~ Eps. 3 ~
Nandita dan Fatir duduk dimeja yang ada ditempat resepsi pernikahan mereka.
"Berikan Tabku," perintah Nandita pada Lastri.
Lastri pun memberi Nandita tab tersebut. Dan Nandita pun kembali sibuk dengan tab-nya.
"Koper yang aku bawa. Sudah kamu masukkan didalam kamar saya ?" tanya Nandita kepada Lastri.
"Sudah bu," jawab Lastri.
Nandita hanya menatap Lastri lalu kembali sibuk dengan tab-nya.
"Fatir, Nandita! Masuklah kekamar kalian," pinta Ibu Nandita.
Fatir pun menuju kelift. Dan diikuti oleh Nandita .
"Nandita! Ini jamu untuk kalian berdua, jangan sampai kamu membuang-nya," pesan Ibu Nandita.
Nandita mengambil 2 gelas jamu itu. Sambil memutar kedua bola mata-nya. Karena sangat muak dengan situasi saat ini.
***
Saat sampai dikamar. Nandita menaruh 2 gelas jamu itu dimeja dekat kasur. Dan melihat kasur penuh dengan bunga mawar. Begitu indah bagi pasangan yang saling mencintai. Namun, bagi seorang wanita judes dan jutek seperti Nandita. Itu sangat memuakkan bagi-nya.
Nandita tanpa membuka gaun pengantin-nya langsung mengambil koper dan mengeluarkan beberap berkas penting. Dan disusun-nya berkas itu dimeja yang ada dikamar hotel tersebut.
Seketika meja itu sudah penuh dengan kertas. Nandita pun mengambil isolasi dan menempel beberapa kertas. Fatir yang dari balkon belakang kamar hotel. Masuk kekamar dan mendapati istri-nya sibuk dengan kertas dimalam pertama mereka.
Fatir pun memeluk Nandita dari belakang. Nandita pun tegang. Karena Fatir adalah pria pertama yang berani memeluk-nya.
"Apa begini ? Sikap seorang mempelai wanita dimalam pertama-nya?" bisik Fatir lalu mengecup pundak Nandita. Sontak membuat Nandita merinding.
Nandita pun melepas pelukan dari suami-nya.
"Malam ini. Aku akan katakan yang sebenar-nya. Anda dan Aku sebagai pasangan suami istri. Hanya pormalitas saja. Tidak untuk melakukan hubungan suami istri yang sebenar-nya," papar Nandita sambil menyilang tangan-nya didada.
Fatir pun menarik pinggang Nandita.
"Itu menurutmu. Tapi lain dengan saya. Saya ingin pernikahan yang sebenar-nya dan begitupun dengan hubungan kita," sanggah Fatir.
Amarah Nandita pun mulai muncul. Dia pun merangkul leher Fatir.
"Apa Anda fikir saya segampang itu. Saya sama sekali tidak tertarik dengan anda. Untuk melakukan hubungan layak-nya suami istri," bisik Nandita.
Lalu melepas rangkul-nya begitupun dengan pegangan Fatir dipinggang-nya dan melanjutkan mengerjakan kerjaan-nya.
Fatir pun langsung menggendong Nandita dengan paksa. Dan membaringkan Nandita dikasur. Dan duduk diatas tubub Nandita. Menahan kedua tangan Nandita dengan lutut-nya. Menatap Nandita dengan kesal.
"Menjauhlah dariku, dengarkan aku baik-baik. Dokter Fatir yang terhormat. Pernikahan kita hanya sementara. Setelah aku mendapat persetujuan dari perusahaan lain untuk meluncurkan Brand terbaruku. Aku akan mengajukan gugatan cerai kepengadilan," tegas Nandita.
Fatir pun tersenyum licik. Lalu mencium bibir Nandita dengan kasar. Mata Nandita terbelalak. Dia tak bisa menghindar karena Fatir benar-benar seperti menjaring-nya.
Perlahan Fatir membuka kemeja-nya dan membuang-nya. Entah, kemana. Nandita menatap Fatir penuh dengan Amarah.
"Lepaskan aku," teriak Nandita.
Fatir pun beranjak dari tubuh Nandita dan mengambil gelas yang berisi jamu. Langsung meminum 2 gelas jamu itu.
"Apa kamu tahu. Atau kamu pura-pura tidak tahu, kalau itu jamu untuk pasangan yang ingin berhubungan. Dan aku, sama sekali tak berminat ataupun tertarik padamu," pekik Nandita.
