon Suami Nandita pun datang. Ayah dan Ibu Nandita pun berdiri menyambut mereka. Namun, lain hal-nya dengan Nandita yang diam sambil memegang gelas yang berisi jus anggur.
Calon Suami Nandita pun duduk berhadapan dengan Nandita. Sambil menatap Nandita dengan cemas. Saat Nandita melihat kearah calon Suaminya. Dia pun terbelalak, melihat pria yang akan menjadi Suaminya, adalah Dokter Fatir . Dokter yang telah menggendongnya dirumah sakit.
Namun Nandita mencoba tenang. Karena berusaha menuruti perintah Ayahnya. Agar launching-nya tidak dibatalkan.
"Saya merasa merasa mereka sangat cocok," sahut calon Ayah Mertua Nandita.
"Benar sekali," sambung Ayah Nandita dengan memandangi Nandita dan Dokter Fatir.
"Bagaimana Nandita ?" tanya Ayah Fatir kepada Nandita.
"Oh... Saya setuju. Sangat setuju," jawab Nandita, dengan tersenyum manis lalu menatap kearah Ayahnya.
"Fatir ?" tanya Ayah Fatir kembali kepada anaknya.
"Aku rasa kami memang ditakdirkan bersama," jawab Fatir, membuat senyuman dibibir Nandita berubah menjadi datar.
"Mungkin kita tidak usah mengadakan pertunangan. Kita langsung adakan pernikahan mereka. Bagaimana ?" lontar Ayah Nandita memberi pendapat.
"Tentu... Saya sangat setuju," jawab Ayah Fatir.
"Bagaimana Nandita ?" tanya Fatir pada Nandita yang ada didepannya. Dengan tatapan menggoda Nandita.
"Aku setuju," jawab Nandita lalu menatap Fatir dengan tatapan sinis.
"Mari kita bersulang untuk meresmikan lamaran ini," ajak Ayah Nandita, mengangkat gelasnya.
Semua pun mengikutinya Namun lain dengan Nandita yang sangat merasa frustasi dengan keputusan yang memaksanya.
***
Saat selesai berbincang. Keluarga Nandita pun meminta pamit. Lalu berjabat tangan. Namun saat Nandita ingin pergi bersama Orangtuanya. Fatir dengan sigap memegang tangan Nandita.
"Boleh, Saya berbicara dengan Nandita sebentar ?" sahut Fatir dengan senyumannya.
"Tentu Nak," jawab Ayah Nandita.
Lalu mereka pun meninggalkan Nandita dan Fatir.
"Lepas!" ketus Nandita.
Fatir pun menoleh kearah Nandita. Dan melepas genggaman tangannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan ?" tanya Nandita, kesal.
"Aku hanya ingin bertanya, apakah kamu dipaksa menikah?" tanya Fatir.
DEEEGG!
Jantung Nandita berasa bergetar mendengar pertanyaan Fatir.
"Kalau aku berkata jujur, apakah dia akan membatalkan pernikahan ?" batin Nandita.
"Tidak. Ini keputusan saya sendiri," jawab Nandita, mencoba melempar senyuman meski dia dalam hatinya sangat kesal melihat pria yang ada dihadapannya.
Fatir pun memandangi Nandita dengan cermat.
"Aku pergi dulu," ucap Nandita lalu hendak meninggalkan Fatir.
Fatir pun dengan sigap memeluk Nandita. Hal yang baru pertama kali Nandita rasakan, yaitu dipeluk oleh seorang pria.
Ingin rasanya Nandita menampar calon Suaminya itu , yang lancang memeluknya. Namun, ia takut Fatir akan membatalkan pernikahan yang akan mengancam karirnya.
"Katakan kalau kamu mencintaiku ?" bisik Fatir.
"A-ku..... Men-cintai.... Kamu," ucap Nandita dengan terbata-bata.
Fatir pun memegang lengan Nandita dan memutar badan Nandita menghadap dirinya.
Memandangi wajah cantik Nandita.
"Sekali kamu masuk kedalam hidupku. Tak akan ku biarkan kamu untuk pergi. Jadi, jangan coba-coba untuk kabur dariku," tegas Fatir.
Nandita bukanlah wanita penakut. Ancaman yang dilontarkan Fatir sama sekali bukan hal yang menakutkan baginya.
"Tentu," tegas Nandita.
Lalu melepas tangan Fatir dan keluar dari Restauran. Lalu mengambil tissu ditasnya dan melap bekas sentuhan dari Fatir.
"Menjijikan," ketus Nandita.
Lalu masuk kedalam mobilnya.
***
3 hari menjelang pernikahan Nandita masih sibuk mengurus persiapan launching-nya. Tiba-tiba Fatir datang dengan jas putih-nya.
"Untuk apa anda kesini?" tanya Nandita sambil merapikan beberapa baju.
"Kita harus pergi melihat cincin pernikahan." Fatir duduk dimeja yang penuh dengan baju.
"Kenapa dia begitu lancang. Apa karena dia merasa butik ini milik calon istri-nya?" batin Nandita kesal.
"Oke... Ayo kita pergi," lanjut Nandita lalu mengambil tas-nya dan ikut bersama Fatir.
Saat berjalan hendak keluar butik. Fatir dengan sigap memegang tangan Nandita.
"Kita harus terbiasa seperti ini. Supaya nanti-nya kita tidak merasa canggung," tutur Fatir.
Nandita pun tertawa. Dia merasa sangat kesal dengan perilaku lancang Fatir. Tapi, dia juga tidak bisa melawan. Karena takut, Ayah-nya akan menghentikan karir-nya.