Fatir pun memegang pundak Nandita. Dan menempelkan badan Nandita didinding. Membuka rest belakang gaun Nandita.
"Kamu jangan macam-macam denganku," teriak Nandita. Namun tak bisa memberontak karena Fatir menahan tangan Nandita.
Perlahan Fatir mengecup pundak Nandita.
"Lepas... Aku akan menuruti kemauanmu," tutur Nandita.
Fatir pun melepas kedua tangan Nandita yang ia tahan didinding.
Nandita pun berbalik memandangi Fatir dari ujung rambut sampai kaki.
"Aku akan memberi hakmu malam ini. Dan akan menunaikan kewajibanku. Tapi, dengan 1 syarat." Nandita mengajukan persyaratan pada Fatir.
"Apa itu ?" tanya Fatir
"Setelah aku menemukan perusahaan terbaru. Kamu harus menceraikan aku," tutur Nandita.
"Oke..." balas Fatir.
Kemudian mencium bibir Nandita. Nandita pun menyambut-nya. Meski, itu adalah ciuman pertama Nandita. Tapi Nandita sama sekali tak menghiraukan-nya. Dia menyambut ciuman dari Fatir dengan lancar.
"Apa kamu pernah berciuman sebelum-nya ?" tanya Fatir mengerutkan alis-nya.
"Ini yang pertama," jawab Nandita.
"Kenapa kamu seakan sudah mahir?" tanya Fatir masih ragu.
"Aku belajar dengan cepat. Saat kamu menciumku. Aku belajar dari situ. Dan mengikuti-nya," tutur Nandita.
Nandita memang sangat pintar dalam berbagai hal. Dia bisa dengan mudah memperagakan hal yang baru saja dia lihat atau rasakan.
Fatir pun kembali mencium bibir Nandita. Namun saat Fatir menurunkan ciuman-nya keleher Nandita. Nandita merasa ada yang aneh. Perasaan yang pertama kali ia rasakan.
Fatir pun menghentikan ciuman-nya. Karena gelagak Nandita yang aneh.
"Ada apa ?" bisik Fatir.
"Tidak apa-apa. Lanjutkan" ujar Nandita.
Fatir pun kembali mencium leher Nandita. Dan kemudian mengangkat Nandita kekasur. Dan menyusupkan kepala-nya kedada Nandita. Nandita mencoba pasrah. Namun, perasaan-nya mulai bergejolak entah merasakan sesuatu yang aneh.
Nafas Nandita menjadi tak karuan.
"Seperti-nya aku tidak bisa melanjutkan-nya," tutur Nandita.
"Kamu sudah memulai dan harus mengakhiri-nya." Fatir pun turun dari kasur. Dan menarik gaun dari tubuh Nandita. Dan menarik kaki Nandita. Dan Melakukan hubungan suami istri meski Nandita menolak-nya.
Setelah merasa lelah. Fatir pun mengecup kening istri-nya. Yang penuh dengan keringat diseluruh tubuh-nya. Airmata Nandita menetes. Dia mengingat. Sedari kecil ia harus hidup dengan paksaan dan arahan dari Ayah-nya. Hingga, malam ini . Dia pun harus terpaksa melayani suami-nya meski, sama sekali tak mencintai-nya. Nandita pun menarik selimut untuk menutupi tubuh-nya. Dan berjalan dengan kaki yang gemetar.
"Apa kamu sakit?" tanya Fatir cemas.
"Aku tidak apa-apa," jawab Nandita. Lalu berjalan sambil meringis kesakitan.
Fatir pun memegang kepala-nya.
"Maafkan aku Nandita. Aku terpaksa agar kamu tidak pergi dariku," ucap Fatir menyesal telah memaksa Nandita.
Fatir mengingat raut wajah Nandita yang meringis kesakitan dan tak henti-nya memohon agarmenghentikan tindakan Fatir yang sedang memuaskan hasrat-nya.
Fatir pun keluar dari kamar hotel dan menemui mertua-nya.
"Bagaimana, apa kamu berhasil?" tanya Ayah Nandita cemas.
"Iya , Ayah. Saya sudah melakukan-nya. Tapi saya sangat menyesal," jawab Fatir menyesal.
"Jangan menyesal, Nak! Dia akan meninggalkanmu. Jika kamu tidak mengambil hal penting itu," ujar Ayah Nandita.