"Kalau bukan karena karir ku . Sudah lama aku menendangmu," batin Nandita.
Fatir pun membuka pintu untuk Nandita. Dengan pasrah Nandita masuk kedalam mobil Fatir. Diperjalanan, Fatir tidak hentikan tersenyum melihat Nandita.
"Betapa menjengkelkan-nya pria ini," gumam Nandita.
"Apa yang kau bicarakan ?" tanya Fatir.
"Aku hanya memikirkan pekerjaanku." Nandita pun membuang muka.
Fatir pun kembali memegang tangan Nandita. Lalu menebar senyum manis-nya.
Nandita pun tersenyum dengan terpaksa. Dalam hati-nya sudah sangat muak.
***
Sesampai ditoko emas. Mereka pun melihat beberapa cincin. Namun, Nandita sudah sangat risau. Karena bagi-nya kegiatan memilih cincin hanya membuang-buang waktu.
"Apa kamu tidak memilih?" tanya Fatir.
"Kamu pilihlah. Aku ikut saja. Tenang, aku bukanlah wanita pemilih," tutur Nandita.
"Baiklah, aku ingin yang ini," Fatir memilih sebuah cincin yang ada bentuk hati-nya.
Setelah memilih cincin. Mereka pun pergi untuk makan siang bersama.
"Nanti malam. Aku ingin mengajakmu keluar," ajak Fatir lalu memegang tangan Nandita.
"Kenapa pria ini sangat suka melakukan hal seperti ini ?" batin Nandita bergumam.
"Bagaimana, kamu mau?" tanya Fatir.
"Ohh... Maaf, nanti malam aku harus istirahat." Nandita berusaha menghindari ajakan Fatir.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Bagaimana jika--" Fatir berhenti sejenak berbicara lalu mengelus tangan Nandita. Lalu mencium punggung tangan Nandita. Sontak Nandita melotot dan langsung menarik tangannya.
"Maaf, kita belum menikah. Kita belum resmi. Jadi, jangan melewati batas," tegur Nandita.
"Baiklah," balas Fatir lalu tersenyum manis.
***
Malam hari-nya Nandita sangat sibuk dengan pekerjaan-nya. Dia harus mempersiapkan launching Brand terbaru-nya yang akan diadakan setelah resepsi pernikahannya bersama Fatir.
"Ini semua gara-gara Ayah. Karena dia, aku harus menyusun ulang acaraku karena dibatalkan oleh-nya," celetuk Nandita, kesal.
***
Tibalah hari dimana pernikahan Nandita dan Fatir dilaksanakan.
Akad dan Resepsi pernikahan dilaksanakan dalam hari yang sama karena permintaan Nandita.
Resepsi pernikahan Nandita dan Fatir dilaksanakan dihotel ternama. Dab dihadiri tamu undangan dari kalangan teratas dan penjabat tinggi. Dan juga beberapa kolega dari perusahaan Ayah Nandita.
Nandita sudah terlihat cantik dengan gaun pernikahan yang dikenakannya hari ini.
"Apakah logo Brand terbaruku sudah selesai ?" tanya Nandita kepada assisten pribadi-nya.
"Sudah bos," jawab assisten pribadi Nandita yang bernama Lastri. Cukup cantik. Namun, belum bisa dibandingkan dengan kecantikan Nandita.
"Nandita! Kamu seharus-nya fokus dengan pernikahanmu. Bukan, malah sibuk dengan urusan butikmu itu," ketus Ibu Freya yang baru saja masuk diruang makeup Nandita.
"Ibu! Ini semua karena Ayah. Jika saja dia tidak membatalkan acara launchingku . Aku tidak akan sesibuk ini mengurus semua-nya dari awal," pekik Nandita.
"Nandita! Kamu akan menikah. Kamu akan mempunyai suami. Untuk apa kamu masih mengejar karirmu?" tanya Ibu Nandita dengan kesal
"Ibu! Aku sama sekali tak ingin dan juga tak perlu uang atau apapun dari suamiku. Karena aku bisa memperoleh-nya sendiri," ketus Nandita lalu kembali sibuk dengan tablet tab-nya.
***
Ayah Nandita sedang sibuk menjamu tamu-nya.
"Selamat Pak Lanri Tanubrata, atas pernikahan Putri kebangaan Anda," ucapan selamat dari salah satu rekan kerja Ayah Nandita.
Acara akad nikah pun dimulai. Nandita sudah duduk berdampingan dengan Fatir.
Dengan satu tarikan nafas Fatir mengucap.
"Saya terimah, Nikah dan Kawin-nya Nandita binti Lanri tanubrata, dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai, karena Allah SWT."
Semua tamu undangan pun mengucap kata sah. Kini Nandita resmi menjadi istri Fatir. Ayah Nandita sangat lega. Pernikahan Nandita berjalan dengan lancar.
Saat hendak kepelaminan. Nandita berjalan kearah yang berlawanan. Ayah Nandita lalu memegang lengan Putri-nya itu.
"Duduklah dipelaminan, jangan membuat Ayah malu," bisik Ayah Nandita.
Nandita pun menatap Ayah-nya dengan sinis. Lalu berjalan keatas pelaminan. Dan berjabat tangan dengan tamu undangan. Sambil melempar senyum . Meski , dalam hati-nya sudah sangat muak.
"Kapan ini berakhir?" gumam Nandita.
Fatir pun menoleh kearah Nandita. Dan tersenyum melihat istri-nya itu sudah sangat gelisah.
Setelah menyelesaikan resepsi pernikahan. Nandita.