"Tapi dia membuat syarat padaku--" Pembicraan Fatir dipotong oleh Ayah Nandita.
"Iya... Ayah tahu. Aku adalah Ayah-nya. Dan aku sangat tahu. Dia adalah pebisnis hebat. Jadi, pasti dia akan memberimu syarat seperti itu. Agar dia bisa terbebas dari pernikahan kalian," jelas Ayah Nandita.
"Ayah! Aku sudah mencintai Nandita sejak pertama kali melihat-nya dirumah sakit. Itulah, mengapa aku setuju menikah dengan-nya. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka dia ternyata hanya terpaksa," ujar Fatir merasa kecewa.
"Buat dia merasa nyaman. Cinta akan ikut beriringan dengan kasih sayang yang kamu berikan. Percayalah!" pesan Ayah Nandita.
***
Sementara itu Nandita sedang menangis didalam kamar mandi dengan air dari shower yang mengalir dari atas mengguyur seluruh badan-nya. Ia sedang mengingat masa kecil-nya. Jika dia menginginkan sesuatu . Ayah-nya akan menolak dan hanya meminta Nandita menuruti kemauan-nya.
Masih terlihat jelas diingatan Nandita. Saat harus berpisah dengan Ibu-nya karena dia harus melanjutkan sekolah-nya dikorea. Itupun paksaan dari Ayah-nya.
Fatir yang baru kembali. Melihat pintu kamar mandi masih tertutup. Fatir pun mencoba mendengar. Dan ternyata Nandita masih didalam. Fatir pun mengambil selimut dan membuka pintu kamar mandi. Dan dia mendapati Nandita sudah tertidur dengan guyuran air yang masih mengalir. Fatir pun mematikan shower. Dan membalut tubuh Nandita dengan handuk. Dan menggendong-nya kekasur. Mengecup kening Nandita dan tidur sambil memeluk Nandita.
***
Keesokan hari-nya Nandita terbangun dan mendapati Fatir sedang memeluk-nya. Nandita sontak beranjak untuk duduk. Dan Fatir pun terbangun langsung mengecup bibir Nandita. Lalu menarik badan Nandita.
Nandita langsung melepas pelukan Fatir. Dan melompat dari kasur.
"Jangan pernah kamu mencoba untuk menyentuhku lagi. Aku sudah memberimu semalam. Jadi, saat ini kamu yang berhutang padaku," teriak Nandita lalu masuk kedalam kamar mandi.
"Benar-benar wanita tak bisa ditebak," celoteh Fatir menghela nafas panjang.
***
Setelah bersiap. Mereka pun kembali kerumah Nandita. Dan disana keluarga Nandita sudah menunggu mereka berdua.
"Duduklah, Nak! " pinta Ayah Nandita. Kepada Fatir dan Nandita.
Nandita pun duduk. Dan kembali memasang wajah datar-nya. Fatir tersenyum manis, dan terus memandangi istri-nya.
"Bagaimana semalam, apa kalian tidur dengan nyenyak?" tanya Ibu Nandita.
"Tentu, bu!" sahut Fatir.
Namun seperti biasa-nya Nandita masih dengan sikap dingin-nya.
"Nandita! Apa kamu punya saran , kemana kalian akan berbulan madu?" tanya Ayah Nandita.
Nandita pun langsung memukul meja makan dan berdiri.
"Ahjussi!" panggil Nandita dengan sebutan paman dalam bahasa korea.
Fatir pun terkejut dan melihat kearah Nandita. Tatapan tajam Ayah dan Anak kembali memanas.
"Nandita! Dia Ayahmu , kenapa kamu memanggil-nya Ahjussi, bukankah itu arti-nya paman?" tanya Fatir, bingung.
"Iyaa.. dia memang Ayahku tapi perlakuan-nya sama sekali tak menggambarkan seorang Ayah," pekik Nandita lalu beranjak kekamar-nya. Dan mendorong semua guci yang ia lewati. Hingga semua guci itu terjatuh dan pecah.
"Lihatlah dia, Nak." Ayah Nandita terlihat sangat sedih.
"Aku selama ini hanya menginginkan yang terbaik untuk-nya. Tapi, ternyata didikan aku disalah artikan oleh Nandita," ujar Ayah Nandita sambil meneteskan airmata.
"Aku akan menemui-nya." Fatir pun beranjak kekamar Nandita.